6. RUMOR KUTUKAN

1440 Words
• AUTHOR POV • Marsha dan Rey kembali ke apartement setelah kejadian semalam yang mengharuskan Rey menginap di hotel tempat acara ulang tahun perusahaan karena Marsha yang sedang mabuk dan melontarkan kata-kata yang membuat Rey speechless. Tidak ada banyak ucapan dari mulut Marsha setelah keduanya sampai di apartement membuat Rey sedikit heran. Ia menatap Marsha yang mengekor di belakangnya dengan wajah datar. Rey menyadarkan Marsha dengan menyuruhnya untuk mempersiapkan pakaian yang akan ia pakai hari ini ke kantor. Mendengar perintah itu Marsha langsung saja mengikutinya tanpa berkomentar. Marsha mengambil setelan tuksedo milik Rey yang berada di dalam ruang pakaiannya yang berada di sisi kiri ruang tengah apartementnya. Marsha membawanya ke dalam kamar di mana Rey yang tampak membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memejamkan matanya sejenak. Marsha menyodorkan pakaian milik Rey yang dia ambil dari dalam lemarinya sambil memanggil nama Rey dengan nada pelan. "Tuan Rey... ini baju Anda" ucap Marsha. Tidak ada respon dari Rey membuat Marsha menggoyangkan tubuh Rey sekali lagi untuk membangunkannya. Betapa terkejutnya Marsha saat tubuhnya terasa di tarik yang membuat ia menjatuhi tubuh kokoh Rey yang tengah terbaring di atas ranjang. Di saat yang bersamaan mata Rey juga ikut terbuka dan menatap Marsha yang tengah menindih tubuhnya. Mata Marsha melebar saat kedua pupil matanya saling menatap membuat ia tercekat dan salah tingkah. Marsha menarik dirinya dari dekapan Rey, tapi sayang lengan kekar Rey mengalung pada pinggangnya yang membuat ia kesusah untuk bangun. "Apa kamu sengaja menggoda ku?" tanya Rey sambil mengulas senyum. Mata Marsha semakin melebar mendengar ucapan Rey. Ia mengalihkan pandangannya menarik lengan Rey yang melekat pada pinggangnya agar ia dapat berdiri kembali. Dan ia berhasil melakukannya dengan wajah yang berubah menjadi memerah. "Tidak. Anda yang menarik ku" balas Marsha gugup.  "Oh iya?" Marsha mengangguk, ia mengiyakan pertanyaan Rey tanpa berani menatap Rey. Marsha kembali menyodorkan pakaian yang tadi ia bawa ke dalam ke kamar. Lalu ia keluar dengan memegang wajahnya yang terasa panas. Melihat hal itu Rey tidak dapat menahan senyumannya. Marsha berhasil keluar dari kamar dan menjauh dari Rey, ia mengipas wajahnya dengan kedua tangannya saat jantungnya juga kembali normal. Ia meneguk beberapa gelas air untuk mengontrol dirinya. "Astaga... hampir saja" batin Marsha merasa lega. Tidak lama setelah itu Rey keluar dari kamar dengan setelan tuksedo hitam pekatnya dan berjalan menuju Marsha yang tengah duduk bersandar di atas sofa.  "Sepatu ku" ucap Rey sambil berjalan menuju Marsha. Lagi dan lagi mendengar perintah Rey membuat Marsha beranjak dari sofa dan mengambilkan sepatu milik Rey yang berada di dalam ruang pakaiannya. Marsha menaruhnya di depan pintu masuk apartementnya dan melirik Rey yang tengah berjalan ke arahnya. Jantungnya semakin kacau saat ia merasakan Rey semakin mendekat ke arahnya dan wajahnya pun kembali memanas. "Aku pergi... jangan keluar tanpa memberitahu ku. Kamu paham?" ucap Rey yang di balas anggukan oleh Marsha sebelum ia meninggalkan apartement. Marsha kembali dapat merasa lega saat Rey meninggalkannya sendiri di apartement. • REY POV • Bibir ku tiba-tiba saja mengulas senyum menatap sikap Marsha pada ku siang ini. Sikapnya membuat ku bingung setelah pulang dari hotel, Aku sempat berpikir apakah dia mengingat kejadian semalam? Tapi, Aku rasa dia tidak mengingatnya. Aku terus saja melajukan mobil ku dengan pikiran yang tertuju padanya hingga tak ku sadari Aku sudah berada di basement kantor. Wajah ku seperti biasanya, datar tanpa ekspresi dan senyum saat memasuki kantor. Semua staff tampak memberi ku salam tapi Aku selalu saja mengabaikannya dengan wajah dingin ku. Meskipun Aku tau setelah itu mereka akan kembali menggosipi ku, dan itu sudah sangat sering terjadi. Aku menarik gagang pitnu ruangan ku yang menampakkan sosok Nathan asisten ku di sana yang tengah menunggu ku. "Selamat siang.. Tuan Rey" sapa Nathan pada ku sopan. Aku mengangguk dan duduk di singgahsana ku. "Apa ada jadwal ku siang ini?" tanya ku sambil membuka laptop ku. "Ya. Jam 03:00 siang nanti, Anda memiliki janji temu dengan Tuan Azov" balas Nathan memperlihatkan jadwal milik Rey.  Aku mengangguk mengingat kembali ucapan ku yang memang sudah membuat janji untuk bertemu Azov siang ini. "Hm... baiklah, Ingatkan Aku kembali 30 menit sebelum jam temunya. Aku akan beristirahat sebentar" Nathan meninggalkan ku setelah mendengar perintah ku. Aku menyandarkan pundak lebar ku pada sandaran kursi berputar ku sambil memenjamkan mata ku sejenak. Tapi, tiba-tiba saja sesuatu terbesit di kepala ku. Rasanya Aku kembali pada kejadian semalam di mana Aku yang sangat terkejut melihat kondisi Marsha yang tengah tidur di atas ranjang yang hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Sial! kenapa hal itu bisa kembali di pikiran ku? Lalu Aku juga mengingat ucapan Marsha malam itu. "Kamu tau? Aku paling benci dengan orang yang membentak ku! Karena, ibu dan ayah ku tidak pernah kasar ataupun berteriak pada ku. Sedangkan kau?!.."  "... Kau hanya orang kaya yang tidak tau menghargai perasaan orang. Kau selalu saja marah dan berucap kasar tanpa memperdulikan perasaan orang... " ".. Kau tau? Bagaimana perasaan ku menjalankan pekerjaan konyol ini? Kau tau bagaimana frustasinya Aku yang tidak bisa kembali ke negara ku? Bahkan kau tidak tau bagaimana sabarnya Aku menghadapi setiap kali kau berucap kasar pada ku! Hati ku sangat... " Sial! kenapa Aku harus terganggu dengan ucapannya tentang diri ku. Lalu notification ponsel ku berbunyi dengan menampilkan pesan dari Marsha pada layarnya. - Marsha Anindhira - "Aku ingin ke supermarket sebentar.. Ada yang harus ku beli" Aku membalas pesannya dengan memberikan ijin padanya untuk ke supermarket. Aku selalu mengingatkan Marsha untuk memberitahu ku kemana ia akan pergi, karena Aku tidak ingin pusing kalau saja saat Aku sampai di rumah lalu tidak mendapatinya di sana. Nathan kembali masuk mengingatkan ku soal jadwal ku siang ini dengan Azov.  Azov adalah saudara tiri ku dari istri kedua Ayah ku yang telah ia ceraikan karena ketahuan selingkuh dan membuat ia kembali bersama ibu ku. Hubungan ku dengan Azov kurang baik, karena kejadian dulu saat Aku yang melaporkan hubungan perselingkuhan Ibunya dengan asisten pribadi Ayah ku. Hal itu membuat Azov geram, karena ia sempat berjanji pada ku untuk menegur ibunya dan untuk berhenti tapi tetap saja ibunya masih saja berhubungan membuat ku kehilangan kesabaran dan mengatakan semuanya pada Ayah ku. Azov baru saja kembali dari Canada setelah tiga tahun lalu Ayah menyuruhnya untuk meninggalkan Singapura bersama ibunya. Lalu ia kembali ingin bertemu dengan ku, entah apa maksud dan tujuannya Aku harus menemuinya. Sebuah cafe yang cukup jauh dari kantor yang menjadi tempat pertemuan ku dengannya. Aku menyuruh Natha untuk menunggu ku di mobil dan tidak perlu menemani ku masuk untuk bertemu dengan Azov. Baru saja Aku melangkahkan kaki ku masuk, Aku dapat mengenali pundak atletisnya dari jauh. Aku berjalan dengan santai ke arahnya. Aku mendudukkan diri ku tanpa ia persilahkan lalu menatap wajahnya yang tidak memiliki perubahan sama sekali dari tiga tahun yang lalu. Ia tersenyum pada ku. "Wow... Lama tidak bertemu dengan mu, Rey" ucapnya memperlebar senyumannya. "Ya. Ada apa? Kenapa kau ingin bertemu dengan ku? Aku pikir kau sudah tidak ingin menemui ku" balas ku. "Ssstt.. jangan menyinggung masa lalu, Rey. Semuanya sudah berlalu, Aku juga sudah menyadari kesalahan ibu ku. Jangan menatap ku seperti, Brother.." ".. Bagiamana kabar Daddy?" lanjutnya sambil meneguk minuman yang telah ia pesan lebih dulu sebelum kedatangan ku. "Dia baik-baik saja, kau tidak usah mengkhawatirkannya" "Lalu perusahaan?" "Dan itu kau juga tidak perlu khawatir, karena Aku menjaganya dengan penuh kehati-hatiannya" "Lalu pasangan mu?" Aku menghela napas kasar saat pertanyaan itu membuat ku sedikit kesal. Bukannya dia sangat tau kisah percintaan ku tiga tahun lalu yang kandas karena wanita itu menyelingkuhi ku bersama Thomas. "Kau tidak perlu sibuk mencampuri urusan yang bukan urusan mu, Azov" "Berarti rumor itu benar?" Sial! lagi lagi masalah rumor kutukan b******k itu! "Aku sudah katakan pada mu, rumor itu tidak benar! Siapa yang percaya kutukan konyol itu?" "Aku mempercayainya sekarang, kau memang tidak pernah memiliki wanita yang sanggup bertahan dengan mu. Ingat, Daddy pasti menginginkan keturunan dari mu, kan? Untuk melanjutkan perusahaannya.." ucapnya sambil menertawai ku. "... Apa mungkin Aku saja yang memberikan Ayah keturunan?" lanjutnya yang membuat ku semakin geram. "Jaga ucapan mu, Azov!" Teriak Rey. Tawa itu semakin puas, wajahnya yang menyepelehkan ku membuat ku muak. "Aku heran.. Daddy mengetahui soal rumor itu tapi kenapa masih mempercayai mu? Apa dia hanya ingin membuktikan pada semua orang kalau anaknya memang terkena kutukan?" "Apa kau sengaja mengatakan ini karena ingin membuat ku kesal pada Daddy? kau salah, Azov! Daddy melakukan semuanya karena ia yakin kalau Aku bisa memberikannya keturunan. Karena, ia tidak mau memiliki keturunan dari anak seorang istri yang tukan selingkuh seperti ibu mu" "Jaga ucupan mu, Rey!" teriak Azov. Ucapan ku tampaknya sukses membuat harga dirinya terluka. Itu adalah balasan yang pantas untuk dirinya karena sudah bermain dengan ku. "Kenapa? Apa kau mau mengingkari perbuatan ibu mu? Kalau saja dia tidak menghianati Daddy mungkin saja kau memiliki jabatan di perusahaannya. Tapi, sayang kau dan ibu mu tidak berarti apa-apa buat keluarga ku. Dan itu memang sudah nasib mu di asingkan oleh Daddy.." ucap ku beranjak dari kursi. ".. Oh iya, Dan satu lagi, jangan pernah bermain-main dengan ku. Kau paham?" lanjut ku meninggalkannya. Tapi, langkah ku tercekat saat mendapati seorang wanita yang ku kenali baru saja masuk ke dalam Cafe tersebut. Marsha? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD