Chapter 20: Mager

2236 Words

Tanpa mendung tanpa awan. Kamu berdiri di sini. Tanpa ucapan hanya kehadiran. *** Pian beberapa kali menatap kearah samping café. Waktu berlalu cukup lama namun perempuan itu belum juga kembali. Pian nampak gusar. Entah sudah berapa kali ia melihat kearah yang sama, tempat Karam menghilang meninggalkannya. Pian meragu, haruskah ia lebih lama menunggu atau mencari. Pandangannya lalu jatuh pada teh hangat yang hampir mencapai dasar. Detik berikutnya Pian berdiri, berjalan dengan pandangan mata menyapu keadaan. Dan saat ia berada di belokan, rasanya jantung pian seakan di tikam. Untuk kedua kalinya Pian merasa gagal. Di depan matanya, Karam menangis dalam pelukan lelaki lain. Badai. Napas Pian seketika memberat, seolah oksigen tak lagi memiliki kadar yang sama. Hatinya sesak bukan main.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD