Kinanti duduk di kursi roda pada balkon rumah sakit sambil menatap ke arah langit yang cuacanya tampak cerah. Sesekali menelan ludah, menangis menahan perih di d**a. Wanita itu teringat akan masa lalu menyakitkan. Kinanti meremas kuat ujung baju dan napasnya mulai bergemuruh.
Semakin teringat, d**a Kinanti semakin terasa sakit dan sesak. Rasa benci itu kembali menyelimuti dirinya.
'Mas Kenan, kau dan keluargamu harus membayar mahal semua yang terjadi padaku! Aku tidak akan pernah mengampuni-mu!' batin Kinanti sambil mengepalkan kedua tangannya dan meninju tepi kursi roda.
Kenan masuk dan mencari keberadaan Kinanti, ia menghela napas setelah mendapati istrinya berada di balkon sambil menatap langit. Pemuda itu mendekat ke arah Kinanti dan memeluk wanita tersebut dari belakang.
Kinanti sedikit terkejut dan berusaha melepaskan pelukan Kenan. Namun, pria itu semakin erat memeluknya sambil menaruh dagunya pada sebelah pundak Kinanti. Wanita tersebut berusaha melepaskan tangannya yang dikunci oleh Kenan. Namun, sia-sia, kuncian itu sangat kencang dan membuat Kinanti kurang nyaman.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Kenan tanpa melepaskan dekapannya.
Tangan Kinanti kembali mengepal dan meremas kuat ujung pakaiannya. d**a wanita itu terasa sesak dan kebencian di dalam diri Kinanti semakin menjadi.
"Lepaskan aku! Singkirkan tangan kotor-mu dariku!"
Kinanti berseru sambil terus berusaha melepaskan diri dari Kenan. Lelaki itu melepaskannya dan melangkah ke depan, lalu sedikit berjongkok di hadapan Kinanti. Mensejajarkan tubuhnya dengan wanita tersebut.
Kenan meraih paksa dua tangan Kinanti dan menggenggamnya. Kinanti berusaha menepisnya. Namun, Kenan semakin mempererat genggamannya.
"Lepaskan aku, pengkhianat! Singkirkan tangan kotor-mu dariku!"
Kinanti berbicara sedikit keras, wanita itu mulai emosi. Namun, Kenan tetap berusaha tenang menghadapi sang istri yang masih labil kondisinya.
"Kau boleh memaki-ku sepuas hatimu. Aku menerimanya, Sayang. Namun, jangan memintaku pergi menjauh darimu dan putra kita. Sebab, keputusanku tetap sama, tidak akan melepaskan-mu selamanya," ucap Kenan penuh penekanan.
Kinanti berhenti meronta. Kedua matanya dipejamkan sejenak dan dibuka cepat. Emosi Kinanti kembali meninggi. Setiap kali bertemu dengan Kenan, sakit hati itu semakin terasa.
Kenan yang paham akan kondisi istrinya melepaskan genggamannya dan mengambil obat dan minum di nakas, memasukan ke dalam mulutnya dan meraih wajah Kinanti.
Pemuda itu memaksa Kinanti menelan obat sambil memegangi kedua tangannya agar tidak memberontak. Cara itu dilakukan Kenan agar Kinanti yang keras kepala tersebut mau meminum obat yang akan membuatnya tenang kembali.
'Maafkan aku, Sayang. Ini cara terbaik untuk membuatmu mau minum obat,' batin Kenan yang masih memegangi kepala Kinanti yang sudah mulai tidak sadarkan diri.
Kemudian, Kenan mengangkat tubuh Kinanti dan merebahkan di ranjang. Kemudian, ia menyelimutinya hingga ke d**a dan keluar ruangan untuk melakukan pemeriksaan dengan padian lain.
"Jaga Nyonya Kinanti dengan baik. Jangan biarkan seorang pun menemuinya tanpa seizinku!" perintah Kenan kepada anak buah yang menjaga Kinanti tersebut.
"Baik, Tuan."
~~~
Kenan duduk di kursi kerjanya. Merogoh saku jasnya dan melirik ke tombol hijau pada sudut bawah kanan ponsel. Menghela napas kasar.
"Mami. Aku tidak boleh memberi tahu keberadaan Kinanti. Saat ini situasinya belum membaik. Aku harus merahasiakan keberadaan Kinanti dan putraku. Belum saatnya mami mengetahuinya," monolog Kenan. Pemuda itu kemudian menjawab teleponnya.
["Assalamualaikum, Mi."]
["Waalaikumsalam. Kenan kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?"]
["Maaf, Mi. Tadi masih ada pasien."]
["Mami mau mengingatkan. Nanti malam jangan lupa datang ke acara makan malam bersama keluarga Jeny. Jangan sampai telat."]
[Iya, Mi. Kalau tidak banyak pasien Kenan datang."]
["Pokoknya Mami tidak mau tahu. Kau harus datang nanti malam. Assalamualaikum."]
["Wa--waalaikumsalam."]
Mami Kesya, ibunda Kenan memutus sambungan telepon sepihak. Membuat Kenan mendengkus kesal dan meletakkan ponsel di meja. Kemudian, memijit pelipisnya yang terasa sakit.
~~~
Tiga jam berlalu, Kinanti kembali sadarkan diri dan duduk di tepi ranjang. Sesekali ia memejamkan mata, menyesali pertemuannya dengan Kenan kembali. Berpikir keras untuk bisa keluar dari ruangan itu dan membawa anaknya pergi dari rumah sakit yang telah mengurungnya tersebut.
'Aku harus bisa keluar dari sini segera. Namun, bagaimana aku bisa menghadapi anak buah Mas Kenan di luar sana? Kenapa aku harus bertemu kembali dengan laki-laki itu? Bodoh, seharusnya aku menyadari ini rumah sakit tempat ia bekerja sebelum memutuskan untuk melahirkan,' monolog Kinanti sambil meremas sedikit kuat rambutnya.
Kinanti berusaha turun dari ranjang perlahan sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri. Kemudian, melangkah menuju pintu. Membukanya perlahan dan langsung di sambut kedua anak buah Kenan yang berjaga di luar ruangan itu.
"Nyonya mau ke mana? Kembalilah ke dalam. Tuan Kenan melarang Anda keluar, jelas Fikar, salah satu bodyguard suruhan Kenan.
"Aku lapar, bisa kau tolong belikan camilan di minimarket dekat sini?" ucap Kinanti kepada Fikar dengan datar.
"Tapi, Nyonya ...."
"Kau mau aku mati kelaparan? Kau mau Tuan Kenan marah dan menghukum-mu jika menolak?" tanya Kinanti sedikit menggertak.
"Baik, Nyonya. Saya pergi dulu. Argo, kau jaga Nyonya," ucap Fikar sambil pamit undur diri.
"Tuan Kenan datang!" seru Kinanti berusaha mengelabui Argo.
Pemuda itu menoleh ke arah yang ditunjuk Kinanti. Dengan cepat wanita itu memukul leher Argo dengan tumbler berisi air panas hingga Argo tumbang dan tidak sadarkan diri. Kinanti memanfaatkan momen tersebut untuk melarikan diri.
Wanita berparas cantik itu melangkah cepat menuju ruang perawatan bayi dan mendekati putranya. membuka inkubator dan melepaskan peralatan yang menempel pada tubuh anak kecil tersebut.
"Maafkan Mommy, Sayang. Kita harus keluar dari sini secepatnya. Mommy akan carikan kau tempat lain yang lebih aman lagi," monolog Kinanti sambil menggendong bayinya.
Kinanti menyusuri lorong rumah sakit sambil melirik ke arah sekitar. Berharap Kenan tidak melihat dan menangkapnya. Sesekali, ia meringis menahan sakit bekas operasi di perutnya.
'Semoga anak buah Mas Kenan dan lelaki itu tidak mengejar-ku. Aku juga harus mengelabui perawat-perawat itu agar bisa keluar dari rumah sakit ini,' batin Kinanti sambil terus mengawasi situasi.
~~~
Kenan kembali setelah mendapat laporan dari anak buahnya prihal hilangnya Kinanti dan putranya. Pria itu mengerahkan beberapa ana buah dan petugas rumah sakit untuk mencari keberadaan Kinanti.
"Bagaimana?" tanya Kenan dengan napas tersengal setelah setengah berlari mencari Kinanti.
"Tidak ketemu, Tuan," ucap Fikar yang juga tersengal.
"Kurang ajar! Kenapa kalian begitu bodoh? Bisa-bisanya dikalahkan seorang wanita yang sedang sakit," omel Kenan sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Maafkan kami, Tuan," ucap Fikar sambil tertunduk.
"Tadinya kami hanya ingin membantu. Akan tetapi, ternyata Nyonya ...."
"Ahh, sudahlah. Kita cek CCTV," ucap Kenan memotong kalimat Fikar dan dan Argo.
Kenan dan anak buahnya memeriksa CCTV rumah sakit di setiap sudut. Mereka tidak melihat adanya Kinanti.
"Aneh sekali, kenapa tidak ada jejaknya sama sekali?" tanya Kenan sambil kedua matanya fokus menatap layar komputer.
"Apa dia lewat ... kenapa tidak ada tangkapan vidio di daerah ini?"