Sore hari setelah semua pelajaran selesai. Mereka kembali berlatih di dalam gedung seperti biasa.
Tak ... tak ... tak-tak ...
Latihan pertempuran sengit Asher melawan Arlo menggunakan tongkat.
Gerakan lincah Asher memainkan tongkatnya yang memang sudah ahli sejak kecil.
Ayunan tongkat dengan jangkauan luas andalan Asher. berhasil mengenai pinggang Arlo yang lebar.
Walaupun, Arlo menggunakan tongkat tapi gaya permainannya seperti memainkan pedang karena panjang tongkatnya lebih pendek dari tinggi Arlo.
Mereka terilihat sangat menikmati pertarungan. Hingga yang melihat duel latihan Arlo dan Asher terpukau menyaksikannya.
"Menurutmu siapa yang akan menang?" tanya Satya pada Dekka sembari meminum kopi kemasan kaleng.
"Mereka terlihat sama kuat dan pada akhirnya stamina mereka yang akan jadi penentu,"
Satya dan Dekka kembali menyaksikan pertarungan mereka.
Whoosh-Whoosh ... Tap ... tap ... tap-tap ...
Asher memutar tongkat dengan cepat dan saling mengoper balik ke kedua tangannya selanjutnya ia berlari cepat.
Trak ... tak-tak ... tak ... tak ...
Serangan penuh adu senjata antara Asher dan Arlo tidak terhindarkan. Arlo yang hanya diam satu titik mengikuti arah kawannya yang berputar-putar dan sesekali Asher menjauh karena ia mulai terkuras habis tenaganya.
"Huh ... huh ..." napas yang tersendat-sendat mulai Asher atur kembali Ia pun kembali menyerang Arlo dengan penuh tenaga, "Yaarkk ..." suara serak teriakan Asher saat ia mengayunkan tongkatnya.
Tak-tak ... tak ... tak ... sreek ... krakk ...
Serangan bertubi-tubi yang berhasil Arlo tangkis dari Asher membuat tongkat kayu miliknya retak.
Krakk ... cetak ...
Tongkat Arlo patah menjadi dua hingga bahunya hampir terkena pukulan dari Asher yang sengaja dihentikan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Asher berhenti menyerang.
Arlo melirik tongkat Asher yang berada di pundak kirinya, "Lumayan mendebarkan,"
Asher tersenyum, "Sepertinya aku harus mengganti tongkat dengan yang baru," ungkapnya mengambil tongkat milik Arlo.
Arlo melirik kebelakang mengarahkan pandangannya pada Dekka, "Hei apa kamu ingin bermain?!" sahutnya.
"Boleh saja!" balas Dekka mulai mendekati arena.
"Silakan ambil senjata sesukamu, " ujar Arlo untuk memilih salah satu senjata.
Dekka hanya melihat pedang dan tongkat saja tapi yang ia butuhkan bukan itu, "Apa ada yang lain?"
"Hhmm kamu butuh senjata latihan seperti apa?" tanya Arlo padanya.
"Aku butuh pisau atau belati saja tentu saja senjata latihan bukan yang sebenarnya," ucap Dekka.
"Aku tahu tempatya, biar aku saja yang ambil," sahut salah satu anggota Arlo.
Mereka menunggu sebentar,"Apa kamu yakin mau melawanku dengan belati saja?" tanya Asher sambil memainkan tongkatnya.
"Iya aku yakin, lihat saja!" seru Dekka percaya diri.
Anggota Asher membawa keranjang dorong dengan belati menggantung diantara celah-celah meja yang sengaja di lubangi.
"Ahh, ini dia temanku," ungkap Dekka tersenyum puas mengambil dua belati kayu.
"Ok, apa kamu siap?" tanya Asher mulai bersiap di arena.
"Ok aku siap!" Dekka melangkah maju memasuki arena.
"Ingat! jangan mengecewakanku," ucap Asher mengarahkan tongkatnya ke arah Dekka.
Tap ... tap ... tap-tap ...
Dekka mulai melangkahkan kakinya selanjutnya ia berlari kencang ke arah Asher.
"Apa kamu yakin bisa mengalahkanku dengan belati kecil itu!" seru Asher menunggu serangan Dekka.
Srekk ... tak ... tak ... tak-tak ...
Dekka melempar Salah satu belati ke arah atas dan menyerang Asher sembarang arah. Belati yang ia lempar berhasil ia tangkap lalu melempar ke Arah atas kembali.
Asher merendahkan tubuhnya lalu ia memutar badan bersamaan ayunan tongkat.
Swoosh ...
Ayunan tongkat Asher berhasil Dekka hindari dengan melompat berputar 360· ke arah belakang. Ia mendaratkan kaki kiri dan lutut bersamaan menyentuh matras serta kaki kanan menapak dan tubuh membungkuk di bantu tangan kirinya menyeimbangkan berat tubuhnya menyentuh matras.
Swoosh ...
Dekka langsung menyerang balik dengan memutar tubuhnya kembali 180· kearah samping kiri menyerang menggunakan kaki yang melayang bebas bertumpu pada tangan kiri. Apa daya serangan yang Dekka lancarkan tidak bisa menjangkau Asher yang telah melompat kebelakang terlebih dahulu.
Swooshh ... Tap-tap ... tap-tap ...
Dekka segera berdiri tegak setelah serangannya mengalami kegagalan. Ia kembali menyerang dengan berlari kencang menuju Asher.
Swooshh ... Sleb ... Criing ...
Saat tengah berlari Dekka melempar belati kayu pada Asher.
Tap-tap ... tap-tap ... Cring ... Tak ... tak ...
Dekka mengambil belati kedua yang sengaja ia lempar keatas beberapa kali, Asher menangkis lemparan belati yang baru saja dilemparnya dan mengarahkan kembali pada Dekka. Ia langsung menangkap belati yang baru saja menyerang Asher dan menyerang kembali dengan kedua belati yang ada di kedua tangannya.
Whoosh ...
Asher berusaha menusuk dalam perut Dekka dengan ujung tumpul tongkatnya.
Swing ... Slashh ... Cring ...
Dekka membelokkan arah tusukan tongkatnya ke arah samping kanannya sembari mendekatkan diri guna menyayat tubuh Asher.
"Seranganmu sungguh luar biasa Dekka sampai membuatku kewalahan!" seru Asher memuji Dekka yang tengah berduel di arena.
"Pujimu terlalu berlebih, hampir semua seranganku tidak sanggup mengenai tubuhmu!" puji Dekka kembali masih sibuk menyerang berbagai sudut kelemahan Asher.
"Hhhmm, mari kita selesaikan pertarungan ini," ungkap Asher menyeringai.
Tak ... tak ... tak-tak ... tak-tak ...
Serangan kedua orang tersebut menjadi sangat cepat tanpa jeda sedikitpun.
Swoosh ... Swoosh ... tak ... tak ... tak-tak ...
Gerakan lincah oleh Dekka membawanya dalam kekalahan konyol ia tidak sengaja menginjak garis pembatas arena.
"A! Sepertinya aku kalah," ungkap Dekka melihat ke salah satu kakinya yang telah melewati garis, "Asher, bisakah kamu menyingkirkan tongkatmu yang mengarah kepalaku?" sambungnya.
"A ... sepertinya kamu juga harus menyingkirkan kaki kirimu dari wajah tampanku?" ungkap Asher.
Setelah pertarungan selesai mereka baru menyadari para anggota telah menaruh perhatiannya dan menonton pertarungan mereka sampai akhir.
"Pertarungan yang menyenangkan dengan akhir yang membosankan," gumam salah satu anggota.
Asher dan Dekka menaruh kembali peralatan latihan mereka dan mendekati Satya.
"Satya, apa kamu mau bertanding lagi denganku?" tanya Asher menawarkan diri.
"Aku malas tapi jika ada hadiahnya aku akan ikut," tawar Satya.
"kamu memang tidak berubah," ujar Asher menggeleng.
"Tapi lebih baik kita tunda dahulu pertarungan kita," tutur Satya, "Ada yang ingin aku katakan pada kalian," ucapnya.
"Cuma kita saja?" tanya Asher.
"Iya, hanya kita saja Aku, Asher, Dekka, dan Arlo!" tunjuk Satya satu persatu rekannya, "Ikut aku ke ruang ganti," ajak Satya.
Tap ... tap ...
"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" selidik Asher mengikuti langkah Satya.
"Apa kamu ingat sewaktu kita di ruang konseling?" tanya Satya.
"Iya aku ingat!" seru Asher.
Mereka kini telah masuk ruang ganti siswa, sebelum membicarakannya hal penting Satya menyuruh mereka memeriksa tempat ini terlebih dahulu.
"Semua sisi tempat yang aku kunjungi aman," ucap Asher
"Disini juga aman," tutur Arlo.
"Aku mulai pembicaraannya," ujar Satya mulai merogoh sakunya lalu menunjukkan pada mereka semua.
"Ini terlihat sepertiku." ucap Dekka, "Kenapa foto masa kecilku ada disini?!" selidik Dekka mulai timbul pertanyaan, "Siapa gadis kecil di sebelahku?" sambungnya.
"Sudah aku duga kamu akan bingung." ujar Satya, "Di dalam foto ini adalah kamu sewaktu kecil serta di sebelahnya adalah Foxie," sambungnya.
"Terus maksudmu apa?" selidik Dekka.
"Yang berada di sebelahmu adalah Foxie apa kamu masih belum menyadarinya?" tutur Satya, "Dari informasi yang ibu Valerie beri kita bertiga dulunya adalah sebuah objek percobaan," sambung Satya.
"Tunggu, maksud kamu kita?! Satya, Aku dan Foxie?" selidik Dekka.
"Penelitian untuk apa?" tanya Dekka dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Aku tidak terlalu memahami itu, yang jelas kita mengetahui satu hal." ucap Satya, "Kita lahir di tempat yang sama," sambungnya.
"Boleh aku miliki foto ini?" pinta Dekka.
"Silakan," jawab Satya memberi foto masa kecil Dekka dan Foxie.
"Apa ada hal lain?" tanya Dekka.
"Kita akan membuat kelompok besar ini menjadi sebuah kelompok kecil yang mana Aku, Dekka, Asher dan Arlo," tutur Satya.
"Bukannya kamu tidak percaya pada Dekka?!" ujar Arlo.
"Aku sependapat dengan Arlo," ungkap Asher.
"Semua rencana ini aku yang membuatnya jadi aku bebas menentukan haha ..." tawa Satya mulai besar kepala
"Ada berapa anggota kita?"
"Menurut absensi ada 125 orang berasal dari kelas 1, 2, dan 3. Jika dibagi menjadi 4 tim maka masing-masing tim? Emmm ..." gumam Arlo menghitung.
"30 untuk masing-masing tim ditambah kita bertiga maka akan menjadi 31 untuk per-tim," tutur Satya.
"Iya, seperti itu maksudku!" seru Arlo sambil mengacungkan jempolnya.
"Apa kalian sanggup?" tanya Satya pada mereka.
"Pertanyaan itu hanya cocok untukmu." ledek Asher, "Apa kamu yakin telah siap?" sambungnya.
"Aku sudah yakin sejak awal," jawab Satya.
"Ok, kita kembali ke lapangan dan beri tahu mereka!" seru Satya.