Lavanya berdiri di balkon sambil memandang langit pagi yang cerah ini. Tak terasa waktu berjalan hingga hari ini tibalah saat pernikahan dia dan Alex. Padahal kabar Alex sendiri Vanya tidak tahu, setelah chat malam itu dia tidak lagi menghubungi Alex. Alex pun tidak menghubungi Lavanya, keduanya masih tampak asing meskipun hari ini mereka akan menjadi sepasang suami istri.
Suasana rumah sudah ramai karena para sahabat orang tua mereka yang berkumpul. Ijab qabul dilakukan di rumah Lavanya, sedangkan pestanya akan dilakukan nanti malam di gedung yang sudah mereka siapkan. Ceklek. Suara pintu dibuka, terlihat Cecil yang masuk ke dalam kamar Lavanya.
Cecil berjalan ke arah Lavanya yang masih termenung di balkon kamarnya. Kamar Lavanya memang tidak dihias seperti kamar pengantin, karena setelah pesta pernikahan Lavanya akan langsung pulang ke rumah Alex.
"Cantik," panggil Cecil membuat Vanya menoleh dan memaksakan senyumnya. Cecil segera memeluk Lavanya dia lalu memandang mata sahabatnya itu. "Nggak boleh sedih, masa pengantin sedih," tutur Cecil mencoba menghibur Lavanya.
Dari balkon terdengar jika calon mempelai pria sudah datang bersama keluarganya. Vanya mengeratkan genggaman tangannya, Cecil sedikit merasa sakit karena Vanya terlalu keras menggenggamnya. Namun, dia tidak mengatakan apapun dia paham apa yang dirasakan Vanya sekarang.
"Kalau Pak Tama kasar nyakitin lu, gue yakin kok keluarga lu nggak akan tinggal diam. Jadi nggak usah khawatir," tutur Cecil.
"Gue pengen terbang deh," ucap Lavanya.
"Nggak usah ngelawak deh," ujar Cecil memukul lengan Lavanya. "Diam-diam," ucap Cecil mencoba mendengarkan suara seorang laki-laki yang terdengar karena menggunakan pengeras suara.
"Sudah dimulai."
"Nggak boleh nangis, make up lu mahal," tegas Cecil mengingatkan.
"Cewek lain nangis pas cowoknya ijab karena terharu saking senangnya, lah gue rasanya pengen kabur," ujar Lavanya dengan jujur.
"Diam, nggak usah ngomel."
Lavanya terdiam sambil memejamkan matanya saat mendengar ijab qobul yang sudah dimulai. Cecil menggenggam tangan Lavanya memberi Lavanya kekuatan.
SAH
Satu kata yang terdengar di telinga Lavanya membuat air mata Lavanya tanpa permisi mengalir dari ujung matanya. Cecil yang melihat itu langsung mengusap air mata Lavanya menggunakan tisu dengan perlahan agar make up nya tidak rusak. Tok tok. Suara ketukan terdengar dari luar.
"Jangan nangis, ada yang mau masuk. Ayo senyum," ucap Cecil dengan terpaksa Lavanya pun tersenyum. "Iya masuk."
Nada masuk ke dalam kamar Lavanya dengan tersenyum lebar. "Ayo Vanya, kita turun," ucap Nada.
Lavanya lalu berjalan keluar dari kamar menuju ke taman dengan didampingi Cecil dan Nada. Sampai di taman, Vanya melihat mata kedua orang tuanya yang berkaca-kaca. Terlihat pula Lucas yang menatap dirinya dengan pandangan sendu.
Alex berdiri membelakangi dirinya, Vanya berhenti melangkah hingga Alex berbalik menghadap ke arahnya. Mata mereka saling menatap keduanya melangkah maju, sejenak keduanya terdiam saling menatap. Vanya lalu meraih tangan Alex dan menciumnya, ini pertama kalinya Vanya mencium tangan Alex yang sekarang menjadi suaminya.
Alex kemudian memejamkan matanya mencium kening Lavanya. Saat itu Alex mengingat semua pesan Mamanya.
Malam sebelum ijab qobul, Alex baru saja sampai di rumah dia baru menyelesaikan masalah di kantor cabang. Lisa sejak tadi sore sudah menunggu anaknya pulang, Lisa terlihat khawatir pasalnya besok pernikahan Alex namun Alex yang belum kunjung datang.
Saat Alex masuk ke dalam rumah senyum Lisa mengembang, Alex langsung menghampiri Mamanya dan memeluknya. "Maaf Ma, sudah bikin Mama khawatir," ucap Alex yang melihat kekhawatiran di wajah Mamanya itu.
"Kamu sudah makan?" Tanya Lisa.
"Sudah tadi di jalan," jawab Alex yang kemudian duduk di ruang keluarga bersama Mamanya. Dia merebahkan kepalanya di pangkuan Lisa.
"Mama takut kamu kabur," ucap Lisa membuat Alex terkekeh.
"Nggak mungkinlah Mah, Mama nggak percaya banget sama anaknya," ujar Alex.
"Maaf."
"Iya nggak papa Ma," ucap Alex dengan tersenyum.
"Besok kamu akan menikah, sayangi istri kamu seperti kamu sayang ke Mama dan Alexa," pinta Lisa sambil mengusap kepala anaknya. "Mama tahu kamu belum mencintainya, namun setelah ijab qobul maka Lavanya akan menjadi tanggung jawab kamu," sambung Lisa. Alex hanya terdiam mendengarkan ucapan Mamanya.
"Vanya sama seperti kamu yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, dia juga putri kesayangan orang tuanya. Jadi, jaga dia baik-baik ya," ucap Lisa yang lagi-lagi Alex hanya terdiam.
Alex bangkit dari pangkuan Mamanya. "Sudah malam Ma, Alex ke kamar dulu. Mama juga istirahat gih," tutur Alex sambil tersenyum. Dia lalu berjalan menuju ke dalam kamarnya meninggalkan Lisa yang masih duduk di ruang keluarga.
Alex masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil kunci dari sakunya untuk membuka laci yang berada di sebelah tempat tidur. Alex mengambil sebuah bingkai foto yang ada di laci itu. Didalam foto itu terlihat dirinya dengan seorang wanita yang masih tersenyum. Alex menghela nafasnya memandang foto itu, kenangan masih teringat jelas.
***
Vanya terdiam melihat gaun yang dia kenakan, gaun berwarna putih dengan model off shoulder ball gown. Gaun yang sederhana namun tetap terkesan mewah dan elegan. Vanya tersenyum melihat gaun impiannya itu.
Dia tidak menyangka jika Alex membuat gaun yang dia inginkan. Pintu ruang rias dibuka, terlihat Alex yang masuk menghampiri Lavanya. "Sudah saatnya keluar," ucap Alex.
Lavanya pun berbalik memandang Alex dan berjalan beriringan keluar dari kamar rias. Vanya melingkarkan tangannya di lengan Alex dan berjalan memasuki ruangan tempat acara berlangsung. Jika ijab qabul dilakukan di outdoor kali ini pestanya mereka lakukan di indoor.
Meskipun pesta bersifat privat namun tetap terlihat mewah. Tamu undangan hanya dihadiri para sahabat dan rekan terdekat mereka. Vanya yang meminta pernikahan mereka agar tidak dipublish terlebih dahulu karena Vanya yang masih magang di perusahaan Alex.
Awalnya hal itu ditentang keluarga, namun Vanya terus memohon maka mereka pun menyetujuinya. Vanya dan Alex memasang senyum terlihat jika mereka bahagia, namun yang sebenarnya senyum itu hanyalah senyum palsu. Keduanya telah sepakat untuk tersenyum meskipun aslinya hal ini tidak mereka inginkan.
Waktu berlalu hingga tiba saatnya mereka berganti pakaian. Vanya kini memakai gaun berwarna hitam yang menonjolkan kedua bahunya. Gaun yang tampak mewah itu sangat pas di badan Lavanya. Alex terlihat puas saat Lavanya memakai gaun seperti yang dia inginkan, mereka berdua lalu kembali ke pelaminan.
Setelah beberapa kali melakukan sesi foto, Vanya dan Alex pun berdansa bersama. Mereka berdua turun ke area dansa dengan senyum yang mengembang di wajah mereka. Semua mata tertuju ke mereka, semuanya tersenyum melihat kemesraan mereka. Riuh tepuk tangan terdengar di telinga saya mereka selesai berdansa.