• AUTHOR POV •
Suara pintu terbuka mengagetkan Marsha yang tadi tidak sengaja ketiduran di atas sofa. Ia berlari menuju pintu dan mendapati Rey yang baru saja kembali dari kantor. Marsha menagih janji Rey kalau saat ia pulang, Rey akan mengijinkan Marsha menghubungi kedua orang tuanya yang berada di Bandung. Tapi sayangnya sikap Marsha itu mendapat bentakkan dari Rey. Rey membentak Marsha karena ia baru saja pulang dari kantor dan tiba-tiba saja Marsha meminta hal tanpa menyambut Rey terlebih dahulu.
Rey memarahi Marsha dan berteriak padanya. Urusan di kantor sudah cukup membuat kepalanya pusing. Tapi, Marsha tidak melihat kondisi Rey yang terlihat begitu lelah. Hal itu yang memacu amarah Rey padanya.
Marsha terkejut dan tidak menyangka kalau Rey akan membentaknya. Marsha beringsut mundur dengan buliran air mata di pelupuk matanya. Rey menatapnya sinis tanpa rasa bersalah sambil mengendorkan dasi yang sejak tadi melilit di lehernya.
Rey melemparkan jas miliknya di wajah Marsha.
"Harusnya kamu belajar melihat situasi dan kondisi. Dan kamu juga belajar bagaimana menyambut kekasih mu saat ia baru pulang kantor. Jangan mengikuti ego mu! Kamu selalu saja membuat ku marah!" ucap Rey melirik sinis ke arah Marsha.
Marsha menundukkan kepalanya dan mengambil jas milik Rey yang jatuh di lantai karena mengenai wajahnya.
"Maafkan Aku. Aku baru pertama kali seperti ini, jadi Aku tidak tau" balas Marsha ragu.
Rey menghela napas kasar menatap Marsha dengan penuh frustasi.
"Tugas mu yang lain.. kalau Aku baru pulang kantor hal yang harus kamu lakukan itu menyambut ku, membantu ku melepaskan jas ku, membuatkan ku air hangat. Kamu di sini, Aku bayar. Kamu juga harus membersihkan rumah ku. Kamu paham?" jelas Rey.
Rey menjatuhkan dirinya di atas sofa. Kepalanya begitu pusing dengan semua tuntutan pekerjaannya.
"Kenapa kamu berdiri saja di sana kayak patung? Apa tadi kamu tidak dengar? Aku butuh air hangat untuk kesehatan ku, cepat Marsha!" teriak Rey kesal karena keleletan Marsha.
Marsha berlari menyiapkan air hangat untuk Rey.
Perasaan Rey mulai kembali stabil, ia membersihkan dirinya sebelum menemui Marsha yang sudah kembali ke kamarnya sejak tadi.
• MARSHA POV •
Aku merenung di depan jendela kamar ku, pikiran ku terus saja terarah pada kedua orang tua ku. Sudah dua hari ini Aku tidak menghubunginya. Aku khawatir kalau kak Irene mengatakan semuanya pada Ibu, Aku takut mereka akan khawatir dan cemas. Aku juga tidak ingin kalau nanti Ibu sakit karena ku.
Sebenarnya apa yang ku lakukan? Kenapa Aku harus berakhir dengan orang semacam dia? Apa kesalahan ku? Meskipun Aku menginginkan pekerjaan, tapi bukan pekerjaan seperti ini yang ku maksud.
Marsha kenapa hidup mu jadi seperti ini?
Aku tersadar saat suara ketukan dari luar pintu kamar mengagetkan ku. Lalu perlahan pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Rey yang berada di ambang pintu tersebut. Ia menatap ku dengan wajah yang sudah terlihat enak untuk di pandang.
Rey mendekat pada ku membuat langkah ku beringsut mundur hingga tubuh ku menabrak jendela kaca.
"Kenapa kamu mundur? Kamu takut?"
Aku diam mengabaikan pertanyaannya. Rey mengulas senyum sembari menatap ku, mungkin ekspresi ku sudah terlihat menjawab pertanyaannya.
Rey melemparkan ku sebuah kotak, Aku terkejut saat melihat isi kotak itu yang tidak lain adalah sebuah ponsel. Aku menatapnya bingung. Kenapa Rey tiba-tiba saja memberi ku ponsel setelah tadi ia memarahi serta membentak ku?
"Pakai itu untuk menghubungi kedua orang tua mu" ucap Rey.
"Berapa harga ponsel ini?"
"Maksud mu? Kenapa kamu menanyakan harganya? Apa kamu tidak mau memakai ponsel murahan?" Rey kembali terdengar sinis.
"Bukan. Bukan seperti itu. Hm, Aku hanya bingung kenapa Anda memberikan ponsel ini pada ku? Apa gaji ku akan di potong untuk harga ponsel ini? Kalau iya, Aku minta ponsel yang harganya murah saja. Kalau ponsel mahal kan, gaji ku---"
"Aku memberikan ponsel karena Aku tidak suka kalau nanti ponsel ku terus saja berdering karena orang tua mu, kamu paham? Kalau kamu terus saja memakai ponsel ku buat menghubungi mereka, lalu kamu pikir nomor siapa yang akan mereka hubungi untuk menanyakan kabar mu? Kau pikir Aku pengangguran? Orang yang menghubungi ku di nomor itu sangat bany---"
"Iya.. Aku paham. Anda tidak perlu menjelaskan semuanya, nanti malah memarahi ku lagi" sela ku.
Aku menarik pandangan ku darinya lalu menatap ponsel baru ku yang membuat suasana hati ku bahagia.
"Sini!"
Rey menarik ponsel ku yang baru saja Aku nyalakan.
"Ini nomor ku" ucapnya sambil memasukkan nomor ponselnya hingga ia juga menerapkan panggilan cepat pada ponsel ku.
"Kamu bisa menghubungi ku dengan menekan lama pada angka satu, kamu paham?" lanjutnya mengajari ku.
Aku mengangguk mengerti. Baru saja ponselnya berdering dengan nomor ku yang berada di layar ponselnya.
Rey menyerahkan kembali ponsel ku membuat Aku sudah bisa melakukan panggilan pada kedua orang tua ku.
Aku menatapnya yang masih ada berada di hadapan ku. Aku sudah mengatakan ingin menghubungi kedua orang tua ku. Tapi, dia tetap berdiri dan ingin mendengarkan semua percakapan ku. Padahal ini adalah privasi ku.
"Aku khawatir kamu akan mengatakan hal yang merugikan ku pada orang tua mu" ucap Rey berjalan sambil duduk di tepi ranjang ku dan memperhatikan ku.
Aku memutuskan untuk menghubungi Ibu, lagian Aku juga tidak ingin membuat mereka cemas. Mau atau tidak Aku harus merahasiakan keberadaan ku di Singapura dari mereka.
Aku menghubungi Ibu dengan nomornya yang selalu Aku ingat.
"Halo.. Ibu? Ini Marsha"
"Loh, Marsha? Kamu ganti nomer lagi nak?"
"Iya bu. Hp Marsha hilang kemaren, jadi baru sempet ngabarin Ibu. Baru beli hp juga bu. Gimana kabar ibu dan Ayah?"
Rey terus saja menatap ku, ia bahkan menatap ku dengan penuh keseriusan mendengar semua percakapan ku dengan Ibu.
"Iya nak, gak apa apa. Ibu dan Ayah mu baik-baik saja. Kamu gimana? Udah ada kerjaan?"
"Iya bu, alhamdulillah.. Marsha sudah punya kerjaan yang bagus dan gajinya juga lumayan bu"
"Alhamdulillah nak... Jaga kesehatan mu yah, jangan terlalu capek kamu"
"Iya bu.. Ibu sama Ayah juga ya.. Oh iya, bu sudah dulu. Nanti Marsha telpon lagi yah bu.. "
Aku mengakhir panggilan ku dengan Ibu. Rey masih saja menatap ku dari tepi ranjang. Tatapan itu sungguh membuat ku sedikit canggung dan degdegan.
"Kenapa Anda dari tadi menatap ku seperti itu?" tanya ku penasaran.
"Apa Aku membuat mu tidak nyaman dengan tatapan ku?"
"Hm.. Ya sedikit" balas ku ragu.
Rey tersenyum kecil menatap ku sebelum ia meninggalkan kamar ku. Aku masih bingung dengan sikapnya yang baru saja. Aku mengikutinya keluar dari kamar ku.
Sepertinya suasana hatinya sudah benar-benar baik, Aku berterima kasih padanya sudah membiarkan ku menghubungi Ibu.
"Apa Anda lapar? Aku akan memasakkan sesuatu" ucap ku mengekor di belakangnya.
"Hm.. Boleh. Aku akan memberikan mu hadiah kalau masakan mu bisa mendapatkan pujian dari ku. Karena, jujur Aku memiliki selera makan yang buruk. Kita lihat saja.. " balas Rey berjalan menuju kamarnya.
Aku menyanggupi ucapannya bukan untuk hadiah itu. Tapi, hanya untuk membalas kebaikannya pada ku karena ponsel itu.
Rey kembali dengan membawa laptoonya di tangan kanan sambil menatap ku berjalan menuju sofa.
Tadi Aku tidak sengaja mengecek isi kulkasnya dan melihat ada udang di sana. Aku terpikir dengan resep yang pernah Aku baca dan ku pelajari saat di Jakarta.
Udang Butter? Aku rasa Aku bisa membuatnya.
Aku mengingat semua yang tercatat pada resep tersebut. Semua ku ikuti tanpa terlewatkan sedikit pun. Tidak memakan waktu yang lama Aku berhasil menyajikannya di atas piring datar milik Rey.
Aroma cukup membuat perut ku ikutan kelaparan.
Aku memanggil Rey yang sibuk dengan laptopnya.
"Sudah selesai.. Anda bisa mencicipinya" ucap ku bersemangat.
• AUTHOR POV •
Marsha berhasil menyelesaikan masakannya, lalu memanggil Rey untuk mencicipi masakannya.
Marsha terlihat penuh percaya diri karena ia sudah beberapa kali membuatnya untuk seseorang. Dan tidak mendapat komentar apapun.
Rey mencium aromanya yang tercium begitu lezat. Ia menatap Marsha yang berada di hadapannya menunggu review darinya.
Rey menghela napas kasar, mengatup rahangnya dengan mata yang tertutup. Lalu menatap Marsha dengan kedua tangannya yang seakan ingin terangkat untuk memberinya pujian. Tapi, sayangnya Rey malah pergi dan membuat isi mulutnya ke dapur.
"Kenapa Anda membuangnya?" tanya Marsha bingung. Ia sangat yakin kalau masakannya sangat lezat.
"Apa kamu sengaja ingin membunuh ku? Makanan apa ini? Harusnya Aku saja tadi yang masak" balas Rey.
Marsha mencicipi makanannya yang mendapat kritikan pedas dari Rey. Matanya melebar, masakannya benar-benar tidak layak untuk di konsumsi oleh manusia. Bahkan ia juga memuntahkannya.
"Kenapa rasanya seperti ini? Biasanya hm---"
"Biasanya apa? Apa kamu baru pertama kali membuatnya? Tadi kamu berdiri sangat percaya diri. Tapi, hasilnya.. Oh my god! Aku tidak dapat berkata apa apa sekarang" sela Rey.
"Aku sudah beberapa kali membuatnya untuk seseorang, tapi---"
"Apa orang itu masih hidup sampai sekarang?"
"Apa maksud Anda? Ya! Tentu saja, dia bahkan menyu---"
"Oh my god! Kasihan sekali orang itu---sudahlah, minggir! Biar Aku yang masak. Biar kamu rasakan juga, masakan yang layak untuk di konsumsi sama manusia" sela Rey kembali.
Rey mengambil kedua piring itu yang lalu membuangnya ke tempat sampah. Lalu ia memasak kembali dengan beberapa udang yang tersisa dari hasil masakan Marsha.
Waktu yang cukup membuat Rey menyelesaikan masakannya.
"Sini kamu! Coba dan rasakan!" sahut Rey memanggil Marsha yang mematung di depan dapur.
Marsha mencicipi masakan yang di buat oleh Rey. Udang saos tiram terasa sangat lezat di lidahnya. Matanya seakan di paksa melebar saat saos tiram itu Benar-benar terasa nikmat. Marsha menatap kagum pada Rey. Masakannya benar-benar lezat.
Pujian terus saja terlontar dari bibir Marsha yang di balas oleh tatapan sinis dari Rey.
*****