CHAPTER 13

1682 Words
Hari Kamis, pukul 7 pagi. Dari jendela dalam kelas, terlihat seorang mendekati pintu kelas 10C. Melambaikan tangan, "Satya!" seru Asher dari balik pintu kelas menghampiri Satya. Membalas lambaian tangan, "Yo!" demikian balas Satya. Asher segera memberikan E.B.D pada Satya, "Aku sudah menargetkan beberapa gadis dari kelas 1, 2, dan 3. Ini dia beberapa targetku beserta Foto" Aku terkejut, "Gila?! Info sedetil ini kamu dapet dari mana?" Orang-orang yang berada di kelas langsung melirik kami berdua. "Sshhtt! jangan terkejut seperti itu bodoh?!" Asher panik langsung memberi pukulan keras di kepala Satya. Akupun lebih panik dan terbata-bata ketika berucap, "Ma-af, ini kebiasaan lamaku," Asher menggaruk-garuk kepala. Walaupun tidak gatal, "Ahh, aku juga baru tahu kamu mudah terkejut tentang hal ini. Aku kira kamu akan berekspresi seperti biasa," "Kamu saja yang tidak tahu!" "Tapi, bagaimana kamu mendapatkan informasi mereka?" selidik Satya. "Aku pernah memberitahumu kemarin. Aku punya kenalan seorang ahli komputer handal" ucapnya menyombongkan diri. "Dengan ini, aku harap rencana pertamaku berhasil," benak Satya. "Asher, jalankan sekarang akan aku percayakan ini padamu" ucap Satya. "Ok, serahkan ini padaku!" ucap Asher sambil memberi toss. Lima jam pelajaran sudah selesai, murid-murid berbaris rapi keluar menuju pintu kelas. Dengan tawa dan senyum mereka tanpa benar-benar memikirkan. Apa yang akan terjadi pada mereka kedepannya. "Ahh, pelajaran hari ini sangat membosankan!" seru Foxie menghela napas panjang sambil meregangkan badannya. Foxie berdiri melihat kondisi di luar dari dalam kelas melalui jendela. Beberapa hari ini, cuaca begitu sendu. Racun-racun yang berada di angkasa tersapu oleh hujan, hal ini membuat dunia menjadi terlihat seperti dahulu lagi, tanpa adanya racun di udara. Walaupun begitu, sisa genangan air hujan membuat bau-bau menyengat. Itu sudah biasa kami alami jika hujan sedang berlangsung. Saluran irigasi atau selokan besar akan menampung air hujan. Tempat penampung air hujan akan di beri obat khusus menghilangkan bau menyengat walau tidak sepenuhnya hilang. Jika saja tidak ada saluran irigasi atau selokan maka bau-bau menyengat tersebut akan bertahan lama di permukaan tanah. Arlo menepuk punggung dan merangkul Satya, "Asher kemana?" sambil mencari-cari keberadaan Asher. "Dia sedang melakukan tugasnya tunggu saja. Naomi, sebentar lagi waktunya kamu beraksi," ucapku memperhatikan Naomi yang sedang membaca. Emosinya memuncak, "Huh, sekarang?!. Enggak bisa besok aja?," demikian ucapnya sambil menyangga kepalanya dengan tangan kanan, mengarahkan pandangannya pada Satya. Aku membalasnya dengan senyum, "Iya!" Wajah Naomi mendadak memerah menerima serangan non-fisik dari Satya, "Ahh, padahal lagi asik-asiknya baca," kemudian berdiri dari bangku menuju pintu keluar kelas. "Jangan lupa ajak Felicia!" teriak Satya mendekatkan kedua telapak tangan ke sekitar mulut. Naomi berjalan cepat, "Ahh, berisik ... Iya ... Iya ..." Naomi begumam tak jelas. Ketika, mengingat senyuman Satya, "Apa-apaan sih, padahal ini sangat membuatku khawatir tapi sikapmu menunjukkan sebaliknya, malah terlihat bersemangat. Agghh ... mengesalkan!" sambil menelusuri lorong menuju kelas 10C. Naomi telah sampai di kelas 10C, "Permisi ... apa ada Felicia di kelas ini? ..." sambil menilik sekitar ruangan kelas 10C. Salah satu Siswi menanggapi pertanyaannya, "Cari Felicia?" Naomi mengangguk, "Iya ... dia dimana?" Ia menjawab,"Tuh ... lagi tiduran di pojok kiri," menunjuk dengan tangan kiri. "Masuk aja," sambungnya. Tersenyum, "Makasih," balas Naomi memasuki ruang kelas. Naomi menjambak rambut Felicia, "Lia bangun! ..." "Ih, apaan si!" seru Felicia sembari menyingkirkan tangan Naomi yang menjambak rambutnya. Naomi langsung menggandeng tangan Felicia, "Yuk ikut aku sebentar," "Mau kemana si?" jawabnya sempoyongan. "Kita mau ke klub surat kabar," jawabnya masih menggandeng tangan Felicia. "Ah, sekarang?" tanya Felicia. "Udah ah jangan banyak omong," balasnya mempercepat langkah. "Lepasin dulu tanganku. Sakit tau!" seru Felicia. Naomi Berhenti. Kemudian melepas tangan Felicia, "Udah nih ... yuk cepetan!" ucapnya tergesa-gesa. Felicia memegang pergelangan tangannya yang sakit, "Jangan buru-buru. Kamu kenapa si?" "Enggak papa," jawab Naomi cemberut. "Kalo enggak ada apa-apa. Ya udah," ucapnya pergi meninggalkan Naomi. Naomi termenung, "Tunggu aku, Lia" demikian ucapnya mengejar Felicia berusaha menyamakan langkah kaki. Mereka berdua berjalan menelusuri lorong kelas menuju sanggar klub yang berada di seberang berada dekat dengan lapangan. Dua gedung terdiri dua lantai, masing-masing 10 ruangan lantai dasar dan 10 ruangan atas. Total ada 20 klub, termasuk klub surat kabar. Klub Surat Kabar sering berkontribusi dalam mempromosikan sekolah dan informasi-informasi terkait pelajaran. Sering kali klub ini memasok berita hiburan (hantu sekolah, percintaan, dan berita hot). "Akhirnya sampai juga," "Sekarang masalah selanjutnya, kita harus mencari keberadaan ruangannya diantara dua gedung ini" ucap Naomi. "Naomi, kalau kita mencari berdua akan lama menemukannya. Bagaimana kalau kita berpisah saja?" tutur Felicia. "Oh baiklah," ucap Naomi. Naomi dan Felicia memutuskan berpisah, agar cepat menemukan sanggar Surat Kabar. Sanggar di sini selalu terlihat sepi ketika di lihat dari luar saja. Akan tetapi, di dalamnya terdapat banyak anggota yang sibuk mengurusi tugas wajib klub atau hanya bersantai saja. "Aku menemukannya disini di gedung B!" teriak Naomi. dari lantai atas. "Gedung B?" "Maksudku di gedung yang aku singgahi di lantai atas. Cepat turun!" Naomi panik segera menuju lokasi Felicia berada, "Iya ... Bentar," sembari menuruni anak tangga terengah-engah napas tak beraturan. "Cepetan!" teriak Felicia. Naomi memercepat langkah dengan hati-hati agar tidak terkena genangan air hujan. Berkata, "Sabar, coba kamu tekan bellnya dulu. Jadi kamu enggak perlu nungguin aku!" teriak Naomi sambil memperhatikan genangan air yang tidak terserap sempurna karena di lapisi aspal. "Ok deh," balasnya. Felicia membalikan badan menghadap pintu segera menekan bell. ... TING ... TONG ... Bunyi bell di tekan. "Bunyi bellnya, terdengar Asing" gumam Felicia. Ada seseorang mengintip dari balik pintu melalui lubang. Matanya begitu besar karena kaca cembung yang terpasang di lubang itu. Felicia mendekatkan wajahnya pada lubang tersebut. Tersenyum ramah, "Halo," ucap Felicia. Swushh ... klek ... Pintu terbuka. Felicia menyapa kembali dengan senyuman "Halo," Felicia sedikit mengintip dari celah telinga kiri seorang laki-laki yang berada tepat di depannya membuka pintu. Seorang laki-laki bertubuh kurus dan pendek tingginya menyamai Felicia dengan gaya rambut acak-acakan dan 3 teman yang sibuk mengetik. Salah satunya seorang gadis berkepang satu menyamping kanan dengan kacamata anti radiasi pada layar. "Satu pertanyaan," Dengan nada datar, "Tujuanmu kesini untuk apa?" tanya seorang laki-laki di depannya "Eh, It ... Itu ... Aku ingin menawarkan sesuatu," "Menawarkan apa?. Obat gosok? Obat panu?" candanya masih dengan nada datar. "Ahh sial, situasi ini sangat tidak nyaman. Aku benci dengan nada bicaranya yang seperti itu sangat mengintimidasi," benak Felicia tergugup. Tap ... tap ... tap ... Terdengar langkah menaiki anak tangga. Perhatian Felicia mengarah pada suara itu. "Naomi!" seru Felicia berlari menghampir ke arahnya memeluk erat. Naomi terkejut melihat tingkah Felicia seperti anak kecil, "Apa-apaan sih kamu?!" "Enggak apa-apa," balasnya menatap wajah Naomi tanpa melepas pelukkannya. "Kita ke sana lagi. Tugas kita belum selesai, yuk ke sana lagi" Felicia mengangguk sambil membenamkan wajahnya pada d**a Naomi. Berjalan perlahan mengikuti langkah Naomi. Langkah Felicia brantakan sesekali menginjak kakinya. Bobot tubuh Naomi bertambah berat, hingga susah melangkah hingga harus menyeret kaki kirinya. Laki-laki dari klub Surat Kabar hanya memperhatikan mereka berdua dari balik pintu. Felicia dan Naomi telah sampai di depan pintu, "Aku mau memberi tawaran padamu. Ini akan menjadi berita besar!" Anggota laki-laki tersebut melirik Felicia yang sedang memeluk erat tubuh Naomi membenamkan wajahnya. Wajahnya masih datar. Ketika melihat kembali wajah Naomi. Berkata, "Tawaran seperti apa?" "Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan memanggil Ketua klub ini" sambungnya. Kami menunggu sebentar di luar. Lalu seorang gadis menghampiri. Berkata, "Kamu punya tawaran menarik seperti apa?," demikian ucap ketua klub tersebut sembari mengemut permen. "Sebelum aku mengatakannya. Aku ingin masuk ruangan terlebih dahulu!" ucap Naomi dengan nada tegas. Ketua klub itu mengangguk, menerima permintaan Naomi, "Aku harap, tawaranmu sesuai dengan permintaan egoismu!" Mereka berdua memasuki sanggar klub Surat Kabar. Sanggar ini terlihat berantakan, beberapa tempat ada sampah makanan berserakan, atap langit yang di penuhi sarang laba-laba. Sanggar ini begitu lembab, dingin dan gelap karena kurangnya cahaya serta ventilasi kecil di dekat jendela dengan kaca gelap. Terlihat AC yang selalu menyala membuatnya semakin dingin. Tiga anggota laki-laki termasuk remaja laki-laki bertubuh pendek, melanjutkan pekerjaan tanpa menghiraukan keberadaan Felicia dan Naomi. Mereka bertiga terlihat seperti tidak pernah keluar dari klub ini. Walaupun, ini masih jam istirahat. Sikap anggotanya pun terlihat sangat dingin mirip dengan suhu ruangan disini. Ketua klub wanita ini, wajahnya terlihat sangat Fresh. Di bandingkan dengan anggota lainnya. Ketua klub segera duduk di tempatnya semula, "Aku sudah mengijinkanmu masuk. Jadi tawaran seperti apa yang akan membuat kami terkenal?" Felicia melepas pelukan dari tubuh Naomi. Berkata, "Dimana kami bisa duduk?" demikan ucap Felicia memperhatikan lantai yang penuh peralatan dan sampah. "kamu mau duduk?" tanya Ketua klub melihat Felicia yang bertubuh pendek dan melirik kembali anggota yang ia punya. "Iya," jawab Felicia. Ketua klub menunjuk meja lebar 100cm berbentuk persegi dengan tinggi 40cm. di atas meja ada beberapa jenis laptop terbaru dan versi lawas. Berkata, "duduk saja di sana," Felicia terkejut dengan tanggapan Ketua klub Surat Kabar dengan mudahnya mengatasi kendala, "Kamu yakin? Meja ini akan aku duduki loh," "Itu tergantung dirimu, jika kamu ingin duduk silahkan duduki meja itu. Aku sudah mengijinkannya," jawabnya enteng menanggapi suatu masalah. "Hhmm," Felicia menduduki meja itu, menghadap Ketua klub. Sedangkan Naomi berdiri tepat di belakang Felicia yang menghadap Ketua klub. Menghela napas. Ketua klub berkata, "Pembahasan utama kita. Jadi tawaran apa yang membuatmu berani datang kesini?" "Akan aku beritahu satu kata 'F.K16," ucap Naomi menyilangkan kedua tangannya mendekap d**a. "F.K16?!" ucapnya bingung "Apa bagusnya? Bukannya itu sudah biasa terjadi?" Ketua klub mulai mengintimidasi, "Aku paling benci yang namanya bertele-tele. Jika ucapanmu membuatku tertarik maka akan aku ikuti semua rencanamu tapi jika sebaliknya. Aku ingin kalian menjadi foto modelku!" "Foto model?!" ucap Felicia bingung. Senyum licik Ketua klub terlihat samar-samar karena kurangnya cahaya, yang hanya menggunakan cahaya layar pada laptop, "Kamu penasaran? Akan aku tunjukkan," Ketua klub memutar kursi mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya. Selanjutnya menunjukkan pada Felicia, "Ini dia, pakaian olahraga baru dan baju renang baru. Aku harap kamu gagal menawarkan sesuatu padaku," demikian ucapnya tertawa jahil. Naomi membalas ucapannya dengan serius, "Aku rasa itu tak akan terjadi hari ini. Sebab, tawaranku melebihi ekspetasimu" Ketua klub terheran, "Dapat kepercayaan diri dari mana kamu ini? Ok ... ok ... akan aku dengarkan baik-baik" Nada mengintimidasi keluar dari mulut Naomi, "Tapi aku menginginkan keamanan identitas saya dan dia. Jika kamu menyetujui ide ini," sambil menunjuk diri Naomi dan Felicia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD