4. DILECEHKAN

1293 Words
• AUTHOR POV • Marsha sangat cantik dengan gaun yang melekat di tubuh rampingnya dan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah, meskipun ia sangat risih dengan belahan dadanya yang terlalu tereskpos dan membuatnya tidak nyaman. Rey mengagetkan Marsha yang tengah menatap dirinya pada pantulan cermin yang berada di hadapannya. Tidak di pungkiri Rey memuji kecantikan alami yang di miliki Marsha yang memiliki perbedaan umur yang cukup jauh darinya. Rey mengajak Marsha untuk ikut di acara ulang tahun kantornya yang di adakan di salah satu hotel termewah di Singapura. Rey akan membungkam mulut para staffnya yang selalu mengurusi urusan pribadi Rey tentang pasangan hidupnya di tengah umur yang tak muda lagi. "Sudah siap?--hm, ingat jangan melakukan kesalahan apapun. Dan jangan terlalu banyak membuang ucapan yang tidak berguna. Kamu paham?" pinta Rey. "Hm" balas Marsha singkat. "Oh iya.. Dan jangan terlalu formal pada ku. Karena, kamu ingi kekasih ku. Panggil Aku, Rey. Kamu paham?" lanjutnya berjalan menuju mobil. Marsha mengingat semua perkataan Rey. Ia berharap tidak melakukan kesalahan apapun yang nantinya akan membuat Rey marah. Mobil Rey yang di kemudikan oleh asisten pribadinya berhasil di tepikan di pintu masuk hotel. Rey membuka kan pintu untuk Marsha layaknya seorang pasangan yang sesungguhnya. Rey menggenggam tangan Marsha yang terasa sangat dingin. Marsha sangat nervous, ini adalah pertama kalinya ia mendatangi acara seperti ini di hidupnya. "Jangan gugup, tenang. Hm?" bisik Rey lembut pada Marsha. Marsha menelan salivanya saat bisikan Rey membuat jantungnya semakin berdebar hebat. Langkah kecil membawa keduanya masuk ke dalam ballroom hotel yang terlihat begitu megah. Rey dapat melihat semua staffnya yang tengah menyaksikan kedatangannya bersama dengan seorang wanita. Semua pasang mata tampaknya begitu tertarik dengan kedatangan pimpinannya dengan membawa seorang wanita. Marsha semakin gugup saat semua orang menatapnya. Ia mengenggam tangan Rey cukup keras membuat Rey sedikit kesakitan. Langkah Rey terhenti begitupun Marsha saat seseorang pria jangkung menyapa Rey. Ia terlihat seperti orang eropa dengan bentuk wajahnya. Ia juga menyapa Marsha dengan ramah.  Lalu tidak lama seseorang juga mendekat ke arah Rey dan Marsha. Wajah Rey yang sejak tadi tenang dan senang berubah menjadi tegang dan sinis. Pria berkacamata hitam itu menyapa Marsha dan juga Rey. • REY POV • Seseorang berjalan ke arah ku langkahnya semakin dekat membuat ku dapat mengenali wajahnya yang tampak tak asing bagi ku. Thomas? Dia sahabat ku dulu, sebelum permusahan ku yang di awali setelah memecatnya dari perusahaan. Dan entah kenapa ia berhasil masuk ke dalam sini. Dia memamerkan senyum tidak bersalahnya saat kembali bertemu dengan ku setelah dua tahun lamanya. "Halo.. Rey" sapanya. "Kenapa kau bisa masuk ke sini?" tanya ku tanpa basa-basi. "Apa kau tidak rindu dengan ku? Kita sudah dua tahun tidak bertemu.." balasnya memperlebar senyumannya. "Hm.. Excusme, bisa Anda meninggalkan ku dan Rey?" lanjutnya pada Mr. Jay "Oh ya.. Tentu. Aku permisi Mr. Rey" Aku menatap kesal pada Thomas, dia selalu saja melakukan kehendaknya. "Anda juga.. Tolong" ucap Thomas pada Marsha. "Hm.. Aku?--hm, baik---" "Tetap di sini!" sela ku mencekat tangan Marsha. Aku semakin geram menatap Thomas yang terlihat penasaran dengan Marsha. "Wow.. Apa dia kekasih mu yang baru?" "Ya" balas ku singkat. "Really? Halo, Nona.. Berapa Rey membayar mu?" Lagi dan lagi ucapannya membuat ku semakin geram. Amarah ku kini memuncak hingga kepala ku. Untung saja Aku berada di sini, kalau tidak mungkin saja Aku sudah menghantam wajah menjengkelkannya itu. Aku merasakan tangan Marsha mencengkram ku begitu kuat di bawah sana. Ia terlihat takut pada Thomas, hm mungkin saja ia juga takut kalau sampai ia mengatakan hal yang salah. "Berhenti lah mengusik kehidupan ku, Thomas!" Aku sudah merasakan darah ku yang mendidih karena sikapnya. "Kalau dulu kau juga tidak mengusik kehidupan ku, Aku tidak akan seperti ini Rey!" "Haaaaa!! Astaga baju And--hm, Rey" ucap Marsha yang terkejut melihat Thomas yang menumpahkan wine itu di setelan tuksedo ku. Sial! Dia benar-benar kelewatan, tapi Aku tidak bisa menghantam wajahnya karena terlalu banyak mata yang akan menyaksikannya. Image ku di depan para dewan direksi akan tercoreng dan pastinya Aku akan memiliku banyak pertanyaan yang akan Aku jawab saat rapat nanti. Benar-benar sial! "Sudah ku duga! Kau kekasih bayarannya, Rey. Jadi berapa harga mu? Kalau Aku membayar mu lebih, apa kamu bersedia bersama---" Praaaakk!!! "Tolong jaga ucapan Anda! Aku berkata seperti itu, hanya ingin mengormati Rey di depan temannya. Tapi, sepertinya Aku salah. Dan Anda bukan orang yang pantas untuk di perlakukan seperti itu!" "What? Das---" "Stop! Thomas!" Aku berhasil menggapai pergelangan Thomas lebih dulu sebelum tangannya mengenai pipi Marsha. Teriakan ku membuat semua orang menatap ku. Hari ini benar-benar menjengkelkan, dan lebih sialnya Aku harus bertemu dengan b******n ini! Aku menarik tangan Marsha pergi meninggalkan Thomas dan ballroom hotel. Aku menghubungi Nathan asisten pribadi ku untuk membawakan baju ganti yang akan ku pakai untuk berpidato nanti di atas podium. Aku membawa Marsha di salah satu kamar hotel untuk menunggu Nathan membawakan baju ganti ku. Ia terlihat khawatir saat setelan ku menjadi kotor. Ia dengan sikap lembutnya membersihkan noda wine itu yang membekas di sana. "Sudah, tidak perlu. Nathan akan membawakan baju gantinya" ucap ku menangkup tangannya yang masih membersihkan noda itu. Marsha menunduk menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan linangan air mata. Aku terkejut sekaligus bingung, kenapa ia menangis. "Kenapa kamu menangis? Bukannya tadi Aku sudah mencegat dia untuk menampar mu?" "Apa Aku terlihat seperti seorang p*****r?" Ucapannya sangat mengejutkan ku. Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Apa ia tersinggung karena ucapan Thomas soal kekasih bayaran itu? "Siapa yang mengatakan kamu seorang p*****r? Kamu bukan seorang p*****r, Marsha.. " "Hm.. Jangan masukkan di hati ucapan Thomas. Dia memang---" "Tidak! Dia benar. Apa bedanya Aku dengan seorang p*****r? Bukannya Anda membayar ku untuk menjadi kekasih Anda?" selanya sambil terseguk. "Jelas beda, Marsha! Apa kamu menjual tubuh mu pada ku? Tidak, kan? Apa Aku pernah menyentuh mu? Tidak, kan? Aku hanya membayar mu untuk melakukan pekerjaan. Itu sangat jauh berbeda dengan seorang p*****r! Ayolah.. Pakai otak mu berpikir jernih. Kamu bahkan sudah dewasa, jangan berpikiran sempit seperti ini" jelas ku. • AUTHOR POV • Ucapan Rey membuat Marsha terdiam sambil menyeka air matanya. Tapi, Marsha merasa harga dirinya hancur karena ucapan Thomas yang melecehkannya. Rey menangkup pundak telanjang Marsha karena dress yang ia kenakan malam ini. Rey menenangkan Marsha dan membangkitkan kembali percaya dirinya. "Tapi, tetap saja kak Irene sudah menjual ku pada mu. Aku bahkan kadang takut kalau.. Hm, kalau--" "Kalau apa? Aku akan menyentuh mu? Memaksa mu? Memerkosa mu? Itu maksud mu?!" sela Rey yang mulai kesal. "Aku sudah katakan pada mu Marsha! Aku tidak akan melakukannya! Aku hanya butuh kamu, sebagai kekasih pura-pura ku saja untuk membungkam semua mulut cerewet para staff ku. Kenapa kamu tidak paham itu?!!" lanjut Rey dengan nada membentak pada Marsha. Air mata Marsha kembali membasahi pipi ranumnya. Teriakan Rey membuat suasana hatinya kembali buruk. Melihat hal itu, kepala Rey seakan mau pecah. Bahkan ia dengan lantangnya mengumpat di hadapan Marsha. "f**k! Ini benar-benar hari yang sial! Kalau seperti ini, harusnya Aku tidak membawa mu! Kamu membuat ku semakin pusing, Marsha!" teriak Rey kembali bersamaan dengan suara ketukan pintu dari luar kamar. Rey menendang kaki tempat tidur sambil mengumpat sekali lagi sebelum ia membuka pintu dan menampakkan sosok Nathan yang tengah berdiri di ambang pintu. Marsha masuk ke dalam kamar mandi mengeluarkan semua tangisannya yang tertahan. Bahkan Nathan dapat mendengar segukan Marsha dari dalam kamar mandi. Rey telah selesai mengganti pakaiannya yang tadi kotor karena tumpahan wine yang di lakukan Thomas padanya. "Hm.. Nona Marsha, apa dia tidak ikut?" tanya Nathan. "Tidak perlu! Biarkan dia menghabisi air matanya di dalam sana. Membawanya kesana akan menimbulkan banyak pertanyaan karena matanya yang sembab. Biarkan saja dia di kamar ini sampai acara selesai" balas Rey sambil melirik ke arah kamar mandi sebelum ia meninggalkan kamar itu. Marsha menangis sekuat ia bisa. Make up nya menjadi berantakan. Ucapan Thomas serta bentakkan Rey membuat hatinya terasa sakit. Rey tidak seharusnya membentak Marsha. Tapi, Rey bukan golongan pria yang sabar untuk membujuk seorang wanita. Ia sangat buruk untuk menghibur seseorang.  *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD