Bab 12

2367 Words
 “Yang mana orangnya?” Begitu Alex masuk ke dalam pub, dia terjebak dalam ingar-bingar musik yang memenuhi udara. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. ‘Akan kukirim fotonya padamu.’  Alex menutup salah satu telinganya agar suara Magnus dapat terdengar jelas. Tak berapa lama kemudian, ponsel Alex bergetar dan memunculkan notifikasi pesan dari Magnus. Alex membuka pesannya, muncul foto seorang pria berusia lanjut, dengan wajah runcing, berbibir tipis namun lebar yang cenderung tersenyum dengan menarik kedua sudutnya tajam ke atas. Mirip sekali dengan Vendetta. It’s time to work! Alex mengangkat wajah, menjejalkan ponselnya kembali ke dalam saku. Dia memindai setiap orang yang ada. Ruangan ini penuh disesaki oleh orang-orang yang menghabiskan malamnya untuk sekadar minum-minum ataupun mencari keringat dengan bergerak-gerak di area dance floor. Alex berjalan ke tengah, mencoba membaur. Musik dan asap rokok bercampur jadi satu menyesaki udara. Dia berjalan pelan, bergerak ke tengah. Seorang gadis dengan dandanan berlebihan dan pakaian minim tiba-tiba menahan Alex dengan sempoyongan. Alex berhasil menangkapnya ketika dia nyaris terjatuh. “Hai, Tampan!” Si gadis mulai melantur. Dia menunjuk-nunjuk wajah Alex dengan gemas.”Dance till dusk, yuk?” Tanpa menunggu persetujuan Alex, gadis itu mulai menggerak-gerakkan tubuhnya mengikuti irama musik yang menghentak-hentak. Meliuk-liuk tak keruan. Alex mendorongnya pelan. Membuat isyarat bahwa dia tak berminat sedikitpun dengan si gadis. Si gadis tak tampak kecewa. Dia bergelayut manja pada lengan Alex lalu menariknya ke meja bar.”Kutraktir kau minum saja.” Dia menyeret Alex, menyisir orang-orang yang memadati dance floor, lalu memaksanya duduk di kursi tinggi di depan meja bar. Si gadis duduk di sebelahnya, masih bergelayut, sambil menyentikkan jemarinya. Bartender berkepala botak menghampiri mereka. ”Dua gimlet. Di sini! Satu untukku dan satu untuk pria tampan di sebelahku.” Tidak. Tidak boleh minum untuk malam ini. Alex berkata tegas pada dirinya sendiri. Sementara si gadis kembali mengoceh tak karuan, Alex kembali memindai seluruh isi ruangan. Lalu, dia menemukan si Vendetta —sosok yang dicarinya, yang sama persis seperti dalam foto yang dikirimkan Magnus. Duduk melingkar bersama beberapa gadis di sofa empuk di salah satu sisi ruangan. Lengannya terentang, memeluk gadis-gadis di sisinya. Beberapa penjaga pribadinya berdiri di bagian luar sofa. Bersidekap, dengan tampang tak ramah mengawasi keadaan di sekitar.  Alex menatap —orang yang menurutnya— Vendetta, lalu menekan bagian atas sudut kacamata yang dikenakannya. Terdengar bunyi klik samar yang tak akan dapat ditangkap jelas oleh pendengaran manusia normal. Objek yang dibidiknya —Vendetta— otomatis terkirim kepada Magnus. Alex menekan alat bantu komunikasi di telinganya yang langsung disambut suara Magnus di seberang.’Itu dia, Alex. Kau menemukannya.’  “Gimletmu.” Si gadis mengagetkan Alex, mencoba meminumkan gimlet padanya, namun dia menolaknya. Alex berpikir sejenak. Dia lalu berbisik pada si gadis yang sedang high,”Aku berubah pikiran. Ayo kita melantai.” “Sungguh?” Si gadis merosot turun dari kursinya. Dia bersiap menarik lengan Alex. Alex dengan gaya flamboyan berbisik lirih dengan nada yang begitu menggoda tepat di telinga si gadis. Si gadis mengangguk-angguk seolah mengerti maksud dari permintaan Alex. Sejujurnya, Alex berharap gadis itu memang benar-benar mengerti.  Si gadis berjalan sempoyongan. Berjalan ke tempat Vendetta berada. Dengan berani, gadis itu menerobos dua penjaga pribadi ketika dia berusaha mendekati Vendetta. Vendetta tampak tersenyum —dan ketika melakukan itu, dia benar-benar persis seperti tokoh Vendetta— lalu bangkit dari duduknya. Meladeni permintaan si gadis. Vendetta bergerak-gerak mengikuti hentakan musik. Si gadis terkikik-kikik senang.  Alex turun dari kursi bar. Berjalan dengan sempoyongan, sedikit-sedikit sengaja menubruk orang di dance floor. Alex semakin dekat dengan Vendetta. Ketika Vendetta masih asyik bergoyang, Alex mempercepat langkahnya lalu menubruk Vendetta. Sontak, para pengawal pribadinya bergerak cepat menarik Alex menjauh. Salah satunya bahkan hendak menghajar Alex. Namun, Alex mengangkat tangan, meminta maaf sambil tetap berpura-pura mabuk. Si pengawal akhirnya melepaskannya. Alex berjalan terhuyung-huyung, menubruk sana-sini, lalu berjalan gegas masuk ke dalam toilet laki-laki. Dia mendorong salah satu pintu bilik, masuk ke dalam, lalu menguncinya rapat-rapat.  Alex mengeluarkan sesuatu dari dalam blazer yang dikenakannya. Benda kecil tebal yang terbuat dari kulit asli. Dia berhasil mencopet dompet Vendetta. Alex mengeluarkan kartu tanda pengenal serta beberapa kartu lainnya dari dalam dompet, lalu memotretnya satu persatu dengan kacamatanya. Detrik Tedja Jadi, nama asli si Vendetta adalah Detrik. Alex mengedikkan bahu, tak peduli. Dia kembali menyentuh alat di telinganya lalu berujar,”Sudah cukup, Magnus?” ‘Cukup. Kembalikan dompetnya agar dia tidak curiga.’ Alex mengiakan sembari memasukkan kembali segala macam kartu milik Detrik ke dalam dompet.  ‘Pergilah dari sana. Aku akan menyuruh orang mengantarkan barangnya untukmu. Temui dia di dekat tempat tinggal Detrik. Selesaikan semuanya malam ini.’ Hening sesaat, lalu suara Magnus kembali terdengar,’Alex,Berhati-hatilah.’ Alex tidak menjawab. Magnus memang selalu kuatir berlebihan kepadanya. Alex membuka pintu bilik, lalu keluar dari toilet laki-laki. Dia kembali berjalan terhuyung-huyung, sengaja menubruk sana-sini. Vendetta —maksud Alex adalah Detrik— masih melantai. Kali ini, para gadisnya turut melantai di sekelilingnya. Salah satu diantaranya adalah si gadis gimlet.  Alex pura-pura ikut bergoyang. Sembari bergerak tak kentara mendekati Detrik, dia menyisir para gadis Detrik dengan pelahan namun pasti. Sekali lagi, dia menubruk Detrik. Dengan cepat, dikembalikannya dompetnya ke tempat semula. Gerakannya mulus dan tak kentara.  Salah seorang pengawal pribadi Detrik mengenali Alex —sebagai orang yang sama yang telah menabrak Detrik. Kali ini, dia mencengkeram kerah blazer Alex, menyeretnya menjauh dari Detrik, lalu memukulnya rahangnya dengan keras.  Alex menggerakkan wajahnya sedemikian rupa, sejalan dengan gerakan pukulan si pengawal pribadi. Hingga tanpa kentara, Alex berhasil menghindari pukulannya. Pukulannya hanya mengenai angin. Namun, Alex terpaksa tidak membalas. Dia masih berlagak mabuk, sempoyongan. Si pengawal pribadi menyeretnya ke pintu keluar lalu mendorong tubuhnya hingga Alex terpaksa harus pura-pura terjatuh ke atas jalan berpaving. Setelahnya, pintu pun ditutup kembali. Alex mengumpat kesal ketika menyadari ujung lengan blazernya tergores. Dia bangkit sembari memberengut dan bersungut-sungut ketika mendapati ujung lengan blazernya sedikit tergores. "Tidakkah dia sadar aku mengenakan Armani?" Alex hapal, Magnus tidak akan pernah menyahut tiap kali dia komplain jika barang yang dikenakannya sedikit tergores ketika bertugas. Alex sadar itu, dia berdiri tegak, setengah berlari masuk ke dalam porsche miliknya yang diparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia melajukan mobilnya sekencang mungkin, menuju komplek perumahan tempat Detrik tinggal.  Dua persimpangan jalan sebelum menuju gerbang utama komplek, Alex bertemu dengan anak buah Magnus, yang membawa dua buah bungkusan yang langsung diserahkannya kepada Alex. Alex segera membuka bungkusan kecil begitu dia menerimanya, mengeluarkan isinya, lalu menjejalkan seluruhnya ke dalam dompet baru yang juga ada di dalam bungkusan. Alex mengamati dompet tersebut. Dahinya mengernyit. Seharusnya, Magnus memilihkan dompet yang lebih trendi —seperti Braun Buffel milik Alex, misalnya. Bagaimanapun juga, mereka tengah berurusan dengan Detrik Tedja, si playboy kaya raya. Tidak mungkin bukan kalau dompet pria itu kumal dan so last decade? Mengesampingkan soal dompet, Alex kembali memacu porschenya. Dia tiba di gerbang utama komplek perumahan tempat Detrik tinggal dalam hitungan tak lebih dari tiga puluh menit. Alex menghentikan mobilnya di tempat tersembunyi satu blok dari garda depan.  Dia mengeluarkan dua benda hitam kecil dari laci dashboard. Satu di antaranya mempunyai antena yang dapat dipanjangkan. Dia menekan salah satu tombol , lalu melepaskannya ke udara. Sementara itu, benda berantena di tangannya memunculkan gambar kondisi saat ini di area sekitar. Alex tengah menerbangkan drone. Dia membuat drone tersebut terbang sedikit agak tinggi, mendekat ke arah gerbang utama dengan tak kentara. Melalui layar kecil, Alex memindai kekuatan personil keamanan yang ada. Enam orang penjaga di pintu gerbang depan, masing-masing dua sampai tiga penjaga di pos-pos kecil yang terletak di tiap-tiap persimpangan jalan, serta beberapa penjaga yang akan menyisir jalan-jalan di dalam komplek setiap tiga puluh menit sekali. Setelah menilai kekuatan lawannya, Alex menarik drone miliknya, lalu menyimpannya ke tempat semula. Dengan penuh semangat, dia memacu porschenya mendekat ke gerbang utama. Sekuriti di garda depan kesemuanya berwajah serius. Benar-benar memeriksa tiap orang yang keluar masuk komplek. Salah satu sekuriti dengan kantung mata lebar dan gelap —Alex menebak sepertinya dia habis begadang semalaman— menyetop mobil Alex dengan angkuh.  Alex, dengan gaya penuh percaya dirinya, membuka jendela porsche, menurunkan kacamata ray-ban barunya, lalu berlagak seolah-olah dia pemilik salah satu unit rumah mewah di dalam komplek. Sekuriti tersebut mengamati Alex lekat-lekat, sementara rekannya yang lain memindai mobil Alex dengan alat detektor logam bergagang panjang seperti tongkat berwarna hitam.  "Maaf, sepertinya anda terlihat asing. Visitor?" Sekuriti tersebut bertanya sambil sedikit membungkuk agar sejajar dengan jendela Alex yang terbuka."Visitor harus ada rekomendasi dari penghuni." Dia bersiap-siap dengan walkie talkie di tangannya, yang berkali-kali terdengar bunyi samar yang sedikit berisik. Alex menukas cepat. Dengan nada rendah namun mengintimidasi,"Bapak meragukan saya? Bapak pikir saya maling?" Alex melepas sabuk pengamannya. Berlagak bersiap membuka pintu dan turun dari porsche. Sekuriti yang memegang alat detektor logam segera menengahi. Dia menyuruh rekannya si-kantung-mata-lebar mundur selangkah."Maaf pak. Silakan."  Si-kantung-mata-lebar tetap pada pendiriannya.” Maaf Pak, ini prosedur.” Alex berlagak kesal. Dia mengeluarkan dompet dari saku kirinya. Mengeluarkan kartu seukuran kartu atm,berwarna keperakan, lalu menyerahkannya pada penjaga yang memegang alat detector. Sekuriti tersebut memeriksa sekilas, lalu dikembalikannya kepada Alex.  HA! Alex menerimanya dengan tatapan penuh kemenangan. Tanpa berkata-kata lagi, dia menjalankan porschenya. Bungkusan pertama tersebut berisi duplikat dari kartu-kartu yang ada di dompet Detrik, yang tadi sempat ‘dipinjam’ Alex. Magnus jenius sekali membuat yang sama persis dalam waktu yang begitu singkat.  Alex menghentikan mobilnya di sebuah rumah. Rumah Detrik berjarak satu rumah dari tempat Alex berada. Alex melepas blazernya, menggantinya dengan jaket berwarna hitam yang senada dengan sepatu serta celana yang dikenakannya. Dia mengambil tas selempang yang juga berwarna hitam, lalu disampirkannya di punggung. Sebelum turun dari mobil, Alex mengawasi sekitar. Dia hanya punya waktu selama tiga puluh menit sebelum petugas sekuriti melakukan patroli keliling —Alex mempelajarinya dari rekaman CCTV komplek ini yang diperolehnya dari Magnus.  Tanpa menunggu lagi, dia keluar dari mobil. Berjalan gegas ke titik lemah CCTV —satu tempat dimana tidak dijangkau oleh kamera pengawas— lalu memanjat dinding pembatas samping yang mengelilingi rumah Detrik melalui bantuan sling yang ditembakkannya ke salah satu pohon. Terdengar bunyi mendesis lirih ketika sling tersebut meluncur cepat kemudian ujung jangkarnya mengunci dan mencengkeram erat-erat ke dahan pohon. Dengan lincah dan tubuh seolah seringan bulu, Alex berjalan menyusuri tepian dinding, lalu melompat ke salah satu balkon terdekat.  Dia mendarat mulus. Tidak menimbulkan bunyi debum yang mampu membuat curiga para penjaga pribadi yang ada di bagian depan rumah. Alex lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Logam tipis seperti plakat pipih, yang dimasukkan ke sela-sela daun pintu kaca kress bergaya french door. Tak berapa lama, pintu tersebut pun terbuka. Alex melenggang dengan santai masuk ke dalam rumah. Mengendap-endap, nyaris tak bersuara.  Pintu kamar Detrik ada di ujung lorong. Alex hapal di luar kepala denah rumah Detrik — Magnus mengiriminya beberapa waktu lalu. Didorongnya pintu tersebut pelahan. Bagus, Detrik memang masih berada di pub.  Alex memindai seisi ruangan. Lampu utama tak menyala. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari lampu duduk di meja kopi di samping ranjang, yang jangkauan sorotnya tak terlalu luas. Alex melangkah masuk. Penglihatannya berusaha menyesuaikan dengan kondisi ruangan yang nyaris gelap. Dia melewati dua buah sofa coklat bergaya Victorian dengan tepian yang melengkung-lengkung, karpet kashmir tebal, sebelum sampai di ranjang utama. Dia menatap bagian atas ranjang utama, lalu menemukan apa yang dicarinya tengah tergantung di dinding.  Lukisan Efffendie Bratha.  Alex segera mengeluarkan gulungan kertas dari dalam tasnya, beserta peralatan pembantu dalam ukuran kecil lainnya. Pelan dan hati-hati, Alex menurunkan lukisan tersebut. Mencongkel tepiannya lalu melepas penutup bagian belakang pigura. Konon, pigura yang dipegangnya ini lapisannya terbuat dari emas murni. Semakin menambah mahal harga keseluruhan karya Effendie Bratha yang satu ini. Alex melepaskan lukisannya, menggulungnya dengan penuh kehati-hatian lalu memasukkannya ke dalam tabung pelindung. Sebagai gantinya, Alex memasang poster yang ada di dalam bungkusan ke dua pemberian Magnus. Duplikat lukisan Effendie Bratha. Dia menempelkan kembali pigura tersebut ke dinding. Memberesi sisa peralatan lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Juga tabung berisi lukisan asli.  Alex berjalan gegas tanpa suara. Keluar dari rumah Detrik melalui cara yang sama. Lima menit lagi sekuriti akan berpatroli keliling. Dan Alex harus cepat sebelum mereka memergokinya.  Sesampainya di mobil, Alex melepas tas dan jaketnya lalu melemparkannya begitu saja ke jok belakang, sembari kembali mengenakan blazernya. Cepat-cepat dijalankannya mobilnya pergi dari area rumah Detrik. Ketika melewati pos gerbang utama, Alex hanya menekan klaksonnya satu kali, yang segera saja disambut raut muka tak menyenangkan dari si-kantung-mata-lebar. “Magnus, misiku sudah selesai.” Alex kembali menghubungi Magnus begitu dia sudah menyingkir cukup jauh.  ‘Bagus, Alex. Kuminta kau menyimpannya dulu. Besok akan kuberitahu kau alamat dimana klien kita ingin meminta lukisan itu.’ Magnus terdiam sejenak sebelum melanjutkan,’Istirahatlah.’ Alex mengangguk lalu mematikan sambungan komunikasinya dengan Magnus. Dia ingin segera pulang ke rumah. Menyebut rumah, tiba-tiba saja dia teringat kepada Jill. Gadis itu tidak berusaha menghubunginya hari ini. Alex tersenyum, dia disergap kerinduan yang luar biasa.  Alex mencoba menghubungi nomor Jill, namun panggilannya hanya dijawab oleh suara mesin otomatis. Ponsel gadis itu tidak aktif. Firasat Alex menjadi tak enak. Segera saja dia memacu mobilnya sekencang mungkin. Lima belas menit kemudian, dia sudah nyaris sampai. Alex melihat Lexus milik Marco keluar dari gerbang utama Montmartre. Kecemburuan sontak merayapinya. Alex membanting kemudinya dengan penuh kesal menuju parkiran apartemen. Dia keluar dari mobil, dan langsung berjalan ke tower B. Lalu, langkahnya terhenti. Dia membalikkan badan, sebagai gantinya berjalan gegas menuju tower A.  Beberapa meter dari sudut gedung, langkah Alex terhenti. Di keremangan, di bawah pohon di taman kecil, dia melihat si gadis berambut brunette tergelincir lalu terjatuh dari anak tangga. Jill ! Gadis itu memegangi kakinya. Kemudian, dia berusaha berdiri dengan tegak. Mencoba kembali berjalan dengan menaiki anak tangga. Langkahnya sedikit terhuyung. Dia tampak menarik napas, menahan-nahan sakit yang ada di kakinya. Alex berlari, secepat yang ia mampu. Ketika sekali lagi gadis itu terhuyung, Alex menangkap tubuhnya tepat ketika dia nyaris terjungkal untuk yang ke dua kalinya.  Jill terkejut, dia menatap Alex dengan takut. Dan, ketika disadarinya bahwa Alex-lah yang menangkap tubuhnya, ekspresi gadis itu berubah sedemikian lega. Alex hanya tersenyum. Tanpa banyak bicara, diselipkannya lengannya di bawah kaki Jill. Dalam satu gerakan mulus, dia menggendong tubuh mungil Jill dan melangkah pergi.  Alex merasakan jemari Jill mencengkeram erat-erat lengannya. Dia tersenyum, ”Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu terjatuh lagi.” “Aku…” “Pegangan yang erat.” Gadis itu menurut begitu saja. Saat kedua lengan mungilnya memeluk tubuh Alex, jantung Alex berdentum-dentum memburu. Tentu saja, Alex menjadi luar biasa gelisah karenanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD