Bab 1 Prolog
"Pagi Mama," sapa Lavanya atau biasa dipanggil Vanya.
"Pagi Sayang," saut Nadia saat putrinya memeluk dirinya dari belakang.
"Papa dimana Ma?" Tanya Vanya yang belum melihat batang hidung Papanya disana.
"Bentar lagi turun pasti," jawab Nadia.
"Kenapa pada nyari papa hem?" Tanya David yang baru saja turun. "Gimana papa ganteng kan?" Tanya David mengusap rambutnya.
"Ma, Papa memang dari dulu gitu ya? Mama nggak nyesel nikah sama Papa?"
"Sepertinya mulai nyesel sih," jawab Nadia berbisik tetapi masih bisa didengar oleh David.
"Ih Sayang kok ngomongnya gitu," eluh David yang mendekat ke Nadia lalu mencium pipinya. Nadia langsung memukul lengan David karena di cium di depan Vanya. "Ih nggak papa kan Vanya juga udah gede," ujar David.
Vanya yang berdiri disana cuman tertawa melihat tingkah Papanya yang tiba-tiba manja. "Udah udah ayo makan, nanti kalian telat ke kantornya," titah Nadia.
"Siap komandan," jawab David. Mereka bertiga lalu duduk di meja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor.
"Va, udah ketemu Alex kan?" Tanya David.
"Eh ya udah Pa," jawab Vanya berbohong sebenarnya kemarin dia tidak menemui Alex calon suaminya yang sudah lama dijodohkan dengannya.
"Gimana? Baikkan orangnya?" Tanya David.
"Vanya tetep nggak mau nikah sama dia Pa, ayolah Pa jangan paksa Vanya terus. Lagian Vanya juga baru lulus kuliah masa udah ngomongin pernikahan mulu," eluh Vanya yang terus menerus membujuk David agar mau membatalkan perjodohan itu.
"Vanya, Papa Kan sudah bilang kalau Papa dulu sudah berjanji sama almarhum Papanya untuk menjodohkan kalian. Masa Papa ingkari janji Papa sih, ayolah bantu Papa kali ini aja lagian sejak dulu juga Papa nggak pernah minta apa-apakan sama kamu," terang David.
"Tapikan Pa...."
"Nggak ada tapi-tapian!" tegas David memotong perkataan Vanya.
"Serahlah," ujar Vanya yang pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Vanya Lavanya," panggil Nadia tetapi Vanya tetap berjalan keluar dari rumah.
"Pa, jangan terlalu keras gitu sama Vanya," nasehat Nadia.
"Ya gimana Ma, Papa juga sebenarnya nggak mau ngatur anak soal mereka nikah sama siapa. Tapi, gimana lagi Dirga dulu minta Papa buat jodohin anak kita sebelum dia meninggal, lagian cowoknya Vanya juga Papa nggak suka, " jelas David.
Vanya sebenarnya memang memiliki kekasih bernama Jordan. Mereka berpacaran sudah dua tahun, hubungan mereka memang tidak direstui oleh orang tua Lavanya. Namun, orang tua Lavanya tidak pernah menunjukkannya secara langsung. Mereka tetap baik jika Jordan main kerumah.
Tetapi, David menjodohkan Lavanya dengan anak rekan bisnisnya. Perjodohan itu terjadi karena itu permintaan terakhir teman David. Maka David mau tidak mau harus memaksa Lavanya untuk menikah dengan anak temannya itu.
"Ya sudah nanti biar Mama yang bujuk Vanya ya," tutur Nadia membuat David tersenyum.
***
Vanya menaiki taxi menuju ke perusahaan tempat dia magang. Wajahnya kini terlihat kusut karena percakapan Papanya tadi. Entahlah sudah berapa kali dia membujun Papanya agar mau membatalkan perjodohan itu, namun tetap saja Papanya kekeh dengan keputusannya.
Vanya menghela nafasnya saat turun dari taxi, dia segera masuk ke sebelum dirinya terlambat. Langkahnya berhenti saat berpapasan dengan CEO perusahaan itu. Vanya tersenyum ramah dan menyapanya. "Pagi Pak Tama," sapa Vanya namun seperti biasa CEO itu hanya diam.
Vanya lalu berjalan menuju ke mejanya. "Fotocopy ini!" perintah Cheryl yang meletakan setumpuk berkas ke meja Vanya.
"Tapi Kak, pekerjaanku masih banyak," ujar Vanya yang ingin menolak namun Cheryl langsung pergi tidak mendengar ucapan Vanya. Vanya pun hanya bisa menghela nafasnya, sejak awal dia bekerja sebagai karyawan magang Cheryl selalu mencari masalah dengannya.
Dia selalu memerintah Vanya meskipun melihat Vanya masih banyak pekerjaan. Pagi ini pun Vanya sudah disibukan dengan berbagai dokumen untuk di fotocopy. Vanya membawa dokumen itu ke ruang fotocopy.
Keluarga Vanya memang memiliki perusahaan sendiri Wijaya grup yang sekarang dipimpin Kakaknya dan Mahendra grup yang dipimpin Papanya. Beberapa kali David meminta Vanya untuk bekerja saja di Mahendra Grup tetapi Vanya terus menolak dia mencari pekerjaan sendiri.
Tetapi ketika David tahu Vanya bekerja di Mahardika Grup membuat David langsung mengizinkannya.
Ting.
Satu pesan masuk ke ponselnya, terlihat nomor asing yang mengirimnya pesan. Vanya pun membukanya, dia membelalakan matanya melihat foto yang dikirimkan nomor itu.
Terlihat dalam foto itu Jordan yang memeluk Queen dari belakang dan mencium pipi nya.
"Hy aku Queen makasih ya udah jadi pengganti aku semalam ini, sekarang aku sudah kembali jadi nggak perlu lagi pemeran pengganti."
Isi pesan itu membuat Vanya sakit hati, pasalnya dia tahu jika Queen adalah mantan pacar Jordan. Mereka dulu pernah menjalin asmara selama lima tahun.
Vanya : "Kau pikir aku percaya dengan foto ini?"
Vanya membalas pesan itu dengan penuh emosi, dan tak lama Queen membalasnya lagi.
Queen : "Terserah kamu aja kalau nggak percaya, siap-siap di buang sama Jordan ya. Bye."
Vanya langsung mengirim pesan kepada Jordan meminta untuk bertemu.
Vanya : "Nanti sore aku mau ketemu kamu."
Tak lama kemudian Jordan membalas pesan Vanya.
Love : "Sibuk."
Tulis singkat Jordan membuat Vanya semakin sakit hati. Lavanya menoleh ke arah pintu saat tiba-tiba mendengar jika ada karyawan yang ditegur. Vanya yang penasaran pun mengintip dari balik pintu.
Terlihat Pak Tama yang memaki manajer pemasaran. Bu Maya terlihat diam menunduk menerima amarah dari pak Tama. Seekor cicak merayap ke tangannya yang menggenggam gagang pintu. "Akh," teriak Vanya yang langsung menutup mulutnya.
Tama yang mendengar itu langsung menoleh ke sumber suara. Dia dengan amarahnya langsung membuka pintu ruangan itu terlihat Vanya yang terduduk di lantai karena terjatuh.
"Ngapain kamu disini?!"
"Itu anu Pak, hm fotocopy. Saya masih fotocopy dokumen," jawab Vanya terbata yang kemudian langsung bangkit.
"Fotocopy apa nguping!"
"Fotocopy Pak," jawab Vanya dengan keringat yang membasahi jidatnya.
"Nanti sore sebelum pulang kamu ke ruangan saya!" Titah Tama yang kemudian pergi dari ruangan itu. Vanya menghela nafasnya mendengar perintah Tama, dia tahu jika akan di suruh lembur hari ini.
Ting.
Satu pesan masuk ke ponsel Vanya, dengan malas Vanya pun membukanya yang ternyata dari mamanya.
Mama: "Vanya nanti malam ada makan malam bareng Alex dan Mamanya ya, Mama Minta tolong kamu datang ya jangan ngecewain Mama."
Tubuh Vanya langsung terduduk saat membaca pesan itu. "Akh ada apa dengan hari ini, Tuhan," gumam Vanya yang terlihat frustasi. Banyak hal yang tidak diduga akan terjadi hari ini, perasaan Vanya campur aduk hari ini dia patah hati dan kesal.