Chapter 9: Cuci Tangan

2138 Words
"Tunangan?" Nissa berucap dengan ekspresi terkejoet terheran-heran. Menatap Karam meminta penjelasan. Karam sendiri melirik ke arah Badai yang kembali berkutat pada laptopnya. Entah itu mengerjakan skripsi atau membuat proposal bisnis, Karam tidak terlalu peduli tetapi sekarang ia tahu bahwa Badai itu j*****m tingkat dewa. Bagaimana bisa lelaki itu bertingkah sangat cuek sedangkan Karam berada di ambang kematian seperti ini. "Hizam, cowok yang harusnya lo temui beberapa hari yang lalu." Karam berucap gamblang. Otaknya sudah mentok dan Karam tidak memiliki keinginan untuk berbohong. Kebohongan adalah pintu menuju kebohongan yang lain. Karam takut karma, apalagi mengingat namanya bersahabat erat dengan kata karma, duh. Nissa melotot lebih lebar lagi. Karam bahkan takut mata perempuan itu menggelinging cantik. "Lo gila?" Nissa berucap dengan geture mulut tanpa suara. Beberapa kali melirik kearah Badai yang menyibukkan diri seolah tidak peduli dengan hal berbau pertemanan wanita di depannya. "Gue kemarin juga nggak tau kalau dia kating kita." "Kenapa nggak bilang sama gue?" "Lupa." Nissa menatap Karam kesal lalu menoleh penuh kearah Badai. Diam sejenak untuk memikirkan sesuatu. "Kak Badai, maaf ya kemarin aku lagi ada urusan jadi nggak bisa datang." Nissa berujar manis. "Karena takut Kakak kecewa makanya aku minta tolong Karam buat gantiin aku." Karam memilih untuk diam dan memakan kentang goreng yang ada di mejanya. Angkat tangan dengan masalah hubungan sepasang mantan calon tunangan. "Karam udah bilang kemarin," Badai berujar dengan tenang. "Gue juga udah tau kalau anak Pak Wijaya nggak mungkin ke resto terkenal pake baju kek gitu." Badai melirik Karam yang menatapnya kesal sambil memakan kentang goreng dengan ganas. "Kak Badai nggak marah?" "Enggak, biasa aja. Lagian gue juga nggak suka sama acara jodoh-jodohan kayak gitu." Kratak Karam menoleh, mencari suara retakan yang sepertinya ia dengar dari Nissa. Tentu saja itu hanya imajinasi Karam, tapi menilik ekspresi Nissa sepertinya hati gadis itu yang pecah. "Kak Badai udah bilang ke keluarga kalau nggak mau?" tanya Nissa cemas. Mengetahui bahwa Badai adalah calon tunangannya, mendadak Nissa menyesal karena tidak datang sendiri ke acara kopi darat itu. Nissa tidak mencintai Badai, namun sebagai perempuan normal tentu ia tidak akan membuang kesempatan untuk bisa bersama dengan the most wanted man di kampusnya. Badai adalah paket komplit lelaki idaman semua wanita. Jatuh cinta pada Badai akan semudah membalik telapak tangan. "Udah, gue dateng ke acara itu juga buat nolak perjodohannya kok." Kejjaaaaamm... Karam berucap dalam hati. Beneran deh, si Badai ini benar-benar manusia sadis yang tega menghempaskan orang tanpa memikirkan hati dan perasaannya. Padahal sudah kelihatan jika Nissa mengharapkan Badai. Well, meskipun dalam hal ini Nissa yang salah sih. Eh, Karam juga salah sih. "Tapi aku belum ngomong sama Mama" Nissa berucap cukup pelan. "Nanti aku coba ngomong deh, soalnya kemarin kelihatan maksa gitu." Nissa memaksa untuk tersenyum. Karam yang menyadari suasana canggung di sana merasa bersalah. Ia sadar jika dirinya adalah orang luar dan termasuk dalam trouble maker, orang ketiga, atau sejenisnya. Karam tidak ingin disalahkan, dan mungkin menjauhi masalah adalah pilihan terbaik. "Gue ada urusan nih. Gimana kalau kalian ngobrol dulu, kemarin kan nggak jadi ngobrol, jadi gantinya hari ini." Karam mencoba memberi solusi, dan Nissa nampak senang dengan saran sahabatnya. Sedangkan Badai, lelaki itu menatap Karam datar, namun entah mengapa Karam merasa bulu kuduknya merinding. Apa barusan ada setan lewat? Tanyanya dalam hati. "Lo udah pesen makan barusan." Badai menyahut, membuat Karam tak jadi berdiri dari kursinya. "Siapa yang bakal makan?"          "Lo?" "Gak." "Nissa mau?" tawar Karam. Nissa nampak tersenyum canggung. Rasanya akan memalukan memakan pesanan orang lain terlebih di depan lelaki sekeren Badai. Pada akhirnya Nissa menggeleng, menolak dengan canggung. "Gue bungkus aja deh," putus Karam hendak berdiri dari kursinya. "Tuh makanan lo dateng. Kalau bungkus bayar sendiri." Karam hanya memutar bola matanya jengah. Lama-lama ia sudah kebal dengan perlakuan Badai. "Dasar dementor." "Apa?" "Kalau marah makin cakep," ralat Karam sambil memakan pesanannya, sosis bakar jumbo. "Kalian kelihatan akrab," ucap Nissa sambil memandang Karam dan Badai bergantian. Perempuan itu menatap penuh curiga kearah sahabatnya. "Nggak juga, tadi kebetulan ketemu di kampus." Jawab Karam. "Terus keluar bareng gitu?" Nissa membatin. Tidak mungkin bagi oran yang tidak dekat untu menghabiskan waktu bersama seperti ini. "Dia kasian sama gue, kelihatan kelaperan kali." Dalih Karam mencoba menjawab dengan tetap berteguh pada zona aman. "Hari Jumat dianjurkan bersedekah," Badai berucap lagi, masih dengan wajah lempemnya. Bagi Nissa ucapan Badai seperti sebuah cemohan dan ia tidak lagi mempermasalahkan bagaimana keduanya terlihat seperti berkencan. Sedangkan kini Karam tengah mencibir Badai diam-diam, namun tidak menampik. Karam menelan sosis jumbo hingga pipinya mengembung bulat. Ia ingin segera menghabiskan dan angkat kaki dari tempat ini. "Kak Badai lagi sibuk apa sekarang?" tanya Nissa. "Skripsi." Badai menjawab tanpa mengangkat kepalanya. Karam diam sambil mengamati keduanya. "Eum... kemarin ortu Kakak jawab apa waktu nolak perjodohan?" "Biasa aja. Gue udah sering nolak." "Oh... Aku agak kesusahan di mata kuliah ekonomi murni. Kira-kira Kakak bisa bantu nggak?" Kali ini Badai mengangkat kepalanya. "Nggak bisa, gue lagi skripsi." Karam memeluk dirinya sendiri, melihat jawaban dingin Badai. Gila! Rasanya mereka seperti pindah nongkrong di kutub utara. Suasanya bahkan bisa membuat sosis di piring Karam mendadak dingin. "Oh... Gitu ya..." Ponsel Karam berbunyi dengan nada dering nokia yang khas. Perempuan itu melihat nama kontak dan menghela napas lega tanpa sadar. Dengan penuh rasa haru, Karam mengangkat panggilan itu dan langsung berucap tanpa jeda. "Oh, udah nungguin di sana. Oke-oke gue otw. Tadi kelupaan, lo sih nggak ngingetin. Oke-oke." Karam menyuap sosis terakhirnya dan mengunyahnya cepat, mendengar balasan heran dari lawan bicaranya dan meminum minumannya hingga tandas. Setelah memastikan ia tidak akan tersedak, Karam berdiri dari duduknya. "Makasih makanannya ya Senior Badai. Nis, gue pergi dulu, di sini makannya enak. Oke, bye-bye..." Karam berucap dengan cepat hingga Badai tidak sempat untuk menahan perempuan itu lebih lama lagi di sana. Badai menatap punggung Karam yang berjalan dengan santai sambil sesekali mengucapkan terima kasih kearah pegawai yang tadi mengantar makanan ke mejanya. Badai masih melihat ketika perempuan itu menutup pintu kaca café-nya. Karam lalu berdiri di pinggir jalan dan menoleh kearah Badai dan Nissa. Senyumannya kelewat lebar, mungkin karena perutnya kenyang. Perempuan itu melambai sebentar kemudian berjalan menyusurti trotor hingga hilang dari pandangan Badai. "Waktu ketemu, Karam bilang apa ke Kakak?" Nissa membuka suara setelah keheningan menyapa mereka dalam waktu yang cukup lama. Nissa mengamati bagaimana lelaki itu menatapnya tajam, dingin, dan tak tersentuh. Sepertinya gosip yang mengatakan bahwa Badai memiliki sifat sesuai dengan namanya adalah benar. Badai seolah memberikan garis batasan pada tiap orang melalui tatapan matanya. "Lo nggak bisa dateng, ada urusan." "Apa dia pura-pura jadi aku?" Nissa mencoba menebak. Ia masih ingat dengan jelas bahwa ia meminta Karam untuk berpura-pura menjadi dirinya dan membuat calon tunangannya ilfiel. Rasanya Nissa ingin menenggelamkan diri menyadari kebodohannya. "Kenapa nggak tanya ke Karam aja." Badai terlihat enggan menjawab, dan jujur sikap dingin Badai membuat Nissa merasakan gelenyar sakit hati yang nyata. Belum ada lelaki yang mengabaikannya sampai seperti ini. "Aku takut Karam bohong." "Kenapa dia harus bohong?" Badai menyisihkan laptopnya, tidak mematikan namun Badai merundukkan layarnya. "Soalnya, kemarin dia nggak bilang kalau calon tunanganku itu Kakak." Nissa berucap dengan jujur, dan ia kembali kesal mengetahui fakta satu ini. Karam seolah mengkhianatinya. "Terus Karam yang salah?" "Ya, dia sembunyiin hal ini dari aku." Badai mengangguk-angguk. "Itu urusan kalian sih." Ujarnya seolah tidak peduli. Mereka kembali terjebak dalam keheningan yang terasa menyesakkan bagi Nissa. Perempuan itu diam saat melihat Badai sibuk dengan ponselnya. Nissa mengamati bagaimana lelaki dingin itu terlihat fokus pada segala hal yang dilakukannya. Bahkan Badai yang mengabaikannya saja bisa terlihat setampan ini. "Kak aku boleh minta nomor ponsel nggak?" Nissa mencoba memberanikan diri. Terlihat jika Nissa cukup gugup mengingat ini adalah kali pertama dirinya meminta nomor ponsel lelaki. Biasanya dirinyalah yang dimintai nomor ponsel. "Buat apa?" tanya Badai kalem namun terdengar begitu menusuk. Jelas ini adalah penolakan secara halus. "Buat ngasih kabar. Aku kan belum bilang ke orangtuaku tentang perjodohan kita." Rasanya Nissa ingin memuji dirinya sendiri. "Sini ponsel lo." Badai menggadahkan tangannya meminta ponsel Nissa, dan perempuan itu dengan raut bahagia memberikan ponselnya setelah membuka kunci pola di sana. Badai terlihat mengetik sesuatu di ponsel Nissa dan ponselnya. Sepertinya Badai menyimpan nomornya sekaligus menulis nomor ponsel Nissa di sana. Tak memakan waktu lama, Badai mengembalikan ponsel Nissa. Lelaki itu kemudian berdiri dari duduknya. "Gue ada urusan, mau ngecek kantor," ujarnya sambil menenteng laptop. Nissa hanya mengangguk sembari memasang senyum terbaiknya. Perempuan imut itu menatap Badai yang menghilang diantara dekorasi café yang semakin dalam. Masih dengan senyum merekah, Nissa mengutak-atik ponsel miliknya. Gadis itu mencari kontak atas nama Badai, namun tak ada. Tak kehilangan akal, Nissa mencari kontak atas nama Hizam, namun juga tak terfaftar di kontaknya. Nissa menggerutu, kontaknya sangat banyak dan ia menyesal karena lupa menanyakan dengan nama apa Badai menyimpan kontaknya di ponsel Nissa. "Aiiissh, kenapa bego banget sih..." gerutu Nissa pada dirinya sendiri. *** "Pian, gue lagi di ambang kematian nih," Karam menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan. Sekarang keduanya tengah berada di salah satu tempat ngopi murah meriah yang menyediakan wifi gratis dan colokan. Beberapa saat yang lalu Pian menjemputnya di jalan tak jauh dari café Badai. Lelaki berwajah tengil tetapi ngangenin itu membawa dua laptop dan tumpukan tugas yang harus diselesaikan. Dan saat ini, hanya Karam harapan terbesarnya. Jika tidak bisa-bisa ia harus mengulang hampir seluruh mata kuliah mengingat seberapa banyak tunggakan tugasnya. Namun semenjak beberapa waktu yang lalu, sang pahlawan tugasnya hanya menghabiskan waktu dengan kefrustasian yang tidak Pian ketahui sebabnya. "Please deh Kar. Mending lo bantuin gue ngerjain tugas, abis itu lo bisa curhat 2 x 24 jam ke gue. Serius." "Gue nggak ada niatan curhat ke elo. Makin rumit entar masalah gue." "Lah terus ngapain lo frustasi di depan gue?!" Pian tak habis pikir. Karam memang paling jago membuatnya kesal bukan main. "Kalo frustasi di depan baigon bisa-bisa kelepasan terus gue minum. Kalo di depan tali bisa gantung diri. Kan mending di depan hewan." Karam berujar setelah mengangkat kepalanya. "Hah, hewan apa?" "Coba nggong-gong." "Guk?" "Nah, kan. Lumayan buat hiburan." Karam tertawa puas melihat kebodohan lelaki di hadapannya. Pian memang paling enak jika dibodohi seperti ini. Lumayan buat menghilangan stress, itulah mengapa kali ini ia bersedia keluar dengan Pian dengan suka rela tanpa iming-iming makanan. Selain fakta bahwa perutnya sudah dipasok oleh Badai. "Anjing ya lo." "Gue anjing?" Karam melotot melihat Pian yang keceplosan mengumpatinya. "Enggak gue yang anjing. Guk-guk. Lo mah malaikat." Pian berujar dengan sabar. Sudah biasa... batinnya. Karam mendengus. "Tugas lo apa aja?" tanyanya. "Akhirnya..." Pian mendesah lega. Akhirnya Karam kembali normal dan bersedia membantunya. "Ada Pengantar Bisnis, Akutansi Keuangan Dasar I, Matematika Bisnis, Tata Niaga, dan ..." "Banyak banget! Gila lo? Deadline-nya kapan?" Karam memotong ucapan Pian. "Senin depan." "Gila lo?! Itu bikin apaan? Jangan bilang bikin proposal?" Karam menatap Pian dengan was-was. Seingat Karam tugas mata kuliah yang disebutkan Pian adalah membuat proposal penelitian dan topik tertentu. Dan cengiran Pian membuat Karam ingin melempar kursi pada wajah lelaki tampan itu saat ini juga. Karam menggeram frustasi, kenapa juga ia harus punya teman merepotkan seperti Pian. "Kenapa baru dikerjain sih." Gerutu Karam. "Kemarin kan gue sibuk." "Kampret, lo sibuk apaan? Perasaan kelayapan mulu." "Gue sibuk kejar lo. Makanya jangan lari, nyerah aja terus jadi pacar gue." Karam mengangkat kepalanya dan menatap Pian tajam. Dari pandangan matanya perempuan itu menegaskan bahwa ia akan membunuh Pian jika lelaki itu masih punya keberanian untuk bercanda di tengah deadline yang mencekam. "Ampun boss," ucap Pian sambil mengangkat tangannya. Lelaki itu tersenyum dengan penuh sesal. Memasang wajah bagai manusia paling menyedihkan di dunia. Please bantuin, mohonnya melalui tatapan mata bulatnya. "Kemarin gue abis denger lagu dangdut, dan keinget sampe sekarang," ujar Karam tiba-tiba. Pian menurunkan tangannya dan menatap Karam bingung. Ia tidak bisa mengikuti pergantian topik yang mendadak ini. "Apaan?" "Ada uang abang sayang~" "Assiyaaaap... Berapapun tarifnya gue jabanin!" Seru Pian yang langsung paham dengan maksud Karam. Karam tersenyum lebar, ia membuka laptop yang sudah disediakan oleh Pian dan menyalakannya. "Gue ngerjain Akutansi Keuangan Dasar I, Matematika Bisnis, sama Tata Niaga, lo sisanya." Karam dengan cepat membagi tugas. "Tapi nanti bantuin juga ya, gue kerjain sebisanya." "Iya bawel." Suara ponsel nokia berdering bersamaan dengan suara getar di meja. Karam melihat layar ponsel jadulnya dan mengernyit ketika melihat sebuah nomor tak dikenal meneleponnya. Dengan cepan Karam mengangkatnya, menunggu seseorang di sana berucap namun hingga beberapa detik berlalu tak ada suara yang menyapa. "Hallo, ini siapa ya?" Pada akhirnya Karam mengalah dan menyapa lebih dulu. Tetap tak ada sahutan, Pian mengamatinya dalam diam. "Halooo lohaaa. Halo-halo Bandung..." Karam mulai gila dan setelah itu terdengar suara sambungan terputus. "Siapa?" tanya Pian penasaran. "Nggak tau, salah sambung kali." Jawab Karam sambil menghendikkan bahunya. Perempuan itu lantas meletakkan ponselnya dan berkutat dengan tugas Pian yang terbengkalai. "Ya ampun, gue baik banget sih. Sampai mau direpotin kayak gini..." gumam Karam memuji dirinya sendiri. Pian memilih mengangguk, tak ingin membuat masalah dan membuat pahlawan tugasnya ngambek. "Iya, baik banget kayak malaikat." Malaikat maut yang menguras isi dompet Pian. Pian mah orangnya ikhlas...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD