"Ga-Gawat ... Hari ini ada berita heboh. Coba kalian lihat di BoulevardNews. Berita online sekolah memuatnya tadi pagi!" teriak Siswa kelas 10E dengan suara lantang.
Seharusnya, pagi hari di sambut obrolan ringan. Akan tetapi, hari ini terdengar suara-suara menyeruak membuat kehebohan di seluruh lingkungan sekolah.
"Halah, palingan kisah percintaan saja. Kalau bukan ya, pastinya skandal cinta terlarang antara ibu guru dan Siswa sekolah ini," ujar siswa lainnya tidak terlalu menanggapi teriakan teman satu kelasnya itu.
Ketika, mendengar kalimat 'kisah cinta terlarang antara guru dan murid'. siswi-siswi terlihat bernafsu, seperti melihat logam mulia yang berserakan di tanah menunggu untuk di ambil. Akan tetapi, harapan mereka pupus setelah melihat berita ini.
Salah satu siswi dengan sengaja membacanya keras-keras berkata, "Bahaya!! Beberapa murid Famous. Mengungkapkan kebenaran yang mengejutkan. Mereka akan mengikuti F.K16 secara suka relawan. Tapi, dengan jujur saat ini, mereka membutuhkan bantuan dari siswa atau siswi yang merasa memiliki pandangan atau pemikiran yang sama tentang hal ini," ucap salah satu gadis kelas 10E.
Setelah mendengar kalimat terakhir, ketegangan mulai meradang. Mereka yang berpikir pendek. Seketika, protes terang-terangan hingga terjadi keributan.
"Jadi, berita ini benar-benar di muat?! Aku pikir ini hanya sekedar gurauan, maksudku hanya kabar burung tak jelas asal-usulnya" ucap siswi lainnya kebingungan.
"Hah, apa mereka tidak waras?! Sekarang ini bukan saatnya berpikiran seperti anak kecil!," ucap salah satu siswa dengan jengkel mengungkapkan ke kesalannya.
Salah satu siswi bertanya, "Coba kamu cari sumber ide ini berasal. Biasanya setiap pembuat berita memuat nama si pengirim berita."
Setelah itu, salah satu Siswa lainnya menggebrak meja keras-keras berkata, "tentu saja tidak akan ada bodoh!. Apa kalian tidak memikirkan resiko yang terjadi jika berita ini tersebar?"
"Apa kamu tau kapan perekrutan anggota di laksanakan?" tanya murid Siswi dengan tenang.
"Be-Bentar, akan aku cari. Setelah, kulihat baik-baik tidak ada alamat atau apapun yang tercantum dalam berita ini"
"Jadi begitu ... Kita tidak tahu kapan mereka akan merekrut," ucap siswi lainnya menarik kesimpulan.
Ketika, para murid sedang menarik kesimpulan dari pembahasan ini salah. Salah satu Siswi berkata, "Kenapa tidak pergi dan tanyakan langsung saja. Pada klub Surat Kabar, dengan cara ini. Kita akan lebih mudah mengetahuinya."
Setelah mendengar suara yang terdengar samar-samar karena mulut yang tertutup lengannya sendiri. Dari situ murid-murid mulai mendengarkan pendapat orang tersebut yaitu Foxie.
"Coba saja datangi klub itu saat sore hari. Di saat itu, semua klub aktif dan rata-rata guru di sana adalah guru pembimbing saja itu pun sangat sedikit," sambung Foxie terlihat masih menikmati rasa malasnya tidur di meja dengan tas sebagai bantal.
Siswa lainnya ikut berbicara, "Aku setuju dengan pendapatnya. Tapi bukannya, lebih baik kita melaporkan ini pada guru kita? Menurutku pembahasan ini terdengar rumit bagi kita,"
Siswa lainnya, ikut berbicara menyela teman satu kelas saat sedang menyuarakan suara, "Apa kalian tidak berpikir, jika kita melapor pada guru. Bukanya kita tidak akan bisa menjadi dewasa? Lagi pula aku setuju dengan pendapat dari berita ini,"
Keributan makin menjadi. Beberapa murid mulai menerima pemikiran dari berita online yaitu BoulevardNews. Murid lainnya tentu saja ada yang tidak setuju. Bahkan, sebagian dari mereka berniat mengunjungi ruang klub Surat Kabar untuk meminta penjelasan setelah pelajaran berakhir.
Sebelumnya Satu minggu yang lalu.
Pukul 4 sore, sebelum di rilisnya berita online BoulevardNews. Naomi, Satya, Arlo, Foxie, Asher, dan Felicia berkumpul terlebih dahulu di dalam kelas 10E. Karena ini memang kelasnya.
Kelas begitu sepi, yang tersisa hanyalah lima orang saja dan bangku kosong yang terlihat berantakan tidak teratur usai di duduki serta lorong kelas terasa sunyi dan hanya terdengar suara penyaring udara saja yang masih berjalan. Sedangkan kami semua berkumpul dan duduk di bangku masing-masing.
"Naomi, tolong panggilkan Felicia. sebelum dia pulang ke rumah," pinta Satya.
Naomi terheran, "Hah, kenapa baru sekarang?!. Sekolah ini sudah sangat sepi." dengan menaikkan alis bagian kiri.
"Sudahlah, percaya padaku panggil saja." ucap Satya. menyuruh sambil mendekap kedua tangan rapat-rapat dengan posisi duduk tegap.
Naomi segera menelpon Felicia melalui lensanya yang terhubung langsung dengan earphone, "Tuutt ... Tuutt ... Tuutt," bunyi frekuensi yang menandakan sudah terhubung.
Naomi kembali terkejut dan heran. Berkata, "Aku terhubung dengan Felicia?!" demikian ucapnya terkejut.
Setiap lensa dapat berkomunikasi dengan Lensa lain pada jarak 1km. Jarak ini termasuk paling jauh karena bukan di desain untuk komunikasi melainkan membaca, memilah, dan mengaktifkan seluruh sarana yang hanya bisa di aktifkan dengan Lensa termasuk pembayaran dalam bentuk scanner.
Berbeda dengan Smartphone mereka memang sudah di rancang untuk komunikasi. Walaupun, sebenarnya Lensa hanya mengubah dari sentuh ke perintah suara saja dan lebih sedikit aplikasi.
Foxie terlihat ingin mengatakan sesuatu pada Satya, "Hei, bagaimana kamu tau kalau dia belum pulang?" demikian ucapnya mendekat ke arah Satya dan duduk bersebelahan dengannya.
"Yah, aku sempat menghubunginya lewat Lensa, agar ia tidak pulang terlebih dahulu serta menunggu kabar."
Foxie terheran-heran, "Kenapa tidak kamu saja yang menghubunginya?"
Aku hanya menggaruk kepala walau tidak gatal, "Tak apa, aku hanya malu saja."
Foxie lebih terheran lagi, "Hanya malu katamu? itu terdengar aneh. Ingat ini idemu camkan itu!" Demikian ia berkata dengan nada mengancam.
"Halo ..." ucap Asher terlihat memegang Handphone, membuat pandangan kami terfokus padanya.
"Ah, iya sebentar lagi aku akan menyusul tunggu saja di depan gerbang. Maaf ya, aku sedikit terlambat," sambungnya kepada si penelpon.
"E-Etto, siapa dia?" selidik Satya sedikit penasaran.
"Gadis-gadis ini mengajakku pergi ke karaoke. Ini termasuk tugas yang kamu beri tadi, agar misi ini sukses" ucap Asher sambil menatap Naomi yang berada di depannya.
"Oh, begitu. Ini akan cepat kok, tunggu saja beberapa menit hingga Felicia tiba" balas Satya berbicara pada Asher.
"Oh ya, gimana tanggapan Felicia?" tanya Satya pada Naomi yang terlihat masih membaca.
"Dia sedang ke sini, beberapa menit lagi" ucap Naomi masih fokus membaca buku.
Setelah itu suasana menjadi hening kembali selama 10 menit. beberapa dari kami terlihat sibuk dengan hobinya masing-masing.
Suasana hening itu, hilang setelah mendengar suara pintu bergeser, "Swussh Klek," tentu saja yang membuka pintu adalah Felicia dengan sedikit terengah-engah sambil membungkuk memegang lututnya agar tetap seimbang.
Naomi langsung menyambutnya mendekati Felicia yang sedang terengah-engah, "Kamu kenapa sampai lari-lari seperti ini?"
"Aku hanya ingin mempercepat diskusi kita" jawabnya kembali berdiri tegap mencari tempat duduk.
"Satya, kami semua sudah berkumpul. Selanjutnya kamu ingin kami melakukan apa?" tanya Naomi menunggu penjelasan Satya.
"Baik, apa rencana kalian sudah berjalan lancar?" selidik Satya
"Aku sudah lancar, tinggal menunggu berita yang di sebarkan terdengar lagi ke telinga kita," ucapnya dengan enteng.
"Ahh ... Bagaimana ya aku mengatakannya, yang jelas sudah di setujui," ucap Naomi berusaha menyembunyikan syarat lainnya.
"Oh iya, satu hal lagi. Ketua klub menyarankan untuk mengganti tema agar tidak terlihat menjerumus pemberontakan. Apa aku perlu menggantinya?" tanya Naomi menunggu tanggapan.
"Biarkan saja, lagi pula aku tidak mengharapkan dukungan mereka tapi sebaliknya," ucap Satya dengan menggoyang-goyangkan kursi yang di duduki.
Naomi terlihat bingung menanggapi ucapan Satya, "M-Maksudmu?. Kamu memang menginginkan keributan ini terjadi?," Demikian balasnya bingung.
"Tentu saja. Aku sedang membutuhkan otak lainnya yang tidak memiliki kharisama terlalu menonjol. Bahkan, tidak di sadari bahwa ia pelaku dari rencana tersebut," balas Satya sambil memegang dagu dengan tangan kanan.
"Hah, Jangan mengada-ada ini terlihat sulit dari pandanganku" ucap Asher yang duduk dengan posisi sempurna.
"Bagaimana denganku Satya?. Aku belum di beri tugas olehmu" ucap Foxie dengan rasa kesal.
"Untukmu?. Cukup menjadi dirimu sendiri. Intinya kamu cukup mengarahkan mereka untuk Fokus pada Berita yang akan di sebar dalam 1 minggu kedepan.
Naomi memberi hormat ala militer, "Siap pak!," serunya masih duduk di sebelah Satya.
"Jadi, sebenarnya tugas Arlo itu apa?" selidik Asher amat sangat penasaran.
Naomi, Foxie bahkan Felicia tipe yang tidak mau tau urusan orang lain pun, ikut penasaran.
"Tugasnya paling mudah dan juga berat yaitu jadi pusat atau sosok yang paling di kenal," ucapku sambil menepuk punggungnya.
Asher hanya mengangguk, "Jadi begitu. Ehh, bukan itu maksudku. Kenapa tidak kamu saja?" selidiknya kembali.
"Pemimpin itu punya empat kekuatan yaitu Ahli membaur, kuat fisik dan mental, serta dapat mendengarkan orang lain," ucapku dengan nada sok bijak.
Asher kembali mengangguk sambil memegang dagunya, "Ya sudahlah. Aku tidak mau terlalu memusingkannya yang jelas. Harapanku akan menjadi nyata"
Satu minggu setelahnya.
Pukul 4 sore, Beberapa Siswa terlihat berbondong-bondog menuju ruang klub Surat Kabar. Jumlah mereka sekitar lebih dari 35 orang. Di antara mereka ada Arlo dengan perawakan besar mengikutinya dan berbaur.
Siswa lainnya terlihat lebih panik dan terkekejut saat melihat Arlo dengan wajah yang terluka dengan sabetan benda tajam di keningnya.
Sebenarnya, membaur dengan mereka pun percuma, soalnya Arlo sudah bergabung saja, itu menarik perhatian mereka yang melihat. Akan tetapi, siswa lainnya terlihat merasa lega karena Arlo bukan memusuhi melainkan mendukung itu benak mereka.
Terlihat dua gedung sanggar klub berdiri berdekatan debngan lapangan sekolah. mereka melanjutkan perjalanannya menuju gedung di belakang gedung yang berhadapan langsung dengan lapangan.
Tanpa berpikir panjang, mereka segera mendobrak pintu masuk klub Surat Kabar, "Hei!, cepat katakan siapa yang membuat berita konyol ini?" ucap salah satu murid.
Beberapa murid lainnya memegangi anggotanya, dengan memegang masing-masing kerahnya.
Segala ancaman sudah di lakukan. Tapi tidak juga ia memberi tahu siapa si pengirim berita.
Tangan Arlo terlihat menggenggam erat-erat sekuat tenaga menjaga kendali.
Ketika, melihat salah satu anggota protes dengan menampar wajah Ketua klub dengan telapak tangan hingga menjerit kesakitan, "A-ah ... Sakit!" teriaknya lantang.
gedung klub menjadj begitu ramai tak terbendung. Hingga, membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan ikut keluar karena penasaran.
Arlo tidak bisa menahan emosinya lagi. Pada Akhirnya, ia melewati krumunan siswa menuju tempat kejadian perkara yang ada di depan matannya sendiri.