‘Makanlah dengan teratur, aku tak suka melihatmu menangis seperti ini.’ Jill mengangkat wajah. Dia memalingkan tatapannya menuju gedung seberang. Dan, lelaki itu berdiri di sana. Jill mendorong kursinya, dia berlari menuju balkon. Alex masih berdiri, menatapnya seolah-olah mereka berdua tak terpisah jarak. ‘Ketika bertemu denganmu, aku merasa duniaku seketika berubah,’ Alex menahan kalimatnya. Selanjutnya, apa yang dikatakan lelaki itu membuat dunianya jungkir balik seketika,’Ciuman itu— nyata.’ “Alex!” Jill membalikkan badan, meninggalkan pintu apartemennya tanpa terkunci. Menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, lalu berlari sekencang yang ia mampu. Beberapa kali dia terjatuh. Kulitnya tergores tanah. Namun, Jill tak peduli. Dia hanya menginginkan Alex. Sesampainya di depan Picas

