Ketika Jill membuka mata, wajahnya terasa lengket oleh lelehan air mata. Semalaman, dia menangis. Tidak, bukan hanya semalaman. Malam-malam sebelumnya dia juga menangis. Dia sendiri juga tak tahu, kenapa dirinya terus menerus menangis. Yang dia tahu, hatinya kecewa. Terluka. Seakan-akan perasaannya tercabik-cabik lalu dihempaskan begitu saja. Pria itu adalah ayahnya. Lelaki itu, anak angkat dari ayahnya, menginginkan dirinya hingga melakukan hal-hal di luar kendali akal sehat. Lelaki itu, adalah seorang pembohong besar. Memanfaatkan dirinya. Meruntuhkan kepercayaannya. Pencuri… Jill menyeka sisa-sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. Dia turun dari ranjang, kakinya menyentuh lantai yang dingin, tapi dia tak peduli. Semalam, Jill memaksa pulang kembali ke apartemennya. Dia me

