Terkadang, ada beberapa kenangan yang perlu disamarkan untuk menghindari patahan.
***
Badai menatap deretan buku tebal di hadapannya. Lelaki itu berjalan dengan pandangan yang masih terpusat pada judul-judul buku ekonomi yang ia gunakan untuk menyelesaikan skripsi yang tertunda. Badai berjalan diantara lorong rak buku, lalu pandangan matanya jatuh pada seorang perempuan yang mengisi salah satu bilik yang berisi komputer umum. Karam nampak fokus mengetikkan sesuatu, begitu cepat hingga membuat Badai ikut terfokus padanya.
Badai tak berniat untuk mengendap-endap, namun langkah kakinya yang ringan tanpa suara membuat lelaki itu bisa berdiri di belakang Karam tanpa perempuan itu sadari. Manik mata tajamnya mengamati bagaimana Karam menulis makalah ilmiah dengan begitu cepat seolah otaknya sudah tersetting dengan sempurna.
Dia cukup pintar, puji Badai dalam hati. Lelaki itu melihat celana Karam yang masih saja sobek di beberapa bagian. Sungguh, penampilan Karam sama sekali tidak memperlihatkan bahwa perempuan itu adalah anak pintar. Karam bahkan terlihat seperti tipe anak yang selalu duduk di bagian belakang untuk tidur diam-diam, atau tipe mahasiswa yang titip absen.
"Badai!"
Badai menoleh dan begitu juga dengan Karam. Mereka berdua menatap seorang perempuan dengan celana jeans hitam dan baju yang nampak baru. Setidaknya, itulah yang Karam pikirkan. Satu kata, perempuan itu sangat cantik.
"Badai, sedang cari buku?" Niken menghampiri Badai. Karam nampak bingung sebelum menyadari bahwa lelaki dingin yang suka sok judes itu berdiri tepat di belakangnya. Sejak kapan lelaki itu ada di belakangnya?
Karam dengan tahu diri berpura-pura menjadi kursi, atau apapun yang membuatnya tidak terlihat. Karam berusaha berkonsentrasi dan kembali melanjutkan tugasnya. Namun entah mengapa telinganya menjadi lebih terbuka dibanding sebelumnya.
"Ya, bisa kamu lihat sendiri," Badai mengangkat tangan kananya yang memegang buku ekonomi yang cukup tebal.
Niken tersenyum kecil. "Masih dingin seperti biasanya?" ujarnya dengan hangat. Mendengar kalimat itu terucap dari perempuan cantik dan halus membuat Karam berpikir bahwa perempuan itu sangat anggun. Jika karam yang mengucapkan dengan nada yang sama, ia yakin Badai akan mengumpatinya karena akan terdengar seperti sindiran.
"Kamu ngapain di sini?"
Karam menahan diri untuk tidak berucap wow saat tersadar bahwa Badai menggunakan aku kamu yang lembut. Ini Badai? Si manusia es yang sukanya menatap tajam itu?
"Sama aku juga lagi ngerjain skripsi. Mau ngerjain bareng?" Niken menawarkan seolah-olah mereka berdua adalah teman baik yang tidak pernah saling mencintai ataupun menyakiti. Di ujung mata Badai, lelaki itu mengamati bagaimana sang mantan kekasih masih memiliki kelembutan dan keanggunan yang sama.
"Enggak, aku masih ada urusan sama cewek ini." Badai berasalan. Menolak mantan kekasih tanpa alasan jelas akan memperlihatkan bahwa ada hati yang belum bisa move on. Dan Badai tidak mau seseorang menganggapnya seperti itu, terlebih lagi Niken. Tapi Badai juga merasa tidak akan baik-baik saja jika dirinya mengiyakan Niken.
Itulah saat ketika Niken menjatuhkan pandangannya kearah Karam yang menghentikan acara mengetiknya. Karam menoleh dengan mata melebar, melihat Niken dan Badai bergantian. Karam bisa melihat tatapan tajam meneliti yang dilayangkan perempuan itu padanya. Dan saat itu Karam benar-benar merasa ingin tenggelam. Karam dan Niken bagaikan dua kutub yang saling berjauhan.
"Dia siapa?" tanya Niken dengan suara dalam. Keramahan mendadak hilang dari dirinya.
"Adek tingkat." Badai menjawab dengan masih menyisakan tanda tanya besar bagi Niken. Terbukti dari bagaimana perempuan itu memandang Karam dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.
"Niken!" Seseorang memanggilnya. Membuat Niken menoleh kebelakang dan memberikan tanda untuk menunggu. "Kalau gitu aku duluan ya Badai." Niken berlalu setelah menyematkan sebuah senyum manis di bibirnya. Senyum yang dulu menjadi sebuah pencerah hari bagi hari-hari Badai.
Keheningan menyergap lorong perpustakaan ketika Niken menghilang diantara rak buku. Karam menoleh kebelakang untuk menemukan Badai yang tak mengalihkan pandangannya.
"Mantan lo ya?" tebak Karam tepat sasaran.
Badai menoleh untuk mendapati Karam yang menatapnya dengan pandangan yang menyebalkan. Manik matanya seolah berbinar ketika menemukan salah satu kelemahan lelaki yang angkuh itu.
"Kepo?" tanya Badai judes.
Karam mengulum senyum. "Gue pasti bener deh. Soalnya Badai si beruang kutub bisa-bisanya pake aku kamu super romantis gitu."
Badai mati kutu, ia bertambah sebal saat melihat Karam tersenyum puas menatapnya. "Jadi, Badai belum bisa move on nih?"
Badai mendengus, memilih untuk duduk di sebelah bilik Karam dan menyalakan komputer umum di sana. "Udah move on kok," ujarnya.
Karam memundurkan kursinya untuk menatap Badai yang terlihat sok sibuk dengan komputer yang bahkan belum menyala. "Ah, masa..." godanya lagi.
"Bisa diem nggak?" Badai menatap Karam tajam, namun perempuan itu memang tidak ada takut-takutnya.
"Katanya tadi masih ada urusan sama gue?" Karam menatap Badai dengan menantang. "Tega ya, gue dijadiin kambing hitam."
"Diem bisa nggak?" Badai menggeram. Membuat Karam menjulurkan lidahnya dan kembali berfokus mengerjakan tugasnya. Keduanya larut dan hanya suara ketikan komputer yang memenuhi lorong buku di sana.
Karam menghela napas dan menutup bukunya. Perempuan itu kemudian menyimpan file yang baru saja dikerjakan dan memasukkannya kedalam flashdisk. Karam mematikan komputer dan berdiri dari duduknya, membuat Badai menoleh dan mengamati Karam.
"Mau kemana?" tanya Badai.
Karam mengangkat sebelah alisnya. Cukup terkejut dengan pertanyaan Badai. "Udah selesai. Mau keluar perpus, ikut?" tawar Karam setengah bercanda.
Badai nampak meninang, lalu menyimpan file dan mematikan komputernya. Lelaki itu kemudian berdiri dan menatap Karam yang nampak menunggu jawaban Badai. Meski Karam tahu Badai pasti menjawab tawarannya dengan tolakan sinis yang tajam.
"Tunggu apa lagi?" ucap Badai tidak sesuai ekspektasi.
Karam membuka mulutnya saat tahu bahwa Badai mengiyakan ajakannya. "Beneran mau ikut?" ucap Karam tidak percaya.
"Emang abis ini lo mau kemana?" Badai berucap dengan wajah sedatar papan triplek yang baru saja di las. Ada anget-angetnya gitu.
Karam nampak berpikir, hari ini ia memang sengaja mengambil libur dari café kampus karena ingin mengerjakan tugas yang menggunung. "Nggak kemana-mana."
"Mau ikut?" kali ini Badai yang menawarkan.
"Kemana?"
"Café gue."
"Ikut!" Karam berucap dengan cepat. Setelah mengetahui bahwa Badai memiliki berbagai usaha di bidang café, Karam menjadi penasaran bagaimana café yang dikelola si beruang kutub ini. Apakah ada hiasan es atau bangunan bergaya eskimo?
Kedua berjalan beriringan beberapa saat, namun Karam memperlambat langkahnya dan memilih berjalan di belakang Badai. Mereka mencapai tangga lantai dua dan Badai tersadar bahwa Karam tak berada di sampingnya. Lelaki itu berhenti, berbalik dan mendongak menatap Karam yang juga berhenti di belakangnya.
"Kenapa?" tanya Badai pada Karam. Tak ada satupun orang yang lewat di sana. Perpustakaan menjadi cukup sepi ketika langit mulai berwarna orange keungu-unguan.
"Apanya?" tanya Karam mencoba menjadi gadis lugu.
"Kenapa jalan di belakang?" Dan Badai adalah tipe orang yang mengutarakan segala hal dalam pikirannya.
Karam terdiam sambil sedikit meringis. Ia pikir Badai bahkan tidak akan sadar jika dirinya tiba-tiba menghilang dari perpustakaan. Tapi ia salah, Badai menyadari langkahnya yang melambat.
"Kaki gue kecil dan lucu, nggak kayak kaki lo yang kayak tiang listrik." Itu bukanlah alasan yang sesungguhnya, namun Karam memilih untuk menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri.
"Cebol," ucap Badai dengan sadis.
"Lo aja yang ketinggian!" Karam merasa menyesal karena memilih alasan yang membuat Badai memiliki materi untuk menjadikannya bahan ejekan. Karam turun dari tangga dan keduanya berjalan beriringan. Mengingat tentang bagaimana lelaki itu sangat terkenal di kampus membuat Karam tahu bahwa sebentar lagi aka nada berita besar tentang mereka berdua.
"Kalau cebol ya cebol aja." Badai membalas lagi.
"Asal lo tau ya. Gue pendek gini tuh karena efek dari global warming, itu udah ada penelitiannya. Jadi gue pendek gini karena udah tuntutan peran!"
"Banyak banget alesan."
"Lo tuh yang ketinggian, bikin dunia penuh." Karam mendengus sebal. Mereka berdua keluar dari perpustakaan, kali ini dengan langkah yang sejajar. Karam tidak sadar bahwa Badai memang sengaja memperlambat langkahnya.
"Dunia mana bisa penuh."
"Bisa dong! Buktinya dunia gue penuh tuh, penuh sama elo." Karam berucap dengan sneyum manis yang kata orang semanis gulali. Namun sayangnya ini Badai, bukan orang melainkan beruang kutub.
"Gilanya kumat ya?"
Tuh kaannn!!!
***