8. BERTEMU AZOV

1836 Words
• AUTHOR POV • Marsha menyantap makanan yang di masakkan Rey dengan melontarkan beberapa pujian yang membuat lekukan senyum di sudut bibir Rey. Hal itu tentu saja membuat Rey terlihat senang hingga ia lupa menarik pandangannya dari Marsha. Marsha memulain percakapannya di sela menyicip makanannya, ia menyinggung soal pria yang tadi di temuinya di cafe. Rey menghentikan makannya lalu menatap Marsha kembali. "Azov?" Marsha mengangguk. "Untuk apa kamu ingin mengetahuinya?" tanya Rey. "Kalau Anda tidak ingin mengatakannya juga tidak apa-apa. Aku hanya sekedar bertanya dan tidak menuntut harus mendapatkan jawaban" balas Marsha tenang. Rey menatapnya lekat sembari Marsha yang masih menyantap makan malamnya. "Apa kamu tertarik dengan kehidupan ku?" tanya Rey. Ucapannya Rey membuat Marsha mengalihkan pandangannya lalu menatapnya dengan tatapan kebingungan. "Maksud Anda?" Rey mengulas senyum lalu tertawa menatap Marsha membuatnya semakin kebingungan. "Kamu tadi bertanya soal Azov, dan Azov adalah hm.. Yah, bisa di bilang dia juga bagian dari keluarga ku. Dan itu juga menyangkut kehidupan ku. Iya kan?" "Lalu?" "Trus.. Kamu tertarik dengan kehidupan ku?" Marsha terdiam mencerna ucapan Rey yang sangat membingungkannya. "Aku hanya bertanya saja, Aku bukan mau mencampuri urusan Anda. Hanya penasaran saja. Kalau Anda tidak ingin mencerikannya, yah.. Aku tidak ada masalah juga" balas Marsha. "Baguslah.. " "Apanya?" tanya Marsha bingung. "Karena Aku wajib menjawabnya" Marsha memutar bola matanya setelah mendengar jawaban dari Rey lalu ia menyantap kembali makan malamnya. Meskipun ia sangat penasaran tentang hubungan Rey dan juga Azov yang tampak bermusahan setelah tadi ia mendengar percakapan keduanya. Marsha menghabisi makan malamnya lalu di susul Rey. Tidak lama berselang di saat Marsha tengah mencuci piring makannya bersama Rey, suara ponsel Rey berdering di atas meja makan. "Ponsel Anda berdering!" teriak Marsha. Beberapa kali Marsha berteriak tapi tidak ada jawaban dari Rey hingga ia menyelesaikan pekerjaannya dan membawakan ponsel milik Rey. Sembari ia berjalan, ia menatap layar ponsel milik Rey dan menuliskan nama 'Daddy' di dalam sana. Marsha mempercepat langkahnya menuju kamar tapi tidak menemukan Rey, lalu ia berjalan lagi menuju ruang pakaiannya namun hasilnya tetap sama hingga ia berjalan menuju ruang kerja Rey dan mendapatinya di sana sedang mengetikkan sesuatu pada laptopnya. Marsha melangkah pelan dan menyodorkan ponsel ke arah Rey. "Ada panggilan masuk di ponsel Anda" ucap Marsha. Rey meliriknya di sudut mata mengambil ponselnya lalu menatap nama ayahnya di sana. Ia tersentak lalu menjawab panggilannya dengan cepat. "Ya.. Dad?" "Azov sudah kembali di Singapura, datanglah besok untuk makan malam bersama" "Tapi.. Aku sudah menemuinya, Dad" "Lalu kenapa kau tidak mengabari ku?" "Karena, Aku yakin dia sudah mengabari mu lebih dulu dari pada Aku" "Datang besok malam di rumah, Aku menunggu mu!" Rey mengacak-ngacak rambutnya setelah panggilannya di tutup oleh ayahnya lalu berbalik menatap Marsha yang masih berdiri di depan meja kerjanya sambil menatapnya dengan wajah penasaran. "Kamu masih di situ rupanya" ucap Rey berjalan kembali ke meja kerjanya. "Ah.. ya. Maaf, Aku bukannya mau menguping pembicaraan mu. Tap---" "It's okay, sebagai hukumannya kamu besok harus menemani ku bertemu dengan ayah dan juga Azov" sela Rey sambil memijit pelipisnya. "HA? kenapa Aku harus bertemu dengan ayah mu?" tanya Marsha heran. "Karena itu juga bagian dari tugas mu, kan?" Marsha terdiam mengingat kembali statusnya yang menjadi kekasih bayarannya Rey. "Ah.. iya. Anda benar" ucap Marsha sambil memaksa bibirnya untuk tersenyum. Marsha kembali pamit untuk kembali ke kamarnya sedangkan Rey masih setia di meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Langkah kecil yang mengantar Marsha menuju kamarnya dengan pikiran yang terus tertuju untuk haru esok di mana ia akan ikut makan malam dengan keluarga Rey. Rey memijit pelipisnya di hadapan layar segi empat laptopnya. Kenapa ayahnya ingin makan malam dengannya dan juga Azov. Meskipun pikirannya terusik ia juga harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum matahari kembali terbit. • MARSHA POV • Aku merenggangkan seluruh otot ku saat kesadaran ku kembali pulih dari tidur lelap ku semalam. Matahari kembali memancarkan cahayanya yang selalu saja berhasil menembus jendela kamar ku. Aku menatap jam di atas nakas kamar ku. Aku cepat beranjak saat jam itu menunjukkan pukul di mana Aku sudah harus menyiapkan semua perlengkapan kantor Rey. Aku berlari menuju ruang pakaian Rey lalu menarik kemeja, celana serta tuksedo miliknya yang akan ku padukan untuk setelannya hari ini. Lalu suara pintu terbuka mengagetkan ku, Aku melihat Rey yang berdiri di ambang pintu dengan piyama yang sama semalam. Aku melongo saat menatap d**a bidangnya di sela kancing piyamanya yang terbuka. Jantung ku berdegub hebat serta wajah ku yang terasa panas saat menatapnya. "Aku pikir kamu telat bangun lagi" ucapnya dingin. Huh! sepertinya pagi ini moodnya sedang buruk lagi. Aku mengekor di belakangnya dengan membawa setelan ini ke dalam kamar di saat ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lalu menyiapkan sarapan untuknya. Meskipun Aku belum bisa menguasai resep yang di berikan Rey pada ku, tapi Aku tidak buruk dalam membuat roti selai sebagai sarapan paginya. Setelah berhasil menata sarapan di atas meja, Rey keluar dari kamarnya sambil menggulung naik kemeja hitamnya. Lalu ia berjalan menuju meja makan dengan tatapan yang mengarah ke pada ku. Apa dia akan memarahi ku lagi? Aku lega saat ia duduk dan mencicipi roti buatan ku dengan alis yang kembali selaras. "Jangan lupa nanti malam, temani Aku bertemu dengan ayah ku" ucapnya. Aku mengangguk tanpa banyak berkomentar sambil melahap juga roti selai buatan ku. "Hm.. Apa Aku boleh keluar jalan-jalan?" tanya ku ragu. Karena, Rey tidak pernah mengijinkan ku keluar dari apartement kecuali membeli sesuatu yang penting untuk di gunakan di apartement. "Kemana?" tanya. "Aku belum pernah menikmati apapun di Singapura setelah kedatangan ku di hari pertama" balas ku. Rey terdiam dan sedikit berpikir. Ucapan ku tentu saja benar, sejak kedatangan ku Aku belum pernah melihat bagaimana Singapura yang sebenarnya. Kemarin saja Aku tidak sengaja bertemu dengannya, Aku tidak ada pilihan selain mengikutinya pulang apalagi suasana hatinya sedang buruk karena saudaranya itu. "Hm..." "Boleh kan, please.." ucap ku memohon sambil tersenyum di hadapannya. "Baiklah.. tapi jangan membuatkan ku masalah. Kamu paham? dan cepatlah kembali" balasnya dengan gigitan terakhir pada rotinya. Aku memperlebar senyuman ku saat pertama kalinya ia menuruti ucapan ku. Bahkan senyum ku tak luput di wajah ku saat Aku juga yang telah menyelesaikan sarapan ku dan mengantarnya sampai di pintu apartement. "Ingat jangan terlalu lama di luar apartement" ucapnya sebelum ia meninggalkan ku. Aku menutup pintu apartement dengan wajah yang sangat ceria sambil berlari menuju kamar ku untuk bersiap-siap keluar menikmati cuaca Singapura di pagi hari. Aku membuka lemari ku dan mengambil beberapa pilihan setelan yang akan ku kenakan hari ini. Pandangan ku terjatuh pada koas crop top berwarna peach lalu ku padukan bawahan rok berwarna hitam dengan motif bunga yang memenuhinya. Aku hanya sedikit memoles wajah ku sambil menarik tas kecil yang berada di dalam lemari kaca di samping meja rias ku. Aku begitu senang berjalan keluar kamar sambil memakai sneaker berwarna hitam ku dengan senyum yang melekat di wajah ku. Aku menarik gagang pintu apartement Rey bersamaan dengan ponsel ku yang berbunyi yang menampilkan nama Rey yang berada pada layarnya. "Hm.. ya. Ada apa?" "Aku sudah menyuruh Nathan untuk mengantar mu kemana pun kamu mau, tunggu lah di sana" Ha? padahal itu sama sekali tidak perlu. "Aku sudah naik bus, seharusnya Anda tidak perlu melakukannya" "Benar kah? baiklah, hubungi Aku kalau kau sudah selesai. Aku akan menyuruh Nathan menjemput mu. Paham?" "Ya.. baiklah" Aku kembali memamerkan senyum ku saat memencet tombol lift untuk membawa ku turun dari lantai gedung apartement Rey. Mencegat taksi yang akan membawa ku ke tempat yang ku mau. Destinasi pertama ku jatuh pada East Coast Park, sebuah tempat wisata yang sangat menarik para turis  dan wisatawan yang datang untuk melakukan aktivitas hiburan, olahraga dan juga bersantap makanan. Taman yang juga memiliki pemandangan pantai yang begitu indah dan sejuk. Aku dapat melihat beberapa orang yang tampak senang mengayun sepeda bersama teman ataupun kekasihnya. Aku juga dapat melihat para orang tua yang begitu tenang menikmati harinya berpiknik bersama para keluarganya. Sedangkan Aku? Aku hanya termenung duduk di atas rumput sambil menatap pantai yang begitu indah sambil membayangkan Aku duduk bersama orang yang ku sayangi dan juga kedua orang tua ku. Tiba-tiba saja Aku berpikir ingin mengajak kedua orang tua ku dan juga orang yang ku sayangi untuk berpiknik di sini sama hal yang di lakukan keluarga tadi. Cukup lama Aku terduduk sambil membayangkan sesuatu yang entah kenapa membuat ku tersenyum bahagia. Lalu Aku beranjak kembali berjalan menyusuri taman yang indah ini. Aku juga mengabadikan beberapa momen ku yang akan ku perlihatkan nanti pada teman dan juga keluarga ku.  Aku terlalu asik menatap kamera pada layar ponsel ku hingga tanpa ku sadari Aku tidak sengaja menabrak sepeda yang tengah terparkir di hadapan ku. "Astaga...." Suara itu mengagetkan ku dan membuat ku menoleh. Aku menjatuhkan sepeda milik orang lain. "Maaf.. Aku tidak sengaja" ucap ku sambil menunduk di hadapannya. "Ah.. ya. Tidak apa-apa" balasnya sambil mendirikan kembali sepeda miliknya. Aku mengangkat kepala ku dan ingin berterima kasih padanya, tapi Aku tercekat saat melihat wajah pria itu sangat mirip dengan pria yang kemarin Aku lihat di cafe bersama Rey. Apa dia saudaranya Rey yang kemarin? Pria itu juga menatap ku lama sebelum ia mengenali ku. "Hm.. Kita bertemu lagi. Kamu yang bersama Rey kemarin kan?" tanyanya ramah. Aku mengangguk dengan senyuman kecil di sudut bibir ku. "Apa kamu dengan Rey ke sini?" "Tidak. Aku sendiri, Tu---hm, Rey sedang ke kantor" balas ku. "Lalu apa yang kamu lakukan di sini sendiri?" "Hanya menikmati hari saja" balas ku singkat. Dia mengangguk dan tersenyum pada ku. Lalu sesuatu terbesit di benak ku tentang perkataan Rey tadi pagi sebelum ia berangkat ke kantor. "Baiklah.. tapi jangan membuatkan ku masalah. Kamu paham? dan cepatlah kembali" Tidak! Aku tidak boleh membuatkan Rey masalah. Aku harus pergi dari pria ini. "Hm.. kalau begitu, Aku permisi" ucap ku. Tapi, pergelangan ku di tarik oleh pria itu. "Mau kemana? kenapa buru-buru?" tanyanya. "Iya.. Aku harus kembali" "Sebentar saja, kita cari tempat minum yang enak aja dulu. Nanti Aku yang kan mengantar mu kembali" "Tidak perlu, Ak---" "Sudah lah.. Ayo.." Tangan ku di tarik paksa olehnya menuju cafe yang berada di seberang jalan. Aku sangat takut kalau saja Rey mengetahui kalau Aku sedang bersama saudaranya saat ini. Tapi, pria ini juga tidak membiarkan ku pergi. Dia mendudukkan ku sambil memesan minuman yang menyegarkan saat matahari yang begitu terik membuat tenggerokan kering. "Jadi sejak kapan kamu mengenal, Rey?" Pertanyaan pertama yang membuat ku sedikit terkejut. Apa dia sedang mengintrogasi ku? Aku takut kalau Aku mengatakan hal yang salah. "Apa kita harus membahasnya? Apa tidak ada pembahasan yang lain?" tanya ku ragu. Dia mengulas senyum lalu tertawa menatap ku yang tampak tegang di hadapannya. "Apa kamu sangat takut pada, Rey?" "Tidak. Aku tidak takut padanya" "Lalu?" "Hanya saja itu adalah privasi ku. Dan kamu masih orang asing bagi ku" Lagi dan lagi dia tertawa menatap ku membuat ku menimbulkan banyak pertanyaan di kepala ku. "Baiklah.. lalu bagaimana untuk bisa akrab dengan mu? agar kau tidak menganggap ku orang asing?" tanya sambil tersenyum menatap ku. "Kita harus berteman dulu" "Okay.. Apa Aku bisa menjadi teman mu?" "Ah?" Aku terdiam dengan pertanyaannya yang tiba-tiba saja. Lalu Aku mengangguk membuat ia kembali tertawa menatap ku. Dan tanpa ku sadari Aku juga membentuk sebuah senyum di sudut bibir ku. Dia juga memiliki wajah yang tampan seperti Rey, meskipun garis wajah Rey lebih keras dan tegas dari padanya. Tapi, pria ini memiliki sikap yang sangat jauh pada Rey. Dia lebih tenang dan sopan. Hal itu mungkin yang membuat ku asik mengobrol dengannya hingga Aku lupa kalau hari semakin sore dan Aku harus bersiap untuk menemani Rey untuk makan malam dengan ayahnya. Aku permisi pada Azov dan dengan ramah dia mempersilahkan ku keluar lebih dulu dari cafe tersebut. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD