CHAPTER 14

2032 Words
"Kamu menginginkan keamanan identitas? Itu mudah bisa aku atur," ucap Ketua klub. Laki-laki bertubuh pendek sesekali memalingkan tubuh, melihat orang asing di depan pandangannya sedang bernegosiasi sengit dengan Ketua klub. Naomi tersenyum tipis, "Kita sepakat ya. Akan aku beri penjelasannya sekarang," Ketua Klub mendengarkan seksama penjelasan Naomi. Dari sini Ketua klub mulai paham arti sebenarnya. Naomi memutuskan duduk di sebelah Felicia pada meja yang ia duduki, "Sebenarnya ini berita sederhana. Tapi, aku ingin kamu membuat berita ini jadi bintang utama di Surat Kabar," menunjuk Ketua klub. Ketua klub masih mendengarkan dan sibuk mengemut permen lolipop yang ada di mulutnya, bersender pada kursi yang sedang di dudukinya. Melihat sorot mata Naomi dengan teliti. Felicia berdiri dari meja karena posisinya tak begitu nyaman, "Ahh, aku benci suasana tegang ini ... Aku mau lihat pembuatan Surat Kabar terlebih dahulu menunggu kalian selesai berdebat," demikian ucapnya menilik 3 anggota yang sibuk mengedit Surat Kabar. Naomi hanya memperhatikan sahabat baiknya yang tidak mau terlibat terlalu jauh. Memusingkan pembahasan ini yang menurutnya berat. Ketua klub merasa gusar melihat Felicia yang berulah, "Bisa di percepat! ... Aku sedang banyak tugas Klub dan kelas yang menunggu di sentuh" "Iya ... Iya ... Maafkan temanku ini" ucap Naomi berusaha menenangkan. Naomi menarik napas panjang, "Dengarkan baik-baik. Beberapa dari kita menginginkan program F.K16 di hapus, tapi cara ini sulit utk di realisasikan. Jadi niat kami mencari orang-orang yang satu pemikiran tentu saja akan kami jadikan anggota" Suasana menjadi begitu hening, yang terdengar hanyalah suara AC mesin hidup. Tujuan sebenarnya, Felicia berusaha mengalihan perhatian ke tiga anggota klub agar tidak ada yang mempengaruhi keputusan Ketua klub. "Jadi aku harus menyetujui ide pikiranmu itu?" "Dari apa yang kamu katakan tadi, ini terlihat seperti pembentukan anggota pemberontakan antar pelajar. Aku menolaknya!" ucap Ketua klub tegas akhir kalimat. Ketua klub memberi kesempatan ke dua, "Beri aku suatu keuntungan besar selain menjadi terkenal, jika aku menyetujui menyiarkan beritamu," "Kami akan jadi model untuk baju renangmu, secara suka rela tentunya!" cetus Felicia sibuk memperhatikan ke tiga anggota klub Surat Kabar dengan posisi membungkuk mendekatkan wajah pada layar laptop hingga membuat ke tiga anggotanya tidak bisa berkonsentrasi. "Hah! ... Aku ... Tidak akan mengikuti rencanamu. Aku tidak ingin tubuhku terekspos ke publik, terutama ... Bagian perutku yang akhir-akhir ini terlihat lebar ..." ucap Naomi berkeluh-kesah sambil memegang perutnya dengan ke dua tangannya. Felicia membalikkan badan mengarah pada Naomi, "Perutmu baik-baik saja, tidak ada perubahan menonjol bagiku" demikian ucap Felicia memperhatikan baik-baik perut Naomi yang masih terlihat langsing. Mendengar tawaran menggiurkan dari Felicia tanpa berpikir panjang, "Aku setuju ide temanmu ini untuk menjadikan kalian sebagai modelku," ucap Ketua klub tersenyum lebar. Terlihat Ketua klub sedang mencari sesuatu lagi di laci meja kerja yang berada di sebelah kiri. Kemudian, memberikan kepada kedua tamunya yaitu Naomi dan Felicia. Felicia menerima makanan kalengan berupa sup jagung manis, sedangkan Naomi menerima sup kedelai fermentasi. Ke tiga anggota klub merasa terheran-heran karena belum pernah melihat Ketua berbaik hati membagi makanan. Dari dulu, ia terkenal Kikir atau pelit jika berhubungan berupa makanan dan lain-lain yang bersifat pribadi. Naomi segera membuka makanan kaleng dan mencium bau, "Hueeakk ... Apa ini?! ... Baunya busuk ... Aku tidak suka ini!" ucap Naomi langsung mengembalikan kepada pemiliknya lagi. "Heh ... Kamu menolak makanan seenak ini?!" tanya Ketua klub bingung melihat tingkah laku tamunya yang menolak makanan fermentasi favoritnya. Felicia meminta Naomi untuk sedikit bergeser dari meja yang akan ia duduki kembali, "Minggir Naomi beri aku sedikit ruang untuk duduk" Sebaliknya Felicia terlihat begitu menikmati makanan yang di berikan Ketua klub tersebut dengan sendok lipat kecil terbungkus yang menempel pada makanan kaleng. Naomi hanya melirik Felicia yang terlihat menikmati makanan, "Apa rasanya begitu nikmat?" selidik Naomi dengan rasa penasaran tinggi. "Tentu saja nikmat," cetus Ketua klub memakan makanan kaleng dengan rasa yang sama persis seperti Naomi yaitu sup kedelai fermentasi. "Baunya memang sedikit busuk tapi bukan berarti tidak enak untuk di makan" sambungnya lagi memberikan makanan kaleng kepada Naomi dengan tangan kiri. Naomi sesekali menelan ludahnya sendiri melihat ke dua orang yang begitu nikmat menyatapnya, "Ahh ... Maaf lebih baik aku makan di kantin saja," demikian ucapnya menolak dengan halus. "Jiro ... Sebutkan pukul berapa sekarang!" tanya Ketua klub kepada Siswa bertubuh pendek itu sambil memakannya. "Pukul 12.45. Lima menit lagi akan bell masuk pelajaran selanjutnya" ucap Jiro dengan jelas tanpa menengok. "Kamu sudah dengar bukan!," seru Ketua klub menyudutkan keputusan Naomi yang ingin makan di kantin. Naomi mengangguk lalu terpaksa menerima makanan yang ia tolak sebelumnya, dengan rasa jijik dan menutup hidungnya mengarahkan sendok lipat ke arah mulut. Dia membukanya lebar-lebar agar tidak tersentuh bibir atas dan bawahnya. Dari sorot mata ia terlihat terkejut dengan pupil mata membesar dari biasanya. Ketika, menyantap makanan itu. Ketua klub tertawa kecil ketika melihat ekspresi yang sangat mirip akan dirinya sewaktu pertama kali menyatapnya, "Enak bukan?! ... dengarkan dulu pendapat orang dan cobalah. Suka atau tidaknya putuskan terakhir setelah mencobanya," demikian ucapnya tertawa puas dengan mulut yang masih terisi makanan. Tak lama kemudian terdengar suara bell "Ting ... Ting ... Ting ..." berbunyi dari luar hingga ke dalam ruangan yang kedap dan lembab ini. Naomi sedikit terkejut ketika menikmati makanannya, "Dari mana asal suara bell itu?" selidik Naomi. "Sebenarnya semua pengaturan jam dan bell kami semua yang mengatur. Ketua Osis memberi amanat ini kepada kami, karena kami sering bertatapan langsung dengan ini. Kami juga memasang speaker di dekat pintu yang terhubung langsung dengan speaker sekolah" jawabnya menunjuk laptop yang sedang di pakai anggota serta speaker yang terpasang di atas ventilasi dekat pintu. "Oh ya ... Idemu terlalu menjerumus ke pemberontakan aku sarankan semua idemu ini di ganti atau di samarkan. Aku sudah mempunyai gambarannya tapi aku tidak akan mengatakan sekarang," ucap Ketua klub memberi saran. Naomi menaruh kaleng makanan yang sudah habis ke meja yang ia duduki, "Baiklah, akan aku pikirkan lagi saranmu ini" "Hei ... Hei ... Ada air minum? Hugk ... Hugk ... Hugk ...," tanya Felicia memotong pembicaraan karena cegukan yang di alaminya. Ketua klub tertawa lepas melihat Felicia yang begitu polos ketika mengatakan sesuatu, "Ohh iya ... Ini minumnya," memberikan kepada Felicia serta Naomi dua gelas air hangat dan dingin. "Kok air hangat?!" tanya Felicia keheranan ketika menyentuh gelasnya. "Apa gelas ini bersih?" sela Naomi memperhatikan gelasnya dengan teliti. Dengan senyum ramah ia menjawab, "Air hangat baik untuk orang ketika sedang cegukan, aku sarankan minum saja sampai habis dalam satu tegukan," Ekspresi berbeda terlihat ketika menjawab pertanyaan Naomi, "Tentu saja sangat bersih, aku sengaja membeli gelas berwarna transparan agar mudah di ketahui bersih atau tidaknya gelas. Setiap selesai di pakai Aku selalu menaruhnya ke dalam laci," demikian ucapnua mengerutkan dahi. Setelah mengetahuinya Naomi merasa lega segera meminum air yang di suguhkan dan beranjak dari meja, "Aku akan pamit terlebih dahulu permisi," ucap Naomi menaruh gelasnya ke meja, sambil mengulurkan tangan kepada Ketua klub untuk bersalaman. Ketua klub menerima jabatan tangan Naomi, "Oh iya, jangan lupa untuk ke sini lagi sepulang sekolah nanti. Kita akan melakukan sesi foto pada sore hari," "Hah ... Aku tidak mengatakan kalau aku menyetujui idemu ini?!" ucap Naomi Gusar. Ketua klub hanya tersenyum licik, "Lagi pula, aku tidak butuh kamu menyetujui ideku atau tidak. Ingat, siapa yang lebih membutuhkan kamu atau aku?" "Kamu ke sini untuk bernegosiasi untukku bukan?" sambungnya Naomi tidak bisa membalas ucapan Ketua klub. Sebagai gantinya Ia membuka pintu lebar-lebar lalu menutup dengan kencang, "Jeder ..." begitulah suaranya begitu menggema dari dalam balik ruangan yang begitu tertutup. Felicia mengikuti Naomi dari belakang, sebelum itu ia membungkukkan badannya 15° sebagai permintaan maaf, "Naomi ... Naomi ..." ucapnya mengejar Naomi dengan kaki pendeknya tergesa-gesa berusaha menyamai langkah kakinya. "E-Etto, Ketua anda yakin, kalau tamu itu datang ke sini lagi?" tanya Jiro berdiri dari kursinya. Ketua klub hanya menaikkan garis bibir bagian kirinya berkata, "Dari cara bicaranya tadi. Ia pasti akan kembali," jawabnya dengan enteng. Naomi tidak menggubris ucapan Felicia yang memanggil dirinya. Ia masih tetap berjalan cepat, "Aku tidak suka ini ... Ini sangat memalukan bagaimana jika dia melihatku menggunakan pakaian renang itu, beberapa minggu terakhir ini. Aku sering memakan snack dan makanan berat lainnya," gumam Naomi khawatir sambil memegang pinggangnya dengan ke dua tangannya Felicia berhasil menggapai tangan Naomi. Berkata, "Akhirnya aku dapat mengejarnu" Naomi melihat ke arah Felicia yang lebih pendek darinya yaitu sebahunya tepat. Walaupun, begitu suasana resah di dalam hatinya masih terasa. "Tenang saja, aku tau kok kamu khawatir tentang hal itu. Percaya dirilah, aku yakin orang yang kamu suka akan tetap menyukai dirimu. Lihat saja perutmu begitu langsing," ucap Felicia berusaha membuat teman masa kecilnya kembali percaya diri. Naomi berusaha melihat perutnya hingga dagunya hampir menyentuh pangkal tenggorokan. Akan tetapi, itu mulai membuat dirinya jengkel karena terhalang oleh d**a yang membusung. Felicia terlihat bingung dengan tingkah temannya itu, "Ada apa, kamu masih terlihat resah?" Naomi akhirnya menyerah, "Percuma saja Aku tidak bisa melihat perutku sendiri" dengusnya kesal. Felicia mengerti maksud temannya dan memutuskan tidak menanyakan lagi, "Oh iya, Kalau boleh tau siapa orang yang membuatmu tertarik itu?" tanya Felicia mengganti topik pembicaraan. Naomi tertegun sebentar lalu melangkah kembali dengan wajah memerah seperti tomat, "Sa-Satya Pranaditya," ucap Naomi memalingkan wajahnya ketika menyebut nama seseorang yang ia suka. Seketika, perasaan menyesal menghampiri diri Felicia. Ketika, teman baiknya menyebut orang yang sama yang Ia sukai saat ini. Kelas 10E sudah di depan pandangan Naomi, "Aku hampir sampai di kelasku. Terima kasih Felicia sudah membuatku kembali percaya diri," demikian ucapnya dengan perasaan riang. "Sama-sama kalau begitu, aku duluan ya" ucap Felicia mempercepat langkah dengan kaki pendeknya, meninggalkan Naomi yang mulai memperlambat langkah. Naomi hanya menjawabnya dengan senyum manis dan lambaian tangan dari depan pintu kelas 10E. Setelah itu, ia memasuki ruang kelas. Kelasnya, begitu sepi hanya terlihat beberapa Siswa dan Siswi termasuk Asher yang terlihat sibuk menelpon melalui earphone bluetooth yang terhubung langsung dengan lensa yang di berikan pihak sekolah. Asher duduk di bangku paling belakang tepat di depan Naomi. Tanpa memperdulikan Asher, Naomi segera duduk di bangkunya kembali membaca E.B.D (Electronic Book Digital) yang sempat tertunda. Sebelum itu, ia mengenakan kacamata anti radiasi layar yang selalu ia gunakan setiap pelajaran berlangsung atau hanya sekedar membaca. Baru saja Naomi menemukan posisi yang bagus untuk menikmati membaca buku. Ia di ganggu lagi, oleh sentuhan dari punggung tepat di belakang Naomi yang membuatnya gusar, "Apa lagi! ... Aku barus saja menemukan posisi pas untuk membaca" ucapnya segera memutar pinggangnya menatap Asher. "Sebentar saja, Aku ingin mengatakan sesuatu" ucapnya memajukan kursi dan badannya. Kemudian berbisik lirih, "Apa kamu sudah berhasil, membujuk Klub surat kabar? ..." Naomi hanya mengangkat jempol kanannya sebagai isyarat berhasil. Selanjutnya Naomi bertanya balik ke Asher, "Apa kamu juga berhasil? ..." ucapnya lirih. "Aku sudah selesai dan saat ini aku sedang menghubungi para gadis yang belum sempat aku hubungi ..." ucap Asher masih lirih sambil menunjuk earphone yang masih menempel pada telinga kirinya. "Nanti sepulang sekolah, aku akan berkencan dengan beberapa gadis di tempat karaoke," ucapnya kembali normal seperti biasa. Naomi tidak terlalu kaget atas pernyataan Asher, "Oh begitu ... Silakan lanjutkan, sore ini aku dan Felicia juga akan kembali ke Klub itu ada beberapa urusan," Mendengar nada Naomi yang terdengar terpaksa dan kecewa menurut Asher, "Apa kamu cemburu kepadaku?" selidiknya memastikan dengan rasa percaya diri tinggi. "Tentu saja tidak, untuk apa aku menyukai pria seperti dirimu ini!" ucap Naomi menepis pertanyaan Asher. Ide jail muncul dalam benaknya "Itu Arlo sudah datang bersamaan dengan Satya," ucap Asher melihat ke depan pintu seakan-akan mereka benar-benar datang Setelah mendengarnya Naomi segera menengok ke arah pintu yang terlihat hanyalah orang-orang lalu-lalang melewati kelas, wajahnya kembali memerah seperti tomat. Ketika, mengungkapkan orang yang ia sebut kepada teman baiknya. "Hahaha," Asher tertawa lepas sesekali memukul meja belajarnya. Asher mengatakan kembali kali ini "Arlo datang bersamaan dengan Satya, "Itu mereka benar-benar datang," Tak mau tertipu lagi yang ke dua kalinya ia menolak mempercayainya, "Aku tak akan percaya ucapanmu," Asher langsung menyapa Arlo dan Satya, "Arlo?! ... Satya?! ..." sambil melambaikan tangannya. "Yo!" seru menyahut mereka berdua berbarengan di belakangnya yang di ikuti Foxie. Mendengar balasan sapaan itu, wajah Naomi kembali memerah dan berusaha mengalihkan perhatiannya pada E.B.D yang ia baca. Asher hanya memperhatikan Gelagat teman perempuannya itu dengan rasa sesak. Berusaha menyembunyikannya dengan lelucon-lelucon garing. Foxie menghampiri Naomi, "Apa kamu berhasil?" tanya dirinya sambil mengunyah sebuah permen karet. Naomi hanya mengacungkan jempolnya kembali sebagai isyarat. Foxie merogoh saku kirinya yang berisi sepuluh buah permen karet, "Kamu mau?" Naomi hanya mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD