Chapter 19: Samping Cafe

1382 Words

Ia seperti pohon besar diantara terik menyakitkan. Pelataran toko ketika hujan lebat. Dan perapian ketika musim dingin tiba. Karam tak jadi ke kamar mandi, ia kembali ke meja luar café Noname. Pandangannya tak lepas dari Pian dan lelaki itupun sama. Saat Karam menempatkan dirinya di depan Pian. Perempuan itu tersenyum seindah kuncup pertama musim semi. "Pian, makasih ya..." ucapnya yang menarik senyum yang sama di wajah Pian. "Makasih udah jadi yang paling nyaman," lanjut Karam yang mampu menghilangkan kegusaran di hati Pian. "Ngapain aja hari ini?" senyuman tak pernah lepas dari wajah Pian. Kegelisahan meninggalkan gebetan di tempat saingan tentu membuat mata Pian seperti panda saat ini. Sebenarnya Pian berniat langsung ke tempat Karam sejak dini hari tadi. Namun Ibunya meminta tolong

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD