Mereka hanya melihat-lihat peralatan tanpa menyentuh sedikitpun. Harusnya seperti itu tapi, Asher memainkan alat-alat itu. Dia bertingkah semaunya menghiraukan teguran teman-teman.
"Asher, jangan memainkan alat sulap itu," tegur Satya dengan Nada khawatir.
"Alah, santai saja tujuan kita kesini juga untuk mengetes sifat asli Dekka," balas Asher santai.
Swooosh ... klekk ... krieek ...
Asher terkejut saat mendengar suara pintu yang akan terbuka dan segera menaruh kembali ke tempat semula.
Tap ... tap ... tap ...
Dekka melangkah dengan hati-hati membawa minuman bersoda serta kripik yang ia bawa bersamaan dengan gelas-gelas kaleng menggunakan nampan.
"Bagaimana apa kalian menyentuh barang-barangku?" tanya Dekka sembari menaruh semua makanan dan minuman ke meja.
"Dia mengambilnya!" seru Satya menunjuk Asher.
Asher terkejut ketika Satya menuduh dirinya, "Tidak-tidak aku tidak sengaja mengambilnya karena bukan keinginanku," ujar Asher, "Apa kamu yakin itu aku?" tanya Asher balik kepada Satya.
Arlo, Naomi, Foxie, Felicia membenarkan kesaksian Satya dengan menganggukkan kepala serta menunjuk Asher.
"Kalian sangat tega padaku ..." ucap Asher dengan nada lesu.
Dekka menghiraukan perdebatan mereka, "Silakan duduk, jadi bagaimana kalian tahu alamat rumahku?"
Mereka semua duduk di lantai beralas karpet dikelilingi koleksi peralatan sulap milik Dekka.
"Aku meminta alamatmu pada guru walikelasmu," jawab Satya.
"Kami hanya ingin mengenal dekat dirimu saja," jawab Arlo.
"Aku yakin bukan hanya itu saja," balas Dekka dengan tatapan sinis.
"Iya seperti yang kamu duga bukan itu saja," ujar Satya.
Dekka sedikit menarik napasnya, "Aku tidak peduli dengan alasan kalian." ujar Dekka, "Lakukan sesuka kalian asal jangan melanggar dua peraturan yang aku buat," sambungnya menatap tajam pada Asher.
"Baik, apa yang kalian lakukan?" tanya Dekka pada ke lima tamunya.
"Aku ingin tahu alasanmu membantu kami," ucap Satya.
"Tidak, ada alasan apapun untuk membantumu," ucap Dekka dengan nada santai.
"Aku sedikit penasaran dengan caramu mempengaruhi otak orang-orang hingga menjadi gila seperti itu," ucap Asher penasaran.
"Aku hanya perlu mencari target yang sering terlihat sendiri." balas Dekka, "Tipe orang seperti itu sangat mudah untuk di akali," sambungnya.
"Mendengarnya saja terlihat menyusahkan." oceh Asher, "Tapi kami belum mempercayaimu sepenuhnya itu alasan kami berkunjung," sambung Asher.
Sontak mereka yang mendengar terkejut, "Hei, harusnya nanti!" protes Foxie mengerutkan dahinya.
"Apa bedanya nanti dengan sekarang?" balas Asher, "Kita butuh kekuatan dan kemampuan orang ini, secepatnya!" seru Asher.
"Sudahlah, ini sudah terlanjur. Kita bicarakan sejujurnya pada Dekka mulai hari ini," ujar Satya melerai mereka sebelum keributan makin panas, "Dekka, kami akan jelaskan semua rencana kami padamu," ujar Satya.
Dekka mulai mendengarkan dengan seksama penjelasan Satya sambil memejamkan mata, walau beberapa dari mereka terlihat bosan karena sudah mengetahui terlebih dahulu.
Tiga puluh menit setelah penjelasan panjang, "Bagaimana apa kamu paham semua ucapanku?" tanya Satya.
Dekka mendekapkan tangannya, "menurut kesimpulanku, kalian membuat kelompok hanya untuk menyelamatkan kelompok kalian sendiri bukan orang banyak,"
"Aku tidak bisa mengelaknya. Tapi, ada sedikit bagian yang salah," balas Satya sambil memakan kripik yang tuan rumah Sajikan.
"Bagian yang salah?!" ungkap Dekka.
"Iya, rencananya kami tidak akan membunuh lawan walau dia berniat membunuh kami," ujar Satya.
"Hah?!" ungkap mereka semua terkejut.
"Satya, rencanamu barusan tidak pernah kami dengar, kamu gila ya!" seru Foxie.
Felicia dan Naomi hanya mendengarkan mereka adu mulut berusaha agar tidak menjadi masalah besar.
"Bukannya kita memang sudah gila? Kamu masuk F.K16 secara sukarela apa itu tidak gila?!" ujar Satya.
"Dengar Satya rencanamu tidak terlalu relevan serta terlalu beresiko tinggi!" seru Arlo.
"Idemu terlalu egois menurutku," ujar Dekka menanggapi ucapan satya.
"Aku menyadari hal itu." ungkap Satya, "Oleh karena itu, aku membutuhkanmu untuk mewujudkan rencanaku ini," sambung Satya
"Kenapa denganku" ungkap Dekka.
"Aku menyukai cara licikmu saat mempengaruhi orang-orang," puji Satya pada Dekka.
"Oh, jadi semua yang berkunjung ke rumahku, semuanya mengikuti F.K16?" selidik Dekka.
Naomi langsung mengangkat tangannya, "Aku tidak ikut F.K16 maafkan saja. Menurutku ide ini terlalu gila atau lebih tepatnya mengada-ada," ucapnya sambil memegang gelas berisi soda.
"Hhmm, kenapa kamu masih ikut mereka?" tanya Dekka.
"Aku tidak punya teman lainnya ..." ungkap Naomi lirih.
"Apa?" tanya Dekka tidak jelas.
"Dia tidak punya teman lainnya," ucap Felicia.
"Hhmm, tidak apa jangan malu," tutur Dekka, "Jadi hanya 6 orang saja?" tanya Dekka pada Satya.
"Bagaimana kamu ikut atau hanya melihat kami dari luar?"
"Aku sudah mengatakannya bukan? Tentu saja aku ikut!" seru Dekka, ia pun bersalaman dengan Satya.
"Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu berlatih?" selidik Satya.
"Aku terlalu sibuk latihan trik ilusi mata," balas Dekka.
"Oh jadi begitu maksudmu. Aku pikir kamu memang tidak akan ikut latihan," ungkap Satya.
"Bisa kamu tunjukkan?" tanya Felicia penuh rasa ingin tahu yang tinggi.
"Seperti yang kalian tahu pada umumnya trik ilusi selalu mempermainkan fokus seseorang," tutur Dekka mulai memainkan kartu trik yang paling sederhana.
Dekka mulai mengocok kartu dengan sangat cepat lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga terlihat seperti melayang. Selanjutnya ia mengkap kembali semua kartu.
Dekka kembali memperlihatkan isi semua kartu dan melemparnya kesembarang tempat. Perhatian teman,
"Jadi berapa kartu yang aku buang tadi?" tanya Dekka pada teman-temannya.
"Semua kartu?!" jawab Felicia bingung.
Dekka menunjukkan sisa kartunya yang menyelip diantara ruas jarinya, "Apa kamu masih yakin aku melempar semua kartu?" ujarnya tersenyum.
"Sepertinya aku paham maksudmu." ungkap Satya menatap rekan-rekannya, " Apa kalian paham?" sambungnya.
"Hhhm, aku sedikit mengerti ucapan Dekka," ujar Naomi.
"Aku anggap kalian semua paham dengan semua perkataanku," ucap Dekka.
"Ngomong-ngomong aku sedikit penasaran tentang lemari yang berada di ruang tengah. Apa isi yang ada di dalamnya?" selidik Naomi dengan penasaran tingkat tinggi.
Ekspresi Dekka langsung berubah sayu, "Aku tidak ingin mengatakannya, lebih baik kalian ikut aku," ajak Dekka pergi mendahului tamunya menuruni tangga.
***
Lemari yang Naomi maksud kini sudah ada di depan mata mereka, Dekka memegang gagang pintu lemari.
Kriieekk ...
Pintu lemari terbuka, di dalamnya tidak ada yang spesial kecuali 3 foto bingkai yang bersender pada masing-masing keramik guci yang berada di belakang bingkai foto.
Sontak mereka terdiam, Naomi yang semula sangat penasaran isi dari lemari tersebut, kini merasa bersalah.
"Maafkan, kami Dekka," ucap Satya.
"Tidak apa, ini sudah lama," ujar Dekka tersenyum tipis.
"Kedua orang tuaku mengalami kecelakaan 3 tahun lalu sedangkan yang ini adalah kakak laki-lakiku dia meninggal karena mengikuti F.K16 1 tahun lalu," tutur Dekka menunjuk pria dan wanita paruh baya serta pemuda yang terpajang di dalam lemari.
Air mata mulai mengalir deras dari pipi Felicia serta Naomi, " Hiks ... hiks ..." tangisan tersedu-sedu mengubah suasana menjadi sendu
"Maafkan aku Dekka, rasa penasaranku membuatmu kembali terluka," ungkap Naomi masih tersedu.
"Tidak apa, ini sudah lama," ujar Dekka mengelus rambut Naomi.
"Emm, sepertinya kami harus pulang sebelum tangisannya makin makin keras," ucap Satya.
"Sepertinya kamu telat Satya, kini bertambah satu," tutur Asher pada Satya menunjuk Foxie.
Satya menutup wajahnya, "Ahh, iya sepertinya aku telat!"
"Satya kenapa kamu juga ikut menangis?" tanya Asher.
"Tidak, aku tidak menangis," jawab Satya masih menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Maaf, Dekka sepertinya kami akan di sini sementara," ujar Arlo meminta maaf.
"Iya tidak masalah, aku akan pergi kebelakang terlebih dahulu, untung mengambil makanan yang berada di atas," tutur Dekka pergi menuju anak tangga, "Sepertinya aku akan punya teman baik," gumamnya tersenyum lega.
Dekka kembali turun membawa makanan serta minuman yang tersisa.
Selama empat orang ini menangis. Arlo, Asher dan Dekka mengobrol ringan agar tidak ikut larut dalam tangisan mereka. Setelahnya mereka pulang.
"Dekka, sampai besok lagi ya!" seru Naomi melambai-lambai pada pada pemuda yang berada di dekat pintu diikuti teman-temannya.
Mereka berjalan kaki sebentar, "Fyuhh ... leganya aku tidak sadar bahwa Dekka sebatang kara," ucap Naomi.
"Ini semua salahmu, Naomi kenapa kamu sangat penasaran," ucap Felicia.
Naomi menggaruk-garuk kepalanya, "Maafkan aku, itu kebiasaanku yang sulit dihilangkan,"
"Ya sudahlah ini sudah terlanjur, "ucap Satya.
"Pffftt ... Aku baru tahu kalau Satya juga sangat mudah terpancing secara emosional," ujar Asher menahan rasa tertawanya dengan menutup mulut.
"Itu sisi baik seorang Satya Pranaditya, ia rela menangis untuk orang lain," bela Felicia membalas ucapan Asher.
Foxie berhenti di tengah jalan, "Kita mau kemana?"
"Kita mau pulang memang kenapa?" ucap Asher menengok kebelakang diikuti temannya.
"Kenapa kita jalan kaki? Bukannya lebih baik kita menunggu?!" ujar Foxie, "Kalau ingin naik bus tempat pemberhentian masih jauh," tutur Foxie.
Mereka semua langsung berhenti, "Kenapa kita jalan kaki ya?" batin mereka.
Haha ... haha ...
Tertawaan keras keluar dari mulut mereka tanpa memperdulikan lalu lalang pejalan kaki.