• AUTHOR POV •
Marsha tampak tegang di dalam mobil yang di kemudikan oleh Rey. Tangannya menjadi berkeringat dan dingin bersamaan laju mobil itu. Polesan yang ia buat pada wajah lembutnya membuat ia terlihat sangat cantik malam ini. Rey sesekali melirik dan memuja kecantikan milik Marsha.
Cukup lama di dalam mobil dan tak ada sepata katapun yang keluar dari bibir keduanya hingga Marsha yang berniat akan memulainya.
Marsha menanyakan bagaimana nantinya sikap dia di hadapan ayah Rey. Marsha takut kalau ia akan melakukan hal salah yang membuat Rey mendapatkan masalah.
Laju mobil Rey melamban di mana ia berhenti di salah satu restoran yang tampak begitu mewah dengan tinggi gedungnya yang menjulang. Jantung Marsha berdegub semakin kencang bersamaan langkahnya turun dari mobil Rey.
Rey menggandeng tangan dingin Marsha di mana ia juga dapat merasakan kegugupan dari wanita yang berada di sebelahnya.
"Apa kamu sangat gugup?" bisik Rey.
Marsha hanya mengangguk sambil menatap Rey.
"Tenang.. Dia orang yang baik" balas Rey memuji ayahnya.
Langkah kecilnya semakin menuju ke tempat yang seharusnya ia bertemu dengan ayahnya. Seorang pelayan mengantarkan Rey dan Marsha ke salah satu ruangan VVIP hotel tersebut. Marsha menormalkan kembali wajahnya mencoba menghilangkan kegugupannya saat ia berjalan mendekati ruangan tersebut bersama Rey. Pintu di buka oleh seorang pelayan pria itu dan memperlihatkan seorang pria berumur dengan rambut yang sudah memutih duduk memunggunginya sambil berbicara dengan seorang pria tegap yang tampan berada di hadapannya.
"Azov?" batin Marsha.
Tangan Marsha semakin berkeringat membuat Rey meliriknya lalu beralih menatap ayahnya kemudian Azov.
Rio tampak ramah menyambut kedatangan putranya dan sedikit terkejut melihat wanita yang berada di samping kanan Rey.
Rio memeluk putranya dan mempersilahkannya duduk begitupun dengan Marsha.
Marsha tertunduk malu, ia menjadi canggung di tengah keluarga kekasih pura-puranya.
"Sepertinya kau membawa tamu, Rey?" ucap Rio.
"Ya. Aku membawanya untuk memperkenalkannya dengan mu" balas Rey santai.
"Benarkah?"
Marsha mengangkat wajahnya lalu memamerkan senyum manisnya di hadapan Rio. Dengan ramah Rio membalas senyuman tersebut.
"Dia.. Marsha. Dia adalah kekasih ku" ucap Rey memperkenalkan Marsha.
Mata Marsha tidak sengaja bertemu dengan Azov membuatnya salah tingkah dan gugup. Marsha berusaha memperlebar senyum kecutnya di hadapan Azov dan juga Rio ayah Rey.
"Wow... Aku sangat senang mendengarnya" puji Rio menatap Marsha.
"Apa kamu sudah lama dengan putra ku?" tanya Rio pada Marsha.
"Ah? Hmm.. " Marsha melirik ke arah Rey lalu kembali pada Rio. ".. Ya, lumayan" lanjutnya.
Rio tertawa melihat ekspresi gugup Marsha bertemu dengannya.
"Jangan terlalu gugup seperti itu, Marsha" ucap Rio dengan kekehannya.
"Aku pikir topik utama kita malam inu bukan hubungan ku dengan Marsha, Dad" sela Rey menatap sinis ke arah Azov yang sejak tadi belum mengeluarkan suaranya.
"Ah.. Iya. Hm, Aku membuat pertemuan ini untuk kalian berdua. Aku paham, hubungan kalian berdua buruk karena perbuatan ku dan ibu Azov. Tapi, Aku mohon itu tidak berlaku untuk kalian berdua. Aku ingin kalian bisa kembali seperti dulu" jelas Rio.
Rey mengulas senyum menatap Azov yang masih berekspresi datar. Rio tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada kedua putranya terlepas dari masalahnya bersama Lea istri keduanya.
Rey sulit memaafkannya setelah Azov mengkhianatinya bersama Thomas dan juga Natasha. Azov adalah biang di mana Thomas dan Natasha memulai hubungannya di belakang Rey yang membuat rumor kutukan itu semakin di percaya semua orang.
"Rey.. " sahut Rio.
Beberapa kali sahutan dari Rio di abaikan Rey yang masih bergelut dengan isi kepalanya hingga ia tersadar karena sentuhan Marsha. Marsha memegang tangan Rey dan menyadarkannya.
"Ya..?" balas Rey menatap Marsha.
"Ayah mu masih menunggu jawaban mu" bisik Marsha.
"Rey.. Apa keinginan ku bisa kau penuhi?" tanya Rio.
"Azov apa kau tidak ingin mengatakan apapun pada, Rey?" lanjut Rio..
"Hm.. Aku tidak tau apa yang harus ku katakan pada, Rey. Bahkan Aku rasa dia sudah tidak ingin melihat ku" balas Azov sambil menatap Rey.
"Berhentilah membuat orang kasihan pada mu" sela Rey kesal.
Rio menghela napas kasar menatap sikap Rey yang selalu saja ketus. Sikap Rey begitu mirip dengan Rachel istri pertamanya yang juga merupakan ibu Rey. Rio berpikiran kalau sikap Rey pada Azov hanya karena Ibu Azov yang mengkhianatinya. Tapi, sayangnya Rio tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada kedua putranya.
Marsha melirik Rey dan mendapati wajah Rey yang begitu tegas dan menatap tajam pada Azov.
"Sebenarnya apa yang ingi kau sampaikan, Dad? Apa hanya ingin hubungan ku dan Azov kembali baik? Atau mungkin ada hal yang lain?" tegas Rey.
"Aku juga meminta Azov menetap di sini dan tetap membiarkan Lea di sana. Mungkin saja Azov bisa membantu mu dalam meng--"
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri mengurus perusahaan" sela Rey semakin kesal.
Tampaknya Rey sudah mulai muak dengan pembahasan malam ini. Entah apa yang di katakan Azov pada Rio yang membuatnya memikirkan hal seperti itu .
Marsha tercekat saat lengannya di tarik oleh Rey untuk berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Mau kemana?" tanya Marsha polos.
"Pulang" singkat Rey.
"Rey... Duduk lah sebentar" pinta Rio.
Marsha menatap wajah Rio yang menginginkan keakuran pada putranya. Marsha menarik tangan Rey dan memintanya duduk kembali tapi sayangnya upaya Marsha gagal. Kekerasan hati Rey membuat semua orang sulit untuk mengontrolnya.
"Kamu tetap di sini atau ikut dengan ku!" ancam Rey.
Marsha tertunduk ia tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti ucapan Rey. Dengan sangat berat mengangkat tubuhnya, Marsha menatap Rio lalu Azov untuk berpamitan. Tidak banyak yang di katakan Marsha malam ini, ia hanya tenang mendengar semua percakapan keluarga Rey. Bahkan ia berpikiran kalau ia tidak semestinya berada di sini dan mendengar semuanya.
Rey menarik Marsha keluar dari ruangan tersebut lalu meninggalkan Rio dan Azov yang masih terduduk di kursi.
Rey mempercepat langkahnya menarik Marsha hingga Marsha kesusahan berjalan karena heels yang ia gunakan cukup tinggi. Marsha menahan sakit pada pergelangan kakinya hingga ia berhasil sampai di mobil milik Rey yang terparkir di basement. Terlihat kulit kaki Marsha yang lecet saat ia membuka heelsnya di dalam mobil sambil merintih sakit.
"Ada apa?" tanya Rey.
"Tidak ada apa-apa" balas Marsha singkat.
Mendengar nada suara Marsha yang seperti kesal padanya membuat Rey sedikit meliriknya.
"Harusnya Anda tadi tidak seperti itu pada Tn. Rio" lanjut Marsha.
"Diam lah kalau kamu tidak tau apa-apa" balas Rey.
"Apa salahnya memaafkan kesalahan orang lain? Lagipula dia juga saudara Anda, kan?"
Marsha terkejut saat tiba-tiba saja Rey menepikan mobilnya lalu menatap marah ke arahnya. Rahangnya kembali mengatup dan terlihat jelas tangannya begitu keras meremas stir mobilnya. Marsha menjadi gugup kalalu saja ia mengucapkan sesuatu yang memicu amarah Rey kembali.
"Kau sudah melewati batas mu, Marsha! Sudah ku katakan jangan mencampuri urusan ku! Ingat siapa kau di sini, kau hanya kekasih bayaran ku. Jangan berlagak kau mengetahui semuanya. Diam dan jangan berkomentar. Kau paham!!" teriak Rey di dalam mobil.
Bentakannya membuat Marsha menciut, hatinya terasa sakit saat ucapan Rey seakan melecehkan pekerjaannya. Pekerjaan yang sejak dulu tidak ia harapkan.
"Kau tidak tau apa-apa tentang hidup ku! Kau bahkan baru mengenal. Kau tidak tau apa yang sudah ku lalui, Marsha! Kau hanya orang asing buat ku" lanjut Rey yang masih terlihat sangat marah.
Karena ucapan Marsha, kini ia menjadi tempat sasaran amukan Rey yang sejak tadi ia tahan.
Marsha menerima semua perkataan kasar Rey yang di lontarkan padanya. Hingga air mata itu memenuhi pelupuk matanya. Semakin ia tahan semakin sakit pula hati yang ia rasakan.
"Jangan menangis! Aku benci orang yang cengeng! Dan ingat batasan mu!" lanjut Rey sambil mengemudikan kembali mobilnya.
• MARSHA POV •
Aku berlari menuju kamar ku saat tiba di apartement. Aku tidak sanggup menunjukkan wajah sembab ku pada Rey yang sejak tadi membentak ku. Ucapannya benar-benar membuat hati ku terasa sakit. Aku membenamkan wajah ku pada bantal dan menangi dengan segukan yang nyaris tidak terdengar oleh Rey.
Siapa yang ingin melakukan pekerjaan seperti ini? Aku tidak pernah menginginkan bekerja menjadi kekasih bayaran seseorang. Kalau bukan karena cek $100,000 itu Aku tidak mungkin berada di negara orang.
Aku mengingat kembali hari pertama ia di seret di sini. Aku terus saja menangis, menyesali semua yang telah terjadi. Aku bahkan tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengganti dress yang ku kenakan serta membersihkan polesan di wajah ku saat ini.
Kini air mata ku tampaknya sudah memenuhi bantal yang menjadi tempat menampung air mata ku sejak tadi hingga Aku tak sadar kalau mata ku terasa berat dan membawa ku pada rasa kantuk yang luar biasa.
• REY POV •
Aku baru saja terbangun dari tidur ku, Aku mengira hari sudah berganti. Tapi, sayangnya Aku menatap jam di atas nakas ku yang masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aku dapat mendengar suara gemuruh guntuh di luar sana dengan guyuran hujan yang begitu deras. Suara gemuruh guntur itu membuat ku kepikiran dengan Marsha yang sekarang berada di kamarnya.
Aku beranjak dari tempat tidur ku dan menuju ke kamar Marsha yang terletak tidak jauh dari kamar ku. Langkah kecil ku mengantarkan Aku berdiri di depan pintu kamarnya sambil menarik gagang pintunya dengan hati-hati agar tidak menyebabkan suara.
Aku kembali melangkahkan kaki ku dan mendapati Marsha yang masih mengenakan dress yang tadi ia pakai bersama ku saat makan malam bersama Daddy dan Azov. Aku semakin mendekat dan menatap wajahnya yang memucat. Aku begitu terkejut saat mendapatinya dalam keadaan seperti itu.
Wajahnya sangat pucat. Aku memegang wajahnya yang terasa panas. Bahkan dressnya terlihat basah karena buliran keringat yang memenuhi tubuhnya.
Sial! Aku harus bagaimana? Aku tidak pernah berada di posisi seperti ini sebelumnya.
Aku menghubungi Nathan tapi dia tidak menjawabnya. Ya! Tak akan ada orang yang menjawab panggilan di jam seperti ini.
Aku berlari menuju dapur dan mengambil handuk kecil beserta air dingin untuk menurunkan deman Marsha. Tapi, bagaimana dengan dress yang ia kenakan? Apa kah Aku harus membukanya?
*****