Sudah 13 hari lamanya sejak ia disebut penguntit membuat Satya terkenal walaupun bukan terkenal karena hal positif.
"Selamat pagi," sapa Naomi sambil menghampiri bangkunya.
"Pagi ... " sapa Satya lirih sembari tertidur.
"Ah?! Rambutmu makin panjang saja!" seru Naomi mendekat ke wajahku saat sedang tertidur.
"Iyakah? Aku rasa ini tidak terlalu menggangguku," balas Satya dengan wajah memerah.
"Lihat saja rambut depanmu sudah menutupi mata!" seru Naomi memberitahu.
"Tak apa aku sudah terbiasa, rambut panjang," ujar Satya sedikit membela.
"Aku juga jarang melihat matamu itu. Kemudian, Naomi membuka rambut depanku," seketika itu juga wajahnya langsung memerah.
"Ada apa dengan mataku?" tanya Satya sembari memperhatikan ekspresi Naomi yang memerah.
"Minggu depan kamu harus ikut denganku. Apa kamu punya waktu Minggu ini?" tanya Naomi memaksa.
"Aku punya jadwal membaca buku, bersih-bersih sudah itu saja," jawab Satya.
"Ok, besok minggu kita jalan ya" ujarnya memasang wajah merah.
"Kita mau kemana?" tanya Satya.
"Mmm, kita ke salon keluargaku nanti aku beri diskon 30%," jawab Naomi sambil tersenyum padanya
"Hhhm, aku belum ingin Mencukur rambutku. Aku janji kamu pasti menyukainya," paksa Naomi mengajak Satya.
"Mhmm. Baiklah naikkan diskonnya jadi 60%," tawar Satya menekan balik.
"Hah, Ayolah jangan memerasku 35%" tawarnya.
Aku terdiam membisu.
"45% persen diskon, itu tawaran terbaikku," ujarnya mulai pasrah.
"Ok, deal 45% diskon" kemudian Satya menegapkan badan di lanjutkan berjabat tangan.
"OK, deal!" ujar Naomi menerima jabat tangan teman laki-lakinya.
Seusai percakapan tadi, selama jam pelajaran berlangsung. Hingga jam makan siang. Naomi makin terlihat ceria walaupun Satya sedikit gugup menatap matanya.
"Naomi, apa terjadi sesuatu terhadapmu" tanya Asher sambil meminum segelas Cola di tangannya.
"Oh tidak ada apa-apa kok, aku hanya merasa hari ini, hari yang indah." Ucapnya menutup-tutupi.
"begitukah?" jawab Asher melirik Satya.
"Satya, di klub menembak masih membutuhkan anggota tidak" tanya Asher punya maksud lain.
"Masih kok silahkan masuk kalau minat ya," ucap Satya singkat.
"Arlo kenapa kamu diam?" tanya Satya kepadanya.
"Aku hanya terlalu menikmati Sup kentang manis ini. Hehe ..." jawabnya tertawa kecil.
"Kami kira sedang ada masalah yang mengganggu," balas Asher lega.
"Enggak kok" jawab Arlo singkat.
Sedang asik-asiknya mengobrol, suara
Bell telah berbunyi "Ting-ting ... ting-ting" menandakan jam pelajaran selanjutnya di mulai.
Kelas sudah ramai namun masih ada beberapa siswa yang belum masuk
"Selamat siang."
"Selamat siang bu."
"Hari ini Pelajaran Sains dunia Hybrida dan Chimera."
"Chimera adalah Hewan persilangan antara gen manusia dan hewan walaupun harus mempunyai persyaratan yang ketat agar tidak melanggar Norma agama yang dianut,"
"Hybrida adalah hewan jenis baru hasil persilangan beberapa jenis hewan menjadi hewan unggul yang di miliki hewan persilangan sebelumnya,"
"Sedangkan Chimera hewan gabungan antara gen manusia dan hewan tujuannya untuk keperluan medis saja, tidak lebih. Contohnya tikus pada bagian tubuhnya mempunyai bagian tubuh mirip manusia yaitu daun telinga."
"Dari sini kita telah berhasil mengaplikasikan beberapa hewan lainnya untuk keperluan medis."
"Bu, jadi hewan seperti Dinosaurus beberapa ratus tahun yang lalu. Apa bisa di hidupkan kembali dengan cara Hybirda?"
"Ada kemungkinan bisa dan tidak mustahil karena teknologi yang kita punya saat ini?"
"Kenapa tidak di hidupkan kembali?" tanya salah satu murid di dalam kelas.
"Ibu tidak bisa menjelaskannya. Karena, informasi yang ibu ajarkan hanya dasar dari ilmu pengetahuan sekolah umum saja,"
"Oh begitu,"
"Ada pertanyaan lagi? Jika tidak ada akan saya akhiri."
Salah satu Siswi mengangkat tangan, "Bu, kenapa hewan tanpa campuran Jarang terlihat saat ini?"
"Pertanyaan bagus, Seperti yang kita tahu saat ini paru-paru dunia hanya beberapa persen saja. Contohnya negara kita Amerika serikat. Mempunyai udara terkotor karena limbah buang kendaraan yang tinggi tiap tahunnya. yang menyebabkan massa Hidup manusia berkurang."
Suara bell sekolah berbunyi menandakan pelajaran telah berakhir, "Ting-ting ... ting-ting"
"Cukup sekian untuk pertanyaan hari ini. Terima kasih," ucap ibu Guru menutup kelasnya sambil menaruh alat-alat yang baru saja di pakai untuk belajar.
Suasana langsung ramai. Mereka bergegas merapihkan barang bawaannya ke dalam tas yang berisi peralatan elektronik termasuk Naomi.
Berbeda dengan Naomi yang langsung bergegas pulang. Arlo, Asher dan Satya bergegas menuju klub menembak untuk berlatih, sedangkan Arlo dan Asher mendaftarkan diri di klub menembak.
"Sepertinya kita kedatangan anggota baru lagi, silahkan perkenalkan diri!" ujar Leader merpersilahkan.
"Baik, nama saya Asher Carrington, Panggil saya Asher"
"Namaku Arlo Grissham, panggil saja Arlo"
"Selamat datang" ucap Satya kepada mereka berdua
Kami di ajarkan beberapa tipe Handgun atau pistol.
"Pertama jenis pistol pada perang dunia dua yaitu luger PO8, senjata ini memiliki power paling kuat pada saat jerman menjajah,"
"Kedua, colt 1911 pistol ini sering di pakai tentara militer amerika,"
"Ketiga Desert Eagle senjata ini buatan Israel, peluru ini mempunyai kecepatan dan daya ledak tinggi saat mengenai target,
"Pyhton jenis Revolver jenis senjata ini memang paling terkenal karena bentuk peluru yang besar dari pistol lainnya. Memiliki Akurasi yang cukup baik. Sekarang silahkan di coba," ucap Leader selesai menjelaskan.
Kami mulai melatih tembakan, disaat kami sibuk berlatih Asher mengajak Satya berbicara.
"Satya, apa kamu tau kenapa Naomi terlihat bahagia hari ini?" tanya Asher.
"aku tidak tahu pastinya tapi dia mengajakku pergi ke salon milik keluarganya,"
Wajah Asher langsung terbuka lebar karena kaget atas pernyataan Satya.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Asher.
"Maaf, kamu harus menanyakan sendiri, aku tidak bisa mengambil keputusan tersebut maafkan aku," jawab Satya mengulangi permintaan maaf.
"Baiklah, Apa kamu menyukainya?!" tanya Asher tegas.
"Aku menyukainya. Dia temanku dan temanmu juga bukan?!" jawabku sedikit menaikkan alis kananku karena heran.
"Bukan itu maksudku. Ahh ... aku benci mengatakan ini. Seperti memakan kotoranku sendiri. Maksudku apa kamu cinta Naomi?!" tanya Asher memperjelas maksudnya dengan wajah kesal terpancar.
Suara letupan Air gun terhenti karena suara lantang Asher.
"Tak apa lanjut saja, Asher orangnya. mudah kaget," kataku agar tidak terlalu mencurigakan.
Kemudian, mereka melanjutkan melatih tembakannya.
"Tenang, Asher Baik aku akan jawab tapi jangan panik. Sepertinya aku tertarik pada Naomi. Tapi, ada satu orang gadis yang membuatku lebih tertarik ingat saat 13hari yang lalu aku di sebut penguntit? Nah, dia orangnya!" seru Satya dengan tenang sambil mengingatkan kejadian tempo lalu.
"Baik aku akan percaya padamu kali ini!" ujarnya tegas sambil menunju pintu keluar.
Di susul Satya keluar untuk pulang. Meninggalkan Arlo dan anggota lainnya.
Hari minggu.
Esok harinya, Satya bertemu dengan Naomi alasannya sih hanya mengajak Satya ke salon milik keluarganya tapi dia malah mengajak ke berbagai toko termasuk pakaian renang.
"Satya, yuk ke toko itu ... ayuk!" seru Naomi sambil memegang tanganku erat-erat.
"Bodo amat, aku tidak mau melihat tubuh molekmu saat menggunakan baju renang."
"Ayolah Satya ini yang terakhir janji, mau ya?" pintanya dengan wajah memelas.
"Ok ini yang terakhir, Jika lebih. aku akan pulang membiarkanmu sendiri disini!" kata Satya sedikit mengancam.
Suara pintu terdorong dari luar tanda seseorang masuk, "Krincing-krincing" bersamaan dengan suara lonceng yang tebentur oleh pintu.
"Selamat pagi kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan wanita tersebut.
"Mhhmm, aku mencari baju renang yang sesuai dengan ukuranku" katanya.
"begitu silahkan ikuti aku," ucap si pelayan.
"Heyy ... Naomi cepat pilihnya, ingat janjimu!" seru Satya merasa tidak nyaman karena di kelilingi pakaian dalam wanita.
"Tuan, pacarnya ya?" tanya sang pelayan.
"hari ini ada diskon loh 35% pakaian renang Couple," sambung si pelayan.
"Bu ..." ucap Satya terhenti karena kakinya diinjaknya keras dengan menggunakan high hills 3cm. Sedangkan, Satya hanya menggunakan sepatu berbahan kain saja. Ia hanya bisa menahan rasa sakit tersebut.
Naomi langsung memeluk lengan Satya erat-erat, "Iya, kami pacaran bisa tolong tunjukkan pakaiannya?!" pinta naomi ke pelayan sambil menatap wajah Satya yang tertutup oleh rambutnya.
"Wah! Couple-nya bagus-bagus deh" ucapnya memuji pakaian couple tersebut.
"Satya, Ikut pilih dong," ucap Satya pasrah mengikuti kemauan Naomi.
20 menit terlewati.
Suara pintu ditarik dari dalam, "Krincing-krincing"
"Kita mau kemana sekarang?" tanya Naomi.
"Ke salon sesuai janji," pinta Satya mengerutkan dahi.
"Ohh iya yah, Hampir lupa aku," balas Naomi Nyengir kuda.
Butuh waktu beberapa Blok dari sini untuk sampai ke tempat tujuan dengan jalan kaki.
Kami berjalan menelusuri jalan berbeton, melewati beberapa restoran dan toko gaun serta peralatan elektronik. Sesekali ia, memasang wajah memelas pada Satys untuk mengunjungi tempat yang di anggapnya menark. Tapi, Satya terus menolak sampai pada akhirnya.
"Udah sampai belum nih?," rengek Satya.
"dua Blok lagi belok kanan nanti sampai," katanya dengan senyum manis menghadap ke arah Satya
Kota terlihat sangat Ramai saat hari minggu, banyak orang terlihat seumuran kami sedang berpegangan tangan.
"Ini dia kita sampai," ucapnya sambil menunjuk salon.
"Terlihat baguskan?," tanya Naomi sedikit berbangga hati.
"Iya bagus, suasana yang begitu hidup dari dalam mungkin karena Warna hijau dari tanaman yang di taruh dekat kaca dan cat dinding berwarna putih."
"Lantainya juga terbuat dari kayu pasti mahal, Dekorasi tempat duduk berwarna hitam sangat kontras," oceh Satya ketika melihat bangunan ini.
"Namanya salon Samantha ya?," tanya Satya.
"Iya dong," jawabnya makin tinggi hati.
"Yuk masuk," ajaknya masuk terlebih dahulu.
Lonceng berbunyi ketika ada orang masuk atau keluar, "Krincing-krincing"
"Selamat datang."
"Ibuuu! ..." seru Naomi memeluk Ibunya.
"Itu temen kamu yang sering kamu bicarakan sewaktu makan?" tanya ibu Naomi berbisik.
"Iya bu ..." jawabnya berbisik dengan perasaan senang tersirat di wajahnya.
"Ibu Naomi terlihat sangat cantik, walau sudah punya anak berumur 16 tahun," pikir Satya sambil melihat mereka berpelukan.
"Kamu Satya bukan?" tanya ibu Naomi melepas pelukan lalu mendekat pada teman dekat anaknya untuk berjabat tangan.
"Iya bu saya Satya Pranaditya" jawab Satya menerima jabat tangannya.
"Nama ibu samantha," balasnya.
"Naomi, sering cerita kamu saat pertama kali sekolah," lirik Ibu Samantha sedikit meledek Naomi.
"Ihh apaan sih buu," balasnya dengan wajah memerah.
"Ya udah silahkan duduk," ucap ibu Samantha mempersilahkan.
"Iya bu. Makasih" balas Satya.
Aku duduk menghadap kaca, melihat mereka berdua dari pantulan kaca dari sini
"Naomi, kamu yang urus temanmu ya! ibu mau urus pelanggan yang lain," pinta ibu.
"Bukannya ada pegawai lain ya bu?!" ucapnya kaget.
"Hari ini lagi ramai lihat aja" balas ibu memperlihatkan sekeliling.
"Yaudah," ucapnya pasrah.
"Bagus, ganti baju dulu di belakang ada satu punya ibu" ucapnya menyuruh bergegas.
"Naomi kemana?," pikir Satya melihat dari pantulan kaca.
5 menit Satya menunggu.
Kemudian, Naomi menampakkan dirinya lalu berubah menggunakan pakaian karyawan dan celemek.
Terlihat cantik dengan tubuh langsing dan tinggi seperti model mungkin karena rok mini yang dipakainya.
"Kamu yang mau potong rambutku?" tanya Satya kepada Naomi.
"Iya, kamu enggak mau ya? Kalo enggak mau, kamu bisa nunggu Ibu selesai mengurus pelanggan." jawabnya tersendat-sendat karena gugup.
"Enggak usah, deh biar lebih cepat." Balas Satya ingin cepat selesai dari situasi yang mengganggu ini.
"Fyuh ... Iya deh," ucapnya lega.
Naomi mulai memotong rambut Satya yang panjang tersebut. Hingga ke bagian yang menutupi mata dengan lihainya.
Saat mau mencukur rambut bagian depan naomi sedikit gugup sewaktu melihat matanya.
"Jangan gugup nanti aku ikutan gugup." kata Satya saat melihat ekspresi Naomi.
"Iya tenang ajaa," ucapnya mempertegas diri.
Naomi memegang rambut Satya dengan tangan kosong, sedikit menyentuh dahinya dengan muka memerah sambil memegang gunting sasak.
"Selesai, gimana menurutmu?" tanya Naomi kepada Satya.
"Wah kamu terlihat seorang profesional," ucap Satya memuji.
"Iya dong,setelah aku selesai sekolah aku akan meneruskan salon ini" jawabnya meninggi hati.
"Sekarang Wajahmu terlihat jelas dan tampan," puji Ibu Samantha.
"Kamu memang pinter cari calon ya," puji Ibu ke anaknya, sambil mengelus kepalanya.
Kami berdua langsung kaget mendengar kalimat itu.
"Tapi kami bukan ..." ucap Naomi sambil meliriknya dengan wajah memerah.
"Iya bu, aku bukan pacarnya kami cuma teman" ucap Satya membela, walaupun sedikit senang.
"Sekarang teman. Mungkin besok pacar," ledek bu Samantha kepada kami sambil tertawa kecil.
"Yaudah ah, Sekarang aku akan mengantarmu pulang!" jawab Naomi mengalihkan pembicaraan Ibunya sambil menyeretku keluar salon.
Ibu Samantha hanya tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang malu-malu. Walaupun sedikit tomboy karena suka bela diri. Tapi, ia tetaplah seorang gadis lugu yang belum mengenal rasa suka kepada lawan jenisnya.
"Maaf ya, Ibuku suka bicara terang-terangan." ucapnya dengan wajah sedikit kesal.
"Iya enggak apa-apa kok," jawab Satya santai.
Setelah itu, para pejalan kaki mulai memperhatikan kami. Termasuk para remaja gadis dan laki-laki melirik kami.
"Wahh, tampan sekali laki-laki itu badannya begitu tinggi dengan gaya rambut tegak berdiri." ucap para gadis.
"Yang disamping pasti pacarnya lihat saja wajahnya sangat cantik dengan rambut panjang, mata biru dan bibir merah merona. Apa pacarnya seorang pegawai salon?. Celemeknya masih terpasang di tubuhnya!," ucap para gadis merasa iri mulai mengintimidasi
Sedangkan para pria hanya melihat Naomi dari belakang karena rok mini yang dipakai.
"Ehh ... Iya aku belum ganti baju," ucap Naomi saat mendengar gunjingan gadis-gadis.
"Yaudah sampai sini aja kamu mengantarku," ucap Satya kepadanya.
"Makasih," sambil mencium pipi Satya dan lari secepat yang Naomi bisa dengan menahan rasa malu.
Satya hanya terdiam dengan wajah merah menjadi pusat perhatian pejalan kaki.
Esok hari terjadi hal mengejutkan lainnya di sekolah.