CHAPTER 23

1042 Words
Arlo mencoba menelpon Satya karena hari ini mereka semua akan pergi ke rumah Dekka Castle. Tuut ... tuut ... "Sepertinya percuma kita menghubungi Satya," keluh Arlo telah menelpon puluhan kali telepon Satya. "Haah?! Masa kita batal ke rumah Dekka hanya karena Satya tidak datang?" oceh Asher protes melihat teman-temannya. "Mau bagaimana lagi! Alamat rumah Dekka ada di tangan Satya," balas Foxie yang terlihat sebal. *** Satya berlari sekencang yang ia bisa, "Hah ... hah ... hah ..." dengan napas yang tersengal-sengal, "Gawat-gawat! Aku terlalu asik bermain game dengan kak Alicia semalaman," gumamnya menyesal. Satya terpaksa memilih taksi sebagai angkutan tercepat untuk sampai ke lokasi berkumpul. Kecemasan melanda dirinya sampai ia lupa meninggalkan semua peralatan komunikasi, ia tersadar setelah merogoh tas kecil yang biasa bawa saat bepergian. "Sial!" umpat Satya memukul pintu kanan mobil. "Kita sudah hampir sampai lokasi selanjutnya belok kemana?" tanya pak supir. "Minggir di jalur kanan pak di restoran keluarga," jawab Satya menunjuk restoran. "Di sini?" tanya pak supir memastikan. "Ya berhenti disini," jawab Satya menunjuk restoran yang dimaksud. Satya pun turun dari taksi, ia melihat nama restoran yang tercantum di jendela bertuliskan, 'FamSully' Krincing ... krincing ... Bunyi lonceng yang terpasang dekat pintu membuatnya sebagai penanda bahwa ada seseorang telah masuk. *** "Apa kita pulang saja ya?" tanya Naomi meminta pendapat. "Aku tidak bisa pulang saat ini, rumahku sedang tidak berpenghuni semua keluargaku pergi ke rumah nenek dan akan pulang sore hari," rengek Felicia dengan tatapan sedih. Krincing ... krincing ... Pandangan mereka langsung mengarah pintu saat mendengar suara lonceng berbunyi. "Oi, kesini!" seru Asher melambai para pengunjung sedikit terganggu karenanya. Satya mendekati mereka ia tertawa kecil pada mereka semua yang telah memandanginya, "Hehe ... maafkan aku terlambat," "Kenapa teleponmu susah sekali di hubungi?" selidik Arlo curiga. Satya menggaruk-garuk kepalanya, "Yah, aku lupa membawa teleponku, maafkan aku!" serunya memberi salam Namaste sambil tertunduk. "Ya sudahlah! Ayo kita jalan," ajak Arlo kepada semuanya. "Heehh! Sebentar, paling tidak biarkan aku memesan sesuatu untuk aku minum!" rengek Satya. "Ahh! ... kami hampir menghabiskan semua uang saku hanya karena menunggumu. Lihat!" seru Naomi menunjuk beberapa gelas dan piring berserakan di meja mereka tempati. "Ayo!" seru Naomi memasang wajah masam. Mereka semua meninggalkan Satya yang hanya terdiam memasang wajah sedih. Satya berjalan lesu, mengikuti mereka "Satya, apa bisa kita berjalan kaki saja?" tanya Arlo. "Bisa ... walau lebih lama. aku sarankan naik taksi," jawab Satya lesu. "Ini semua salahmu! Jika saja kamu tidak terlambat uang kami pasti utuh," seru Naomi menyalahkan Satya. Asher tertawa geli dalam batinnya, "Bukannya itu salahmu sendiri tidak bisa menahan diri?" Naomi terdiam tidak bisa membalas ucapan Asher. "Satya kamu tidak apa?" tanya Foxie memelankan langkahnya untuk menyamakan langkah Satya. "Tidak, aku tidak apa," jawab Satya lesu. "Jangan dengarkan semua perkataan Naomi, dia tidak berkaca pada dirinya sendiri," tutur Foxie menasehati. "Hei! Aku dengar ucapanmu?!" tegur Naomi pada Foxie. "Aku mengatakan apa adanya, kenapa kamu marah?!" protes Foxie garang. "Justru karena itu aku marah!" balas Naomi tak kalah garang. Keributan yang dibuat Foxie dan Naomi membuat perjalanan menjadi sangat ramai selama beberapa menit. Satya yang berada di dekat Foxie mulai mendahului membiarkan mereka berdebat.Satya kini berada di dekat Felicia. Saat berada di dekat Satya, Felicia hanya memandangi dirinya diam-diam. Ia ragu-ragu ketika ingin menyapa Satya. Felicia mencoba memberanikan diri, "Kamu, kenapa bisa telat?" Satya menggaruk-garuk kepala, "Yah ... aku terlalu asik bermain game dengan kak Alicia," Felicia kembali terdiam, tidak melanjutkan obrolan. hanya melihat Satya dari pantulan kaca toko yang mereka lewati, ia juga memandangi langit yang keruh oleh awan hitam. "Menurutmu bagaimana tanggapan Dekka jika kita kerumahnya secara tiba-tiba?" tanya Arlo yang tengah memimpin perjalanan. "Aku tahu ekspresi seperti apa yang akan ia lakukan," balas Satya. *** Klik ... klik ... Dekka Castle tengah sibuk mencari peralatan-peralatan trik sulap lawas di toko online. "Gila! hanya peralatan sulap lawas dihargai $800?!" ucap Dekka terkejut melihat angka yang tertera pada website toko online. Ning ... nong ... Ning-nong ... "Siapa sih, sedang asik juga!" gumam Dekka kesal atas suara lonceng tersebut. Dekka memencet tombol suara sebelum ia membukanya, "Kami tidak menerima sales atau apapun itu!" ucapnya dengan nada kesal menjauh dari pintu. Ning ... nong ... Ning-nong ... Suara lonceng kembali berbunyi, wajah kesal tersirat pada Dekka. Ia pun kembali menekan tombol suara, "Aku tidak butuh salesman cepat pergi dari sini!" Ning-nong ... Ning-nong ... Kini ritme suara lonceng tamu menjadi begitu cepat, Dekka penasaran dengan seorang yang sedari tadi mengganggu dirinya. Ia menyalakan kamera yang berada didekat tombol lonceng. Namun, sayang kamera tersebut terhalang oleh tas besar berwarna coklat. Dekka langsung membuka pintu untluk melihat orang yang mengganggu dirinya. Swooosh ... klek ... Dekka dikejutkan oleh orang yang sebenarnya tidak ingin ia kenali. Dekka segera mendorong kembali pintu, untuk menutupnya kembali. Swooshh ... Bruk ... Dekka segera menutup pintu tersebut buru-buru. Namun sayang pintunya terhalang oleh sesuatu. "Ada urusan apa kalian datang kesini?" ucap Dekka menyeringai serta mengretakkan gigi-giginya dengan ekspresi kesulitan menahan dorongan kuat. "Kami hanya ingin berkunjung," jawab Satya tanpa rasa bersalah. "Oh begitu, paling tidak beritahu temanmu untuk menyingkirkan tangan besarnya dari pintu ini," balas Dekka mulai kelelahan. "Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku menyuruh Arlo melepaskan tangannya dari pintu ini." ucap Satya, "Aku akan percaya jika kamu membiarkan kami terlebih dahulu untuk bertamu di rumahmu," balas Satya dengan wajah tersenyum. "Baik-baik ... aku akan membiarkan kalian masuk," balas Dekka dengan cepat. Kini mereka masuk ke dalam rumah Dekka. Dari dalam rumahnya tidak ada yang terlihat istimewa, hiasan dinding yang biasa terpasang di setiap rumah tidak ia miliki. "Dekka, aku tidak melihat satu pun foto keluarga," ujar Naomi. Dekka tidak membalas ucapan Naomi, ia hanya menunjuk sebuah lemari besar. yang masih tertutup rapat. "Itu apa?" selidik Naomi. Naomi penasaran yang berada di dalam lemari itu, ia mendekati lemari selangkah demi selangkah namun pasti, tangan kirinya hampir menggapai pintu. "Hei! Aku tidak menyuruhmu untuk membuka lemari!" tegur Dekka saat memergoki. Mereka yang melihat Naomi tidak berkata apa-apa dan hanya melirik saja. Mereka mengikuti Dekka menaiki tangga, lalu memasuki ruangan yang penuh berisi peralatan-peralatan trik sulap klasik berbeda dengan seluruh ruangan yang terlihat kosong, disini sangat penuh peralatan. "Di tempat ini ada dua aturan." tutur Dekka, "Jangan pernah sentuh peralatan apapun kecuali aku mengizinkannya," "Peraturan kedua?" tanya Satya. "Jangan pernah keluar dari ruangan ini," jawab Dekka, "Aku akan mempersiapkan makanan dan minuman kalian tunggu disini," sambung Dekka meninggalkan tamunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD