Suara-suara murid. Ketika, sedang berbicara bersatu padu membuatnya begitu riyuh terdengar.
Kantin sekolah, tempat paling favorit para murid melepas penat. Setelah berjam-jam belajar. Akan tetapi, ada beberapa dari mereka yang sering berkumpul di kantin, bukan hanya untuk beristirahat dan makan siang. Tempat ini pula, menjadi pusat kehidupan para murid untuk mengenang teman-teman mereka yang sudah meninggal karena, F.K16.
Setiap tahun, banyak alumni lulusan sekolah ini yang sering mengunjungi sekolah. Terutama kantin ini, alasannya pun sama yaitu mengenang teman baik mereka yang telah meninggal.
Selain itu, kantin sekolah ini menjadi media mengumpulkan serta berbagi informasi. Entah itu hanya gosip, informasi fakta, skandal para guru dan murid yang berada di lingkungan sekolah ini.
Ada juga yang menggunakan kantin sebagai tempat transaksi barang-barang haram yang seharusnya tak ada di sekolah, berbagi jawaban soal ujian. Tentu saja, semboyan ada uang ada barang sangat berlaku di setiap transaksinya.
Para guru pun tidak terlalu melarang hal ini. Karena, ini juga termasuk dalam ujian F.K16. yaitu bertahan hidup. Walaupun, ada beberapa transaksi sengaja di ciduk oleh seksi pengaman utusan Osis. Agar mereka menyadari arti ada sebab ada akibat.
Foxie, Asher, dan Arlo sudah berkumpul lebih dulu di kantin. Sedangkan Naomi akan segera menyusul, karena punya urusan yang tidak bisa di tinggalkan. Satya juga akan segera menyusul.
Asher duduk bersebelahan dengan Foxie. Sedangkan Arlo duduk sendirian menghadap Asher, "Foxie sejak kapan kamu menyukai Satya?" selidik Asher sambil menunggu nomor antriannya di panggil oleh pelayan kantin.
Foxie mengingat kembali kejadian saat pertama kali menyukai Satya, "Mungkin, sejak rencana mengintip kalian gagal?" demikian ucap Foxie dengan wajah merah seperti tomat.
"Dua pertanyaan lagi baru aku akan puas," balas Asher sambil menunjukkan kedua jarinya pada Foxie
Rasa penasaran Asher makin meningkat, "Kenapa kamu begitu ingin mengikuti F.K16 dengan kami?. Padahal ini termasuk rencana bunuh diri"
Dengan santainya Felicia menjawab, "Ihh, aku udah jawab pertanyaan seperti ini sebelumnya. Aku cuma ingin selalu dekat dengan Satya," sambil mendengus kesal.
Arlo langsung menyela pembicaraan Asher, "Dia sekarang teman kita jangan terlalu banyak menaruh curiga! Tidak baik,"
Spontan Asher mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi kepada Foxie.
Arlo membuka matanya lebar-lebar mencari seseorang, "Ngomong-ngomong kemana Naomi nih?"
Foxie pun ikut melihat sekeliling kantin, "Aku juga tidak melihatnya dimanapun" sambil menegakkan badannya tinggi-tinggi"
"Satya juga belum datang," ucap Asher.
Terdengar panggilan dari pelayan kantin menyebut nomor antrian.
"Nomor Antrian 330, 331, 332, 334, dan 335. Silahkan menuju sumber suara"
Asher segera berdiri dari tempat duduk melangkah menuju sumber suara, "Itu nomorku sudah di panggil aku duluan ya," demikian ucap Asher meninggalkan mereka berdua.
Asher berpapasan dengan Naomi yang terlihat terengah-engah napas tak beraturan, tanpa menyapa.
"Itu Naomi!" seru Foxie menunjuk arah datangnya Naomi.
Naomi mengambil napas dalam mengatur napasnya, "Maaf, aku telat ya?"
"Enggak kok," jawab Foxie dengan senyum ke arah Naomi.
"Silakan duduk, kamu terlihat kecapean" ucap Arlo memperhatikan Naomi.
"Emph, dimana Satya?" tanya Naomi sambil melirik kerumunan orang yang mengantri.
"Dia belum datang, mungkin sebentar lagi" jawab Asher.
Naomi menghela napas lega, "Oh syukurlah"
"Ada apa?, aku kira kamu akan kecewa" tanya Arlo.
Naomi melirik tajam Foxie, "Untunglah pikiran burukku saat meninggalkan kalian tidak menjadi nyata"
"Kenapa kamu melirikku?" tanya Foxie sedikit tersinggung.
"Sebenarnya aku sempat terkejut waktu melihatmu disini bersama Arlo. Untuk apa kamu di sini?" selidik Naomi.
Foxie langsung membenturkan Wajahnya ke meja, "Ahh, Pertanyaan ini lagi!" demikian ucapnya dengan meninggikan nada.
"Tidak akan aku jawab pertanyaanmu, tanya saja pada Asher jika ingin tau jawabanku. Dia menanyakan persis seperti yang kamu katakan tadi," sambungnya kesal.
"Dari mana saja kamu sampai telat seperti ini?" tanya Arlo
"Aku menemui tanteku" jawab Naomi.
"Tante?!. Kamu keluar dari lingkungan sekolah tadi?," tanya Arlo.
"Aku menemuinya di sekolah ini. Dia Ketua Osis SMA ini.
Arlo dan Foxie terkejut bersamaan, "Hah!"
Foxie memotong pembicaraan. Berucap, "Tante kamu umur 18 tahun?!" dengan nada penasaran.
"Iya, dia 18 tahun. Bulan depan akan berumur 19 tahun" ucap Naomi bangga.
"18 tahun!" ucap Asher mengagetkan mereka bertiga sambil membawa makanan.
Asher kembali duduk bersama Foxie, "Kamu udah 18 tahun ya Naomi? pantesan aja"
Telinga Naomi langsung berubah warna menjadi merah, "Kamu kalo ngomong suka sembarangan. Bikin emosiku tinggi terus!" demikian ucap Naomi marah.
Asher mengarahkan sendoknya yang berisi sup kentang ke mulut, "Terus siapa yang berumur 18 tahun?" dengan mulut penuh berisi Kentang yang sedang di makannya.
"Kamu ini!" ucap Naomi makin jengkel.
"Ada apa ini?"
Naomi, Asher, Foxie, dan Arlo segera mengarahkan pandangannya pada suara yang terdengar sangat familiar di telinga.
Tersenyum manis, "Satya!" seru Foxie dan Naomi bersamaan menyebut nama orang yang di tunggu-tunggu.
Foxie terkejut ketika melihat Satya menggandeng seorang gadis yang tidak dikenalnya, "Siapa dia?"
"Kenapa Felicia di bawa?" tanya Naomi ikut terkejut.
Asher menelan habis makanannya, "Jadi dia yang membolos bersamamu kemarin?" demikian ucapnya.
Arlo menghiraukan situasi yang ada di sekitarnya dengan menyantap makanan yang ada di depan mata.
"Ah, dia temanku namanya Felicia. Dia yang membuatku terkenal," ujar Satya mengenalkan anggota baru.
Felicia memberanikan diri memperkenalkan ke empat sahabat Satya, "Nama saya Felicia, salam kenal,"
"Maksudmu?," tanya Foxie tidak memahami maksud Satya.
"Dulu dia yang meneriaki aku dengan sebutan penguntit," ucap Satya dengan senyum geli.
Foxie mengangguk memahami maksud Satya, "Jadi, apa tujuanmu membawa dia?"
"Oh, iya hampir lupa. Felicia jangan sungkan duduk aja enggak apa-apa," ucap Satya mengarahkan tempat duduknya bersama Naomi sedangkan Satya bersama Arlo.
"Begini, aku punya 2 informasi untuk kalian,"
"Apa saja itu?" tanya Asher singkat.
mereka berempat mendengarkan dengan seksama yang akan di jelaskan Satya.
Aku menunjuk Felicia, "Pertama, kita punya anggota baru yang akan mengikuti F.K16,"
"Apa yang benar saja?!" ucap Naomi terkejut mendengar pernyataan Satya.
"Naomi tenang dulu dengarkan penjelasan Satya," ucap Arlo berusaha menenangkan.
"Tenang saja?, dia teman baikku!" ucap Naomi meninggikan nada bicara.
"Felicia, silahkan jelaskan ke Naomi" pinta Arlo
Satya memberikan E.B.D kepada Naomi untuk membuktikan kebenaran.
Naomi segera menyimpulkan tulisan di E.B.D milik Satya, "Jadi Felicia di beri dua pilihan. Jika Felicia tidak masuk 100 peringkat, maka wajib mengikuti perintah Satya. Akan tetapi, wajib mengikuti sesi latihan sebelum ujian di adakan?"
Felicia mengangguk, "Iya kira-kira begitu isinya, sama saja kita mengikuti aturan F.K16 bedanya saya wajib mengikuti latihan fisik"
Naomi langsung bernapas lega mendengar pernyataan Felicia yang keluar dari mulutnya langsung.
"Bisa aku lanjutkan?"
"Silakan" ucap Asher.
"Kedua, aku butuh kalian berlima membuat kabar burung atau apapun itu jenisnya. Melalui media sosial, gosip seperti yang kita lakukan saat ini dan terakhir berita surat kabar dari sekolah!" ucapku dengan penuh semangat.
"tunggu-tunggu, sejak kapan kamu merencanakan ini?" selidik Asher.
"Selama pelajaran berlangsung," ucapku.
"Hah, kamu sudah benar-benar yakin ingin mengikuti F.K16?!" tanya Naomi cemas.
"Jadi tugas kami apa?" tanya Foxie mulai bersemangat.
"Baiklah, Aku butuh seseorang yang pintar bergaul dengan para gadis dari kelas 1, 2, dan 3" ucapku melirik Asher tajam.
Arlo, Naomi serta Foxie ikut memandang tajam ke arah Asher.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu?" ucap Asher tersenyum menyadari maksud Satya.
"Karena kamu paling mudah membuat gadis terikat" ucap Satya memuji.
"Iya, sayang sekali aku harus mengakui pendapat Satya walau berat," ungkap Foxie.
Naomi menghela napas berat, "Aku juga menyetujui ucapan Foxie dan Satya"
Suasana begitu hening. Walaupun, keadaan kantin cukup ramai. Mereka berempat kecuali Felicia menatap tajam Arlo.
Arlo masih sibuk menyantap makanannya, "Apa?! Kenapa tatapan kalian seperti, kalian menatap Asher?" melirik Asher balik, "Apa aku harus ikut-ikutan memuji Asher, seperti kalian?" sambung Arlo masih sibuk menyantap makanannnya.
"Aku tidak akan mengatakannya," jawab Arlo singkat.
Asher sedikit kecewa atas pernyataan Arlo. Akhirnya, melampiaskan pada santapan yang ada di depannya.
Mulut Asher masih mengunyah makanannya, "Jadi aku harus melakukan seperti apa?"
"Seperti biasa kamu mempermainkan wanita. Bedanya, kamu harus meminta tolong pada gadis-gadis yang mendekatimu untuk menyebarkan gosip seperti ini 'Aku dengar F.K16 kali ini akan berbeda karena ada beberapa orang-orang yang suka rela mengikutinya.' tentunya dengan gaya bahasamu sendiri" ucap Satya mengarahkan.
"Sekarang, aku butuh satu orang suka relawan. Masuk ke dalam klub pembuat surat kabar sekolah,"
Naomi dan Felicia mengangkat tangan berbarengan, "Aku saja!" seru mereka berdua.
"Baiklah, kalian berdua. Ini permintaanku, kalian harus membuat klub surat kabar menyetujui ide ini 'Kami membutuhkan orang-orang yang merasa kuat untuk mengikuti F.K16' tentu saja kalimat yang saya katakan tadi perlu di perbaiki agar orang-orang tertarik" ucap Satya makin bersemangat
"Ketiga aku butuh seseorang yang ahli dalam membuat website dan lain-lain yang berhubungan dengan daring. Apa ada orang yang bisa melakukannya?" tanya Satya melihat masing-masing wajah mereka berlima.
Asher mengangkat tangannya, "Aku punya kenalan yang ahli dalam bidang ini!," jawab Asher tersenyum bangga.
"Perempuan?" tanya Satya.
Asher mengangguk sambil mengajungkan dua jempol.
Aku menggelengkan kepala, "Sudah kuduga ini,"
Aku menepuk bahu kanan Arlo, "Arlo aku punya tugas khusus untukmu ini rahasia kita berdua".
"Ok, katakan saja,"
"Nanti tempat ini tak aman, sepulang sekolah saja,"
"Baiklah, akan aku tunggu,"
Foxie penasaran, "Kenapa harus di rahasiakan?"
"Jika ingin rencana ini lancar kalian berempat tidak boleh mengetahui ini, kecuali mendesak,"
Tingg .... tingg...
Suara bel menandakan jam pelajaran selanjutnya di mulai.
"Sudah bell!" ucap Satya terkejut.
"Aku belum makan siang ini," rengek Satya.
"Cepat beli roti sana, makan sambil jalan menuju kelas," ucap Asher.
"Oh, idemu bagus akan aku lakukan," balas Satya.