Chapter 14: Pengamat

1514 Words
Karam berbincang dengan teman-teman Badai, namun kegelisahan tercetak jelas di wajah cantiknya. Karam nampak beberapa kali menatap gusar kearah luar café. Matanya was-was tiap ada kendaraan yang lewat. Karam belum memiliki ide untuk menghadapi Pian. Lelaki itu pasti akan bertanya tentang luka di pipinya dan membalas si pelaku dengan luka yang lebih parah. Masalahnya adalah pelaku pemukulan sialan ini adalah Ayahnya sendiri. Karam masih bimbang apakah ia harus jujur atau tidak. "Kenapa?" Badai bertanya pada Karam, membuat perempuan itu terkejut. "Pian mau kesini," aku Karam dengan sorot mata bersalah. Karam tidak tahu alasan pasti mengapa ia merasa bersalah. "Nggak apa-apa?" tanya Karam memastikan ia tidak akan mendapatkan amarah. "Café udah tutup," Badai menjawab, pandangannya teralih kearah luar café. Tiba-tiba ikut memperhatikan kendaran yang lewat. "Jadi nggak boleh?" ulang Karam memastikan. Badai terdiam sejenak, menarik napas dan menghembuskannya diam-diam. "Gue nggak ada hak buat ngelarang." Karam menatap Badai dengan bingung. "Gimana sih?" Badai berdiri dari duduknya, memberikan kode kepada Karam untuk mengikutinya. "Kemana?" tanya Lisa penasaran. Lisa juga mengamati bagaimana Badai memberikan jaketnya pada Karam. Bukan adegan romantis seperti menyampirkan di pundak, namun untuk ukuran manusia eskimo seperti Badai. Rasanya Lisa ingin bertepuk tangan dan memberikan penghargaan pada si cantik Karam. "Cari angin," Badai menjawab dan berjalan lebih dulu, diikuti oleh Karam yang sedikit kebingungan. Perempuan itu kini seakan tenggelam dalam jaket denim khas lelaki kepunyaan Badai. Mereka berdua kini duduk di bagian luar café. Meja kayu bulat dan kursi nyaman dengan lampu temaran berwarna kuning remang-remang. Karam masih mengamati situasi yang ada. Badai adalah simbol dari kemisteriusan dengan campuran hal mistis. Karam selalu menebak-nebak lebih dulu hal apa yang akan dilakukan lelaki itu. "Udah baikan?" Suara Badai yang serak menyatu bersama angin. Karam tidak mengerti mengapa pertanyaan sederhana itu seakan memberikan percikan aneh pada dirinya. Setelah waktu berlalu begitu lama, Badai baru mengajukan pertanyaan yang sedari tadi dicemaskan oleh Karam. "Kenapa baru tanya sekarang?" Alih-alih menjawab, Karam malah turut bertanya. Ia hampir mengatakan baik, berkat lo. Namun, hal lain mengusiknya. Tentang mengapa Badai berbeda dengan orang kebanyakan. Manusia normal lain akan langsung bertannya kenapa saat melihat orang yang dikenalnya menangis, namun Badai seolah menyimpan pertanyaan itu. Awalnya Karam mengira bahwa Badai tidak peduli dan Karam memahami hal itu. Dia adalah Badai, manusia cuek dan dingin yang seakan punya dunianya sendiri. "Karena lo kelihatan udah sedikit sembuh." Suara Badai mengalun dengan fraksi yang berbeda dari biasanya. Lelaki itu masih terlihat seperti titisan iblis namun ada perhatian yang menyeruak di sana. Seakan paham, kata sembuh yang dimaksud Badai bukan lebam di pipinya, melainkan luka sayat di hatinya. Tidak semua orang merasa lebih baik ketika ditanyai saat sakit hati. Pertanyaan itu kadang begitu mengganggu, memberikan luka baru. Tidak semua orang ingin berbagi. Ada batasan-batasan bagi tiap orang. Karam mengulum senyum, tidak menyangka Badai yang dingin sebenarnya memiliki kehangatannya sendiri. "Badai, lo sadar nggak kalau sebenernya lo itu orang yang perhatian." Badai nampak terkesiap, ia mengalihkan pandangannya menatap jalanan yang gelap. "Nggak," jawabnya cuek. Karam tertawa kecil, kali ini terlihat seperti Badai sungguhan. "Sebenarnya lo pengen tahu kan, tapi lo takut buat nanya." Karam bukan cenayang. Ia tidak bisa membaca kartu tarot. Tapi Karam memiliki keahlian dalam membaca situasi dan memahami seseorang. Keahlian itu ia dapat setelah mengikuti puluhan lomba debat, tak heran jika perempuan itu bisa membaca manusia paling misterius seperti Badai. "Lo takut kalau lo tanya, lo bakal bikin gue makin sakit? Bener?" "Gue nggak mau lo cerita sambil kesesekan, nanti ingus lo kemana-mana." Badai masih membuang muka. Dalam hati bertanya-tanya kenapa Karam selalu bisa menebak dirinya. Badai curiga jika Karam adalah anak indihome. "Heemm, so sweet~" goda Karam yang membuat Badai memutar bola matanya. Badai tak menjawab, ia melempar tatapannya kearah jalanan. Tak ingin menatap Karam yang masih betah menggodanya. "Berhubung lo udah jadi pahlawan super hari ini, gue kasih kasih dongeng." Badai tak menyahut, lelaki itu menatap Karam yang nampak merenung dalam beberapa saat. Ada kepedihan di sana, ada rasa lelah. Meski enggan mengakui, mendadak Badai rindu senyuman menyebalkan perempuan itu. "Suatu hari, Putri Salju pulang dari hutan. Hari ini para kurcaci mengajaknya bermain dan ia pulang dengan riang gembira. Saat ia sampai di rumah, ia mendapati Ayahnya tengah menghabiskan waktu dengan salah satu selirnya. Aroma anggur hutan menguar, mata Ayahnya merah, ia mirip beruang liar yang sering mengejar Putri Salju saat berada di hutan. Ayahnya marah dan memukul Putri Salju karena mengganggu waktu berharganya dengan sang selir. Putri Salju kabur berharap bertemu pangeran kodok, tapi malah bertemu dementor yang sedang mencari buronan Azkaban. Tamat." Karam bercerita seperti tengah mendongengi balita berpopok. Perempuan itu begitu cerdas dalam menutupi kesedihan. Badai tiba-tiba penasaran berapa IQ yang dimiliki alien satu itu. Tapi, ada satu hal yang sangat mengusiknya. "Lo nggak cocok jadi Putri Salju," komentar Badai dengan ekspresi benar-benar keberatan. "Lo cocok banget jadi dementor!" balas Karam tak mau kalah. Badai tersenyum kecil dan meletakkan telapak tangannya yang besar di kepala Karam. "Kerja bagus hari ini," ucapnya yang membuat Karam tertegun. Kali ini Karam yang membuang muka, enggan menatap wajah Badai lama-lama, takut diabetes. Sentuhan dari tangan besar yang dingin itu, seolah menunjukkan bahwa hari Karam tidak terlalu buruk. Atau setidaknya, Karam telah melewatinya dengan baik. Ketika kepalanya kehilangan sentuhan, Karam berpikir apa yang menyebabkan Niken menyiakan lelaki seperti Badai. Lelaki itu sempurna, jika kata eskimo, dementor, beruang kutub, dan titisan iblis disensor. Mungkin, ada kesalahpahaman dari dua hati yang menatap kearah yang berbeda. Atau satu hati memejamkan mata. Karam memutuskan untuk berhenti menebak. Ia tersadar bahwa masalah hati selalu menjadi misteri. Karena terkadang, pemiliknya saja masih kebingungan. Suara deruman motor membuat Karam mengangkat kepalanya. Deruman motor yang ia kenal betul siapa pemiliknya bahkan ketika Karam memejamkan mata. Motor hitam khas anak muda dengan Pian di atasnya. Lelaki itu melepaskan helmnya dengan cepat, lalu melangkah dengan kaki lebar bersamaan dengan Karam dan Badai yang berdiri dari duduknya. Pian hendak berucap, namun matanya terfokus pada luka lebam dan hansaplas kecil di sudut bibir Karam. Jantungnya berdetak keras dengan luapan amarah yang bisa dilihat jelas oleh Karam. "Siapa?" tanya Pian dengan dua tangan yang nyaris mencengkeram lengan atas Karam. "Siapa orang b******k yang sakitin lo?" Nada rendah itu terdengar seperti geraman singa yang tengah bertemu musuhnya. Manik mata bulat Pian menelisik lebih dekat luka itu. Tangannya hampir gemetaran karena emosi. "Jawab Karam! Siapa?!" Pian berteriak. Membuat Karam tersentak dengan kabut rasa takut yang samar. Badai memegang bahu Pian dengan tatapan tajam mengingatkan. "Jangan berteriak," ucapnya dengan peringatan verbal. Karam masih belum bisa mencerna situasi yang ada. Ia tidak menyangka Pian akan semarah ini, padanya. Ingatan tentang bagaimana Ayahnya berteriak membuat Karam menggigil. "Lo tau siapa yang mukul Karam?! Sebutin namanya sekarang?!" Pian turut mengancam. Manik mata bulatnya merah karena amarah. Badai melepas cengkeraman Pian dengan paksa. Menarik Karam mundur dan mengamati ekspresi wajah Karam yang nampak linglung. Badai berpikir dengan cepat. Kemarahan Pian tidak akan menghasilkan apapun. Karam mengalami hari yang buruk dengan pukulan dari Ayahnya dan sikap kasar Pian hanya akan mengingatkan Karam tentang kejadian yang mati-matian Badai coba alihkan. "Emosi lo nggak bakal nyelesaiin apapun!" Badai melirik kearah pintu café, tempat beberapa temannya menatapnya cemas. Badai memberikan tatapan untuk tidak ikut campur. Tatapan Pian beralih kearah Karam yang menatapnya dengan pandangan yang Pian sendiri tidak dapat simpulkan. Karam masih bungkan sedangkan emosi Pian tidak stabil karena melihat perempuan terluka dengan menyedihkan. Makhluk jahat mana yang tega memukul Karam. Tangan Pian kini benar-benar gemetaran. Tak tahan untuk pulang dan mengabil pemukul bisbol milik adiknya dan menghantamkan ke kepala si pelaku. "Karam, bilang sama gue siapa yang mukul lo!" Pian meyakinkan dirinya jika dia tidak akan pulang tanpa membawa sebuah nama. Karam menggeleng dengan bibir terkatup. Ia menatap Pian dengan tatapan antara kegelisahan dan sedikit bumbu rasa takut. "Karam! Bilang ke gue!" "Nggak! Gue tau apa yang bakal lo lakuin!" Karam baru bisa membalas. Ia teringat kilasan bagaimana Pian langsung menerjang kakak tingkat yang membicarakan Karam diam-diam. Ia teringat bagaimana Pian beradu jotosan bahkan sanksi skorsing yang diterima lelaki itu. "Sebutin namanya atau kita akan kayak gini sampai pagi! Gue nggak akan pulang tanpa tahu nama orang b******k itu!" Napas Pian tersengal karena amarah. Hatinya nyeri. Pian menerima jika dirinya dihajar hingga muntah darah. Apapun, tapi tidak dengan melukai Karam. Orang itu, benar-benar cari mati dengannya. "Dia bukan orang yang bisa lo pukul!" Ada kekhawatiran di nada suara Karam dan hal itu membuat Pian muak. "Bilang sekarang!" desak Pian keras kepala. Namun ia lupa jika Karam lebih keras kepala. Karam menggeleng dengan takut. Jantungnya berdebar hingga sakit dan air matanya nyaris jatuh. Karam benci Ayahnya, tapi tetap tidak ingin melihat orang itu babak belur di tangan sahabatnya. "Pian udah!" Badai turut berteriak. Emosinya yang setenang riak sungai mulai bergemercik. Ia tidak suka Pian membentak Karam. "Lo jangan ikut campur!" teriak Pian hendak menggapai Karam yang dengan sigap di tarik mundur oleh Badai. "Gue yang pukul! Puas lo!" Badai berteriak. Ia tak dapat memikirkan apapun untuk mengusir Pian dari kekacauan ini. Karam jelas tak ingin menyebutkan kata Ayah dan Pian menginginkan sebuah nama. Badai merasa marah, namun amarahnya cukup surut saat keheningan tercipta. Hanya beberapa saat, sebelum bogeman keras yang mampu membuat telinganya berdenging terasa begitu menyakitkan di pipinya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD