Chapter 10: Ruang

1655 Words
"Kan udah gue bilang Nis. Gue pura-pura jadi lo tapi kayaknya ketahuan. Waktu ketemu dia emang curiga tapi kayak masa bodoh gitu. Tau-tau dia udah ngerti kalau gue bukan lo." Karam menjelaskan pada sahabatnya yang nampak masih memendam kekesalan. Karam mencoba bertahan dalam kesabaran meskipun beberapa kali melirik kearah jam yang tertera di ponselnya. Ia harus segera ke café kampus. Ini adalah hari Sabtu, perkuliahan libur namun café kampus buka namun hanya setengah hari. Dan pagi ini, Nissa mencegatnya di depan café seolah tidak sabar untuk mendengar penjelasan Karam. "Kenapa lo nggak bilang kalau dia itu Kak Badai? Lo mau nikung gue ya?" Sedari tadi perempuan itu terus menyudutkan Karam, dan Karam tahu betul bahwa posisinya di sini sebagai pihak yang bersalah. "Gini Nis. Pertama, gue beneran lupa dan lo sendiri nggak tanya lebih lanjut. Kedua, lo yang minta gue buat gagalin perjodohan lo karena lo punya gebetan sendiri. Ketiga, gue minta maaf karena gue lupa. Dan sekarang gue ada kerjaan di café." Karam berujar dengan ketenangan yang mengagumkan. Jika ini orang lain, pasti mereka sudah adu jambak sekarang. "Sejauh mana hubungan lo sama Kak Badai?" Nissa masih jauh dari kata puas. "Hubungan kami kayak anak sultan yang suka kasian lihat sobat missqueen kayak gue. Kami berdua bisa ngobrol karena gue sama dia sadar kalau kami nggak mungkin masuk ke ranah romantis." Karam menjelaskan dengan keyakinan yang dalam. Tak ada keraguan seakan gadis itu tahu benar dimana tempat ia berpijak. Badai dan Karam seperti dua hal yang tidak akan pernah bisa disandingkan. Bahkan dari hal semacam takdir sejak mereka memiliki nama. Si kaya tidak akan dengan bodoh mencintai gadis miskin yang hobi makan sepertinya. Dan si miskin cukup tahu diri dimana batasan yang ada. Mengetahui Karam sadar akan posisinya, Nissa terdiam. Perempuan itu menarik napas kemudian berucap dengan nada yang penuh akan rasa bersalah. "Yaudah, maaf ya Karam. Gue cuma kesel karena ngerasa lo nyembunyiin ini," ujarnya. Karam mengangguk. "Gue juga minta maaf, bagaimanapun gue juga salah." Karam menarik senyum, tersenyum dengan canggung. "Gue kerja dulu ya," ujarnya pamit yang dibalas dengan anggukkan. Karam berbalik memasuki café, tersenyum setengah meringis mendapati tatapan dari seniornya yang seolah penasaran dengan masalahnya. Semua pekerja café tahu bahwa Karam tidak memiliki banyak teman, dan melihat Karam bertengkar dengan temannya yang bisa dihitung jari membuat mereka khawatir. Karam adalah pekerja paling bontot, dan mereka semua menganggap Karam adalah adik manis yang paling suka dijahili.          "Ada masalah?" Bunga bertanya dengan raut khawatir yang kental. Café ini terdiri dari lima pekerja, dua pekerja perempuan dan tiga laki-laki. Semuanya adalah kakak tingkat, dan hanya Karam yang merupakan anak baru. "Biasa ciwi-ciwi," Karam berujar sambil tersenyum, mengatakan bahwa ini hanya pertengkaran kecil yang tak perlu dikhawatirkan. "Nissa mah cewek, lah elo kan bukan." Ari menyahut tanpa diminta. Karam melirik sadis. Hendak menendang kaki Ari namun gagal karena lelaki itu dengan mudah berkelit. "Turunin kursi sana," perintah Ari dengan seringai jahil. "Awas ya lo, kalau gue kaya kita putus hubungan!" ucap Karam namun tetap menjalankan perintah seniornya. "Kenapa nggak sekarang aja?" Ari malah menantang. Bunga mengamati keduanya sambil menghela napas pelan. Sudah biasa, batinnya. "Kan gue belum kaya, jadi belum bisa sombong!" Karam berucap dengan angkuh. Pertengkaran seperti ini adalah makanan para pekerja sehari-hari. Nggak apa-apa missqueen yang penting sombong, itulah motto hidup semua pekerja. Tapi sombongnya juga tergantung situasi kondisi. "Najis euuw..." "Yang penting gue cantik eeeuuww..." "Dih..." "Dasar bocil-bocil, kapan dewasanya." Bang Alex, senior diantara para senior menyahut, membuat dua manusia itu langsung menghentikan acara debatnya. Bang Alex adalah pekerja senior sekaligus pemantau café kampus. Ia memiliki wewenang seperti boss meskipun café ini adalah milik kampus yang didirikan oleh beberapa dosen.          "Langsung diem mereka," Bunga tertawa puas melihat dua manusia itu. Bang Alex memang paling ditakuti karena auranya yang mencekam. "Karam, lo banyakin temen di kampus." Bang Alex tiba-tiba membahas tentang adik mereka yang paling bontot. Karam terkejut, jarang-jarang Bang Alex memberikan petuah seperti ini. Dan ini benar-benar terasa mengerikan. Ini Bang Alex loh, ketua pekerja yang biasanya diam tapi selalu memantau. "Iya, temen Karam bisa dihitung jari tuh. Meskipun kerja tetep bersosialisasi dek." Bayu menyahut dari balik meja pesanan. "Banyak kok..." Karam membela diri. "Iya, anak cakam (café kampus) semua. Anak kelas nggak ada kan." Bunga menebak. Karam memang ramah dan mudah bergaul, tetapi sepertinya perempuan itu salah sasaran. Semua teman Karam adalah anak cakam yang isinya kebanyakan anak sastra dan anak organisasi. Anak ekonomi jarang kesana karena memang tempatnya cukup jauh dari fakultas dan kebanyakan anak ekonomi nongkrongnya di café luar kampus yang terkenal mahal. "Ada kok..." "Cuma beberapa ekor," kali ini Ari yang menyahut. "Mereka mainnya ke starbuck Bang, bangkrut gue bang kalau nurutin mereka." Karam menggerutu. Bukan tidak pernah dirinya mencoba bersosialisasi dengan teman sekelas, namun kebanyakan teman sekelasnya adalah anak orang kaya atau anak orang sederhana yang memaksa untuk terlihat kaya. Karam tidak ingin seperti itu. "Pastilah ada satu dua anak yang nggak kayak gitu. Lo lihatnya temen Nissa sih, makanya pola pikir lo kayak gitu." Bunga menyahut. Perempuan itu memang sedikit tidak suka pada Nissa. Entahlah, Bunga tidak memiliki alasan khusus tapi ia merasa Nissa tidak sepolos yang diperlihatkan pada orang-orang. Karam mencoba mengingat-ingat sembari mengusap meja dengan kain lembab. Dipikir-pikir, Karam memang selalu menyorot kearah teman-teman Nissa karena memang Nissa sering ada di sekitarnya. Ada juga Pian tapi geng Pian isinya cowok semua. Sepertinya memang Karam yang kurang memperhatikan semua teman sekelasnya. "Iya deh, nanti gue bakal lebih peka lagi." "Lo tuh anak baik," Bang Alex berujar singkat kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Karam yang cukup terharu karena tahu bahwa rekan kerjanya ternyata sangat perhatian padanya. Duh, pengen nangis rasanya. *** "Badai..." Mama Badai membuka pintu kamar anaknya dengan hati-hati. Ia tersenyum kecil saat melihat Badai tiduran sambil membaca buku. "Lagi apa?" tanya Mama Badai sembari mengambil tempat duduk di samping ranjang anaknya. "Lagi baca buku Ma," jawab Badai yang kemudian menutup bukunya. Lelaki itu mencoba untuk bersikap biasa meskipun tahu kemana arah pembicaraan pagi ini. Biasanya kalau sang Mama sudah masuk kamar sambil memasang senyum mencurigakan ini, pasti ada aja petaka bagi Badai. "Ada apa?" tanya Badai dengan sabar. "Kemarin Mama dapat telepon dari Ibu Wijaya. Ituloh yang anaknya namanya Nissa." Mama Badai nampak antusias dan hal itu mengundang kernyitan curiga di dahi Badai. Sepertinya ada yang tidak beres. "Katanya mau ketemu lagi tuh." Tuh kan... "Aku nggak suka sama dia Ma." Badai menolak dengan halus namun terselip ketegasan di sana. "Kamu beneran belum move on ya?" picing Mama-nya curiga. "Kenapa Mama masih mikir begitu sih..." Badai nampak sudah kehabisan akal untuk meyakinkan ibunya. "Lah kamu sih, ini anaknya cantik bangetkan. Baik pula, sekarang alasan nolaknya apalagi. Mama juga tahu kalau kamu udah beberapa minggu nggak bimbingan kan? Pak Agung itu kan temen Ayah kamu, jadi jangan pikir kamu bisa nyembunyiin masalah kuliah ya." Mati udah... Badai paling kesal jika sudah seperti ini. Kenapa sih orangtua selalu mengaitkan satu masalah dengan masalah lain. "Aku nggak bimbingan karena emang masih sibuk ama café." "Kamu nggak lagi frustasi kan? Mama baca di internet, orang kalau udah frustasi itu ciri-cirinya ya kayak kamu ini. Kuliahan terbengkalai, nggak mau cari cewek baru." "Enggak Ma..." "Coba deh kamu ketemu lagi sama Nissa, mungkin aja co—" "Aku udah ada gebetan baru," Badai memotong ucapan Mamanya. Badai sudah tidak memiliki cara lain untuk kabur dari acara jodoh-jodohan konyol seperti ini. Berdasarkan riset yang ada di film-film cara ini adalah cara yang paling ampuh. "Hah, beneran? Pasti bohong kamu ya?" Mama Badai tentu tidak langsung percaya. Butuh waktu lama bagi Badai untuk bisa dekat dengan seseorang terlebih yang bergender wanita. Dan mendapatkan pengakuan bahwa sang anak memiliki gebetan adalah hal yang mengejutkan. "Beneran... Makanya aku nggak mau jodoh-jodohan kayak gini. Aku juga bisa cari jodoh sendiri Ma." "Namanya siapa?" Mama Badai menatap antusias dan hal itu sedikit membuat Badai merasa bersalah. "Karam." Badai tak menemukan nama lain di otaknya. Hanya Karam yang terlintas begitu saja. Sang ibu nampak terkejut. "Kok namanya gitu, aneh." Ucapnya dengan jujur. "Dipikir nama Badai nggak aneh?" jawab Badai yang membuat Mama-nya mencibir. "Kamu tertarik sama dia karena namanya sama aneh kayak kamu?" tebaknya. Badai menggeleng dengan ragu-ragu. "Nggak tau juga." "Anaknya gimana? Kamu kan sulit banget nemu cewek yang cocok." Mama Badai benar-benar terlihat penasaran. Dari namanya saja sudah unik, sepertinya gebetan Badai juga unik. Ah, bisa mendapatkan label sebagai gebetan Badai saja sudah menunjukkan bahwa perempuan ini luar biasa. Mama Badai tahu betul bagaimana anaknya tumbuh menjadi lelaki tampan tapi dinginnya minta ampun. Badai tersenyum tipis, sangat tipis namun masih bisa ditangkap dengan mudah oleh manik mata sang ibu yang sudah membesarkan dari kecil. "Dia aneh. Dia satu-satunya cewek yang keluar sama aku bukan karena aku ganteng, tapi karena aku bisa bikin perut dia kenyang." "Besok bawa sini ya?" sahut Mama-nya dengan antusias. "Mana mungkin, cuma gebetan juga. Si Niken juga baru kuajak kesini waktu udah satu tahun kan." Badai melotot. Ia kira ibunya akan puas hanya dengan kebohongan kecil bahwa ia memiliki gebetan. "Tapi Mama penasaran. Jangan-jangan kamu bohong nih..." Mama Badai menatap Badai yang terlihat kelabakan. "Enggak, beneran ada si Karam." "Kalau gitu foto deh, minimal foto. Biar Mama tahu anaknya kayak apa. Kepo ih..." Mama Badai senang bukan main. "Mama nih aneh banget, segitunya ngurusin kehidupan cinta anaknya." Badai turun dari kasur. Lama-lama dirinya tidak tahan ditanyai terus seperti ini. Dan satu-satunya cara adalah kabur ke café miliknya. "Mama tuh takut kamu jadi jomblo seumur hidup. Lagian jadi laki jangan dingin-dingin kenapa sih..." "Ma aku ke café dulu." "Tuh kan, sama Mama sendiri aja dingin bukan main." "Iya nanti aku kasih lihat fotonya. Tapi jangan protes entar... Udah berangkat dulu Mam, bye..." Badai kabur begitu saja, meninggalkan ibunya yang masih duduk di ranjangnya sembari menduga-duga seperti apa Kara mini. Sepanjang perjalanan, Badai mengacak rambutnya dengan gusar. "Mampus gue mampus. Gali kuburan sendiri. Bawa-bawa si Karam lagi, duh!" Badai menggerutu, menyesal bukan main telah menyulut kebohongan seperti ini. Kalau kata Karam, satu kebohongan akan menciptakan kebohongan-kebohongan yang lain. "Aaah, udah gila gue..." gerutu Badai lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD