Bab 5 Vanya Marah

1137 Words
Vanya menelan steak itu dengan susah payah, bukan karena dagingnya yang kurang empuk tetapi karena tatapan Tama yang tajam kepadanya. Vanya terus menunduk tidak berani menatap Tama. Tama menatap Vanya tajam karena dia tidak suka sikap Vanya yang seperti menghindar dari mantannya. "Pak, tolong dong natapnya jangan gitu. Berasa mau di telan saya sama Bapak," cicit Vanya. "Kenapa tadi mau pergi dari restoran cuman karena ada cowok sialan itu hem?" Tanya Tama yang terlihat tidak suka. Vanya meletakan garpu dan pisaunya dia lalu menghela nafasnya. "Bapak nggak pernah patah hati apa? Sakit Pak liat dia bahagia sama cewek lain," ujar Vanya jujur tanpa sadar air mata menetes dari sudut matanya. "Mana calon suami saya arogan, tukang marah-marah," sambung Vanya yang kini air mata itu terus menetes. Tama tersenyum melihat Vanya yang menangis karena menurutnya itu lucu seperti anak kecil. "Bapak, saya kan masih nangis kenapa Bapak malah ketawa sih?" Mendengar itu Tama langsung menetralkan wajahnya. "Udah diem, nanti tak beliin permen kapas," ucap Tama ngasal. Tetapi tanpa di duga Vanya langsung mengusap air matanya dan berhenti menangis. Dia lalu melanjutkan makannya, Tama yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Calon istrinya itu memang lain dari yang lain, manja tetapi lucu. Cukup buat hiburan Tama nantinya. "Ayo pulang," ajak Tama dengan wajah yang kembali dingin ketika mereka telah menghabiskan makanannya. Vanya pun bangkit dan Tama menggandeng tangannya keluar dari ruang VIP itu. Terlihat Jordan dan Queen yang masih ada disana. Tama menatap tajam ke arah Jordan karena kepergok menatap Vanya padahal pandangan Vanya lurus ke depan bukan ke Jordan. Tama membukakan pintu mobil untuk Vanya, dia lalu mengendarai mobilnya menuju ke kediaman Vanya. Vanya hanya diam karena Tama tidak menepati janjinya membelikan permen kapas untuknya. Padahal tadi Tama hanya asal bicara, dia tidak tahu jika Vanya menganggapnya serius. Sampai di rumah Vanya, dia langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Tama yang terlihat cuek pun tidak menyadari jika Vanya sekarang masih marah kepadanya. Tama pun langsung berpamitan kepada kedua orang tua Vanya. Setelah Tama pergi, Vanya berjalan menuju ke kamarnya dengan muka masamnya. "Dasar kutub utara, tak pikir tadi sudah mencair pas bilang mau beliin permen kapas tapi ternyata tetap saja dingin. Mana nggak jadi dibelikan permen kapas lagi, dasar orang tua pikun," omel Vanya saat dirinya sudah masuk ke dalam kamar. Ting Satu pesan masuk, Vanya pun mengambil ponsel yang berada di dalam tas. Dia lalu membuka pesan dari nomor asing itu. "Besok aku jemput jam dua belas buat fitting sekalian makan siang." Vanya tahu jika itu pasti nomor Tama, dia lalu membalasnya. Vanya : "Nggak usah fittinglah, lagian juga gaunnya bukan yang saya mau." Kutub Utara : "Vanya!" Vanya : "Iya iya." Balas Vanya yang kemudian melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Dia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Kemudian Vanya pun memilih untuk tidur. *** Vanya keluar dari kamar mandi, dia baru saja selesai mandi. Lalu dia berjalan menuju ke balkon, di bawah terlihat Lucas Kakak Vanya masih kumpul dengan teman-temannya. Mereka jarang kumpul di rumah, walaupun mereka kumpul Vanya memilih tidak keluar dari kamar. Hal itu karena dia tahu ada Alex disana meskipun dia tidak tahu Alex yang mana karena tidak pernah tanya dan memperhatikan teman-teman Kakaknya itu. Vanya lalu mengambil tasnya karena sore ini dia akan pergi pergi ke mall. "Mah Pah," panggil Vanya yang mencari keberadaan orang tuanya namun tak kincung ketemu. "Papa sama Mama kemana?" Tanya Vanya kepada salah satu bodyguard yang berjaga. "Tuan sama Nyonya pergi Nona," jawab Bodyguard itu. Akhirnya mau tidak mau Vanya harus izin kepada Kakaknya untuk pergi ke mall. "Kak," panggil Vanya yang berjalan ke arah Lucas membuat Lucas menoleh ke arahnya. "Tumben keluar kamar pas ada temen Kakak," ujar Lucas yang merasa heran. "Mau izin ke mall," ucap Vanya meminta izin. "Nggak, nggak kakak izinin," ujar Lucas membuat Vanya memajukan bibirnya. "Bentar doang ih, lagian aku juga nggak minta anter Kakak jadi bolehin ya," bujuk Vanya. "Mau ngapain sih ke mall?" "Beli permen kapas," jawab Vanya dengan lugu. "Kek anak TK banget, besok biar kakak beliin. Sekarang masuk kamar aja sana," tutur Lucas yang khawatir jika adeknya pergi sendirian. "Tumben mau beliin, biasanya kalau Vanya butuh Kakak selalu aja alesan," sindir Vanya. "Sudah ah Vanya pergi saja," sambung Vanya yang berjalan menjauh dari Lucas. Lucas oun bangkit dan mengejar Vanya. "Vanya nggak boleh pergi, dibilangin ngeyel nih anak. Kakak ceburin," goda Lucas yang niatnya cuman bercanda. "Kak! Kakak... Kakak," teriak Vanya membuat Lucas tertawa. Vanya takut jika dirinya beneran jatuh ke kolam renang karena Vanya sejak kecil phobia kedalaman. "Makanya dibilangin nurut," ujar Lucas. "Iya iya nggak pergi, tapi ini tolong ihh. Kakak jatuh beneran nanti!!!" "Lucas!" panggil Nada yang meminta Lucas tidak menjahili adiknya lagi. Lucas pun akhirnya berhenti menjahili Vanya, dan Vanya langsung memukul Lucas. "Aku hampir jantungan," ucap Vanya yang benar-benar merasa takut. Lucas hanya terkekeh, dia senang sekali menggoda adiknya itu. "Kak kamar mandi dimana ya?" Tanya seorang perempuan yang duduk di samping Nada. "Ayo aku anterin," ujar Lucas. Vanya menatap keduanya yang berjalan menuju ke kamar mandi. Dia lalu berjalan menghampiri Nada. "Kak Kak, itu siapa?" Tanya Vanya yang tidak mengenal perempuan itu. "Ih itu Nindy, pacarnya Lucas," jawab Nada membuat Vanya membelalakan matanya. "Haha serius? Kok Kak Lucas mau sama tante tante gitu sih?" celetuk Vanya membuat Nada terkekeh. "Hus gak boleh gitu," ucap Nada menepuk lengan Vanya. "Aku pikir Kakak yang pacarnya Kak Lucas soalnya teman ceweknya yang aku tau cuman Kakak hehe," terang Vanya. "Baru ya jadiannya?" Tanya Vanya yang mendapat anggukan dari Nada. "Pantes Kak Lucas sekarang berubah," gumam Vanya. "Berubah gimana? Jadi power rangers gitu?" Tanya Raka. "Bukan, jadi powerbank," canda Vanya. "Ih serius Kak Lucas sekarang ngeselin kalau Vanya minta tolong pasti ada alasannya," gerutu Vanya. "Ternyata ceweknya tante tante gitu," sambung Vanya yang suka bergosip. "Hus udah orangnya datang," ujar Nada mengingatkan karena terlihat Nindy yang berjalan ke arah mereka tetapi tidak terlihat Lucas bersamanya. "Yaudah aku masuk dulu ya, have fun," pamit Vanya yang bangkit dari duduknya dan berjalan untuk masuk kembali ke dalam rumah. Vanya mencoba ramah kepada Nindy saat mereka akan berpapasan, namun Nindy malah dengan sengaja menyenggol Vanya hingga dia terjatuh ke dalam kolam renang. "Vanya!" Pekik Nada yang reflek bangkit dari tempat duduknya. Tama seketika langsung masuk ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan Vanya. Vanya yang phobia kedalaman dan tidak bisa berenang terlihat ketakutan. Tama langsung meraih tubuh Vanya dan membawanya ke tepi. "Uhuk uhuk," Vanya terbatuk-batuk. Seorang maid yang melihat itu langsung membawakan handuk untuk menutup tubuh Vanya. "Kamu nggak papa kan?" Tanya Tama memandang wajah Vanya yang terlihat ketakutan. Lucas yang baru saja datang langsung berlari ke arah mereka dan mengecek keadaan Vanya. "Vanya kamu nggak papa?" Tanya Lucas khawatir. "Kok bisa sih kecebur." Lucas memeluk tubuh Vanya mencoba menenangkannya. "Aku nggak papa," jawab Vanya yang mendorong tubuh Lucas agar melepaskan pelukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD