Chapter 2

2618 Words
Setelah aktivitas panas mereka semalam, Mike langsung mengumpat kasar saat dia tak menemukan Angel paginya. Padahal saat tertidur, Angel masih ada di samping lelaki tersebut. "b******k!!" teriak Mike geram membuat beberapa bodyguardnya tertunduk takut. Pasalnya selama bekerja dengan Mike, mereka tak pernah melihat Mike semarah itu. Apa ada sesuatu yang mengganggu atasannya ini? Pikir mereka. "Kalian cari wanita yang ada dalam foto ini dan bawa kehadapan saya tanpa lecet sedikitpun. saya beri kalian waktu dua hari paling lama dan jika tak kalian temukan saya pastikan mayat kalian akan menjadi umpan buaya!" GLEKK. Para bodyguard tersebut menatap Mike takut. Mereka tahu kalau Mike tak pernah main-main dengan ucapannya dan itu membuat mereka paham kalau dua hari ini mereka tak akan tidur nyenyak. Untuk sesaat para pengawal itu menyumpahi orang yang sudah membuat nyawa mereka nyaris melayang karena amukan bos besar. Sementara di tempat lain, Angel yang berada di apartemen miliknya tengah sibuk berkutat dengan kegiatan memasak. Setelah terbangun dan membersihkan diri, Angel langsung bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Sesekali wanita itu meringis karena bagian bawahnya yang terasa masih ngilu. Tanpa dikomando, ingatan kegiatan panasnya semalam dengan Mike berputar begitu saja bagai roll film di otaknya membuat bulu kuduk Angel seketika berdiri. Bayangan saat kerasnya milik Mike menusuknya serta ciuman lembut Mike membuat pipi Angel bersemu merah. Hukumannya belum selesai, tapi dia malu untuk bertemu dengan Mike. Haaah, apa Mike akan mengatainya p*****r? Entahlah. Hanya saja kepalanya langsung pening jika harus memikirkan hal itu. Nafsu makan Angel seketika menghilang walaupun nasi goreng buatannya itu terlihat sangat enak tapi mulutnya tak bernafsu untuk mengunyah. Alhasil Angel memilih untuk memasukkan ke dalam kotak bekal berharap nanti nafsu makannya akan muncul dan dia akan melahapnya saat di kampus nanti. At Gerald Hospital Melupakan sejenak tentang Angel, Mike kini tengah disibukkan dengan pemeriksaan pada pasiennya. Mike terkenal dengan keramahannya pada pasien-pasien yang dia tangani, apalagi jika pasien tersebut anak-anak, perempuan dan orang tua. Untuk pasien anak-anak Mike kadang acap kali membelikan mereka mainan jika mereka mau mematuhi aturan dokter dan rajin meminum obat. Bahkan Mike menyiapkan satu ruangan khusus di rumah sakit itu hanya untuk ruang bermain anak-anak. Disana dilengkapi berbagai sarana permainan yang pastinya aman jika dimainkan oleh mereka yang sedang sakit. "Dr tampan, apa aku sudah boleh pulang?" Mike menatap lekat mata malaikat kecil yang baru saja memanggilnya ‘Dokter tampan’ itu. Namanya Delia Imanuel gadis yatim piatu yang dirawat karena kecelakaan parah yang terjadi padanya dan keluarganya. Delia kehilangan kedua orang tuanya dan juga kakak laki-lakinya sekaligus dalam kecelakaan itu. Sedangkan dia untungnya hanya mengalami patah tulang pada siku tangan kanannya dari kecelakaan yang merenggut semua anggota kaluarganya itu. Mike sangat menyukai Delia, bukan dalam artian menyukai pada lawan jenis ya. Tapi menyukai sebagai adik. Delia selalu memanggilnya dokter tampan. Kematian kedua orang tua dan juga kakaknya sudah diberitahukan pada gadis kecil ini. Delia langsung menangis histeris saat dia tahu dia kehilangan semua keluarganya, tapi berkat bantuan Mike dan suster di bangsal anak, Delia bisa kembali tersenyum dan lambat laun mulai keluar dari keterpurukannya. Bahkan demi menyembuhkan kejiwaan Delia, Mike membayar seorang psikiater handal untuk menangani gadis kecil tersebut. "Kalau Delia baik dan nggak nakal, Dokter tampan akan izinkan Delia pulang" jawab Mike. Jika berbicara dengan Delia, Mike selalu memanggil dirinya dengan Dokter tampan sama seperti yang malaikat kecilnya ini sebut. "Kau tidak bohongkan? Aku bisa pulang kan kalau aku baik dan tidak nakal?" "Tentu gadis manis." "tapi......" Delia seketika menunduk dan tak berapa lama terdengar isakan dari anak itu. "Hey... Kenapa menangis? Apa ada yang mengganggumu?" Tanya Mike sembari mengusap rambut Delia lembut. Mike sebenarnya tahu apa yang ditangiskan gadis kecil dihadapannya ini. Delia menatap Mike lamat dengan air mata yang masih berjatuhan dipipi tembamnya. Dengan lembut Mike menghapus air mata itu dan mengusap pipi Delia guna menenangkan anak itu. "Dokter Tampan. Nanti kalau Delia di izinkan pulang, apa orang-orang akan bawa Delia ke panti asuhan?" Mike menatap Delia dengan mata yang nyaris berkaca-kaca. Dia tak tahu apa yang harus dia jawab untuk pertanyaan Delia yang satu ini sampai satu kalimat itu mengalir keluar begitu saja dari bibirnya. "Tidak. Dokter Tampan akan jadi kakak Delia mulai hari ini dan selamanya, karena Delia sudah jadi adiknya Dokter Tampan, jadi Delia harus pulang ke rumah Dokter Tampan. Delia mau?" cukup ada sedikit jeda yang membuat ruang rawat Delia sunyi. Gadis kecil itu seolah mencari tahu dengan meneliti tatapan mata Mike. "Apa Dokter tampan serius? Nanti Delia mengganggu Dokter Tampan." ucapnya dengan nada lirih membuat suster Elma yang menjadi suster pendamping Mike meneteskan air matanya. Rencana Mike yang ingin membawa Delia pulang bersamanya sudah ada sejak Delia histeris setelah mengetahui keluarganya meninggal tapi dia masih ragu. Tapi sepertinya setelah melihat tubuh ringkih Delia membuat keteguhan hati Mike menguat. "Dokter tampan serius. Jadi mulai hari ini Delia panggil Dokter Tampan dengan sebutan kakak. Paham? " seketika Mike melihat raut wajah Delia bersemu cerah. Delia seketika berteriak senang, tak peduli jika tangannya masih di gips. "YES KAKAK!" Ruang rawat Delia kembali cerah dengan teriakan bahagia gadis cilik itu. Mike menatap Elma dengan senyum lega begitupun dengan Elma. Kabar baik ini pasti akan tersebar cepat dikalangan suster. Hahahaha ***** "Wuiih yang semalam habis naena, mukanya kenapa di tekuk gitu?" Itu Amanda. Awalnya Amanda tak percaya jika Angel sukses menjalankan hukuman nya untuk satu hari. Tapi setelah mendengar rekaman desahan dirinya dan Mike tadi malam membuat sahabatnya itu langsung heboh. "Gue ragu buat lanjutin hari kedua. Gue belum punya muka dan keberanian buat berhadapan lagi dengan Mike. Apalagi bagian bawah gue yang masih ngilu." rengeknya. "Hmmmm..kalau soal hukumannyaa.. Sebenarnya buat naena nggak diwajibkan sih. Cuma yang gue tahu dan gue rasain mendesah kedua-duanya bisa ada saat dua kelamin menyatu. Jadi kalau blowjob aja gue yakin cuma salah satu yang mendesah." "Tapi keberanian gue menciut Manda. Dan gue minta sama Lo jangan beritahu Chelsea dan Richel kalau perawan gue udah dilepas segelnya sama si dokter tampan. Bisa-bisa diketawain habis-habisan guenya. Lo tahu sendiri gimana kekehnya gue dulu saat mempertahankan untuk tak s*x sebelum nikah." Manda langsung tertawa keras saat mendegar ucapan Angel membuat beberapa orang yang ada di cafe langganan Mereka berempat saat nongkrong itu melirik ke arah meja Angel dan Amanda. "Santai aja kali non. Nggak bakalan diamuk juga Lo sama mereka. Lagian sama mereka itu juga hal biasa kok. Dan gue yakin Chelsea sama Richel sekarang lagi Mendesah di dalam mobil pacar mereka masing- masing. Ya you Know lah apa maksud gue." Paham. Angel sangat paham apa yang diucapkan Amanda tadi. "Karena itu, bisa Hukumannya di stop sampai hari ini aja? Gue takut ketemu Mike." rengek Angel yang mencoba peruntungannya dengan merengek pada Amanda. "Tidak, sekali tidak tetap tidak.!!!!!" "Manda...pliiissss!" "Noooooooo.... Lanjutkan!!. Tinggal tiga belas hari lagi. Gue kasih kelonggaran buat Lo. Lo ngejalanin hukuman Lo nggak harus tiap hari. yang terpenting selama satu setengah bulan ini hukuman Lo harus sudah terlaksana semuanya." Walaupun sedikit kecewa karena opsinya di tolak, tapi Angel masih bisa bernafas lega. Setidaknya waktunya masih lama untuk memulai hukuman hari kedua sampai hari ke empat belasnya. Dan satu lagi, gak harus lakuin naena yang terpenting dia dan Mike mendesah dan suara desahan itu di rekam. "Oke, gue terima. Kalau gini kan gue bisa sedikit bernafas lega. Lagian gila aja hukumannya empat belas hari tapi dikasih batas waktunya juga sampai empat belas hari kedepan. Tiap hari dong gue dibobol. Milik gue masih nyut-nyutan Manda." "Itu bentaran doang kok. Gue yakin pas lakuin yang kedua kalinya gue jamin bakalan enak. Lo pasti bakalan minta lebih dan lebih." "Apaan sih Lo ngawur! " "Eh gue beneran kali. Gue buktinya." "Itu Lo nya aja yang gatel." "Kalau nggak percaya ya udah, lo buktiin aja nanti." tantang Amanda yang membuat Angel penasaran. Apa benar jika yang kedua memang senikmat itu? ***** Angel dan Amanda mengakhiri obrolan mereka tentang Mike sesaat setelah ice cream yang dua sahabat itu pesan sudah datang. Angel terlalu menyukai es krim apalagi kalau itu Sundae. Lihatlah binar mata wanita itu sekarang. Dia terlihat seperti anak kucing jika sudah berhubungan dengan makanan manis itu. "Sekarang lupakan soal Mike, lebih baik nikmati es krim lezat ini! " ucap Angel berbinar. Amanda tak terlalu mengindahkan perkataan Angel, karena Angel memang seperti itu jika sudah berhubungan dengan eskrim. Angel sudah menyendokkan es krim ke dalam mulutnya dan menikmati rasa coklat vanila yang melumer jadi satu di dalam mulutnya. "Haaahh... Aku ingin berterima kasih pada orang yang menciptakan makanan selezat es krim." haru Angel yang langsung ditatap geli oleh Amanda. "Lebay Lo. Perasaan rasanya gitu-gitu aja deh." "Itu buat Lo yang indra perasanya rendah." "Sialan Lo, lagian...." Egheem.. Obrolan konyol seputaran es krim yang kedua wanita itu bahas harus terputus karena suara deheman dari seseorang di samping mereka. Baik Amanda maupun Angel langsung merinding melihat gaya berpakaian lelaki tegap tersebut. Gimana nggak. Wajah sangar, kepala plontos, pakai kaca mata hitam dengan setelan jas berwarna hitam. Apa hari ini hari berkabung? Angel melirik kesekitarnya dan semua orang menggunakan baju cerah, kenapa pria ini malah memakai atribut serba hitam? "Maaf anda siapa?" tanya Angel sembari menatap lekat wajah pria yang lebih pantas disebut 'pengawal'? itu. "Apa anda Nona Angel?" suara tebalnya membuat bulu kuduk Angel merinding. Sama dengan Angel, Amanda pun merasakan hal yang sama. "I...iya...anda siapa?" "Saya minta nona untuk ikut kami sekarang!" "Eh eh..apa-apaan ini main paksa orang berdiri aja!" bentak Amanda yang panik melihat Angel dipaksa berdiri dari duduknya. "Anda siapa?" "Saya sahabat gadis yang ingin kalian bawa paksa ini! Harusnya saya yang bertanya kalian siapa?" tanya Amanda balik saat melihat satu orang lagi dengan stelan sama datang mendekat kearahnya dan Angel. Hanya saja bedanya yang baru datang ini jauh lebih tampan. "Kami anak buah Dokter Mike. Dan Tuan Mike meminta kami membawa Nona Angel ke hadapannya!" mendengar jawaban dari si kepala plontos, Angel dan juga Amanda seketika menegang. Dua sahabat itu saling melirik satu sama lain. "Hmm.. Begini... Sepertinya ada kesalahpahaman Di sini, kami tidak mengenal dokter Mike atau tuan Mike kalian itu. Sepertinya kalian salah orang!" jelas Amanda dengan ekspresi sedikit meyakinkan. "Kami yakin tidak salah orang. Apalagi Nona Angel sudah membenarkan kalau nona bernama Angel. Beserta foto ini juga sangat mirip dengan Nona!" Angel maupun Manda terperangah melihat foto yang si plostos itu serahkan padanya. Tunggu dulu...Foto ini sepertinya diambil dari suasana ruang TV apartemennya Mike, itu artinya... Aaaaa... Itu artinya adegan panas mereka malam itu terekam CCTV yang Mike pasang di apartemennya. Amanda mendadak pucat, wanita itu tahu persis apa yang sahabatnya kini tengah rasakan. Ini lebih bahaya dari sebuah rekaman suara desahan. Mereka harus terima kenyataan kalau MIKE MEMILIKI REKAMAN PERGULATAN ANGEL DAN LELAKI ITU. Amanda menatap miris ke arah Angel yang tampak masih Shock. "Manda... " panggil Angel lirik. "Angel, Saran gue lo ikut mereka aja. Ini bahaya Ngel" ucap Amanda gusar. Sedangkan Angel terlihat akan ingin menangis. Bagaimana ini??????? Mike POV. Aku berlari menuju parkiran khusus dokter mencari mobil ferrari 458 spider kesayanganku dan berniat pulang secepat mungkin. Setelah menerima panggilan dari Carlos salah satu pengawal terbaikku bahwa Angel sudah ditemukan dan kini ada bersamanya, entah kenapa ada perasaan kesal, lega, benci dan senang saat kabar itu kuterima. Untung hari ini tugas dokterku sudah selesai dan digantikan oleh dokter Anna. Jadi aku bisa meninggalkan rumah sakit dengan tenang. Author POV Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Mike untuk sampai di apartemennya. Setelah memastikan mobilnya terparkir rapi, Mikepun langsung bergegas menuju tempatnya. Sementar Angel yang semakin memucat kini duduk terdiam di sofa apartemen milik lelaki yang sudah mengambil keperawanannya itu. Mata Angel sepenuhnya menatap ke arah karpet beludru yang menjadi saksi bisu pergulatan panasnya bersama Mike. Bahkan bercak darah yang dia yakini darah perawannya masih terlihat di sana. Mengingat semua itu membuat pipi Angel merona malu. Angel kembali menegang saat Indra pendengarannya menangkap suara pintu yang dibuka. "Kalian bisa pergi. Selanjutnya biarkan saya yang mengurus gadis ini." perintah Mike yang langsung dituruti oleh si kepala plostos dan juga si tampan. Ah, benar. Pengawal Mike yang satu lagi terlihat sangat tampan dan masih muda. Kini kesunyian benar-benar melanda ruangan TV milik Mike. Angel yang menunduk dalam dan Mike yang menatap tajam ke arah wanita itu tanpa berniat memulai suatu pembicaraan sampai Angel mencoba keberaniannya untuk mengajak Mike berbica.. "Mmm...itu...M..." 'Ah sial, kenapa susah sekali untuk berbicara?' rutuk Angel. Mike masih setia menunggu kalimat apa yang akan Angel lontarkan padanya. Tapi bukannya melanjutkan, Angel justru kembali tertunduk saat mata tajam milik Mike seolah menusuk tepat padanya. "Apa Lo berniat bercanda sama Gue" Mike akhirnya memilih bertanya tapi dengan nada yang terkesan penuh amarah. “Hmm.. Ti..tidak...gue.. Gue.." Angel kembali merutuki dirinya yang tak bisa berkata-kata. Wanita itu memukul kepalanya pelan sembari menyumpahi kebodohannya. Aktivitasnya terhenti saat Tangan besar milik Mike menahan pergelangan tangan Angel membuat wanita itu langsung mendongak ke atas dan mendapati Mike tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Entah itu marah, iba, atau mengejek. Angel benar-benar tak tahu. "Jika Lo nggak mau bicara, biar gue yang bicara. Ada banyak hal yang mau gue tanya sama Lo" ucap Mike yang kini sudah duduk bersila di karpet di depan Angel sedangkan Angel kini masih tertunduk di atas sofa. "Ap...apa?" "Pertama, Lo siapa sebenarnya? Kenapa semalam tiba-tiba muncul di apartemen gue dan maksa gue buat puasin Lo. Kedua Lo masih perawan tapi kenapa nekat melakukan hal gila seperti semalam dan ketiga kenapa Lo kabur dari gue?" Angel menelan ludahnya kesusahan. Entahlah, padahal hanya ludah tapi dia seolah sedang menelan batu besar. Angel mencoba menatap ke arah Mike kembali dan kini wanita itu sudah mendapati raut wajah tenang dan bersahabat dari Mike. "Gue... Gue... Gue suka sama Lo!" o my god. Ucapan apa itu? Dasar gila, gila , gila.. Mike menegang mendengar pengakuan dari Angel. Suka? Angel suka dengannya? Mereka tak saling kenal. Oh ayolaaah.. Pengakuan gila macam apa ini. "Jangan bercanda..." "Nggak, gue nggak..gue nggak becanda. Gue serius dan kenapa semalam jadi seperti itu, gue berniat buat nemuin Lo di apartemen Lo, tapi.... Tapi..." "Bicara yang benar." bentak Mike membuat Angel langsung tertunduk kembali. Angel merasa sudut matanya yang sedikit memanas dan mengeluarkan sedikit air. Wanita itu ketakutan sekarang. "Itu... Soal...soal yang ingin menemui Lo di sini itu benar, dan gue di antar temen gue. Sebelum masuk dia menyodorkan air mineral pada gue dengan alasan supaya bisa lebih rilex. Tapi siapa sangka ternyata air itu sudah dia campur dengan obat... Obat...." "Perangsang?" tanya Mike spontan. Angel segera mengangguk cepat mendengar tebakan dari Mike. Sudahlah, dia tak peduli lagi jika air matanya akan menetes di hadapan Mike. Toh dia ketakutan juga karena tatapan intimidasi dari lelaki itu. "Lalu bisa dijelaskan kenapa Lo kabur?" Gleekk.. Lagi-lagi Angel kesusaha menelan salivanya. "Itu karena.. Karena.. gue nggak mau Lo baik setelahnya hanya karena Lo udah ngambil keperawanan gue." Tes.... Menetes sudah air mata sialan ini. Takutnya lebih mendominasi air itu untuk keluar. "Lalu biarin gue jadi lelaki b******k, gitu?" tanya Mike yang langsung ditatap oleh mata berairnya Angel. Mike mengarahkan telapak tangannya ke arah wajah Angel dan menghapus air mata yang tadi sempat membasahi pipi mulus Angel. Menerima perlakuan lembut dari Mike membuat rasa ketakutan Angel akan amukan lelaki itupun berkurang. Justru Angel semakin berani menatap kedua bola mata coklat milik Mike. "Maaf..." sesal Angel lirih. "Setidaknya jangan kabur seperti semalam. Terlepas dari siapa yang salah, yang jelas gue menjadi penyebab hilangnya keperawanan Lo." "Gue cuma nggak mau dikasihani!" "Memang gue bilang mau ngasihani Lo!" Mendengar jawaban singkat Mike membuat Angel langsung menatap tajam lelaki itu. Bukannya takut Mike justru mengangkat bahunya acuh melenggang pergi menuju dapur meninggalkan Angel yang masih Shock di ruang TV. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD