Bab 3 Penentuan Hari Pernikahan

2010 Words
Vanya menoleh ke arah Tama saat pintu mobil tak bisa dia buka. "Pak." "Duduk diam dan jangan menangis lagi!" Titah Tama membuat Vanya ketakutan. Tama mengusap kepala Vanya saat Vanya sudah tidak menangis lagi, dia lalu kembali melajukan mobilnya. Vanya terkejut saat Tama mengusap kepalanya dengan lembut. Tapi dia tidak berani menatap Tama dan memilih untuk diam. Mata Vanya melihat keluar jendela, jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju ke rumahnya. "Turun di depan saja Pak," pinta Vanya yang tidak mau jika bosnya itu masuk ke halaman rumahnya. Tetapi Tama tidak mendengarkannya, dia tetap memasuki halaman rumah Vanya. Vanya pun hanya menghela nafasnya. "Lagian kenapa Pak Tama bisa tahu sih rumah aku," batin Vanya bertanya-tanya. "Makasih Pak," ucap Vanya ketika mobil berhenti dan Vanya hendak turun dari mobil. Tetapi pintu mobil masih saja di kunci oleh Tama membuat Vanya menoleh ke arahnya. Terlihat Tama yang melepaskan jas yang dia kenakan lalu memberikannya kepada Vanya. "Bajunya nerawang," ujar Tama yang membuat Vanya seketika tersadar jika bajunya yang basah membuat baju itu nerawang. Vanya langsung menutupi dadanya, Tama langsung keluar dari mobil ketika dia ingin protes karena Tama tidak mengatakannya sejak tadi. Vanya langsung mengenakan jas milik Tama untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Kini Tama membukakan pintu mobil untuk Vanya dan Vanya pun keluar dari mobil. "Makasih Pak, Bapak pulangnya hati-hati ya," ujar Vanya dengan sopan berharap Tama langsung pulang. Tetapi, bukannya melangkah masuk ke dalam mobil, Tama malah melangkah masuk ke dalam rumah membuat Vanya mengejarnya. "Pak," panggil Vanya ingin menghentikan langkah Tama tetapi Tama tetap berjalan. "Pak Tama," panggil Vanya lagi. "Assalamu'alaikum," ucap salam Tama saat masuk ke dalam rumah Vanya. "Waalaikumsalam," jawab Nadia yang kebetulan hendak keluar dari rumah karena Vanya yang tidak pulang-pulang. Tama langsung mencium tangan Nadia, David yang mendengar kedatangan Tama pun menghampirinya ke ruang tamu. "Mamanya mana?" Tanya Nadia kepada Tama. "Masih di jalan kayaknya Tante, Alex dari kantor langsung kesini nggak bareng Mama," jelas Tama. "Oh gitu, yaudah ayo masuk," ajak Nadia. "Malam Om, maaf ya Vanya pulangnya telat," ucap Tama mencium tangan David. "Oh iya Alex nggak papa," jawab David. "Silahkan duduk Lex," sambung David mempersilahkan Tama untuk duduk. Vanya berdiri mematung saat Tama memanggil dirinya Alex. "Kok bisa basah gitu?" Tanya Nadia yang melihat putrinya berdiri mematung memandang Alexa. "Iya tadi Vanya kehujanan," terang Vanya. "Yaudah sana kamu langsung masuk ke kamar buat mandi, bentar lagi Mamanya Alex pasti datang," titah David. "Alex?" Tanya Vanya sambil menunjuk ke arah Tama yang duduk di sofa ruang tamu. "Iya ini Alex, kok kamu kayak kaget gitu? Bukanya kamu bilang kemarin ketemu kan sama Alex," tanya Nadia. "Ah iya Mah, Vanya mandi dulu," ucap Vanya yang langsung berjalan menuju ke kamarnya untuk membersihkan badan. Vanya berdiri di depan wastafel, dia menatap dirinya di dalam cermin. "Dia Alex?" Ucap Alexa bertanya-tanya. "Cowok arogan itu Alex yang di jodohin sama aku?" "Aish kenapa harus dia sih?" Tanya Vanya yang kesal saat tahu jika Tama itu Alex. Vanya mengusap wajahnya kali ini dia benar-benar ingin membatalkan perjodohan itu. Tapi, bagaimana caranya dia pun masih belum tahu. Tok tok tok Suara ketukan membuyarkan lamunan Vanya. "Vanya buruan mandinya, Tante Lisa bentar lagi datang," uhar Nadia mengingatkan putrinya. "Iya Mah," jawab Vanya. Vanya pun akhirnya membersihkan dirinya karena jika kelamaan melamun juga membuatnya kedinginan karena habis kena air hujan. Lima belas menit kemudian Vanya keluar dari kamar mandi, dia masuk ke ruang ganti untuk memilih pakaian yang akan dia kenakan. Vanya memilih memakai dress selutut berwarna biru dengan leher dan lengan berwarna putih. Vanya lalu mengeringkan rambutnya yang basah lalu dia biarkan terurai begitu saja. Kemudian Vanya memakai liptint agar bibirnya tidak terlihat pucat. Setelah itu Vanya berjalan keluar kamar tanpa memakai make up dan hanya liptint saja. Dia berjalan menuruni tangga menuju ke ruang tamu. Sampai sana terlihat Tante Lisa yang sudah datang dan duduk di sebelah Alex. Vanya langsung menghampirinya dan mencium tangan Tante Lisa. "Malam Tante," sapa Vanya. "Malam juga Vanya, cantik banget anak kamu Nad," puji Lisa. Vanya memang terlihat cantik meskipun dia tidak memakai make up. Alex hanya sekilas memandang Vanya lalu dia mengalihkan pandangannya lagi. "Iyalah orang Papanya ganteng," ucap David dengan pedenya membuat Lisa dan Nadia tertawa. "Sudah mending kita makan saja ayo, sudah jam tujuh juga," ajak Nadia. Mendengar ajakan itu pun membuat mereka akhirnya bangkit dari duduk mereka dan berjalan menuju ke ruang makan. Vanya berjalan beriringan dengan Tante Lisa. "Vanya katanya kerja di kantornya Alex ya? Gimana dia di kantor? Galak nggak? Soalnya yang tante dengar dia itu galak kalau di kantor," tanya Lisa kepada Vanya saat mereka sedang menuju ke ruang makan. "Iya begitu Tante," jawab Vanya yang canggung. "Tapi kamu tenang aja dia aslinya baik kok, nggak usah takut sama Alex ya," tutur Lisa yang memang melihat ketakutan di mata Vanya saat memandang Alex. Vanya pun hanya menanggapi perkataan Lisa dengan senyuman. Mereka lalu duduk di untuk makan malam bersama, Vanya duduk disebelah Nadia Mamanya. Diseberangnya duduk Alex yang memasang muka datar membuat Vanya ingin pergi dari sana. Mereka lalu makan bersama, makan di seberang Alex membuat Vanya susah menelan makanannya. Di dekatnya saja sudah membuat Vanya merinding. Entah mengapa lelaki itu selalu menyebarkan hawa dingin di sekitarnya. Vanya selalu menunduk tak berniat memandang lurus ke depan. Selesai makan mereka pun kembali ke ruang tamu untuk berbincang. Vanya mau tidak mau harus mengikuti mereka, dia duduk diantara kedua orang tuanya. Awal perbincangan Vanya hanya mendengarkan saja, sampai akhirnya David mengatakan sesuatu yang membuatnya shock. "Jadi sudah pasti ya pernikahannya tanggal enam maret," tutur David membuat Vanya shock. "Enam maret?" Tanya Vanya memandang Papanya. "Iya dua maret, bulan depan berarti," jawab David dengan entengnya. "Pah ini aja tanggal dua puluh empat Februari, berarti seminggu lagi?" Tanya Vanya yang masih belum percaya. "Iya Sayang memang seminggu lagi," jawab Nadia dengan lembut. "Nggak usah bercanda deh Pah Mah, masa seminggu lagi," ucap Vanya menolak hal itu. "Lebih cepat kan lebih baik Vanya," tutur Lisa. "Tapi ini terlalu cepat," protes Vanya sedangkan Alex hanya diam saja karena dia tahu keputusan orang tua mereka sudah bulat tidak dapat diganggu gugat. "Nggak ada yang terlalu cepat Vanya, semua sudah Papa atur," ucap David membuat Vanya kesal. Vanya pun bangkit dari duduknya dan berjalan pergi dari sana. "Mau kemana kamu?" "Kamar," jawab singkat Vanya. "Vanya duduk!" Perintah David. "Buat apa Vanya disitu kalau dari awal semua keputusan ada di Papah?" "Vanya bicara yang sopan dengan Papa," ucap Nadia mengingatkan putrinya. Namun, Vanya tidak mau mendengarkan mereka dia memilih untuk pergi dari sana. Alex hanya diam tidak berkata apapun, David yang melihat Vanya masuk ke dalam kamar hanya bisa menghela nafasnya. "Maaf ya Lis kalau Vanya nggak sopan," tutur Nadia yang merasa tidak enak dengan Lisa. "Nggak papa Nad, aku ngerti kok kenapa Vanya begitu," jawab Lisa yang memang paham dengan perasaan Vanya. Tapi, dia tetap ingin Vanya menikah dengan Alex putranya. Mereka pun kembali membahas soal rencana pernikahan Vanya dan Alex. Alex disana hanya sesekali menjawab jika ditanya. Pukul sembilan malam Alex dan Lisa pun pamit untuk pulang karena hari semakin larut. "Hati-hati ya di jalan," ujar Nadia memeluk Lisa. "Iya, besok Alex aku suruh jemput Vanya ya buat ke butik," ujar Lisa meminta izin kepada Nadia. "Oh iya iya boleh," jawab Nadia yang mempersilakan Alex besok membawa putrinya ke butik. "Yaudah hati-hati jangan ngebut Lex," ucap David menepuk pundak Alex saat Alex mencium tangannya. "Iya Om, mari Om Tante pamit dulu," ucap Alex berpamitan dia lalu membukakan pintu mobil untuk Mamanya. Lisa pulang ikut mobil Alex karena sopir sudah disuruh untuk langsung pulang tadi. Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke arah rumah dia. "Jangan kasar sama Vanya," harap Lisa yang tahu jika anaknya itu sekarang dingin kepada perempuan. "Hm iya Mah," jawab Alex yang menoleh sekilas ke arah Mamanya. "Mama percaya sama kamu jadi jangan bikin Mama kecewa ya," pinta Lisa yang membuat Alex terdiam. "Mama juga perempuan, kalau kamu nyakitin Vanya sama saja kamu nyakitin Mama," sambung Lisa. "Kalau Alex nggak cinta sama Vanya gimana caranya Alex bahagiain dia dan jagain dia Mah?" Tanya Alex menoleh ke arah Mamanya. "Bukan nggak cinta tapi belum," ucap Lisa membetulkan perkataan Alex membuat Alex menghela nafasnya. "Kamu itu mirip sama Papah kamu, sosok laki-laki yang tidak mau miliknya disakiti ataupun disentuh orang lain," sambung Lisa. Dan itu memang benar, walaupun Alex tidak mencintai Vanya tetapi tadi di cafe melihat Jordan yang membentak Vanya membuatnya tidak terima. Namun sayangnya sifat arogan dan dinginnya Alex masih belum bisa diluluhkan oleh Vanya. *** David mengetuk pintu kamar Vanya setelah Lisa dan Alex pulang. "Vanya buka pintunya!" Titah David. Pintu kamar yang terus di ketuk membuat Vanya pun akhirnya bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya. "Kenapa?" Tanya Vanya yang terlihat habis menangis. "Bisa sopan nggak sama Papah hem? Siapa yang ngajarin kamu bersikap kayak tadi sama Papah?" cecar David yang marah karena Vanya yang tidak sopan dengannya di depan Lisa dan Alex. "Pah jangan emosi," ucap Nadia menenangkan suaminya itu. "Gimana aku nggak emosi liat sikap dia kayak tadi." "Berapa kali Vanya bilang kalau Vanya nggak mau dijodohin sama Alex," ungkap Vanya dengan air mata yang kembali mengalir. "Apa alasan kamu? Cuman karena nggak siap gitu?" "Papah nggak tau sikap dia kayak apa, dia kasar dia arogan Pah. Vanya nggak mau punya suami kayak dia," tutur Vanya berharap orang tuanya mau mengerti. "Dia baik dan nggak kasar, Papa tau dia kayak apa Vanya," timpal David. Vanya lalu menarik lengannya keatas dan menunjukan pergelangan tangannya kepada orang tuanya. "Papah liat, ini ulahnya. Ini yang Papah bilang baik?" "Jangan kamu pikir Papa nggak tau ya Vanya, kamu tadi ke cafe kan? Terus apa yang kamu lihat? Cowok b******k yang bernama Jordan itu selingkuhkan?" Cecar David membuat Vanya terdiam. "Dia selingkuh lalu dia bentak-bentak kamu di depan umum bahkan hampir menampar kamu, untungnya ada Alex kan?" "Papah nyuruh orang buat ngikutin Vanya?" Tanya Vanya. "Iya Papa memang nyuruh orang buat ngikutin kamu, karena beberapa kali kamu bikin Papah kecewa. Kamu bohong sama Papah saat kamu bilang sudah menemui Alex tapi nyatanya kamu nggak temuin diakan?" "Tapi ini memang ulah dia Pah!" Tengah Vanya menunjukan tangannya. "Iya memang Papah juga tahu hal itu, karena kamu yang duduk di taman saat hujan kan? Dan kamu nggak mau disuruh pulang sampai akhirnya dia menarik kamu untuk masuk ke dalam mobil," terang David yang tahu semuanya. Sejak beberapa hari lalu David memang menyuruh anak buahnya untuk selalu mengikuti Vanya pergi. Karena pernikahan Vanya dan Alex yang semakin dekat tetapi Vanya yang tetap berhubungan dengan Jordan. David melakukan itu agar Vanya tidak macam-macam dengan Jordan. "Besok Alex akan kesini jemput kamu buat ke butik," ucal David. "Terserah," ujar Vanya yang langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya. "Vanya!" Panggil David yang tidak terima Vanya langsung menutup pintunya begitu saja. "Pah, sudah Pah. Biarin Vanya sendiri dulu, Papah jangan emosi begitu," ucap Nadia menenangkan suaminya itu. David hanya bisa menghela nafasnya dengan sikap kasar Vanya hari ini. Vanya di dalam kamar langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Dia menangisi nasibnya yang harus menikah dengan Alex seorang laki-laki yang arogan dan yang sangat tidak dia sukai itu. Vanya mengusap air matanya dia mencari ponselnya. Ting Ponsel Vanya terdengar notifikasi pesan masuk, dengan malas dia pun membuka pesan itu. Ternyata ada beberapa pesan dari Queen, saat Vanya makan malam tadi ponselnya dia tinggal di kamar. Dan saat itu Queen mengirimkan pesan kepadanya. Namun, karena tadi datanya di matikan oleh Vanya makan pesan itu baru saja masuk. Dia mengirim sebuah foto dirinya dengan Jordan yang akan pergi, disana terlihat Queen memakai gaun malam berwarna hitam. Sedangkan Jordan memakai jas berwarna hitam, difoto itu keduanya terlihat mesra. Queen sengaja mengirimkannya kepada Vanya untuk membuat Vanya cemburu. Vanya hanya melihat foto itu tanpa membalas pesan dari Queen. Lalu dia kembali mematikan ponselnya, Vanya menghela nafasnya. Dadanya terasa sesak melihat foto mesra Jordan dengan Queen. Jujur di dalam lubuk hatinya, dia masih berharap Jordan kembali padanya. Vanya masih sangat mencintai Jordan meskipun Jordan telah mengkhianatinya. Selama dua tahun dia bertahan untuk sebisa mungkin membuat Jordan bahagia dan melupakan Queen. Selama ini Vanya berfikir jika dia sudah berhasil melakukannya, namun ternyata dia salah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD