"Apa kau sudah tahu siapa gadis itu sebelumnya?" Marcus menangkupkan kedua tangannya di pangkuannya. Dia menatap Marco lekat-lekat. Yang ditatapnya, tidak menjawab. Pun mengangguk ataupun menggeleng.
Marcus mendesah. "Kau mendekatinya karena kau tahu siapa dia? Kau tahu apa hubungan gadis itu dengan Joanna?"
Marco lagi-lagi masih terdiam. Sikapnya membuat Marcus sedikit emosi. Namun, dia masih menahan-nahan diri untuk tidak meluapkannya saat itu juga. "Marco, kalau kau seorang lelaki, kau bisa menjawab pertanyaanku."
Marco menegakkan tubuhnya, bersikap menantang. Jika memang benar dia ada hubungan dengan Ibu, apa Ayah akan melarangku mendekatinya?"
"Kau tahu itu artinya—kau dan dia—akan menjadi tidak dibenarkan ketika dia memang betul ada hubungan dengan Joanna." Marcus menggeram. "Dan demi Tuhan, Marco. Kau sudah mengetahuinya tapi kau tak pernah mengatakannya kepadaku. Kau tahu selama ini aku mencarinya kemana-mana."
"Tidak," Marco menyela cepat. "Kau—Ayah, tidak pernah mencarinya kemana-mana. Hanya karena sakit hatimu kau mengabaikan mereka,. Kau mengabaikan Ibu." Marco berusaha menjawab setenang mungkin. Kedua tangannya mengepal. Dia menahan-nahan emosinya. "Bahkan mungkin, kau masih akan memintanya menunjukkan sesuatu yang membuktikan bahwa dia benar-benar berhubungan dengan Joanna."
Marcus segera saja memalingkan wajah.
"Kalau Ayah menduga-duga dia berhubungan dengan Joanna, Ayah bisa mencari tahu sendiri." Sebelum Marco membalikkan badan, dia menambahkan, "Untuk orang seperti Ayah, saya rasa itu bukan hal yang sulit." Selepas berkata demikian, Marco berlalu dari hadapan Marcus.
"Marco—" Marcus mencegah, "Kau tahu, aku benar-benar menyayangimu."
Sejenak, langkah Marco terhenti. "Aku juga tahu, bahwa aku cuma seorang anak angkat. Aku dan Jillian, tidak terikat hubungan darah. Kuharap, Ayah tidak melupakan fakta penting itu."
Selepas berkata demikian, dia pergi begitu saja dan tubuhnya menghilang di balik pintu. Sebagai gantinya, Dimitri tiba-tiba saja muncul.
Dimitri menatap punggung Marco yang menjauh dan Marcus yang masih saja menatap putranya, secara bergantian. "Ada yang kau sembunyikan? Atau ada yang perlu kuketahui? Masalah keluarga?"
Marcus tersenyum. "Anak itu kubesarkan dengan caraku. Dan yang kusesali, sikapnya benar-benar senaif diriku."
Dimitri mendekat, mendorong kursi roda Marcus ke dekat sofa panjang berwarna merah. Bentuknya klasik dengan gagang kayu yang meliuk-liuk. "Ya, meski dia anak angkatmu, tetap saja dia anak laki-lakimu. Penerus kerajaan bisnismu," Dimitri menjawab sambil lalu sembari duduk di atas sofa. Kakinya disilangkan. Dimitri menyalakan cerutu lalu menawarkannya pada Marcus.
Marcus menolak dengan sopan. "Aku sudah tak mengisap cerutu lagi."
"Sejak kapan?" Asap tipis menyembul dari bibir Dimitri.
"Sejak kehilangan Joanna."
Dimitri terkekeh. "Kalau aku boleh jujur, gadis yang datang bersama Marco tadi terlihat memiliki kemiripan dengan Joanna."
Marcus terdiam sesaat. Mengabaikan komentar Dimitri, dia justru bertanya, "Katakan padaku, bagaimana kau bisa mendapatkan kembali lukisanmu dari Detrik? Apa dia mengembalikannya padamu dengan sukarela?"
"Aku mencurinya." Dimitri menjawab enteng. "Tentu saja tidak dengan mengotori tanganku sendiri. Aku melakukannya dengan menyuruh pencuri bayaran profesional. Aku hanya terima bersih saja."
"Pencuri bayaran?"
"Magnus.” Dimitri melirik ke arah pintu. Memastikan bahwa pintu telah tertutup sempurna dan tak ada orang lain lagi selain mereka berdua yang terlibat dalam pembicaraan ini. ”Aku memakai jasa Magnus."
Marcus tersentak ketika Dimitri menyebut nama Magnus. Dimitri menyadari perubahan raut wajah Marcus, lalu dia menambahkan dengan nada setengah berbisik, "Dia seperti pesuruh bayaran profesional. Tidak hanya mencuri, dia akan melakukan apapun yang kau minta asalkan dengan bayaran yang sepadan. Kecuali membunuh dan menyakiti orang, tentunya."
"Apa aku bisa meminta kontaknya?" Tiba-tiba saja Marcus terlihat begitu berharap. Membuat Dimitri sedikit heran.
"Apa kau sedang ingin mencuri sesuatu?" Dahi Dimitri berkerut.
Marcus terdiam sesaat. Terlihat sedang berpikir keras dan itu membuat kerut-kerut di wajahnya semakin kentara. Menegaskan usianya yang memang tak lagi muda. "Aku hanya sedang ingin memperbaiki sesuatu." Marcus tersenyum mencruigakan.
Dimitri mengedikkan bahu. Dia tak ingin terlalu turut campur dalam urusan pribadi rekannya ini. Dimitri merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya, lalu berkata, "Aku hanya punya alamat surelnya. Kalau kau mau, aku bisa mengirimnya kepadamu."
Marcus menatap Dimitri lama, sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
***katiamidela***
Beberapa kali Marco merapikan ujung jasnya yang sempat tak sengaja terlipat, lalu keluar dari ruangan tempat Marcus berusaha menginterogasinya. Dia memang sengaja tak menutup pintu, dan sekilas melihat Dimitri masuk ke dalam ruangan menggantikannya. berjalan menuju tempat terakhir kali dia meninggalkan Jill. Jill seharusnya ada di sini, tapi gadis itu menghilang.
Marco mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan dia sama sekali tak menemukan sosok Jill di antara kerumunan para tamu.
Terdengar pengeras suara diketuk-ketuk dari bagian depan ruangan, tempat dimana koleksi seni Dimitri yang dipamerkan tengah ditata rapi dan masing-masing kain putih penutupnya sudah dilepas. Itu tandanya acara lelang amal Dimitri segera dimulai.
Marco sedikit gelisah ketika dia belum juga menemukan Jill.
Marco kembali memindai pandangannya ke seluruh isi ruangan. Jika Jill tak ada di tengah aula, kemungkinan gadis itu sedang berada di toilet atau di luar ruangan.
Marco bergegas menuju kamar mandi yang disediakan untuk tamu. Hanya ada satu kamar mandi dan pintu sedang tertutup. Marco menunggu dengan tidak sabar. Dia melipat lengan di depan d**a sembari mengetuk-ngetuk ujung sepatunya ke lantai ketika menunggu.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Dan betapa kecewanya Marco ketika perempuan yang keluar dari kamar mandi bukanlah Jill.
Ingin menuntaskan rasa penasarannya, Marco mengintip ke dalam satu-satunya kamar mandi kosong tersebut hanya demi memastikan Jill benar-benar tak ada di dalamnya.
Lalu, dia mencoba kemungkinan lain. Jill berada di luar ruangan.
Marco berjalan gegas, menyelinap di antara para tamu yang perhatiannya mulai tersedot ke bagian depan panggung. Sekilas, Marco dapat melihat bahwa Dimitri tengah memberikan sambutan dengan pidato yang berisi membangga-banggakan koleksi benda seninya.
Marco tak peduli. Dia hanya peduli akan keberadaan Jill.
Marco sampai di pintu kaca besar yang terbuka dan mengarah ke balkon. Saat itulah langkahnya terhenti. Jill ada di sana. Gadis itu bersama seorang lelaki. Marco mengerutkan dahi, sepertinya dia pernah bertemu lelaki itu di suatu tempat entah di mana. Dan ketika lelaki di samping Jill memalingkan wajah, menatap Jill lekat-lekat, barulah Marco dapat melihat dengan jelas siapa lelaki itu.
Lelaki yang pernah datang membeli buket tulip di toko bunga milik Jill.
Marco hendak menghampiri Jill, namun, dia mengurungkan niatnya. Tubuhnya sontak membeku demi melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Lelaki itu mencondongkan tubuhnya mendekat, lalu mencium bibir Jill.
Sontak, Marco membalikkan badan. Kedua tangannya mengepal erat, menahan-nahan kekecewaan. Dadanya menjadi demikian sesak.
Tidak. Tidak boleh. Tidak boleh seperti ini.