Bab 11

1729 Words
"Maaf, Marco. Aku betul-betul tidak bisa mengirim bunga untukmu hari ini. Bloem’s sedang tutup." Jill baru saja selesai menyisir rambutnya ketika Marco meneleponnya. Hari ini Jill memang sengaja mengosongkan semua jadwal yang berhubungan dengan Bloem’s. Namun, Marco tiba-tiba saja menghubunginya dan bertanya apakah Jill bisa mengirimkan beberapa buket bunga ke hotel pagi ini juga. "Aku harus mengunjungi Joanna." Jill mendesah. Akhirnya dia terpaksa memberitahu Marco meski sebenarnya sedikit enggan. 'Kukira kau sakit. Kemarin sore aku pergi ke Bloem’s dan ternyata kau tidak ada.' Jill menghela napas. Bayangan bagaimana Alex menghajar beberapa orang yang berusaha merampas tasnya, membuat Jill kembali begidik ngeri. "Sebenarnya kemarin ada sesuatu. Ada yang berusaha merampas tasku dan— untungnya Alex datang tepat waktu." 'Alex?' "Alex. Pria yang memesan buket tulip di tokoku." Senyum Jill diam-diam tersungging begitu saja ketika dia menyebut nama Alex."Kupikir, kalian pernah bertemu." 'Kau terluka?' Alih-alih bertanya lebih lanjut tentang Alex, Marco lebih memilih untuk bertanya tentang keadaan Jill. Jill terdiam. Bukan dirinya yang terluka, tapi lelaki itu. Tak urung, dia menjawab, "Aku baik-baik saja." Ada desah kelegaan di ujung sana, yang membuat hati Jill menghangat. Jill tahu, Marco mengkuatirkannya. Dan setelah Jill mengakhiri percakapan, dia bergegas pergi. Palma Creek, tempat Joanna berada, berupa pekuburan dengan hamparan rumput hijau yang luas. Tiap-tiap makamnya tertata rapi dengan batu nisan hitam keabu-abuan yang mengkilat-kilat ketika diterpa sinar matahari.  Palma Creek tidak seperti pekuburan lainnya yang terkesan menyeramkan. Tidak pula ditumbuhi dedalu-dedalu raksasa yang tiap-tiap dahannya saling melilit-lilit dan dihinggapi kelelawar-kelelawar hitam yang seringkali bertubrukan ketika terbang rendah. Tidak juga dipenuhi oleh siulan burung hantu yang mencekam ketika malam semakin pekat. Palma Creek, adalah pemakaman dimana matahari masih bersinar cerah. Dimana para keluarga yang ditinggalkan tidak akan merasa kuatir kerabatnya yang ada di dalam sana kesepian dan ketakutan.  Jill mendekap erat buket tulip di dadanya. Berjalan dengan anggun melewati jalan setapak diantara barisan nisan yang tertata rapi. Dia tak mempedulikan sepatu bot suedenya yang terkena cipratan lumpur dan serpihan rumput hijau yang melekat. Rupanya, semalam turun hujan. Jill berhenti di depan sebuah nisan yang di bagian depannya tertulis frasa berukir nama Joanna dengan tinta berwarna emas. Jill tersenyum, dia menekuk kakinya kemudian berlutut di tepi gundukan yang telah ditumbuhi rerumputan hijau dengan rapi. "Halo, Ibu. Aku datang." Jill meletakkan buket tulipnya. Mengusap-usap batu nisan yang sedikit lengket karena debu yang melekat di permukaannya telah bercampur air hujan sisa semalam. Dia mengusapnya dengan lembut dan penuh sayang, seolah-olah benar-benar tengah membelai Joanna. "Aku membawa buket tulip kesukaanmu, Ibu. Kau tahu tidak, di negara tropis tempat kita tinggal seperti ini, agak susah menjaga tulip-tulip dan hyacinth kesayangan kita tumbuh segar." Dulu, dulu sekali, Joanna akan langsung menatap Jill lekat-lekat ketika gadis itu memanggilnya Ibu. Tentu saja, Joanna adalah satu-satunya kesayangannya. Begitu pula sebaliknya, Jill adalah satu-satunya kesayangan Joanna. Itu sejak sebelum Joanna pindah ke Palma Creek lima tahun lalu. Joanna meninggal karena serangan jantung. Bukan serangan yang menakutkan seperti yang sering didengar atau dialami orang lain, tapi serangan dalam diam. Joanna meninggal di tempat tidurnya sendiri, berselimut quilt yang dijahit dengan telaten oleh tangannya yang masih tetap terampil. Waktu itu, Jill tengah mengeluarkan pai apel dari dalam oven. Dia memanggil Joanna untuk ikut makan pagi bersama. Namun, ketika Joanna tak menyahut, Jill memutuskan menyusul ke dalam kamar. Didapatinya Joanna tengah berbaring di atas ranjang dengan mendekap pigura berisi foto mereka berdua. Matanya terpejam. Bibirnya tersenyum. Ketika Jill tersadar bahwa Joanna sudah tiada, dia menjerit keras dan berduka seusai pemakaman, untuk waktu yang cukup lama.  Jill tak berhenti, dia tetap berbicara seolah-olah Joanna benar-benar duduk di hadapannya dan tengah mendengarnya dengan tekun seperti biasa. "Aku melakukannya seperti yang kau ajarkan. Menyimpan bibit-bibitnya di lemari pendingin seperti biasa. Tulip serta hyacinth milikku tumbuh sempurna." "Aku bertemu seorang pria." Kali ini, senyum Jill pelan-pelan mengembang." Dia benar-benar...kau tahu..." Jill tertawa kecil. Pipinya bersemu merah tanpa alasan. "Dia pria yang menarik." Jill bercerita tentang pertemuannya dengan Alex, tentang buket tulip pesanan lelaki itu, tentang bagaimana lelaki itu menolongnya dari para perampas. Tentang kejutan-kejutan yang dihadirkan Alex.  Tentang semuanya.  Sederhananya, Jill merasa dirinya tengah tersihir oleh pesona lelaki itu. Jill menghabiskan waktu selama nyaris satu jam 'berbincang-bincang' dengan Joanna. Ketika matahari mulai merangkak naik semakin tinggi, dan sinarnya nyaris berada di atas kepala, baru Jill memutuskan pulang.  Dia berdiri. Membersihkan jumput-jumput rumput yang melekat di ujung rok lipitnya. Jill melambaikan tangan pada makam Joanna dan berjanji akan merawat semua tulip dan hyacinth dengan sepenuh hati karena kedua bunga itu adalah bunga kesayangan mereka berdua. Juga, menjaga kalung berbandul liontin tulip peninggalannya.  Jill berbalik. Saat itulah dia melihat ada yang tengah mengawasinya. Keduanya mengenakan setelan pakaian hitam. Yang satu berpostur tinggi, berambut cepak, dan bertampang datar. Dia berdiri di belakang kursi roda, yang diduduki lelaki berusia lanjut yang rambut putihnya tampak keperakan karena tertimpa sinar matahari. Di pangkuannya ada buket bunga mawar merah segar.  Jill menganggukkan kepala, tersenyum sebagai tanda ramah tamah. Lalu berjalan gegas namun anggun. Sebelum menghilang di belokan pagar besi hitam dengan ukiran emas yang meliuk-liuk, Jill sempat menoleh kembali kepada dua orang tadi. Dahinya mengernyit, ketika lelaki berkursi roda tersebut terlihat meletakkan buket bunga di atas nisan Joanna.  **katiamidela** Marco sama sekali tidak menyentuh sepiring panekuk bersiram madu di atasnya, sementara panekuk milik Jill sudah tak bersisa sejak lima belas menit yang lalu. Yang dilakukannya cuma sesekali tersenyum dan menanggapi cerita Jill. Selebihnya, Marco hanya terdiam.  "Marco, bagaimana menurutmu?" Mata Marco mengerjap-ngerjap. Dia mengangkat wajah lalu menatap Jill lekat-lekat. "Maaf, saya tidak— maksud saya..." "Aku hanya menawarimu hyacinth. Kalau kau mau, aku bisa mengirimimu satu pot lagi dan akan kuletakkan di mejamu." Jill tersenyum. Tangannya terulur. Menyentuh lembut lengan Marco yang tertekuk di atas meja. "Ada yang kau pikirkan?" Lelaki di hadapannya tersenyum, alih-alih menjawab. Jill tidak menyangka akan bertemu dengan Marco di depan gerbang Palma Creek seusai bertemu Joanna tadi siang. Mobil Lexus milik Marco terparkir tidak jauh dari gerbang, bersisian dengan mobil Lexus lain yang pengemudinya—Jill berpikir demikian—mengenakan setelan pakaian hitam yang sama persis dengan lelaki tinggi tegap yang mendorong lelaki berkursi roda. Untuk sesaat, Jill mengira Marco datang ke Palma Creek untuk menjenguk ibunya, tapi Jill salah. Marco menjemputnya, lalu mengajaknya ke kafe kecil di dekat apartemen Jill, hanya untuk memakan panekuk madu. Namun, yang sesungguhnya terjadi kemudian adalah lelaki itu sama sekali tak menyentuh panekuknya. “Kau sering sekali mengajakku makan panekuk di sini. Tapi kau jarang menyentuh panekukmu.” “Aku hanya—ingin mengingat ibuku ketika makan panekuk bersamamu.” Marco menjawab pelan .”Dia senang memasak. Membuat panekuk dan pai apel. Dapur kami sering dipenuhi harum aroma gula, madu, dan apel. Juga aroma bunga hyacinth sepertimu karena ibuku—“ Marco tiba-tiba saja menahan kalimatnya. Sorot matanya terlihat muram. Tak ada ekspresi lain yang ditampilkan lelaki itu selain kemurungan. Membuatnya terlihat seolah-olah ada mendung gelap yang bergelayut di wajahnya, yang siap menyemburkan hujan badai kapan pun dia mau. "Hyacinth, bukan?" Marco bertanya ragu-ragu. Mencoba mengembalikan topik awal pembicaraan mereka. Lalu dia menukas sembari memaksakan seulas senyum tipis. "Boleh. Aku akan senang sekali kalau ada aromamu di ruanganku."  Jill tahu, bukan itu yang akan disampaikan Marco. "Aromaku?" Dahi Jill mengernyit. "Hyacinth. Kamu menawariku hyacinth, bukan? Bagiku, mencium aroma hyacinth seolah-olah sedang mencium aromamu." Jill tergelak. Namun, tawanya surut seketika karena Marco menatapnya sendu. Jill berdehem, merasa tak enak sekaligus tak sopan. Sebagai pengalih suasana, Jill meraih garpu di piring Marco sembari berkata, "Panekukmu masih utuh. Sini, biar aku iriskan. Ibuku dulu—juga senang sekali memasak panekuk. Oh, dan pai apel juga. Masakannya tidak ada duanya.” Marco hanya melihat apa yang dilakukan Jill. Gadis itu memotong-motong panekuk madu milik Marco menjadi beberapa bagian kecil. Setelahnya, dia kembali menyorongkan piring panekuk kepada Marco.  Marco tak bergeming. Tatapannya tampak sendu dan hampa. "Katakan, apa yang harus kulakukan— ketika sesuatu yang sangat kuinginkan tak boleh kumiliki?" Jill mengangkat wajah. Melesakkan tatapan penuh tanda tanya. "Maksudmu?" "Kalau aku tidak bisa memilikinya—" Marco menahan kalimatnya, mengambil napas panjang, lalu berkata, "—mungkin aku benar-benar terpaksa harus melenyapkannya dari hidupku."  Jill terpaku. Bola mata Marco dipenuhi kilatan kekecewaan yang bercampur amarah yang tertahan. Sekian waktu mengenal Marco, baru kali ini Jill menemui kilatan seperti itu. Namun, lelaki itu sepertinya tersadar telah membuat kesalahan dengan berkata sedemikian jujur kepada Jill. Dia bangkit dari duduknya lalu berkata, "Sudah malam. Sebaiknya kamu kuantar pulang." Sepanjang perjalanan dari kafe panekuk ke apartemen yang hanya memakan waktu tak lebih dari lima belas menit, Marco hanya diam. Membuat Jill tak berani bertanya ataupun membuka percakapan apapun dengannya. Marco ke Palma Creek, tapi lelaki itu tak menjenguk makam neneknya. Hanya itulah satu-satunya hal yang menjadi pertanyaan dalam kepala Jill.  Jill hendak masuk ke dalam gedung setelah turun dari mobil, ketika Marco tiba-tiba saja mengikutinya. Dia menangkap lengan Jill, membuat langkah gadis itu terhenti. Jill berbalik, membuat ikatan rambut ekor kudanya terayun. Tatapan mereka bertemu di udara.  Namun, Marco tak melakukan lebih dari itu. Dia hanya tersenyum lalu berkata, "Jaga dirimu baik-baik. Kumohon—.” Jill mengerjap-ngerjapkan mata, dia merasa Marco bertingkah sangat aneh. Tangan lelaki itu terulur, membelai pipi Jill dengan lembut. Sentuhan itu tidak berarti apa-apa bagi Jill, tidak mengirimkan gelenyar hangat yang mampu membuat pipinya merona merah.  “Aku ada undangan jamuan makan lusa malam. Salah satu rekan bisnis keluargaku akan mengadakan malam amal. Kau mau menemaniku untuk datang?” Jill menatap Marco. Menyunggingkan seulas senyum. ”Apakah semacam pesta dansa? Dan aku harus mengenakan gaun resmi?” Marco mengangguk. ”Kau punya gaun?” Jill mengerjap-ngerjapkan mata. Dia ingin bertanya apakah gaun motif bunga oke dipakai untuk ke pesta itu, ketika Marco tiba-tiba saja tersenyum lalu menukas, ”Besok aku akan mengirimkan gaun untukmu.” Marco menarik tangannya, masih dengan senyuman hangatnya kepada Jill lalu dia kembali masuk ke dalam mobil. Jill masih berdiri mematung, menatap mobil Marco hingga menghilang di belokan pintu gerbang komplek Montmartre. Kemudian, dia berbalik.  Sore tadi hujan turun dan membasahi pelataran apartemen. Jill melangkah dengan hati-hati. Mulanya, dia menaiki anak tangga di depan gedung dengan mudah. Kemudian, pada anak tangga yang terakhir, bootnya tergelincir hingga dia terhuyung ke depan dan kakinya membentur tepian tangga. Jill jatuh terduduk. Dia meringis menahan sakit sembari merutuk lumut licin yang diinjaknya menjadi penyebabnya. Dia mencoba bangkit. Kakinya yang membentur tepian tangga terasa nyeri ketika digerakkan. Jill mencoba berdiri, menegakkan badan, lalu berjalan pelahan-lahan. Langkahnya sedikit oleng. Dia berusaha meraih sesuatu sebagai pegangan. Ketika tubuhnya nyaris terjungkal, seseorang menangkapnya dari belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD