NURA Aku menaruh belanjaanku ke atas meja dapur dengan dengkusan yang cukup kuat, sehingga ibu yang sedang mencuci peralatan makan bekas kami sarapan tadi pagi mendengarnya. “Ada apa, Nur? Ada yang membuat kamu kesal?” tanyanya setelah menoleh sekilas padaku. “Bukan bikin kesal sih, bu. Tapi lebih tepatnya aku merasa sedang gundah.” “Gundah kenapa? Apa ibu-ibu yang belanja pada Peno tadi menanyaimu pertanyaan yang tidak ingin kamu jawab?” Aku mengangguk. “Iya.” “Tanya apa mereka?” “Pertanyaannya sama dengan pertanyaan yang diajukan Bibi Anis. Mas Ari kerja apa sehingga bisa banyak uang.” “Kamu jawab apa?” “Ya aku jawab seperti keinginan Mas Ari. Mas Ari kan belum ingin orang-orang tau dia mendapat uang banyak darimana. Kita sendiri saja baru tau kalau dia punya sawah doang. Apakah

