CHAPTER 26

1496 Words
"ATTENTION!" teriak Arlo menarik perhatian. Semua anggota berbaris, sesuai gender masing-masing. Suasana yang awalnya ramai kini hanya terdengar suara yang berasal dari satu orang saja. "Terima kasih, ada sesuatu yang harus aku beri tahu pada kalian!" seru Arlo mengandalkan suara yang lantang. Arlo berdiri tepat dijalur keluar masuk ruang bawah tanah. Ia maju satu langkah diantara kedua temanya yang telah berada di belakang. Arlo berdiri sikap sempurna, "Belum lama ini kita mendapat kabar dari pihak sekolah." tutur Arlo, "Sekolah meminta kita untuk membagi kelompok menjadi tiga bagian. Menurut mereka kelompok kita sudah melebihi kapasitas anggota," sambung Arlo tanpa sedikitpun rasa gugup yang menghinggap. "Intruksi ketua! Siapa saja yang akan memimpin setiap kelompoknya?" ucap anggota pria dengan tubuh ideal, "Apa ketua akan melakukan pemilihan lewat voting?" sambungnya. "Tidak ada pemilihan voting saya sudah memilih 3 orang yang akan mewakili saya." jawab Arlo, "Orang tersebut adalah Dekka, Asher dan Satya silakan maju kedepan untuk lebih mudahnya," pinta Arlo pada kawannya. "Aku mengenal orang itu sewaktu pendaftaran anggota ..." sahut anggota wanita berbisik. "Sepertinya tidak asing, bukannya dia yang membuat keonaran minggu lalu?! ..." balas anggota wanita lain berbisik. "Sepertinya begitu, kita butuh penjelasan lebih dari ketua." ungkapnya, "Intruksi ketua! Kedua dan ketiga tidak masalah tapi kami sedikit protes dengan orang pertama," protesnya. Suara yang tadinya berasal dari satu sumber saja, sekarang mulai banyak sumber suara bermunculan. "Aku tahu isi pikiran kalian saat ini." ungkap Arlo, "Tapi, dia memiliki satu hal yang tidak kalian milik dalam hal ketrampilan ilusi," sambungnya Para anggota berhenti memprotes keputusan Arlo. Sikap mereka cenderung tidak terlalu banyak tanya dan lebih memilih diam, karena percaya akan keputusan Arlo agar mereka dapat hidup lebih lama. "Bagaimana apa ada lagi?" tanya Arlo memastikan. Mereka masih terdiam, "Ok, saya anggap kalian tidak punya pertanyaan lagi." ujar Arlo, "Sekarang tolong bagi menjadi 4 kelompok campuran pria dan wanita dengan jumlah 30 orang," terang Arlo. "Bagaimana menurutmu, tentang pembagian kelompok ini?" tanya salah satu anggota pria saat tengah melakukan pembagian. "Tidak masalah, asalkan semua rencana ini membuat kita lolos dari peti mati yang tengah disiapkan oleh pemerintah," jawab pria di sebelahnya. Mereka sudah membagi menjadi 4 tim dan masing-masing dari mereka memberi beberapa materi berbeda tentang beladiri, bertahan hidup di alam, kamuflase, pengobatan. Mereka saling berbagi informasi dengan bergantian mengajar kepada anggota atau regu lain yang memiliki pemahaman lebih secara teori maupun pengalaman. *** Satu minggu pertama setelah pembagian tim menjadi 4 bagian. Arlo, Satya, Dekka, Asher. "Satya, apa menurutmu semua rencana ini akan berhasil?" tanya Asher tengah melangkah menuju lapangan bersama Satya hendak berlatih kembali. "Jangan terlalu kamu pikirkan cukup nikmati saja prosesnya," jawab Satya. "Oh, iya menurutmu cara pembelajaran kita bagaimana? Apa sudah maksimal?" tanya asher kembali. "Sudah cukup namun belum maksimal, kita membutuhkan seorang Ahli." jawab Satya, "Apa kamu punya seorang kenalan di tema-tema pelajaran ini?" tanya Satya berjalan sedikit lambat. "Aku mempunyai beberapa kenalan," jawab Asher. "Apa kamu bisa mengundangnya ke sekolah?!" jawab Satya mulai antusias. "Sayangnya dia berasal dari sekolah lain ..." balas Asher dengan nada sayu. "Aku punya ide yang menurutku bagus," cetus Satya. "Ide seperti apa?" selidik Asher. "Kamu tolong jaga reguku aku akan mengajak Naomi!" teriak Satya berlari kencang menuju kelasnya. "Ha! Bukannya Naomi sudah pulang?!" ucap Asher pada Satya. "Aku mendengar ucapanmu, dia belum pulang saat ini sedang di Perpustkaan," balas Satya melalui komunikasi radio lensa sambil berlari kencang menuju perpus yang berada di lorong kelas 3. "Kebiasaaan!" gumam Asher melanjutkan perjalan. *** Tap-tap ... tap-tap ... Satya berlari kencang dengan napas yang terengah-engah, "Hah ... hah! ... aku harap dia belum pulang seperti yang Asher katakan," Pandangan Satya jelalatan mencari perpustakaan yang berada di lorong kelas tiga, "Ini dia perpusnya," Whoosh ... Klek ... Satya menggeser pintu perpustakaan. Ia segera mencari di sekeliling ruang perpustakaan dengan gerakan terburu-buru. Ruangan perpustakaan besar dikelilingi oleh rak buku tertata rapih, memiliki tinggi dua lantai serta pecahayaan baik karena jendela yang besar dan lebar. Kursi-kursi serta meja yang berada di pojok ruangan dengan lampu belajar di setiap mejanya memudahkan murid-murid dalam membaca buku. "Ternyata masih banyak murid-murid yang tengah belajar disini," gumam Satya memperhatikan ruangan dipenuhi murid-murid yang tengah belajar untuk menghadapi ujian semester. Pemikiran Satya benar-benar teralihkan setelah mendapati dirinya benar-benar masuk kedalam kumpulan orang yang mengandalkan otaknya, untuk lepas dari ujian F.K16. Pandangan Satya masih jelalatan untuk mencari Naomi, ia benar-benar bingung karena belum menemukan orang tersebut. Ia sempat berpikir untuk pulang, tapi ia baru mengingat sesuatu. "Aku harus telepon dia melalui lensa untuk memastikannya," batin Satya. Tuut ... tuut ... "Ha-halo, Satya ada apa?" tanya Naomi sedikit terkejut. "Kamu berada dimana?" tanya Satya balik. "Aku masih berada di sekolah," jawab Naomi "Dimana posisimu sekarang?" selidik Satya. Syurrr ... Suara air mengalir terdengar dari earphone Satya, "Apa kamu saat ini sedang di toilet?" Satya langsung bergegas mencari-cari toilet yang paling dekat dengan perpustakaan. "Aku sekarang berada di toilet dekat perpustakaan." terang Naomi sembari membasuh tangannya, "Memangnya ada apa?" selidik Naomi. "Penjelasannya nanti saat aku sudah menemukanmu," jawab Satya langsung memutus sambungan. Satya telah menemukan toilet yang paling dekat dengan perpustakaan, ia memutuskan menunggu Naomi di depan pintu. Satya menunggu dan terus menunggu, hingga pada akhirnya seorang gadis muda berdarah separuh Asia muncul didepan matanya. Satya langsung menarik tangan Naomi membawanya pergi dari kampus. Naomi yang kaget karena tarikkan tangan Satya. Ia pun protes, "Eehh! Aku mau di ajak kemana? Paling tidak beri penjelasan terlebih dahulu sebelum mengajakku," "Aku mau membawamu ke ruang osis." jelas Satya, "Maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu untuk bernegosiasi dengannya," sambung Satya. "Hah ... lagi! Satya tinggal hitungan minggu ujian semester diadakan aku mohon jangan ganggu aku lagi," pinta Naomi merengek pada laki-laki yang menarik tangannya. "Ok, ini terakhir kalinya aku meminta bantuanmu. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu," balas Satya berjalan sambil menarik tangan Naomi yang halus. "Eehhh! Itu bukan jawaban yang aku inginkan dari mulutmu," balas Naomi terkejut kembali karena tarikkan tangan Satya begitu kencang. Mereka berjalan kembali menuju aula utama karena semua jalan masuk dan keluar gedung sekolah hanya aula utama yang menghubungkan semua lorong kelas termasuk lorong lapangan. Lorong kelas dua disaana lokasi ruang Osis berada. Walaupun tempatnya paling ujung ruang Osis memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Osis bertugas membantu peran sekolah dalam hal kedisplinan menegakkan peraturan sekolah, membuka serta mengatur suatu acara besar dan masih banyak lagi. Tok-tok ... tok-tok ... Sudah beberapa kali ketukan belum ada respon dari dalam ruangan. Satya mulai gelisah dan memutuskan masuk tanpa ijin. Satya sedikit mengintip dari celah pintu yang dia buka, "Benar-benar tidak ada orang di dalamnya," Batinnya. "Bagaimana apa ada orang di dalam?" tanya Naomi sembari bersender di tembok. "Tidak ada, apa kamu punya nomornya?" tanya Satya. "Aku tidak punya kecuali ..." balas Naomi berusaha menghubungi seseorang. "Kecuali apa?" selidik Satya. "Suuusstt ... diam," balas Naomi. tuut ... tuut ... "Halo, apa kamu punya nomor telepon ketua Osis?" tanya Naomi. "Iya aku punya," jawab si penelpon. "Tolong berikan padaku aku butuh bantuanmu sekarang juga," "Hhmm, semua ada harganya," balas si penelpon. "Aku terima! Cepat berikan padaku," balas Naomi tergesa-gesa. "Ini dia nomor ID kontak lensa miliknya," balas penelpon. "Terima kasih," ucap Naomi. Sambungan terputus. Naomi mulai menghubungi ketua Osis. Tut ... tut ... "Hah ... iya," ucap ketua Osis "Ini Naomi ... tante sekarang ada dimana?" ucapnya. "Hah ... Naomi, tumben sekali menghubungi tante, ada apa?" tanya ketua Osis. "Aku butuh bantuanmu dan sekarang aku berada di ruang Osis," balas Naomi. Shutt ... Goal ... Suara sorakan dan teriakan yang berasal dari klub sepak bola. "Tunggu sebentar, sekarang aku sedang berada di klub untuk mengawasi jalannya kegiatan klub," balasnya. "Akan aku tunggu cepat datang kesini," balas Naomi. "Baiklah, aku akan datang secepatnya, masuklah terlebih dahulu tapi sebelum masuk matikan alarm pintu." tutur ketua Osis, "Sebelah kiri pintu terdapat tiga saklar, tekan bawah, atas, atas pada saklar secara bersamaan," sambungnya. "Apa?!," Naomi sedikit bingung tentang penjelasan tantenya, "tekan bawah, atas, atas bersamaan," gumamnya. "Apa katanya?" tanya Satya. "Dia meminta kita masuk tapi harus mematikan alarm dengan menekan saklar bawah, atas, atas." jawab Naomi, "Satya kamu yang buka siapa tau ada apa-apa," sambungnya "Terus kalau aku yang buka terus kena jebakan, kamu mau apa?" protes Satya. "Aku kaburlah hehe ..." canda Naomi tertawa kecil. "Baiklah, biar aku urus ini tugasmu membantu agar ketua Osis mau menyetujui rencanaku," balas Satya mulai membuka pintu lebar-lebar dan mencari saklar yang di maksud Naomi. Satya melirik sisi kanan dan kiri yang dia lihat hanya dua Saklar diisi kiri saja ketiganya tidak di ketahui keberadaannya. "Di dalam ruangan hanya ada dua saklar Naomi," ucap Satya. "Saklar ketiga ada di luar, mungkin ..." ucap Naomi. "Bagaimana kamu tahu?" tanya Satya. "Dia berada tepat di depan pintu," Balas Naomi. "Coba saja," ucap Satya. Naomi mendekat dan hendak menekan langsung, "Ehh bentar dulu aku belum kasih aba-aba tapi lihat arahnya saklar dulu," tutur Satya. "Sepertinya Atas," balas Naomi. "Kita mulai," ujar Satya, "Satu, dua, tiga!" serunya. Klek ... "Apa sudah mati alarmnya?" selidik Naomi. "Coba saja, menggunakan parfum yang selalu kamui bawa," balas Satya. "Oh, iya!" seru Naomi. Splasshh ... Naomi menyemprotkan Parfumnya. "Sepertinya sudah aman." ucap Naomi, "Ayo kita masuk," ajaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD