Bab 15

1014 Words
Mata Jill terpejam. Dia memekik tertahan. Girang. Ketika Alex memutar tubuhnya dengan cepat lalu menangkapnya kembali ke dalam pelukannya.  Tubuh Jill ringan. Ujung gaun hijaunya ikut berputar ketika gadis itu berputar. Beberapa anak rambut terjuntai di pipinya. Wajahnya berseri-seri, semakin terlihat bersinar ketika tertimpa cahaya dari chandelier yang tergantung di langit-langit.  Lagi, Alex dan Jill saling menautkan jari, lalu Alex memutar tubuh Jill mengikuti irama musik dengan tempo cepat. Jill menengadahkan wajah. Masih terpekik girang.  Kemudian, Alex menangkap tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Napas Jill terengah-engah. Tapi, tak sedetik pun senyumnya memudar. Alex menarik lengan gadis itu lalu bergegas menepi dari tengah-tengah aula. Mereka melewati beberapa orang, meja panjang, beberapa koleksi Dimitri yang dipajang namun masih tetap diselimuti kain putih, hingga sampai pada beberapa pintu kaca berderet yang terbuka lebar. Lalu, Alex melepaskan genggamannya sesampainya mereka di balkon.  Keriuhan tertinggal di belakang mereka. Kini, keheningan mulai merayap. "Alex...sungguh itu tadi seru sekali." Napas Jill masih memburu. Tersengal-sengal. Jantungnya seakan-akan berdentum-dentum memburu. Namun, dia tertawa riang. Lepas dan bebas. "Oh ya? Kau baru sekali melakukannya?" Alex melipat kedua lengannya di depan d**a. Dia turut tersenyum ketika mendapati sorot mata cerah milik Jill yang berbinar-binar indah. Dan kalau boleh Alex berbangga diri, binar riang itu muncul karena dirinya.  Jill menatap Alex, lalu mengangguk-angguk dengan penuh antusias. "Iya. Dan aku tak menyangka kalau tadi itu seru sekali. Benar-benar seru!" Alex tersenyum. Dia membiarkan Jill berdiri di sampingnya, mengatur napasnya agar kembali tenang. Alex meletakkan lengannya di tepian balkon. Jill melakukan hal yang sama.  Di depan mereka tampak halaman rumah Dimitri yang teramat luas. Saking luasnya, hingga mungkin jika  Dimitri terlalu bosan dan menganggur, ia mampu mengundang klub bola untuk bertanding di halamannya. Ditumbuhi rerumputan hijau, dan tanaman dengan aksen beberapa bunga berwarna merah jambu. Yang terlihat rapi karena kesemuanya dirawat dan dipotong dengan tinggi sejajar. Di sepanjang tepian tembok pagar yang mengelilingi rumah, ditumbuhi pohon-pohon yang sekiranya dimaksudkan untuk melindungi pandangan orang asing dari luar ke dalam rumah.  Mulanya, Alex mengira pesta ini bakal sangat membosankan. Magnus memintanya —lebih tepatnya Dimitri— untuk ikut hadir di pesta amal. Dimitri berdalih, dia tak ingin Detrik mencuri kembali lukisannya di saat Dimitri ingin pamer di hadapan para tamunya. Berbicara tentang Dimitri, Alex tak menyangka bahwa Dimitri adalah si Obelix. Ya, Obelix yang itu. Obelix yang berselingkuh dari istrinya. Entahlah, mungkin Magnus sudah menyampaikannya tapi Alex tak mendengarkan. Alex tak peduli, tak terlalu ambil pusing. Seperti komitmennya di awal, Alex tak akan mau mencampuri urusan pribadi kliennya.  Namun lain hal jika berurusan dengan Jill. Jill adalah kasus khusus di luar itu. Lalu, Alex melihat gadis itu di antara para tamu yang hadir. Dengan baju hijau sialannya yang memang benar-benar sialan karena Jill sungguh terlihat cantik ketika mengenakannya. Dan sialnya lagi, itu adalah gaun pemberian Marco. Alex benar-benar masih kesal ketika mengingatnya.  Ketika Jill berdiri sendirian karena Marco yang sebelumnya terlihat bersamanya pergi entah kemana, baru Alex mendekatinya.  "Alex—." "Hem?" "Terimakasih karena kembali membuatku tertawa lagi malam ini. Kau— setiap kali bertemu, kau selalu mengejutkanku." Alex berdecak. Dia tak segera menyahut, karena masih ingin sedikit menikmati pujian Jill untuknya.  "Kenapa kau ada di sini?" Eh? Alex terkejut Jill berkata demikian. Sebelum Alex sempat menjawab, Jill menambahkan,"Aku ke sini menemani Marco.” “Tidak bisakah kau menahan diri untuk tidak menyebut nama lelaki lain sementara aku sedang berdiri di hadapanmu?” Alex mendengus kesal. “Ini pesta amal koleganya,” Jill tertawa kecil.”Kudengar, Dimitri si tuan rumah mau pamer lukisannya yang sempat dicuri." Alex lupa akan kekesalannya. Sebagai gantinya, dia menahan-nahan senyumnya atas kalimat Jill barusan. Ya, dia yang mengambil lukisan itu dari Detrik. Pencuri yang mencuri dari pencuri. "Lukisan Effendie,"Alex menimpali,"Dengar-dengar harganya sangat mahal." "Pantas saja dicuri." Alex mengerutkan dahi. Setahunya, Detrik mencuri lukisan itu dari Dimitri karena alasan pribadi, bukan alasan materi.  "Aku benci dengan pencuri."  Mendengar Jill berkata demikian, mau tak mau Alex mengangkat wajah, dia menolehkan kepalanya kepada Jill,"Kenapa?" "Karena pencuri mengambil kebahagiaan orang lain yang bukan menjadi haknya." Jill menundukkan kepala. Alex tertegun. Terdiam sesaat."Kau— membenci pencuri?" Lalu, dia menatap Jill lekat-lekat hingga hatinya serasa diremas-remas."Kenapa?" "Kurasa, bukan hanya aku saja yang tidak menyukai pencuri. Banyak orang seperti itu.” Alex menahan napas."Tidak semua pencuri mencuri untuk keburukan. Atau pun untuk profesi. Terkadang mereka— melakukannya hanya untuk bersenang-senang." Alex mencoba mencari-cari kalimat pembenaran. Ragu-ragu dia menambahkan,"Seperti lukisan milik Dimitri ini." "Apakah mencuri sesuatu dari orang lain— mencuri kebahagiaannya meski hanya secuil, masih tenangkah kau menyebutnya 'hanya bersenang-senang'?" Tak disangka, suara Jill meninggi. Sarat emosi. Ada kilat amarah dalam bola mata gadis itu. Kali ini, Alex merasa tertohok. Ia menghindari tatapan Jill. Lidahnya kelu. Kepercayaan dirinya luntur seketika. Dan, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia sungguh menyesali dirinya sendiri."Tidak." Tapi, Alex sadar. Meski ia mengincar Pandora, sesungguhnya kali ini Jill-lah yang pantas disebut sebagai pencuri.  Jillian, telah mencuri hatinya.  Alex menatap Jill lekat-lekat. Jantungnya berdentum menggila. Ketika gadis itu balik menatapnya, dia memajukan tubuhnya, merendahkan wajahnya, hingga membuat bibir mereka nyaris tak berjarak. Lalu, tanpa peringatan apa pun terlebih dahulu, Alex merengkuh tubuh mungil Jill, untuk kemudian menutup jarak itu.  Mula-mula, bibir Jill dikecupnya lembut. Lama-lama, kecupannya berubah memburu dan menuntut. Ciuman ini, merenggut akal sehatnya. ***katiamidela*** Pipinya memerah sekaligus memanas ketika bibir lelaki itu memagutnya sedemikian rupa. Seluruh tubuhnya menegang kaku, seolah-olah dialiri listrik ribuan volt. Jill tak berani bergerak. Yang dia mampu lakukan hanyalah memejamkan mata.  Jadi begini rasanya. Bibir Alex lembut dengan napas yang segar. Seolah-olah lelaki itu tengah mengulum permen mint dan mencoba menularkan sensasi segarnya kepada Jill.  Lalu, lelaki itu melepaskan diri. Mereka berpandangan untuk beberapa saat. Rikuh. Pipi lelaki itu tidak memerah seperti yang dikiranya semula. Mungkin, Alex memang sudah sangat ahli dalam hal berciuman. Ini bukan yang pertama. Menebak-nebak seperti itu, membuat Jill menyadari bahwa mungkin dia bukan wanita pertama pula yang dicium Alex seperti tadi.  Katakan, wanita mana yang mampu menolak pesona lelaki seperti Alex? Ujung jari Alex terulur. Menyentuh bibir Jill dengan lembut dan hati-hati. Untuk beberapa saat, Alex masih menatap Jill lekat-lekat. Sebelum kemudian menggenggam erat tangannya dan berkata, "Di luar sini dingin sekali. Ayo masuk ke dalam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD