Badai membaca ulang hasil print out skripsinya. Ia sedang duduk di depan ruang Dekan II, dosen pembimbingnya. Sesekali ia mengecek ponselnya lalu membaca ulang skripsinya. Badai menoleh sekilas dan cukup terkejut mendapati Nissa yang tengah tersenyum padanya. Badai merutuk dalam hati. Ibunya mengatakan bahwa ibu Nissa belum menghentikan keinginan mereka untuk menjodohkan Nissa dengannya. Orang tua Nissa bahwa menawarkan makan malam bersama antara dua keluarga. Badai tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat Nissa begitu keras kepala. Bukankah dulu sudah jelas bahwa ia menolak perjodohan mereka. "Kak Badai lagi apa?" tanya Nissa dengan manis. "Bimbingan," jawab Badai cuek namun berusaha tetap sopan. Nissa mengangguk-angguk kecil. Entah hanya perasaan Badai atau beberapa mahas

