Bab 8

1128 Words
ANIS "Dasar sialan!" Aku melempar ponselku ke sofa sangking kesalnya mendengar jawaban Nura. Bisa-bisanya dia menolak hanya karena sudah memberi uang dua juta. Kalau begini, terus siapa yang akan membereskan rumah di saat aku sedang sibuk mengurus pernikahan Sinta? Ya masak ibu calon pengantin harus memegang piring kotor dan sapu? "Ibu kenapa melempar ponsel?" tanya Sinta yang menduduki sofa single di depanku. "Sepupu kamu tuh, bikin ibu kesal saja!" jawabku ketus. Lalu mengambil ponsel yang tadi aku lempar. Kuperhatikan tidak ada yang pecah. Untunglah sofa terbuat dari bahan yang empuk. Coba kalau sofa dibuat dengan kayu yang keras? Hancur deh ponsel ini. "Sepupuku? Nura?" tebak Sinta sembari memakai henna di jari kakinya. Memang ada jasa pasang henna tapi kan harus membayar. Biar hemat aku suruh dia pakai sendiri saja. "Ya siapa lagi? Hanya dia yang selalu bikin kesal." "Memangnya Nura kenapa?" "Menolak suruhan ibu untuk bantu-bantu membersihkan rumah." "Ya ibu juga yang salah. Kenapa waktu itu bilang ke dia dan suaminya kalau mereka memberi uang minimal lima ratus ribu saja, tidak akan diminta bantu-bantu. Jadi dia punya alasan yang pas dong buat nolak perintah ibu." "Ah, dia saja yang tidak punya adab. Bisa-bisanya bibi sendiri dibantah." "Masih mendingan dibantah. Aku malah memikirkan hari H nanti. Nura dan Ari kan mau bergabung dengan keluarga gara-gara merasa sudah memberi uang dua juta. Apa kata keluarga Mas Beni kalau ternyata keluarga kita ada yang tidak berpendidikan dan penampilannya seperti pembantu? Taruh dimana muka aku?" "Ya mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur nanti bakalan seperti itu. Mudah-mudahan saja penampilan mereka tidak memalukan dan keluarga Beni tidak ada yang bertanya tentang mereka." "Eh, tapi Bu," Sinta semula agak menunduk dan pandangan pada jari-jari kaki, menegakkan punggung serta mengalihkan tatap padaku. "darimana mereka punya uang dua juta itu?" Aku menggendikkan bahu. "Ya mana ibu tau darimana? Ibu kan tidak tanya-tanya sama dia. Kamu tuh yang tanya ke Nura darimana dia dapat uang dua juta itu." Sinta bergidik. "Ih, ogah. Nanti aku terkesan kepo sama hidup mereka. Mending yang aku kepoin hidupnya temanku tuh yang seorang selegram. Ini Nura. Nggak level lah ya." Sinta membungkukkan kembali badannya dah kembali fokus dengan Hennanya. "Tapi ibu memang penasaran sih darimana uang itu berasal." Entah mengapa aku masih ingin membahas perihal uang dua juta dari Nura dan suaminya. "Apa mungkin itu uang tabungan mereka?" "Mereka kan baru menikah tiga bulan, Bu. Rasanya tidak mungkin bisa punya tabungan dua juta. Bagi mereka yang kere dan miskin itu, dua juta kan uang yang banyak." "Ya barangkali uang dari amplop yang mereka dapatkan sewaktu menikah. Para tetangga kan pada ngamplop semua walaupun tidak ada pesta dan hanya pengajian." Sinta terdiam untuk berpikir sebelum akhirnya menjawab. "Iya juga ya." "Nah, ibu rasa itu memang uang amplop yang mereka dapatkan waktu menikah." "Tapi bagaimana kalau ternyata itu bukan uang amplop melainkan uangnya Ari?" Keningku otomatis mengerut mendengar pendapat Sinta kali ini. "Uang Ari? Darimana dia punya uang sebanyak itu? Dia kan hanya kuli panggul di pasar yang paling hanya diupah sepuluh dua puluh." "Ya disini kerjanya memang kuli panggul, Bu. Kita kan tidak tau di desa dia seperti apa. Bisa jadi punya warisan dan warisan itu mereka jual. Lalu dua jutanya diberikan pada kita." "Kalau itu warisan, berarti masih ada sisanya dong?" "Ya, bisa jadi." "Sisanya kira-kira akan mereka gunakan untuk apa ya?" "Merenovasi rumah mungkin." Kami berdua refleks terdiam. Membayangkan kalau Ari memiliki warisan dan warisan itu dipakai untuk merenovasi rumah membuat kami merasa takut. Kami tidak mau disaingi oleh Rodiah, kakak perempuanku yang payah itu dan putrinya Nura. Sudah bagus hidup mereka miskin dan susah seperti selama ini. Membuat aku jadi berada di atas angin karena mampu hidup jauh lebih baik dibandingkan Rodiah. Secara kasat mata, memang harus seperti itu. Suamiku kan PNS, wajar bisa hidup dengan baik. Sedangkan Rodiah, almarhum suaminya hanya tukang becak. Jadi pantasnya memang hidup susah. "Mudah-mudahan mereka punya uang dua juta itu bukan dari menjual warisan. Memang pas kebetulan sedang dapat rezeki saja." Aku menghibur diriku sendiri. "Secara logika, rezeki darimana? Kalau hanya kuli tidak akan bisa dapat uang segitu. Dari hasil warung Nura? Mau diborong sampai habis pun tidak akan sampai dapat dua juta." Aku mengigit bibir bawahku. Kalau dipikir-pikir, memang benar darimana mereka memiliki yang dua juta itu kalau penghasilan warung dan kuli panggul tidak mungkin akan menghasilkannya. "Iya juga sih. Kalau begitu, diam-diam Nura dan suaminya adalah pesaing kita?" "Barangkali." "Coba deh kamu bertanya langsung sana dia." "Kenapa tidak ibu saja yang bertanya langsung kepadanya? Aku akan lagi sibuk pakai henna. Percuma capek-capek memasang tapi kehapus gara-gara aku ke rumah Nura." "Ya besok kalau begitu." "Besok aku mau pakai yang tangan, Bu. Sampai hari pernikahan aku tidak bisa mengerjakan apa-apa. Aku kan calon pengantin." Aku menipiskan bibir. "Jadi kalau kamu tidak bisa mengerjakan apa-apa, siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah dan masak?" "Ya ibu dan ayah lah. kalau mau aman, ambil pembantu untuk beberapa hari." "Kalau mau pakai pembantu," aku mengulurkan tanganku ke arah Sinta. "sini uangnya." "Kok minta uang aku? Uang seserahan saja semua ibu yang pegang. Ambil saja dari uang seserahan itu sedikit untuk membayar pembantu." "Yang seserahan kan sudah ibu bayarkan pada tenda, pelaminan, catering, musik, perancisan, MUA, dan lainnya." "Memangnya tidak ada sisanya? Aku yakin masih." "Sisanya mau ibu belikan emas untuk aset." "Sedikit saja kan tidak apa-apa." "Enak saja." *** NURA. Hari sudah menjelang Maghrib. Sudah seharusnya aku menutup warung karena harus siap-siap sholat Maghrib. Tapi pandanganku tiba-tiba 'salfok' dengan seseorang yang berjalan terburu-buru ke arahku. Wanita itu adalah Bibi Anis. 'Kenapa dia ke sini? Apa gara-gara aku tidak mau membersihkan rumahnya? Kelewatan sih kalau sampai disamperin seperti ini." Pikiranku tentang Bibi Anis sudah kemana-mana. "Sudah mau tutup, Nur?" tanyanya meskipun langkahnya belum sampai ke hadapanku. "Iya. Kan sudah mau maghrib, bi." Aku menatapnya penuh curiga. "Bibi kesini mau apa? Apa mau memaksaku untuk be_" "Aku ke sini karena ada yang mau ditanyakan." Kali ini Bibi Anis sudah berada di depanku. Keningku refleks mengerut. "Ada yang mau ditanyakan? Tentang apa?" "Tentang uang yang kamu berikan pada bibi waktu itu?" "Uang yang aku berikan pada bibi?" Aku bertanya balik untuk memastikan karena belum mengerti maksudnya uang yang mana. "Oh, uang yang Mas Ari berikan pada bibi? Yang dua juta itu?" "Iya yang itu." "Memangnya kenapa dengan uang itu, bi?" "Bibi hanya mau tanya kamu mendapatkan uang itu darimana." "Penting untuk bibi tau hal itu?" "Penting tidak penting sih. Tapi ingin tau saja." "Bibi tanya saja sendiri sama Mas Ari. Itu kan uang Mas Ari." Sungguh aku malas menjelaskan kalau uang itu hasil dari sawah Mas Ari di desa pada Bibi Anis. Takut nanti pertanyaannya jadi panjang karena Bibi Anis penasaran untuk tahu lebih dalam. Lagian aku tidak punya hak untuk menceritakan sawah Mas Ari pada orang lain. Mata Bibi Anis. "Oh, itu uang Ari? Ari dapat darimana uang itu?" Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD