Jill selesai menyanggul rambutnya. Sederhana saja, hanya mengikat jadi satu di belakang lalu menggelungnya sedemikian rupa. Dia kemudian menambahkan beberapa jepit berukuran kecil agar kerapiannya dapat bertahan lebih lama.
Jill melihat ke tumpukan kardus dan gaun yang diletakkan di atas ranjang. Gaun dari Alex. Lelaki itu mengiriminya gaun-gaun pesta yang setidaknya berjumlah enam sampai tujuh buah beberapa menit yang lalu. Sepuluh menit, lebih tepatnya. Dan tentu saja, Jill telah terlebih dulu mengenakan gaun dari Marco. Maka, Jill hanya membuka dua dari tumpukan kotak tersebut, tanpa sempat memeriksa keseluruhannya. Dan dia memutuskan akan tetap mengenakan gaun Marco.
Marco sudah menunggu di bawah, ketika Jill turun untuk menemuinya. Mata teduh lelaki itu menatapnya lekat-lekat sembari menyunggingkan seulas senyum manis.
Marco tidak pernah secara terang-terangan melontarkan pujian. Namun, sepanjang perjalanan lelaki itu tak henti-hentinya melesakkan tatapan kekaguman, senyuman, disertai perhatian-perhatian kecil yang ditujukan hanya kepada Jill.
Setibanya di tempat acara, Jill sedikit terkejut. Pesta amal tersebut tidak seperti yang dibayangkannya.
Ketika mobil Marco berhenti, lelaki itu terlebih dulu turun dari dalam mobil. Jill menyusulnya. Tangan Marco terulur, yang segera saja disambut Jill tanpa ragu. Kilatan kamera yang sedikit menyengat mata menyambut mereka dengan antusias. Para pemburu berita berlomba-lomba mendapatkan gambar terbaik. Beberapa di antaranya bahkan meneriakkan nama Marco berulang-ulang kali.
Samar-samar, Jill mendengar mereka menanyakan siapa sosok wanita yang datang bersama Marco, diimbuhi pertanyaan-pertanyaan lain yang tumpah tindih. Semakin lama semakin riuh, seperti sekawanan lebah yang berdengung-dengung ribut berebut perhatian. Marco tak menjawab satu pun dari pertanyaan tersebut. Dia hanya tersenyum sembari melambaikan tangan.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jill berjalan melewati karpet merah. Marco berada di sisinya. Genggaman lelaki itu meruntuhkan semua ketakutannya.
Sesampainya di dalam, Jill merasa sedikit lega. Setidaknya, mereka tak lagi menjadi pusat perhatian. Jill melihat Marco mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu lelaki itu mengajaknya berjalan menuju ke tengah-tengah aula.
Jill terkagum-kagum melihat interior rumah ini. Corak lantainya, gorden-gorden panjang yang menggantung tinggi pada jendela-jendela kaca lebar, lampu-lampu gantung kristal, serta musik pengiring yang nadanya memenuhi ruangan. Semuanya mencerminkan gaya klasik abad pertengahan.
"Selamat datang, Marco. Lihat, siapa gadis cantik yang kau gandeng malam ini?"
Marco tersenyum. Dia menyentuh lengan Jill sembari berkata,"Perkenalkan, ini Jillian." Marco menatap Jill."Ini Dimitri. Tuan rumah pesta ini."
Orang yang bernama Dimitri itu mengulurkan tangan sembari tertawa kecil. Ketika Jill menerima jabat tangannya, dia berusaha mengingat-ingat. Wajah Dimitri tak asing baginya. Mereka pasti pernah bertemu di suatu tempat. Pasti. Pria dengan postur tubuh tinggi besar serta kumis lebat yang ujungnya dipelintir dengan simetris. Jill lebih dari yakin mereka pernah bertemu. “Wajah anda tak asing bagi saya. Apa kita pernah bertemu?”
Dimitri menaikkan alisnya, sembari tersenyum menggoda dia menjawab,”Entahlah, mungkin saja. Akhir-akhir ini saya banyak bertemu gadis cantik.” Seolah tak ingin memperpanjang pertanyaan Jill, Dimitri menepuk bahu Marco dan berkata,” Aku senang kau akhirnya mengajak seorang gadis ke pesta. Marcus akan senang sekali melihat Jill."
Dahi Jill berkerut mendengar Dimitri berkata demikian. Dia lalu menatap Marco.
"Ayah saya," Marco menjawab singkat. Seolah-olah paham apa yang sedang ditanyakan Jill. Lalu, Marco mengalihkan pandangannya pada Dimitri.”Dia ada di sini?"
"Tentu saja. Dia tidak bilang padamu?" Dimitri menyesap minumannya. Salah satu tangannya dijejalkan ke dalam saku celana. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling lalu berseru girang."Ah itu dia. Biar kupanggil kemari"
"Jangan—,"belum selesai Marco mencegah, Dimitri sudah melambaikan tangan.
Jill membalikkan badan, mengikuti tatapan Marco. Dari salah satu sisi ruangan, seorang pria tinggi besar mengenakan setelan warna gelap mendatangi mereka bertiga sembari mendorong seorang pria berusia lanjut di kursi rodanya. Jill mengerutkan alis. Mereka berdua terlihat tak asing.
"Marco bilang dia tak tahu kalau kau akan datang."Dimitri menepuk bahu Marco.
Lelaki berusia senja di kursi roda hanya tersenyum kecil."Ketika kau bilang lukisanmu yang dicuri oleh—."
"Detrik,"Dimitri menukas cepat.
"Ah, ya Detrik. Aku penasaran sekali bagaimana kau bisa mendapatkannya kembali."
"Akan kuberitahu kau nanti. Kalau denganmu sih, aku tidak keberatan berbagi rahasia." Dimitri tertawa bangga hingga bahunya berguncang. Setelah derainya mereda, dia kembali menepuk bahu Marco."Marco datang dengan seorang gadis. Tidakkah kau ingin mengenalkannya pada Marcus?"
Marco berdehem, menyentuh lengan Jill sekali lagi. Jill mengangkat wajah, menatap Marco, lalu menyadari gerak tubuh lelaki itu berubah tak nyaman. Dengan nada sopan dan berwibawa seperti biasa, dia berkata,"Jill, ini Marcus, ayah saya. Ayah, ini Jillian."
Marcus tersenyum kepada Jill. Jill pun menganggukkan kepala, membalas tersenyum dengan penuh sopan santun. Ketika itulah Jill menyadari bahwa mereka pernah bertemu di makam Joanna. Rupanya, pria bernama Marcus itu pun menyadari hal yang sama. "Kita pernah bertemu bukan?"
Jill mengangguk cepat. Lalu lelaki itu menambahkan,"Di Palma Creek. Benar begitu?"
Lagi, Jill membenarkan dengan anggukan. Marcus terdiam untuk sesaat, tersenyum sekali lagi kepada Jill, lalu beralih menatap Marco dengan tajam."Kita harus bicara nanti, Marco."
Marco tidak menjawab. Dia bahkan memalingkan wajah. Seolah-olah enggan menyimak Marcus meski hanya melalui tatapan mata. Keheningan menyergap untuk sesaat, sebelum akhirnya Dimitri memecah suasana."Ayo, Marcus ada yang harus kuceritakan kepadamu." Dimitri menyuruh si pria berbadan besar di belakang Marcus untuk segera menyingkir. Sebagai gantinya, dia yang mengambil alih kursi roda Marcus lalu mendorongnya pergi menjauh.
Ketika Marcus sudah menghilang dari pandangan, baru Marco melepaskan tangannya dari lengan Jill. Lelaki itu tampak sedikit lega. Mukanya tak semurung sebelumnya. Namun, kentara sekali Marco tengah berusaha keras menyembunyikan kegelisahannya di hadapan Jill."Maafkan Dimitri. Terkadang dia seperti itu— terlalu banyak bicara."
Jill mengerjap-ngerjapkan mata."Tidak masalah. Aku menyukainya. Dia orang yang ramah. Apa Dimitri akan menjual lukisannya? Untuk pesta amal ini?"
"Ya." Marco menjawab sambil lalu. Dia menyentuh lengan Jill, membimbingnya untuk menepi ke salah satu sudut ruangan. Mereka berdiri di samping meja panjang bertaplak putih yang penuh berisi makanan dan minuman. Marco mengambil dua gelas koktail, mengoper salah satunya kepada Jill, lalu berkata,"Tapi bukan lukisan milik Effendie."
Dahi Jill berkerut.
"Kamu mau dansa dengan saya?" Sepertinya Marco tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan mengenai Dimitri. Dia meletakkan gelas koktailnya lalu mengulurkan tangannya pada Jill.
Jill menggeleng."Entahlah. Aku tidak bisa—."
Sementara Marco hendak membujuknya, seorang lelaki datang menghampiri mereka. Marco sedikit menjauh dari Jill. Lelaki itu membisikkan sesuatu kepada Marco —yang tak dapat ditangkap oleh telinga Jill—, hingga membuat wajah Marco berubah tegang.
Marco kembali mendekat kepada Jill seraya berbisik, "Jill, apa kau bisa menungguku sebentar di sini? Aku janji tidak akan lama."
Jill mengangguk. Dia tersenyum riang agar Marco tak merasa berat meninggalkannya. Marco menyentuh lengan Jill sesaat, lalu berjalan gegas mengikuti kemana arah si lelaki bersetelan gelap pergi.
Jill menyesap minumannya. Dia melihat ke sekeliling, melayangkan pandangan kepada wajah-wajah asing yang sama sekali tak dikenalnya.
"Kukira, pesta ini bakal membosankan, sampai akhirnya aku menemukanmu di sini."
Seseorang berbicara cukup jelas di belakangnya. Jill menoleh ke sumber suara. Lalu, bola matanya membulat lebar ketika menemukan sosok berbalut tuksedo hitam di balik punggungnya. Dia menyandar santai pada kolom dinding, kaki kanannya disilangkan di depan kaki kirinya. Salah satu tangannya dijejalkan ke dalam saku, sementara tangan lainnya menggenggam gelas berisi koktail yang kini tengah disesapnya.
"Alex!" Jill menyadari, suaranya terdengar melengking karena terlalu gembira.
Alex tersenyum menggoda, mengerlingkan matanya -seperti biasa- lalu dengan tenang berjalan mendekati Jill."Kau terlihat cantik. Harus kuakui. Tapi, aku benar-benar tidak suka gaun hijau itu. Jelek sekali."
"Alex, ini turquoise, bukan hijau." Jill menahan-nahan senyumnya. Dia tahu pasti, apa yang dimaksud Alex tentang gaunnya.
“Kau tidak mengenakan salah satu dari gaunku.”
“Aku — maaf. Kau mengirimiku gaun ketika aku sudah memakai gaun ini tadi. Dan aku tidak punya banyak waktu lagi untuk—.”
“Kau tidak bilang kau membutuhkan gaun untuk pesta ini.”
“Maafkan aku—.”
Alex acuh tak acuh. "Ayo, dansa denganku."
Mata Jill melebar. Gugup."Tidak, Alex. Aku tidak bisa—."
"Kau sudah cantik begini, rugi sekali kalau tidak ada yang mengajakmu berdansa."
Alex tak menghiraukan penolakan Jill. Dia menggenggam erat jemari Jill, lalu menarik gadis itu ke tengah-tengah aula. Jill menahan napas melihat Alex tersenyum kepadanya.