Bab 2 Tama Yang Arogan

1014 Words
Tama kembali masuk ke ruangannya, dia memandang ponselnya yang terlihat foto perempuan dengan rambut panjang terurai sedang tersenyum. "Lavanya Wijaya Mahendra," ucap Tama. Laki-laki berumur dua puluh delapan tahun itu Putra pertama Dirga Mahardika. Alex Pratama Mahardika yang sering di panggil Tama namun keluarganya memanggil dia Alex. Sebelum Dirga meninggal tiga tahun yang lalu dia sempat berpesan kepada Alex untuk menikah dengan putri David yang bernama Lavanya. Jelas saat itu Alex langsung menentangnya, dia tak mau menerima perjodohan itu. Sebab saat itu Alex memiliki kekasih yang sangat dia cintai. Namun, saat ini fis tidak bisa menolak lagi perjodohan itu. Alex tidak bisa melihat Lisa mamanya yang menangis karena Alex yang menentangnya. Mau tak mau Alex pun menyetujui perjodohan ini. Dan hari ini setelah tiga tahun mereka dijodohkan, Alex baru mencari tahu soal Vanya yang ternyata bekerja di perusahaannya. Alex cukup kagum dengan Vanya yang memilih tidak bekerja di perusahaan Papanya yang jelas-jelas itu perusahaan besar. Bahkan bisa saja Vanya tidak perlu susah susah bekerja. Dret dret ponsel Alex bergetar tertera nama Mama disana, Alex pun langsung mengangkatnya. "Assalamu'alaikum Mah, ada apa?" Tanya Alex saat mengangkat telepon itu. "Waalaikumsalam, nggak papa. Mama cuman mau ngabarin kalau nanti malam ada makan malam di rumah Vanya, kamu hari datang ya," perintah Lisa di seberang sana. "Alex lembur hari ini Mah," tutur Alex. "Malam ini aja kami ikut Mama ya," pinta Lisa. "Yaudah iya Mah, nanti Alex dari kantor langsung kesana. Mama nanti kesana diantar supir nggak papa kan?" Alex pun tidak bisa menolak permintaan Mamanya itu. "Iya nggak papa, jam tujuh kamu sampe sana ya," ucap Lisa. "Iya Mama, nanti Alex usahakan jam tujuh malam sampai sana." "Yaudah Mama tutup teleponnya, kamu lanjut kerja biar nggak telat nanti malam," tutur Lisa yang kemudian telepon pun ditutup. *** Jam menunjukan pukul lima sore, Vanya bergegas membereskan meja kerjanya. Dia tidak mau lembur malam ini, jadi dia akan langsung keluar dari kantor tanpa menemui Tama. Vanya menaiki taxi menuju ke suatu tempat. Dia tidak berniat untuk pulang, tetapi dia ingin ke suatu cafe. Beberapa menit kemudian dia sampai di cafe itu, Vanya turun dari taxi setelah membayarnya. Dia tidak sadar jika di seberang jalan ada Tama yang melihat dirinya. Sore ini Tama baru saja selesai bertemu dengan klien di restoran depan cafe. Tama memicingkan matanya saat melihat Vanya yang masuk ke dalam cafe. "Apa Vanya ke ruanganku tadi?" Tanya Tama kepada Jefri asistennya. "Tidak, Nona Vanya tidak keruangan Anda," jawab Jefri setelah bertanya dengan Erina sekretaris Tama yang berada di perusahaan. Vanya duduk di sudut cafe itu dia memesan coffee dan pastry untuk menemaninya sore itu. Saat sedang menyeruput coffe, mata Vanya tidak sengaja melihat seorang laki-laki yang sangat dia kenal sedang bersama seorang perempuan. Vanya mengepalkan tangannya melihat mereka ada di cafe itu. Kedua insan itu terlihat seperti sepasang kekasih, Vanya geram melihat kemesraan mereka. Dia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah mereka. Vanya menatap tajam ke arah Queen membuat Quen mendongakkan kepalanya dan Jordan yang menyadari kedatangan Vanya pun menatap ke arah Vanya. "Kau bilang sibuk, tapi ternyata malah jalan sama jalang ini!" Ucap Vanya yang matanya kini beralih ke Jordan untuk meminta penjelasan. "Jaga ucapanmu Vanya!" Bentak Jordan yang bangkit dan menatap tajam ke arah Vanya. "Kenapa? terima terima aku hilang dia jalang?" Tanya Vanya menunjuk Queen. "Karena dia bukan perempuan seperti itu!" Tegas Jordan. "Terus apa yang cocok untuk julukan perempuan yang merebut pacar orang hah?" "Cukup kekanak-kanakan ya! Aku capek sama kamu yang masih kayak anak gini, main timezone makan eskrim ke pantai. Aku bosan dengan semua itu, harusnya kamu ngerti. Dan satu hal yang harus kamu ingat sampai kapan pun kamu nggak bisa gantiin posisi Queen, jadi mending kamu pergi dan akhiri hubungan kita," tegas Jordan membuat Vanya semakin muak dengan mereka. Vanya mengambil gelas yang berisi minuman lalu dia siram ke wajah Queen. "Lavanya!" Hardik Jordan yang langsung melayangkan tangannya hendak menampar Vanya. Vanya menutup matanya bersiap menerima tamparan Jordan, namun tangan Jordan berhenti di udara karena dihalangi seseorang. Vanya membuka matanya dia lalu menoleh ke arah tangan itu yang ternyata itu adalah tangan Tama. "Jaga tanganmu!" Ujar Tama memberi peringatan. Jordan menarik tangannya. "Nggak usah ikut campur!" Ucap Jordan. Vanya berlari keluar dari sana karena muak dengan mereka. "Jangan pernah macam-macam dengan Vanya lagi atau kau akan berurusan dengan aku!" Ketus Tama yang keluar dari cafe itu untuk mengejar Vanya. Saat Tama keluar tidak terlihat lagi batang hidung Vanya disana. Tama pun segera masuk ke dalam mobil dan mengendarainya untuk mencari keberadaan Vanya. Langit yang sejak tadi mendung kini mulai menurunkan rintik hujan. Seketika hujan mulai lebat dan Tama keluar dari area cafe mencari keberadaan Vanya. Saat melintadi taman yang berada di dekat cafe, mata Tama tertuju ke arah gadis yang tengah duduk di kursi taman dan membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Tama turun dari mobil dengan memakai payung agar air hujan tidak membasahi tubuhnya. Dia berjalan ke arah Vanya yang tengah duduk di taman itu. Semakin dia dekat semakin terdengar suara isakan gadis itu. Tama lalu memayungi tubuh gadis itu membuat gadis itu pun mendongakkan kepalanya. "Pulang!" Satu kata keluar dari mulut Tama. "Bapak pulang saja sendiri," ujar Vanya masih dengan air mata yang mengalir. Tama yang tak suka penolakan pun langsung mencengkram tangan Vanya. Dia lalu menarik Vanya agar ikut dengannya, Vanya merintih karena cengkraman tangan Tama yang terlalu kencang. Tama membuka pintu mobil memerintahkan Vanya untuk masuk. "Masuk!" Melihat tatapan Tama yang tajam membuat nyali Vanya menciut dia pun masuk ke dalam mobil. Tama lalu berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil. Dia langsung menginjak gas dan mobil pun melaju dengan kecepatan kencang. Vanya terlihat ketakutan karena hal itu dan dia semakin takut ketika melihat wajah Tama yang terlihat marah. Tama tiba-tiba menghentikan mobilnya, dia menahan badan Vanya agar tidak maju terbentur ke depan. Vanya terlihat menegang saat mobil tiba-tiba berhenti. Dia yang masih menangis dibiarkan oleh Tama. Vanya membuka seat belt membuat Tama menoleh kepadanya. "Mau kemana?" Tanya Tama yang terdengar dingin. "Saya bisa pulang sendiri Pak," tutur Vanya yang berniat turun. Tetapi saya ingin membuka pintu ternyata pintu mobil itu dikunci oleh Tama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD