Bab 19

1266 Words
Seperti biasa, Jill berangkat pagi-pagi ke Bloem’s, merawat bunga-bunga miliknya, memilih beberapa di antaranya yang terbaik, lalu mengantarnya ke hotel milik Marco. Marco masih belum datang, tapi salah satu staf pribadinya mempersilakannya masuk ke dalam ruangan pribadi Marco. Jill berniat meletakkan satu pot kecil bunga hyacinth di atas meja kerjanya. Dia tersenyum ketika membayangkan Marco mungkin akan terkejut ketika mendapati bunga itu sudah ada di mejanya. Sejak malam pesta amal di rumah Dimitri, Marco sama sekali tak menghubunginya. Ketika Jill yang ganti menelepon dan selalu saja ditolak oleh mesin penjawab otomatis, lelaki itu bahkan tak berusaha meneleponnya balik. Marco tidak pernah berlaku aneh seperti ini. Maka, ketika pagi ini didapatinya Marco tiba-tiba datang dan masuk ke dalam ruangan yang sama dengannya, Jill merasa luar biasa lega. Dia bahkan nyaris memeluk lelaki itu, namun segera diurungkannya begitu melihat raut wajah Marco yang terlihat kurang bersahabat. "Marco, apa kau baik-baik saja?" Jill bertanya ragu-ragu. Dia masih berdiri di posisi semula, di belakang meja kerja dengan masih memegang satu pot hyacinth. Marco, tidak seperti biasanya, tampak terkejut ketika melihat Jill. Dia sedikit salah tingkah sebelum akhirnya dapat menguasai diri. "Saya— baik-baik saja." Marco menjawab pelan. Dia berjalan mendekat. Memutari meja ke sisi terjauh dari posisi Jill, lalu melirik sekilas kepada pot bunga yang sedang dipegang Jill. Sikap acuh tak acuh lelaki itu, membuat Jill merasa tak nyaman. Dia menghela napas, lalu menukas,"Aku harus kembali ke Bloem’s sekarang juga." Setelahnya, dia meletakkan pot tersebut di atas meja, meraih tasnya yang ada di sofa, lalu berjalan keluar. Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, Marco mendekat lalu menahannya."Kamu— berhubungan dengan lelaki itu?" Jill tertegun. Alisnya berkerut. Dia membalikkan badan dan mendapati Marco tengah menatapnya."Lelaki— siapa maksudmu?" Marco terdiam sejenak. Dia berbalik memunggungi Jill sembari mengusap belakang lehernya. Kebiasaan yang Jill kenal baik. Marco akan melakukan itu ketika dia sedang gugup ataupun resah. Jill hendak bertanya lagi, tetapi Marco mendahuluinya,"Saya melihat kalian— di pesta Dimitri." Meski Marco tidak menyebut nama, entah kenapa secara otomatis ingatan Jill melayang kepada Alex. Dan itu membuat pipi Jill seketika merona merah."Maksudmu?" Marco kembali menatapnya, lelaki itu tampak tak suka melihat semburat di wajah Jill."Pipimu merah karena lelaki itu." "Kalau yang kau maksud adalah Alex, kami hanya—," Jill menggigit bibir bawahnya. Dia mencari-cari jawaban yang tepat, sebelum akhirnya berkata jujur,"—berteman." Alis Marco naik ketika mendengarnya. Tatapan matanya berubah sedemikian murung. Selanjutnya, kalimat Marco tepat mengenai sasaran."Tapi teman tidak saling mencium." Mata Jill membulat lebar. Teman tidak saling mencium. Memang benar, Marco memang benar. Tapi, Jill juga tak sepenuhnya salah. Dia dan Alex memang berteman. Lelaki itu tidak pernah memintanya lebih. Tidak pernah pula bertanya-tanya tentang perasaan mereka masing-masing. Dan entah kenapa, sekonyong-konyong itu membuat jengit nyeri di hati Jill. "Marco, aku benar-benar harus kembali." Jill buru-buru ingin mengakhiri topik pembicaraan ini. "Jillian, bagaimana kalau saya— ternyata menyukaimu?" ῶῶῶ Alex mengerling arlojinya. Jill sudah berada di dalam hotel milik Marco hampir satu jam lamanya. Membuat dirinya kini sedikit terkantuk-kantuk, menunggu di seberang jalan tanpa kentara. Pagi-pagi, Alex membuntuti Jill ke Bloem’s dengan mengendarai Porsche.  Semenjak dirinya memberanikan diri mencium Jill di malam itu, Alex tak mampu menemui bahkan sekadar meneleponnya. Terlebih, ketika dia tahu isi hati Jill. Alex merasa butuh lebih dari sekadar keberanian untuk menghadapi Jill kembali.  Rencananya, dia akan menemui gadis itu dan mengajaknya makan siang nanti. Untuk sekadar meminta maaf karena telah lancang menciumnya, atau justru mengungkapkan perasaan. Entahlah, Alex juga tak tahu yang mana yang akan dipilihnya. Kabel iPod menyumbat kedua telinganya. Menjejali isi kepalanya dengan suara Beyonce dan suara musik yang mengentak-entak. Itu dilakukannya semata-mata agar kesadarannya tetap terjaga ketika dalam pengintaian.  Semalam, Alex sama sekali tak dapat memejamkan mata. Hingga di pagi hari didapatinya kantung matanya sedikit menghitam. Dia memikirkan Jill; tentang misi ini, tentang klien pertama, klien ke dua, berlian Pandora yang sudah ditemukannya, juga tentang ciuman mereka. Dia memikirkan semua hal tentang Jillian. Semuanya. Beberapa kali Magnus memintanya segera menyelesaikan misi ini. Rentang waktu yang cenderung lambat, bukanlah cara kerja Alex seperti biasa. Dan itu cukup membuat Magnus menaruh curiga. Maka, semalaman Alex menimbang-nimbang, apakah seharusnya ia mencuri Pandora begitu saja dan mengakhiri misi ini, berpisah dengan Jill dan tak akan pernah berani menemuinya lagi. Ataukah dia mengulur-ulur waktu agar dapat bersama Jill lebih lama lagi, sebelum akhirnya harus benar-benar berpisah. Alex menarik napas panjang. Sungguh, dia benar-benar ingin meninggalkan jalan hidup seperti ini. Ketika Alex menguap untuk ke sekian kalinya, matanya menangkap sosok yang ditunggunya. Jillian. Gadis itu berjalan gegas. Sedikit tergesa-gesa. Wajahnya merunduk. Berkali-kali tangannya tampak naik menyeka wajah. Langkahnya sedikit oleng hingga dia beberapa kali hampir menubruk orang di hadapannya. Jill menangis? Dilanda keingintahuan yang besar, Alex membuntuti Jill tanpa kentara di belakangnya, dalam jarak yang aman. Jill —seperti biasa— tak menyadari keberadaan Alex. Ragu-ragu, Alex mengeluarkan ponselnya, dan agak lama kemudian barulah suara Jill terdengar. "Ya, Alex?" Dia menangis.  Suara Jill terdengar bergetar. Dan itu mampu membuat jantung Alex berdentum-dentum memburu. Dia baru keluar dari hotel Marco, dengan menahan tangis.  "Jill, kau dimana?" Sebisa mungkin Alex menjaga agar suaranya tetap terdengar tenang. 'Aku di— sekitar apartemen.' Bohong. Jill berbohong. Tapi, untuk apa? Alex hanya diam, tak menimpali. Dari kejauhan, dia menatap Jill yang tampak tertegun di depan Bloem’s, membuka pintu dengan mudah, lalu masuk ke dalam toko. Sosoknya menghilang dari jangkauan pandangan Alex. Untuk sesaat, tidak terdengar apa pun. Namun, sedetik kemudian dia mendengar jeritan Jill. Hanya sesaat, sebelum akhirnya suara gadis itu menguap. Tubuh Alex menegang. Tanpa berpikir lagi dia memelesat. Berlari sekencang mungkin.  ῶῶῶ "Jillian, bagaimana kalau saya ternyata menyukaimu?" Tubuh Jill seketika menegang sesaat setelah Marco berkata demikian. Tangannya mencengkeram erat-erat pegangan pintu hingga buku jarinya memutih.  Terjadi keheningan sesaat, yang bagi Jill terasa sedemikian lama. Seketika itu juga, kilasan kebersamaannya bersama Marco berkelebat, tumpang tindih di dalam kepalanya. Dia memang menyukai Marco, tapi bukan seperti rasa sukanya kepada Alex.  "Atau kamu— lebih menyukainya daripada saya?" Seolah-olah bisa membaca pikiran Jill, Marco merujuk kepada Alex. Jill membalikkan badan. Menatap Marco lekat-lekat. Marco balik menatapnya. Lelaki itu berjalan mendekat. Pelan tetapi pasti. Kemudian, ketika mereka hanya dipisahkan satu langkah kecil, Marco berhenti. Tangannya terulur, membelai pipi Jill dengan teramat lembut. Tatapannya semakin sendu. Seolah-olah lelaki itu tengah memanggul kesedihan yang sedemikian dalam.  Marco merunduk, merangkup wajah Jill. Tepat pada saat bibirnya hendak mengecup bibir milik Jill, gadis itu memalingkan wajah. Menampik tangan Marco agar segera menyingkir dari wajahnya. Seketika itu juga, Jill menemukan segumpal kekecewaan yang berkilat-kilat dari mata Marco. Dengan bibir bergetar, Jill menjawab,"Aku— menyukaimu. Lebih. Lebih dari yang kau tahu. Tapi— rasa sukaku kepadamu mungkin— tidak sama seperti rasa sukamu kepadaku."  Selesai berkata demikian, dia mendorong Marco menjauh, menarik gagang pintu, lalu segera berlari sekencang mungkin. Jill tidak mempedulikan tatapan para karyawan hotel yang kebetulan mengenalnya, saat mereka berpapasan. Yang Jill tahu, hatinya remuk. Yang Jill tahu, dia harus terus berlari.  Ponsel di sakunya bergetar-getar. Begitu mendapati nama Alex di layarnya, hati Jill luar biasa lega. "Ya, Alex?" Jill tak menyadari suaranya bergetar. Sedikit terisak. ‘Jill, kau dimana?’ Jill menoleh ke kanan dan ke kiri. Alex tidak boleh tahu dia sedang ingin menangis. Jill menjawab cepat,”Aku di— sekitar apartemen.' Langkah Jill terhenti di depan Bloem’s. Tangannya terulur, dahinya berkerut ketika mendapati pintu depan sedikit terbuka. Dia yakin sebelum meninggalkan tempat ini dia sudah mengunci pintu depan dengan seksama. Jill mendorong pintu tersebut. Masuk pelahan-lahan tanpa bersuara. Jill semakin terkejut ketika mendapati pintu yang mengarah ke ruang rumah kaca miliknya pun terbuka lebar. Sebelum dia menyadari apa yang tengah terjadi, seseorang berpakaian hitam keluar dari dalamnya. Seketika Jill menjerit, kemudian sesuatu yang keras menghantam kepalanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD