Bab 18

1011 Words
'Istrinya baru saja meninggal.' Ketika itu Joanna baru saja mengeluarkan adonan pai yang baru matang dari dalam oven, lalu meletakkannya di atas meja yang dilapis taplak putih dengan pinggiran berenda. Aroma dari irisan apel tipis serta siraman madu yang meleleh di bagian atasnya menguar menyesaki ruangan. Wangi dan sedap. Menerbitkan air liur bagi siapa pun yang secara tidak sengaja menghirupnya. Dapur Joanna tidaklah besar, tetapi tidak bisa dibilang mungil. Nyaris setiap sisi dindingnya ditempeli meja kabinet, yang jika dibuka akan ada kompor, pemanggang, dan peralatan dapur lainnya yang memang sengaja dibuat tersembunyi. Jendelanya tinggi dan lebar. Membuat cahaya bisa masuk sepuas-puasnya tanpa perlu berdesak-desakan. Dari jendela itu pula, Joanna bisa melihat rumah kaca berisi bunga-bunga miliknya, sembari ia memasak makan malam untuk Marcus. Benar-benar sebuah kehidupan sempurna penuh cinta bagi pasangan yang saling memuja satu sama lain. Satu jam sebelum jam makan siang, tidak biasanya Marcus pulang dan membawa berita duka semacam itu. Tentu saja, Joanna tahu siapa yang dimaksud Marcus. Dia menutup mulutnya karena terkejut. Dan hal itu membuat Joannna terkejut. Terlebih ketika Marcus datang menggendong lelaki kecil yang berusia tak lebih dari tiga tahun. Joanna mengenali si lelaki kecil yang tengah tertidur dalam gendongan Marcus. 'Dia butuh waktu menyendiri. Membesarkan dua anak laki-laki tanpa istrinya, mungkin akan terasa berat.' Marcus berkata pelan. Selirih mungkin hingga nyaris terdengar seperti desiran angin. Joanna menghampiri lelaki kecil itu, berusaha mengambilnya dari gendongan Marcus. 'Apa kau tak keberatan kalau kita mengasuhnya?' Marcus bertanya sedemikian hati-hati ketika si lelaki kecil masih terlelap dalam gendongan istrinya. Marcus benar-benar tak sedikitpun  berniat membuat Joanna tersinggung ataupun justru membuat Joanna bersedih. Pernikahan mereka berlangsung cukup lama, dan rumah yang mereka tinggali sudah terasa sangat sunyi tanpa kehadiran anak. Selama ini, rumah tersebut hangat karena cinta dan kasih sayang diantara mereka berdua. Joanna menatap lelaki kecil dalam gendongannya dengan penuh cinta. Lalu, tanpa sadar dia mengangguk pelan dan tersenyum. Ia mengambil alih si lelaki kecil ke dalam gendongannya. Menatap wajah tampan dan menggemaskan tersebut, lalu menciumi tanpa henti kedua pipinya yang membulat penuh.  Joanna berbisik tepat di telinga si lelaki mungil. ’Selamat datang, Marco. Kami akan berusaha menjadi orangtua yang baik untuk lelaki hebat sepertimu." ***katiamidela*** Sudah satu jam lamanya Marcus termenung di sini. Di dalam ruangan dapur bergaya vintage dengan jendela lebar menghadap rumah kaca. Dapur ini sudah lama tak digunakan. Tanaman yang sebelumnya tumbuh di rumah kaca pun kini sudah tak ada lagi yang tertinggal. Rumah kaca tersebut tak ubahnya hanya sebuah bangunan kosong tak berpenghuni. Sejak pemiliknya pergi, Marcus memang sengaja membiarkannya seperti ini. Seperti sedia kala. Apa adanya. Toples-toples kaca beraneka bentuk, ketel air, cangkir-cangkir porselen. Semua dibiarkan tetap pada tempatnya. Marcus memilih membangun dapur baru yang lain agar tak ada seorang pun yang menyentuh dapur milik Joanna. Marcus selalu berkata, dia ingin agar kenangannya bersama Joanna menguap. Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah sebaliknya. Dia masih mendekap erat-erat kenangan-kenangan usang tentang satu-satunya perempuan yang pernah dicintainya. Ralat, hanya satu-satunya perempuan yang ia cintai. Pertemuan dengan Jill pagi tadi, membuat kerinduannya kepada Joanna semakin membuncah. Terlebih ketika Jill berkata, bahwa Joanna adalah ibunya.  Benarkah ketika Joanna pergi dia sudah mengandung anak mereka dan tak sempat memberitahunya? Benarkah bahwa Jill adalah putri kandung mereka? Marcus mendesah, menarik napas panjang. Ia mengembuskannya dengan berat. Dia mengeluarkan ponsel miliknya. Menatapnya lama sekali. Lalu, tanpa melakukan apa pun selain itu, dia meletakkan kembali ponselnya begitu saja. Tidak, dia masih tak punya keberanian untuk bertemu langsung dengan lelaki itu. Selebihnya, dirinya justru berharap bahwa lelaki itu dapat membantunya untuk membuktikan bahwa Jillian benar putrinya. Salah satunya adalah dengan memastikan bahwa Jill adalah pemilik berlian Pandora. Berlian itu dulunya adalah hadiah yang diberikannya kepada Joanna, satu bulan sebelum mereka resmi menikah. Ketika orang lain melamar dengan cincin, maka Marcus melamar Joanna dengan seuntai kalung. Dia tahu, Joanna sangat menyukai bunga. Maka, Marcus secara khusus memesan bandul berbentuk bunga tulip. Mereka menikah, dan hidup berbahagia meski rumah mereka masih sepi dari riuhnya seorang anak. Sebelum akhirnya Marco datang dan menggenapi kebahagiaan tersebut. ***katiamidela*** Ketika istri yang sangat dicintainya meninggal belasan tahun yang lalu, Magnus tak dapat mencintai lagi perempuan lain selain mendiang istrinya. Istrinya meninggal karena kesalahannya. Tabrakan beruntun di jalan bebas hambatan ketika dirinya yang sedang memegang kemudi mobil. Ketika itu istrinya tengah hamil tua, dan mereka berencana akan ke rumah sakit untuk melakukan kontrol rutin. Hingga tiba di salah satu segmen jalan dengan kelandaian menurun, truk besar di belakang mereka kehilangan kendali. Meluncur bebas menghantam mobil yang dikendarai Magnus. Kemudian, mendorongnya ke depan lalu menubruk kendaraan besar lainnya yang sedang berjalan dengan kecepatan rendah. Ketika itu terjadi, Magnus tidak dapat mengingat atau merasakan apa pun selain kehampaan yang menelannya bulat-bulat secara tiba-tiba. Mengosongkan segenap jiwanya. Dua hari setelah kejadian itu, Magnus terbangun dan mendapati dirinya berada di ruangan serba putih. Lama dia menyadari, bahwa dirinya tengah berada di salah satu rumah sakit. Kemudian, dia mendengar kabar bahwa istrinya telah dimakamkan dan bayi mereka berhasil diselamatkan. Seorang lelaki kecil lagi.  Magnus terjebak dalam kehampaan jiwa dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Salah satu sahabatnya bahkan membantunya mengasuh anak laki-laki tertuanya, hingga kemudian benar-benar mengangkatnya menjadi anak mereka. Kabar yang ia dengar, sahabatnya tersebut bahkan sangat menyayangi putranya seperti anak kandung mereka sendiri. Magnus tak peduli. Dia hanya terus menyesali kepergian istrinya karena kesalahannya. Sebagai pelarian, dia mulai mencuri dari orang lain. Mencuri kebahagiaan yang dimiliki orang lain. Jika Tuhan merampas kebahagiaannya, tentunya adil jika ia merampas kebahagiaan orang yang lain yang diberi oleh Tuhan. Impas, bukan? Lambat laun, dia mulai melakukan apa yang orang lain inginkan, dengan sejumlah imbalan. Tentunya, tidak untuk membunuh ataupun menyakiti orang lain. Suatu ketika, ada kesalahpahaman yang terjadi diantara dirinya dan sahabatnya. Hingga menyebabkan perpisahan yang membuat mereka saling terluka dalam diam. Perhatian dari istri sahabatnya kepadanya —semata-mata hanya karena komunikasi tentang anak yang mereka rawat—, membuat sahabatnya luar biasa cemburu. Dan itu membuat Magnus sangat menyesalinya hingga saat ini. Magnus berjanji, dia akan menebus kesalahannya, bagaimanapun caranya. Dan kesempatan itu mendadak menghampiri setelah sekian lama. Ketika kawan lelaki dari masa lalunya itu mengirimkan surel berisi permohonan kasus kepadanya.  Lelaki itu adalah Marcus. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD