5. TIDUR DI HOTEL

1490 Words
• MARSHA POV • Aku ingin pulang. Aku tidak ingin lagi melanjutkan pekerjaan ini. Harga diri ku telah hancur karena melakukan pekerjaan semacam ini. Bahkan dia juga bersikap kasar dan tidak menghargai ku. Aku ingin pulang. Tapi, Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk kembali ke Indonesia. Terlebih lagi mengganti uang yang di bawa kak Irene saat menjual ku. Aku masih mengurung diri ku di dalam kamar mandi sambil menyeka air mata ku yang terus saja turun membasahi pipi ku. Aku menarik gagang pintu perlahan setelah Rey dan Nathan meninggalkan kamar. Aku menatap jendela dengan segala pikiran yang kalut lalu suara ketukan pintu menyadarkan ku. Apakah Rey sudah kembali? Aku berjalan menuju pintu lalu membukanya, tampaknya Aku salah. Seorang pelayan hotel berdiri di ambang pintu dengan membawa sesuatu di tangannya. "Permisi nona, ini makan malam Anda yang di pesankan tuan Rey" ucapnya sopan. Aku mempersilahkannya masuk dan menyimpan sajian yang ia bawa di atas nakas lalu dia pamit untuk meninggalkan ku. Aroma daging yang di panggang itu membuat perut ku terasa lapar. Menangis di dalam kamar mandi tampaknya membuat tenaga ku juga ikut terkuras. Aku mengiris daging itu lalu memakannya. Aku dapat merasakan bumbu itu meleleh di dalam mulut ku serta tekstur dagingnya yang sangat lembut. Lalu mata ku tercekat saat melihat botol minum berwarna gelap yang juga di berikan pada ku. Aku menuangkannya sedikit pada gelas ku lalu meneguknya. Rasa manis yang mendominasi dari black cherry, raspberry, dan plum menjadi satu dalam sekali tegukan. Rasanya minuman ini memang cocok untuk di nikmati bersama steak. Kepala ku terasa berat setelah menghabisi semua makan serta minuman botol itu dalam tetesan terakhirnya. Aku sangat kenyang dan sedikit pusing. Bahkan tubuh ku terasa sangat panas. Aku seperti melayang dan pikiran yang membuat suasana hati ku hancur juga ikut melayang bersama tubuh ku. Aku menjatuhkan diri ku di atas kasur dengan mata yang sangat berat. • AUTHOR POV • Rey berdiri di atas podium sambil berpidato sedikit pada hari ulang tahun perusahaannya. Ia berusaha terlihat ceria di hadapan semua staff serta dewan direksi. Tidak banyak yang dapat di sampaikan olehnya karena kejadian tadi yang membuat kepalanya pusing. Suara tepuk tangan yang meriah mengakhiri pidato singkat dari Rey. Tanpa ikut melanjutkan pestanya Rey yang juga di ikuti Nathan kembali menuju kamar yang tadi ia pesan. Tapi, langkahnya tercekat saat menampakkan kembali sosok Thomas yang menarik lengannya saat Rey ingin menaiki lift. "Mau kemana Rey? Kenapa kau tidak menikmati pesta mu sendiri?" tanya Thomas mengulas senyum. "Aku tidak bisa menikmatinya sesuatu kalau ada kau di dalamnya. Kau paham?" balas Rey sinis. "Oh iya? Padahal dulu juga kita menikmati wanita yang sama, apa kau lupa? Apa kau sengaja----" Buuuuukkkk! Rey meninju wajah Thomas sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Kali ini perkataannya benar-benar membuat Rey tidak tahan. "CUKUP THOMAS! Aku sudah bersabar sejak tadi karena mu!" teriak Rey kesal. Thomas menyeka darah segar yang mengalir pada sudut bibirnya. Thomas tertawa puas setelah melihat Rey terlihat marah hingga memukulnya. "Santailah Rey. Aku hanya berusaha membantu mu mengi---" "Tidak perlu! Aku tidak perlu lagi mengingatnya. Kau paham! Pergi dari sini, b******k!" sela Rey dengan amarahnya yang memuncak.  Thomas yang masih saja tertawa meninggalkan Rey dengan menaiki lebih dulu lift yang tadi akan di masuki Rey dan juga Nathan. "Sial! Dia benar-benar b******k!" umpat Rey kesal sambil melonggarkan dasi yang mengikat di lehernya. Rey dan Nathan masuk ke dalam lift dan menekan angka delapan pada tombol lift tersebut. Di mana ia akan di antarkan ke kamar yang saat ini di tempati Marsha saat ini.  Langkah demi langkah mengantarkan Rey dan Nathan menuju kamar. Rey menarik gagang pintu kamar dan tampak tercengang dengan apa yang lihat di hadapannya. • REY POV • Hari yang sangat menyebalkan buat ku. Aku berjalan menuju kamar dengan Nathan yang berada di belakang ku. Aku menarik gagang pintu kamar yang menuliskan "Kamar 1102". Aku terkejut saat membuka pintu dan melihat sesuatu yang membuat mata ku melebar dan kembali menutup pintu itu kembali sebelum Nathan juga menyaksikannya. "Hm.. " "Ada apa, Tuan?" tanya Nathan bingung. "Hm.. Itu--hm, maksud ku kau sudah bisa kembali. Nanti Aku dan Marsha akan kembali sendiri" balas ku yang masih terkejut. "Hm.. Anda baik-baik saja? Sepertinya Anda sedikit resah" "Tidak. Tidak apa apa. Kau bisa kembali, okay?" pinta ku. Nathan mengangguk dan berpamitan pada ku tanpa melontarkan komentar apapun. Aku kembali menarik gagang pintu itu secara pelan sambil menghela napas kasar saat mendapati Marsha yang tengah tidur tanpa balutan dress yang tadi ia kenakan membalut tubuhnya. Dress itu terlihat di depan jendela kaca yang sedikit jauh dari ranjang. Apa yang terjadi? Aku juga dapat melihat piring kosong bekas Marsha dengan sebotol wine yang tidak tersisa lagi. "Astaga.. Kenapa dia memberikannya wine yang ini? Aku sudah mengatakan beri wine dengan low alchol, bukan yang ini. Pantas saja dia seperti ini" "Wait! Apa tadi dia membuka dressnya di depan jendela?" Aku mengarahkan pandangan ku pada Marsha. Ia tampak tertidur pulas dengan wajah polosnya. Aku memijit pelipis ku lalu menyelimuti tubuh Marsha yang saat ini yang mengenakan pakaian dalamnya saja. Rasanya sangat sulit mengalihkan pandangan ku yang kini tengah menatap paras cantik wanita yang terpaut cukup jauh dari umur ku sambil tersenyum. Entah yang membuat Aku dapat memgukir senyum di sudut bibir ku hanya karena menatap ia yang sedang mabuk. "Ah, Sial!  Ada apa dengan selimut sial ini! Kenapa Aku sangat kepanasan" ucap Marsha melempar selimut yang membalut tubuh rampingnya sambil mengumpat kesal.  Aku menghela napas kasar sambil tertawa menatap sikapnya.  "Rupanya anak ini bisa mengumpat juga" Aku memperlebar senyuman ku saat membayangkan kalau saja Marsha terbangun mendapati dirinya yang tidak mengenakan lagi dressnya. Terlebih lagi kalau Marsha mendapati ku yang kini tengah berdiri di hadapannya. Aku pastikan Marsha pasti akan menangis histeria menatap ku yang seolah sudah memperkosanya. Lalu Aku tercekat, saat tiba-tiba saja mata Marsha terbuka dan menatap ku.  Aku tersentak dan panik saat Marsha tiba-tiba saja bangun. "Marsha..?" sahut ku.  Marsha beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah ku dengan mata yang begitu sendu. Aku beringsut mundur hingga tak sengaja menabrak jendela kaca kamar hotel.  "Tuan Rey yang kaya raya.. Apa Anda merasa hebat sudah membentak ku, ha?!" teriak Marsha yang masih belum mendapatkan kesadarannya. "What?" "Kau tau? Aku paling benci dengan orang yang membentak ku! Karena, ibu dan ayah ku tidak pernah kasar ataupun berteriak pada ku. Sedangkan kau?!.." ucapnya yang saat ini berada sangat dekat pada ku.  "... Kau hanya orang kaya yang tidak tau menghargai perasaan orang. Kau selalu saja marah dan berucap kasar tanpa memperdulikan perasaan orang... " lanjut Marsha dengan gumpalan air mata di pelupuk mata sendunya. ".. Kau tau? Bagaimana perasaan ku menjalankan pekerjaan konyol ini? Kau tau bagaimana frustasinya Aku yang tidak bisa kembali ke negara ku? Bahkan kau tidak tau bagaimana sabarnya Aku menghadapi setiap kali kau berucap kasar pada ku! Hati ku sangat... " Aku tercekat saat tiba-tiba saja tubuhnya akan terjatuh. Lalu dengan gesit Aku berhasil menopang tubuh Marsha yang akan ambruk sebelum menyelesaikan ucapannya. Aku dapat merasakan air matanya kini jatuh membasahi kemeja yang ku kenakan saat ini. Aku mengangkat tubuh Marsha dan membaringkannya kembali di atas ranjang sambil menyeka air matanya. Lalu Aku menghubungi pelayan hotel wanita untuk membantu Marsha mengenakan kembali dress yang berhasil tadi di lucutinya sendiri. Serta membukakan satu kamar lagi untuk ku tidur malam ini. Aku merenggangkan otot tubuh ku saat pancaran matahari pagi itu menembus jendela kamar ku. Lalu ponsel ku berdering dan menampilkan nama Marsha pada layarnya. "Ada apa? Apa kamu sudah bangun?" "Apa Anda meninggalkan ku di hotel semalam?" Aku mengakhiri panggilannya lalu berjalan menuju kamarnya yang berada tepat di depan kamar ku. Aku menarik gagang pintunya dan melihat dia yang tampak berantakan di atas ranjang dengan dress yang sudah kembali melekat di tubuhnya. "Ekhm.. Anda tidur di kamar depan?" tanyanya. Entah dia mengingat kejadian semalam atau tidak. Aku tidak akan menyinggungnya lebih dulu. "Menurut mu, Aku akan tidur bersama mu?" "Hm.. Bukan! Tentu saja tidak! Oh iya.. Aku minta maaf soal semalam dan juga... " Aku semakin mendekat ingin mendengarnya lebih jelas. Apa dia akan menyinggung soal kejadian semalam? ".. Hm, sepertinya Aku mabuk dan mengunci pintu. Aku.. Hm, aku sangat minta maaf. Mungkin karena itu Anda mengambil kamar lain dan harus tidur di sini tadi malam" Entah kenapa Aku meras lega dengan ucapannya yang tidak mengingat kejadian semalam. "Ya! Karena mu, Aku juga terlambat pergi kantor pagi ini. Karena harus menunggu mu bangun dan kembali ke apartement" balas ku. "Aku minta maaf. Tolong jangan marah, Aku tau Anda orang yang sangat baik.. Hm?" "What? Padahal semalam kamu mengatakan hal yang sebaliknya" batin ku. "Oh iya? Apa Aku baik?" "Ya. Tentu saja" balasnya penuh percaya diri. "Lalu apa kebaikan ku?" "Ah?---hm.." Aku menatapnya yang seakan berpikir kebaikan apa yang telah ku berikan padanya. ".. Hm, pokoknya Anda orang yang baik. Karena, itu.. Oh iya Anda memberiku ponsel baru, Anda juga membelikan ku baju yang bagus, serta memberikan ku gaji yang sangat banyak" "Lalu kamu menyukai pekerjaan mu?" "Ah? Hm, awalnya memang berat tapi Aku rasa Aku sudah bisa menjalani semuanya" lanjutnya dengan wajah yang Aku tau di sangat berusaha terlihat natural dengan kebohongannya. Tapi, hal itu terlihat sangat lucu buat ku. Itu membuktikan kalau ia sangat takut pada ku. Apa Aku sangat keras pada anak ini? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD