Chapter 8: Satu Meja

1516 Words
Ekspresi pertama Karam ketika melihat café Badai adalah mulut menganga. Ia pikir café Badai akan dipenuhi dengan aksen gelap yang misterius, atau mungkin menyamai rumah hantu. Tetapi tidak, alih-alih penuh kegelapan. Café Badai dilengkapi dengan pencahayaan yang cukup terang dan terasa nyaman. Lelaki itu pandai mengatur dekorasi dengan memanfaatkan tempat-tempat yang biasanya tak berfungsi menjadi penuh dekorasi. Café Badai menyajikan tempat nyaman untuk para remaja bertukar tawa di luar ruangan dengan kanopi berhias beberapa tumbuhan hijau. Café Badai di dekorasi dengan tembok setinggi satu meter dan kaca tebal yang memungkinkan orang-orang melihat aktivitas café dari luar ruangan. Meja di bagian dalam café nampak tidak terlalu tinggi dan pas untuk orang-orang yang ingin menggunakan laptop. Café ini bahkan termasuk ramai meskipun tidak sedang berada dalam jam istirahat. Pandangan Karam jatuh pada menu café, dan seketika perempuan itu membuka mulutnya. Bahkan untuk café hitam saja harus merogoh kocek seharga tiga kali uang makan Karam. "Kenapa?" Badai bertanya saat melihat perempuan manis itu terdiam dengan mulut terbuka. Dalam hati menebak-nebak apakah sebegitu kerennya café miliknya. "Menunya," gumam Karam. "Itu sudah harga umum," Badai menerangkan seakan tahu kemana arah pikiran Karam bernaung. Sedangkan Karam hanya mendengus, membayangkan berapa banyak uang yang didapatkan Badai dengan harga patokan setinggi itu. Pantas saja Badai kaya raya. "Yang membuat kan bukan orang biasa seperti di café lo. Rasanya juga pasti beda." Di telinga Karam, ucapan Badai terdengar seperti sebuah alasan. "Tentu, harga menyesesuaikan tempat. Bagaimanapun brand memang nomor satu." Dan bagi Badai, ucapan Karam terdengar seperti sebuah komplain di telinganya. Kenapa juga Karam harus kesal begitu? "Kenapa lagi?" Badai berujar dengan kesabaran samar di dalamnya. Lelaki itu membawa Karam di sebuah kursi paling pojok namun Karam tahu bahwa tempat itu mungkin akan mejadi spot favoritnya. Itupun jika Karam memiliki kesempatan untuk ke tempat itu lagi. "Café yang bagus." Karam berkomentar, manik mata gelapnya memandang luas tempat yang cukup padat itu. "Café ini sama café kampus, bagus mana?" Bukan sifat Badai yang mempertanyakan hal tidak penting seperti ini. Namun, entah mengapa Badai ingin mengetahui beberapa pokok pikiran Karam yang kadang beda dari yang lain. "Dari segi harga bagus café kampus, tapi gue akui kalau dekorasi café ini bisa diacungin jempol." Karam mengangat jempolnya dan tersenyum manis. Memuji dengan harapan Badai akan memberikannya beberapa cup kopi dan cemilan. Mungkin ia bisa mencuri beberapa resep untuk menjelma menjadi barista di café kampus. Kali saja ia bisa mendapatkan kenaikan gaji, meski Karam sendiri sadar bahwa itu adalah pikiran konyol yang hanya dimiliki olehnya. Badai sendiri merasa senang dalam hatinya meskipun wajahnya tetap sedatar jalan rasa yang baru di aspal. Mendapatkan pujian dari perempuan unik ini entah kenapa membuatnya merasa berbeda. "Bikin café gini butuh duit berapa?" Karam membuka suara saat topik diantara mereka menguap begitu saja. CIta-cita Karam adalah menjadi orang kaya, dan di depannya ada orang kaya yang sudah memiliki usaha. Karam tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini dan harus mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. "Banyak," jawab Badai dengan judes. Astaga, sifat iblisnya muncul lagi. Padahal tadi mereka sudah berbincang cukup akrab seperti gebetan. Eh, salah ya? "Berapa? Detailnya dong..." Badai menelisik ekspresi gadis di depannya. "Mahal Karam, lo nggak bakal mampu," ucap Badai dengan jahat. Karam yakin mulut lelaki itu berbisa. Pantas saja Badai di putusin perempuan sebaik Niken. Pasti Niken memutuskan Badai karena takut keracunan saat ciuman. Mulut Badai kan lebih membahayakan daripada ular berbisa. "Ya kali aja ada konglomerat yang mau nikahin gue?" Karam menyangka kepalanya, memasang wajah cemberut. Menatap Badai sebal. "Pilih cowok jelek tapi kaya apa ganteng tapi miskin?" Badai bertanya dengan mengabaikan pemikiran bahwa ia sudah benar-benar keluar dari sifatnya yang biasa. Badai tidak bisa dengan mudah akrab dengan orang baru. Badai hanya akan berucap seperlunya jika memang dibutuhkan. Tetapi dengan alien bumi satu ini, Badai seakan memiliki banyak topik yang ingin ia bahas dengan Karam. Badai ingin mengetahui bagamaina cara alien bumi ini berpikir dan mendebat tiap ucapannya. "Ganteng tapi kaya," ucapnya dengan senyum manis, berharap Badai khilaf lalu menikahinya saat itu juga. Untuk masalah cinta bisa diatur belakangan. "Nggak ada di pilihan. Ngimpi jangan ketinggian." Kan, mulutnya setajam silet. "Ngimpi kalau nggak tinggi ngesot jadinya, Bambank!" Badai menatap Karam kesal. "Jawab yang bener." "Kenapa memang, mantan lo bilang lo kurang ganteng apa gimana?" "Nggak ada hubungannya sama mantan." "Lah terus? Ada hubungannya sama gue?" Karam berucap dengan nada main-main yang membuat Badai rasanya ingin membalikkan meja. Perempuan satu ini benar-benar menyebalkan. Alien paling mengesalkan. Kenapa tidak punah saja sih! "Kalau lo jawab, lo bisa mesen tanpa bayar." Viollaaaaa... Ini yang Karam tunggu-tunggu. Perempuan bergaya berandal itu menahan senyuman agar tidak terlihat begitu antusias. "Sepuasnya?" tawar Karam. Seketika jiwa deal or no deal-nya membara. "Satu pertanyaan satu pesanan," Badai berucap dengan datar. Namun seketika menyesal karena tersadar bahwa ia terlihat sebegitu penasaran dengan makhluk di depannya. Kali ini Karam mengulum senyum menggoda, setengah mengejek. Namun ia tidak mengeluarkan godaan-godaan di otaknya karena takut Badai marah lalu berubah pikiran. Rugi besar nanti dia. "Oke silahkan ajukan beribu pertanyaan, Yang Mulia. Hamba akan dengan senang hati menjawab pertanyaan Anda." Karam berujar bagaikan hamba sahaya yang tengah diperbudak raja. Badai mendengus, menyesal telah memberikan bahan ejekan pada makhluk di depannya. "Jawab pertanyaan yang tadi." "Jadi begini Yang Mulia... Perihal jodoh itu selalu menjadi misteri. Tapi, kalau saya di suruh milih, saya akan memilih orang yang cinta sama saya. Dia misqueen atau kayah rayah itu tergantung. Jika dia benar-benar mencintai saya, dia akan berjuang untuk saya." Karam berucap dengan nada formal yang benar-benar mengesalkan. Karam benar-benar tahu cara membuat orang lain ingin menendangnya. "Ribet. Nggak perlu pakai alasan. Pilih salah satu." "Semua hal nggak bakalan lepas dari situasi dan kondisi." Karam beralasan. Sebenarnya ia bingung jika harus di suruh memilih. Perihal hidup bersama tidak hanya tentang cinta, ada kompromi, saling memahami, dan memberikan rasa nyaman. Manusia berbagi takdir yang sama, saling membahagiakan, juga menyakiti. "Yang kaya, terus gue suruh oplas. Gue kan cantik, entar anak gue nggak bakal jelek-jelek amatlah." Karam tahu bahwa untuk menyelesaikan topik ini adalah dengan membuat Yang Mulia Raja puas. Badai menatap Karam dengan tidak puas. Namun lelaki itu tak protes seperti yang sebelumnya ia lakukan. "Pesen sana, bilang gue yang suruh." Perintah Badai sambil menoleh kearah kasir, memberikan tanda dari tatapannya. "Nggak tanya lagi nih?" Karam nampak kecewa. Ia ingin makan gratis lebih banyak lagi. "Nggak." "Tanyain dong, apa gitu kek." "Ogah." Karam mendesis sambil mengumpati lelaki itu dalam hati. Badai meliriknya sekilas namun memilih protesan dari perempuan itu. "Bilang gue pesen yang kayak biasanya." *** Karam menyanggka kepalanya sembari menatap Badai yang tengah sibuk dengan laptopnya. Lelaki itu sukses membuat Karam mati kebosanan. Satu hal yang membuat Karam masih betah berada di tempat itu tak lain karena pemandangan indah di wajah lelaki tampan itu. Ganteng banget, sumpah deh! Sepertinya Tuhan memang adil dengan memberikan wajah tampan kepada manusia dengan kepribadian paling buruk seperti Badai. "Badai, gue boleh pesen makan?" tanya Karam dengan nada suara dimanis-maniskan. "Ini udah ke empat kali," Badai menjawab dengan mata yang masih terfokus pada layar laptopnya. Tangannya juga masih aktif mengetik di atas keyboard. "Sunah rasul itu harus ganjil. Lagi ya?" "Makan banyak itu dosa." "Gue kan lagi dalam masa pertumbuhan." "Cemilan aja." "Siap!" Karam berdiri dengan semangat empat lima. Badai mengamati bagaimana perempuan itu sangat senang hanya karena makanan. Melihat Karam seolah-seolah membuat kehidupan menjadi indah hanya karena sebuah makanan. Kening Badai berkerut saat melihat seseorang menyapa Karam. Manik mata coklat tuanya tanpa sadar mengamati bagaimana dua orang itu berinteraksi. Kedua orang itu kemudian menoleh secara bersamaan kearah Badai. Dan dari pandangan Badai, Karam nampak canggung. Dari sorot mata Karam yang mudah diselami, gadis itu seolah berkata. Mati gue. Badai mengernyit, merasa terganggu terlebih ketika perempuan itu melemparkan senyum ramah dan duduk di depannya, di tempat sebelumnya Karam menghabiskan waktu dalam kebosanan. Karam tak bersuara dan memilih duduk di samping perempuan itu. Badai dan gadis itu lalu menoleh kearah Karam. Seolah menunggu Karam menjelaskan tentang alasan mereka bertiga berakhir dalam satu meja. "Kalian belum kenal? Harusnya udah kan?" Dan Karam bertingkah seolah dirinyalah orang asing di meja itu. "Kami belum kenalan secara resmi," perempuan berwajah imut itu, Nissa membuka suara. Dari tatapan matanya memberikan kode pada Karam. Karam yang cerdas tentu langsung paham, namun ia tidak ingin menenggelamkan diri dari masalah dan memilih mencuci tangan. "Loh, gue pikir udah kenal." Jujur saja Karam berada dalam kebingungan situasi. Ia tertangkap basah tengah bersama mantan calon tunangan sang sahabat. Mampus kuadrat. Lebih-lebih karena Karam lupa menceritakan bahwa mantan calon tunangan Nissa adalah Badai yang katanya judes tapi hot-hot summer itu. Karam yakin setelah ini ia akan dicap sebagai pelakor. "Tau namanya doang," ucap Nissa tak berhenti mencoba memberikan kode untuk segera mengenalkannya pada Badai. Sedangkan Badai sendiri memilih diam, memasang wajah judes seperti biasa. Ia tahu betul masalah apa yang tengah dihadapi Karam, namun Badai sendiri enggan ikut campur. "Badai, ini Nissa, temen sekelas gue." Karam mencoba untuk bersikap santai meskipun jantungnya sudah kelojotan dan kakinya mencoba berkhianat dengan lari dari situasi. "Nis, ini Badai Athafariz Hizam, kating kita sekaligus calon tunangan lo." Karam berujar sambil tersenyum kecil, menyembunyikan hatinya yang ketir-ketir. Semoga saja Nissa tidak marah, doa Karam dalam hati ketika melihat Nissa melotot kaget kearah Karam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD