Chapter 13: Pertanyaan

2277 Words
"Ternyata alien ini bisa nangis ya," komentarnya. Air mata Karam kembali luruh, isakanannya tak terkendali, namun sakitnya berkurang ketika ia mendapatkan pelukan hangat dari lelaki dingin. "Ingus lo kemana-mana," protesnya yang membuat Karam jengkel hingga tak ingin menangis lagi. Lelaki dingin itu, punya cara sendiri untuk menenangkan seseorang. Karam menyeka hidungnya dengan kaos Badai, membuat lelaki itu menghela napas pasrah. Sejahat-jahatnya Badai, mana tega dia marahin orang yang lagi nangis. Tangisan Karam benar-benar berhenti setelah tujuh belas menit empat puluh dua detik berlalu. Badai memasang stopwatch sembari tak berhenti menggoda Karam dengan memberitahu berapa lama perempuan itu menangis. "Nanggung, sekalian dua puluh menit gih," komentar Badai saat Karam benar-benar telah menghentikan acara menangisnya. "Gue kasih ingus nih!" ancam Karam. "Udah lo kasih kali!" Badai berdecak sambil menatap kaosnya. Untung saja ingus Karam hanya ingus cair yang tidak kental, jadi Badai msih bisa sedikit mentolerir. Badai berdiri dari duduknya, lalu menaiki motor dan menyalakannya. Ia menoleh kearah Karam yang menatapnya dengan manik menggenang, hendak menangis lagi. "Ngapain mewek lagi?" Badai berucap dari atas motornya. "Lo mau kemana?" tanya Karam. Ia tak mungkin kembali ke rumah. Karam terlalu takut untuk kembali ke sana, ia butuh waktu untuk bisa menjadikan rumah itu sebagai tempatnya beristirahat. Badai tak menjawab, lelaki itu menepuk bagian belakang motornya. "Naik," ucapnya memerintah. Ada binaran di manik mata Karam. Tak membutuhkan perintah dua kali, Karam langsung menaiki motor Badai dan menyamankan dirinya sendiri. Badai mengulurkan helm hitam miliknya. "Pakai," perintahnya lagi. "Lo aja," Karam menolak. Selain malas memakai helm besar itu, Karam merasa lebih baik Badai yang memakainya. "Kalau kecelakaan, kebanyakan yang dibonceng yang meninggal loh. Beneran." Badai berucap sadis. Karam meringis dan langsung memakai helm hitam itu tanpa berkomentar lebih lanjut. Deruman motor memecah kota Jakarta. Karam duduk dengan tangan yang berada di bagian belakang penyangga. Tak ada adegan romantis karena Karam takut didepak dari motor besar Badai. Namun teriakan Badai mengintrupsinya. "Pegangan!" teriak lelaki itu. "Ini udah peg—wuaaah!" Karam berteriak dan refleks memegang pinggang Badai. "Badai anjrit gue masih pengen hidup!!!" teriak Karam yang membuat sudut bibir Badai terangkat. Ini balasan karena membuat kaosnya penuh ingus. *** Karam mengikuti langkah Badai memasuki café. Karam sendiri baru tahu bahwa café Badai buka hingga tengah malam. Karam berdiri di depan pintu café, melihat beberapa manusia malam yang menempati beberapa kursi di café Badai. Karam berdiri di sana dalam beberapa saat, melihat ketenangan dalam ruangan penuh aroma kopi. "Minat jadi satpam di sini?" Badai berucap dari pintu café. "Emang cewek bisa?" tanya Karam nampak berminat. Kening Badai berkerut. "Kan banyak." "Gajinya berapa?" Badai merasa percapakannya dengan Karam terdengar semakin aneh. "Lo nggak bisa bedain bercandaan sama seriusan?" Karam terdiam, mencerna ucapan Badai. "Badai, kalau mau bikin jokes mending belajar lagi. Coba latihan di depan kaca, kalau perlu godain kacanya. Itu muka waktu bercanda sama serius sama aja! Mana bisa gue bedain!" "Wah, udah bisa ngoceh. Nggak pengen nangis lagi?" Karam hanya berdesis sebal sembari memasuki café, ia menunduk untuk menyembunyikan lukanya. Badai membawa Karam ke ruangan staf. Badai meninggalkannya dalam beberapa menit dan kembali dengan teh hangat, sosis bakar jumbo, bunkusan kain basah, dan kotak kesehatan. Karam mengulum senyum saat menghirup aroma sosis bakar yang menggoda. Badai menertawainya diam-diam. Sangat mudah menaikkan mood alien satu ini. "Nih," ucap Badai menyerahkan nampan itu di pangkuan Karam. Karam tersenyum lalu menyodorkan wajahnya kearah Badai, dan mengundang kernyitan bingung dari lelaki tampan itu. "Apa?" Karam memundurkan kepalanya. "Mau diobatin kan?" "Lo punya tangan, tangan lo utuh, nggak patah." Karam membuka mulutnya. "Seriously?! Gue ngobatin ini sendiri?!" Karam berujar tidak percaya. Dalam otaknya tergambar adegan romantis mengobati pasangan yang pernah ia lihat dalam film romantis. Badai menahan senyum. Dalam rumus Badai, cara termudah membuat seseorang melupakan kejadian menyakitkan adalah dengan mengalihkan perhatian. Membuatnya merasa tidak mengalami hal buruk. Sesederhana itu. "Kasih alasan kenapa gue harus ngobatin lo?" Karam berpikir. "Biar romantis?" jawabnya tidak yakin. "Najis." Karam menganga sambil mengelus dadanya. Ya ampun itu mulut beneran sadis sumpah. Karam menggeleng kecil, berusaha menyadarkan kepalanya yang sedikit konslet. "Ini gue harus ngobatin sendiri?" gumamnya sambil menatap nampan di pangkuannya. Badai mengamati Karam yang nampak kecewa, lalu memilih untuk sedikit mengalah. Ia mengambil bungkusan kain yang berisi es dan meletakkannya di pipi Karam. "Aduh!" pekik Karam antara nyeri dan terkejut. "Pegang," perintahnya. Karam melakukan perintah Badai tanpa protes. "Berhubung tangan lo lagi sibuk, gue berbaik hati buat bantuin lo." Badai berucap dengan datar, bahkan terkesan dingin. Namun Karam tahu ada kebaikan di sana. "Aaaawww!" Karam memekik ketika Badai mengobati ujung bibirnya. "Tapi gue nggak bisa lembut," lanjut Badai yang disambut desisan sakit dari Karam, dan rasanya ia ingin menarik pemikiran bahwa ada kebaikan dalam diri Badai. Lelaki itu benar-benar titisan setan. Iblis jahat. Dementor tampan tanpa kain lusuh. "Sakit Bai! Lo beneran nggak bisa lembut dikit? Dikiit ajaaaaa!" Karam memprotes. "Bai?" dan Badai balik memprotes. "Bai, singkatan Badai, atau mending Dai aja?" Karam memberikan penawaran dan ini adalah kali pertama Badai mendapatkan penawaran tentang nama panggilan. Badai tak menjawab, ia hanya diam dan menempelkan hansaplas kecil di sudut bibit Karam. "Pian juga kadang gue panggil Pin." Lanjut Karam. "Makan," Badai bergumam. "Hah?" "Makan sosisnya." "Siap!" seru Karam dengan senang hati. Badai menatap perempuan itu dalam diam. Mengagumi ketegaran yang dimiliki Karam. Badai belum mengetahui asal muasal luka di wajah Karam, ia memutuskan untuk menunggu. Nama Karam, benar-benar berbanding terbalik dengan sosoknya. Karam tidak pernah tenggelam dan tidak akan pernah bisa tenggelam. "Badai," Karam memanggilnya dengan suara lirih. "Hn." "Makasih ya..." Karam berucap dengan pandangan lurus ke depan. Melihat pintu ruang staf berwarna hitam atau mungkin tumpukan kardus di sebelahnya. "Gue nggak nyangka kalau lo yang dateng. Kok bisa?" Kali ini, Karam menatap Badai yang sibuk mencari jawaban paling aman di otaknya. "Lo bukan nungguin gue kan." Keduanya tahu bahwa itu bukan pertanyaan. Badai hanya menegaskan situasi yang ada. Namun Karam memilih untuk menjawabnya. "Gue nungguin Pian," jawabnya lirih dengan kekecewaan yang terhembus samar. "Kok lo bisa ada di sana?" "Tadi gue telepon lo rencananya mau marah-marah. Belum gue marahin malah udah nangis." Rencananya, Badai ingin mengataka pada Karam untuk tidak berusaha menjadi cupid pembawa malapetaka. Tak hanya membiarkan Niken duduk, Karam dan Pian bahkan beralih meja seolah sengaja memberikan ruang pada keduanya. Ruang yang membuat Badai merasakan sesak. Ia tidak ingin bersikap dingin pada mantan kekasihnya, namun ia tidak bisa kembali hangat seperti kala itu. "Marah? Marah kenapa?" Badai menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki. Rasanya Badai sudah tidak mood untuk marah-marah. "Jangan mencoba mendekatkan Niken sama gue. Meskipun dia sendiri yang minta." "Gue pikir lo bakal seneng." "Lo nggak bisa bedain muka orang seneng sama nggak?" "Ekspresi lo itu cuma ada dua, jutek sama jutek banget. Mana bisa gue bedain!" Karam membela diri. "Ya pokoknya abis ini jangan lagi." "Iya, maaf..." Keduanya lalu terdiam. Karam melirik Badai sembari beberapa kali menyentuh sudut bibirnya yang terasa nyeri. Ia menunggu. Menunggu Badai melontarkan pertanyaan umum tentang apa yang terjadi pada dirinya. Namun, keheningan diantara mereka tak terisi dengan pertanyaan. Karam kembali menoleh kearah Badai yang kini memainkan ponselnya, nampak mengetik sesuatu. "Laper nggak?" tanya Badai memulai percakapan, namun lelaki itu masih terfokus pada ponselnya. "Kalau gratis apapun gue lahap." Karam menjawab cepat dan hal itu mengundang senyum kecil di sudut bibir Badai. Dalam hati, Karam merasa lega karena ia tidak harus mendongengkan kehidupan buruknya. *** Jam telah menunjukkan pukul satu malam. Karam dan Badai duduk di kursi favorit mereka menikmati kopi hitam yang membuat keduanya bertahan di sana. Café Badai sudah tutup sejak satu jam yang lalu. Pintu masuk telah ditandai dengan tulisan closed namun keduanya masih duduk di tempat yang sama. Ditemani kopi hangat yang membuat keduanya bertahan. Percakapan mereka berjalan dengan acak, disertai keheningan-keheningan yang menenangkan. Mulai dari kucing belang yang lewat di depan café sampai pendapat mereka tentang celana dalam calvin klein. "Celana dalam kehilangan hakikatnya karena merk itu. Orang-orang berlomba menunjukkan celana dalamnya. Aneh banget kan?" "Masih mending daripada nunjukin yang ada di dalem celana dalam." "Eh, bener juga sih..." sahut Karam terkesan dengan ucapan Badai. Selang beberapa detik Karam terkikik. Tidak menyangka Badai akan berkontribusi dalam percakapan seputar celana dalam. "Lo punya nggak? Kayaknya punya ya, nggak mungkin nggak punya." Kali ini Badai tak menjawab, hanya merotasi matanya dan menyesap kopi hitam di mejanya. Kendaraan mulai berkurang dan itu menunjukkan bumi tengah memasuki jam meditasi. "Ngaku aja," Karam penasaran. Rasanya ia ingin melorotkan celana dalam Badai dan melihatnya sendiri. Karam hendak menggoda lebih lanjut namun getaran dari ponsel jadulnya membuatnya teralihkan. Karam diam, menatap nama Pian yang tertera di layar ponsel. Badai berdiri dari duduknya, bersamaan dengan mobil yang berhenti di depan cafenya. "Lo bisa tidur sini," ucap Badai yang membuat Karam berpikir dua kali untuk menjawab panggilan Pian. Biar Pian tau rasa! "Eh, boleh? Dimana? Di kursi?" "Ruang staf." Badai meninggalkan Karam untuk membuka pintu café. Membiarkan beberapa orang masuk dengan ramai. Orang-orang itu terdiri dari dua lelaki dan satu perempuan, mereka nampak protes pada Badai dan masuk dengan peralatan tidur yang cocok dibawa saat berkemah. Itu kantong tidur. "Lo ada-ada aja sih." Lelaki dengan wajah baby face masuk dengan kesal. Badai tak menjawab dan malah menuruh mereka meletakkan barang-barang itu di ruang staf. Di café Badai, tempat yang cukup untuk bersantai untuk tiduran adalah ruang staf. Badai melarang teman-temannya untuk memindahkan kursi café. "Kalau pengen tidur di ruang staf, pasang tikarnya." Perintah Badai pada Karam yang sedari tadi diam memperhatikan dengan ponsel bergetar di tangannya. Mau angkat tapi kondisi café masih ramai. Ketiga orang itu kini terfokus kearah Karam, seolah baru menyadari keberadaan perempuan itu. Mereka tak berucap dalam beberapa saat. Sibuk menelisik Karam yang mendadak gugup. "Cewek barunya Badai?" perempuan cantik yang datang bersama mereka berbisik kearah temanya, namun dengan suara yang masih cukup untuk di dengar Karam. "Cewek lu?" Lelaki yang sebelumnya ditanyai kini bertanya secara blak-blakan. "Bukan." Badai berucap singkat, kemudian pergi ke dalam pantry untuk menyiapkan beberapa kopi dan camilan. "Gue Bayu," lelaki baby face dengan wajah ceria itu mengenalkan diri lebih dulu. Melihatnya membuat Karam secara refleks menoleh untuk membandingkannya dengan Badai. Benar-benar berbanding terbalik. Badai memang membutuhkan teman yang seperti ini, pikir Karam.          "Karam, adik tingkatnya Badai." Karam bingung harus mengenalkan dirinya seperti apa. Ia masih ragu menyebut dirinya dan Badai adalah teman. Kalau Karam mengaku teman, terus Badai nyeletuk kalau dia ogah temenan sama Karam kan nanti dia yang malu. "Juno," ucapnya singkat. Menelisik lelaki bernama Juno, Karam setuju jika lelaki itu memiliki sikap dingin yang sama seperti Badai. Bahkan wajahnya memiliki kemiripan. "Hai, gue Lisa." Bahu Karam dirangkul dengan ramah. Perempuan dengna manik mata bulat itu menelisik wajah terluka Karam, namun menahan diri untuk tidak bertanya.          "Kepentok, bukan Badai kok," ucap Karam dengan tawa kecilnya. Di balik pantry, Badai melemparkan tatapan mematikan. "Gue pikir Badai kalap," Lisa menyahut. Perempuan berponi itu mengambil tempat duduk di samping Karam dan mulai berbincang dengan asyik. "Kalian nggak kaget denger nama gue?" Karam sedikitnya cukup terkejut karena teman-teman Badai tidak menanyai perihal namanya. "Nama lo bagus kok. Cocok sama Badai." Lisa mengulum senyum jahil. "Kayak korban Badai gitu ya?" sahut Karam. Lisa tertawa, kecocokan nama Badai dan Karam benar-benar berada dalam taraf mengerikan. "Tapi beneran ortu lo kreatif banget kalau bikin nama. Jangan-jangan kalian dijodohin sejak kecil atau semacamnya?" "Kami baru kenal beberapa minggu kok," Karam menjawab sembari menoleh kearah Badai yang sedang mengobrol ringan dengan Bayu dan Juno. "Kalian deket banget kayaknya ya?" Lisa nampak menebak-nebak. "Nggak juga. Cuma akhir-akhir ini sering ketemu." "Kayak bukan Badai," Lisa bergumam. "Apanya?" Karam semakin penasaran. "Habisin waktu sampe malem sama cewek yang bukan Niken. Ngerecokin Bayu suruh ngambil kantong tidur. Kalian kayaknya deket banget." Karam mencerna ucapan Karam. Ia tahu jawaban sebenarnya, namun ia menyimpan untuk dirinya sendiri. Badai pasti kasihan padanya. "Dia baik," Karam memilih jawaban paling aman. Ponsel Karam kembali berdering dan nama Pian tertera di sana. "Gue angkat dulu," pamitnya. Karam keluar dari café dan memilih duduk di luar. Ia menarik napas dalam lalu mengangkat panggilan Pian. "Ha—" "Dimana?" Pian langsung memberondongnya dengan pertanyaan. "Di—rumah," Karam berbohong, perempuan itu memainkan kakinya dan menoleh kearah dalam café. Dan saat menoleh, ia langsung bertatapan dengan Badai yang juga melihat keluar. "Coba keluar," Pian menyahut dan membuat acara saling tatap antara Badai dan dirinya terputus. "Hah apa?" "Keluar sebentar." Karam diam sejenak. Nggak mungkin kan, pikirnya. "Lo dimana?" "Di depan rumah lo." Mampus, batin Karam mencoba memikirkan segala kemungkinan. "Pulang gih, ini udah dini hari." "Keluar dulu, baru gue pulang." Pian bersikeras. "Lo daritadi kemana, gue telepon nggak diangkat?" Ada nada jengkel yang terselip di sana. Karam juga memperotes hal yang sama. "Lo juga tadi kemana?" "Lagi nggak ngecek HP Kar." Sebenarnya Karam masih kesal. Ia berada dalam titik dimana sangat membutuhkan Pian, namun lelaki itu tak menjawab panggilannya. Namun ketika tahu bahwa Pian sudah ada di depan rumahnya, kekesalan Karam seakan menguap. Meskipun menyebalkan, Karam yakin Pian pasti sangat mencemaskannya. "Lo nggak apa-apa?" tanya Pian. "Nggak apa-apa." Keheningan merebak diantara mereka, cukup lama, seolah saling menunggu. Deru napas menjadi satu-satunya hal yang bisa di dengarkan. Dan seolah hal itu cukup untuk mengisi kebisuan. "Kar," Pian memanggil Karam, nadanya nampak begitu serius. "Lo nggak ada di rumah kan? Lo dimana? Jawab." Karam menelan ludah. Bagaimana Pian bisa tahu?! Teriaknya dalam hati. "Gue di rumah kok. Di kamar." "Jangan bohong Kar. Inget, nama lo deket ama karma. Bohong itu dosa. Gue denger suara motor tadi." Karam memejamkan matanya. Ia menoleh kearah dalam café dan melihat mereka semua tengah berbincang. Karam berpikir keras. Ia yakin Pian pasti langsung kesini jika Karam mengatakan dimana dia berada. Badai tidak mungkin marah karena Pian datang. Lagian, buat apa juga Badai marah kan? "Gue—ada di Noname, cafenya Badai." Sambungan terputus. Karam meringis mencoba mencari cara agar terhindar dari rentetan pertanyaan Pian setelah ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD