Pukul sembilan pagi Alex sampai di rumah Vanya, asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya. Lalu Alex pun dipersilahkan untuk masuk, Darren yang mendengar kedatangan Alex pun menghampirinya.
"Pagi Om," sapa Alex mencium tangan Darren.
"Sebentar ya Lex, Vanya masih di panggil Tante. Bentar lagi dia keluar, duduk dulu Lex," ujar Darren lalu mempersilakan Alex untuk duduk.
"Oh iya Om nggak papa," ucap Alexa dengan sopan. Keduanya lalu duduk di ruang tamu sambil mengobrol menunggu kedatangan Vanya.
Tok tok tok
Pintu kamar Vanya di ketuk oleh Nadia, tetapi tidak ada sautan dari Vanya. "Vanya, Alex sudah datang," panggil Nadia.
Tak lama kemudian pintu kamar di buka oleh Vanya, terlihat Vanya yang masih memakai piyama tidurnya. Nadia yang melihat itu pun menghela nafasnya.
"Kamu mandi buruan, Alex sudah di bawah," titah Nadia.
"Iya," jawab Vanya yang kemudian masuk kembali ke dalam kamar untuk siap-siap.
"Jangan lama-lama ya," ujar Nadia mengingatkan Vanya karena dia tidak mau Alex menunggu terlalu lama.
"Iya iya Mah," jawab Vanya yang sedikit berteriak karena dia sudah berada di dalam kamar mandi.
Nadia pun lalu turun ke lantai satu, dia memerintahkan asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman dan cemilan. Kemudian dia pun menuju ke ruang tamu ikut bergabung bersama Alex dan suaminya.
"Pagi Tante," sapa Alex lalu mencium tangan Alex.
"Sebentar ya Vanya masih siap-siap, biasa perempuan lama kalau dandan," ucap Nadia lalu duduk di sebelah suaminya.
"Iya Tan nggak papa kok," ujar Alex dengan tersenyum.
Vanya memilih memakai rok tutu yang dipadupadankan dengan blouse. Rambutnya dia kuncir model half ponytail memberikan kesan manis untuk Vanya. Setelah selesai Vanya pun keluar dari kamarnya, dia dengan malas melangkah masuk ke dalam lift menuju ke lantai satu.
Vanya memakai masker untuk menutupi muka masamnya. "Nah ini yang ditunggu akhirnya keluar juga," ujar David.
"Yaudah kalau gitu kami langsung berangkat saja ya Om Tante, sudah siang juga soalnya," tutur Alex meminta izin.
"Oh iya nggak papa, hati-hati ya," ujar Nadia yang kemudian bangkit mengantar mereka sampai ke depan pintu.
"Assalamu'alaikum Pah Mah," ucap Vanya yang mencium tangan orang tuanya begitupun dengan Alex. Alex lalu membukakan pintu mobil untuk Vanya, dia lalu tersenyum sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Mari Om Tante," ucap Alex.
Setelah masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Vanya. Di dalam mobil keduanya hanya diam tanpa ada yang berniat untuk berbicara. Vanya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dia melihat kontak Jordan yang masih dia simpan.
Terlihat foto profil Jordan yang kini di ganti foto dia bersama Queen. Queen ternyata mengirim pesan kepadanya lagi di foto itu terlihat Queen Dan Jordan memakai bathrobe. Foto yang terlihat di dalam kamar mandi itu membuat Vanya memanas.
Alex yang di sebelah Vanya hanya melirik Vanya tanpa mengatakan apapun. Vanya terus memandang ponselnya, dia sedang menghapus foto-fotonya bersama Jordan. Meskipun Vanya masih mencintai Jordan tetapi dia memilih untuk melupakannya karena terlalu sakit jika dia terus memikirkan Jordan.
Mobil mereka memasuki parkiran butik, Alex memarkirkan mobilnya. Alex melepaskan seat belt lalu dia mengambil ponsel milik Vanya yang sedang dalam genggaman Vanya. Vanya terkejut, dia lalu ingin meraih ponselnya kembali.
Namun, tangan Vanya di halangi oleh Alex. Alex mencengkram tangan Vanya agar diam, Vanya meringis kesakitan karena lagi-lagi Alex terlalu kencang mencengkram tangannya. "Sakit Pak, lepas," pinta Vanya yang tidak didengarkan oleh Alexa.
Alex memblokir nomor Jordan lalu dia menghapus nomor itu. Setelah itu dia melempar ponsel Vanya ke pangkuan Vanya. Alex menatap Vanya dengan tatapan tajam, cengkraman juga semakin kuat.
"Jangan pernah berhubungan dengan laki-laki lain lain! Kamu milikku sekarang! Dan Milikku akan selamanya jadi milikku paham!" Tegas Alex. "Jangan pernah macam-macam lagi, kamu paham?" Tanya Alex. "Jawab!" Perintah Alex karena Vanya hanya diam saja.
"I-iya paham," jawab Vanya terbata. Alex pun melepaskan cengkraman tangannya, dia lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam butik. Vanya langsung menghapus air matanya yang menetes, dia kemudian keluar dari mobil menyusul Alex.
Ketika mereka masuk langsung disambut karyawan butik itu. Tak berapa lama Yaznia pun keluar untuk menemui mereka.
"Pagi Tuan Alex dan Nona Vanya," sapa Yaznia dengan ramah. Vanya pun tersenyum kepadanya.
Mereka lalu berdiskusi mengenai gaun yang akan di kenakan Vanya. Awalnya Alex menyetujui desain Vanya tetapi saat Vanya bilang gaunnya berwarna putih membuat Alex menentangnya. Dari awal dia sudah mengatakan kepada Yaznia jika gaunnya berwarna hitam sedangkan desainnya nanti terserah Vanya.
"Jangan putih, hitam saja," ucap Alex membuat Vanya langsung menatapnya.
"Gaun pernikahan masa hitam, bagus putih terlihat feminim pasti," ujar Vanya.
"Acaranya malam, jadi kalau pakai hitam akan terlihat sangat bagus," timpal Alex yang tidak mau kalah dengan Vanya.
Yaznia pun bingung mendengar perdebatan mereka, dia hanya diam membiarkan customernya untuk memilih. "Desainnya juga ganti itu terlalu polos," ujar Alex kepada Yaznia membuat Vanya geram.
"Apaan sih tadikan sudah setuju, kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Tanya Vanya yang tidak terima dengan keputusan Alex.
"Saya mau gaun yang mewah," ujar Alex.
"Kan saya yang akan pakai gaun itu," protes Vanya. "Terserah Andalah," ucap Vanya yang kemudian memilih keluar dari butik itu meninggalkan Alex.
"Nanti saya hubungi lagi," ucap Alex yang kemudian keluar mengejar Vanya.
Alex membuka pintu mobil lalu keduanya masuk ke dalam mobil. Vanya memasang wajah marahnya begitu pula dengan Alex. Keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
"Antar saya pulang," ucap Vanya yang ingin segera kembali ke rumah karena terlalu kesal dengan Alex. Alex kemudian melajukan mobilnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Vanya diam saja selama perjalanan,dia benar-benar kesal kepada Alex yang sangat kasar kepadanya. Bukanya pulang, mobil Alex kini berhenti di parkiran sebuah restoran bintang lima.
"Kenapa kesini? Saya kan minta pulang," protes Vanya.
"Keluar buruan," perintah Alex. Vanya pun menghela nafasnya dan keluar dari mobil. Dia mengikuti langkah Alex untuk masuk ke dalam restoran itu.
Ketika dia masuk matanya tertuju ke sebuah meja, disana terlihat sepasang kekasih yang sedang makan. Kini mata Vanya menatap mata Jordan yang tengah melihatnya juga. Vanya menggenggam lengan Alex untuk menghentikan langkahnya.
Alex pun berhenti dan menoleh ke arah Vanya. "Ganti restoran lain saja," pinta Vanya yang kini berbalik hendak melangkah keluar. Namun, Alex meraih tangannya. Dia lalu merangkul pinggang Vanya dan menuntutnya untuk ikut masuk kembali.
Mau tidak mau Vanya pun mengikuti Alex, mereka melewati meja Jordan Queen. Mata Jordan dan Queen tidak lepas dari Vanya. Alex dan Vanya kini masuk ke ruang VIP, Alex melepaskan tangannya yang merangkul pinggang Vanya saat keduanya telah berada di ruang VIP itu.