Duhai senangnya pengantin baru,
Pagi ini diundang oleh Ana untuk datang ke rumahnya. Ada tasyakuran di rumah Ana. Tasyakuranmemperingati Selapanan/ 40 hari Ana dan suaminya sudah menikah. Biasanya kami orang jawa selalu melakukan tasyakuran tersebut dengan cara membagikan nasi dan lauk berupa oseng-oseng mie, sambal goreng kentang, ayam dan lain sebagainya. Kami membagikannya pada tetangga.
Kebetulan karena aku sedang libur kerja, Ana menyuruhku datang ke rumahnya untuk ikut tasyakuran.
"Sarapan dulu, Ra."
Tante Suci, Mamah Ana, segera menyuruhku, begitu aku sampai di rumah Ana.
"Iya, tante. Sudah selesai acaranya, Tan?"
"Ibuku bangun jam 3 pagi, dia masak semuanya sendiri sama dibantuin tanteku Ra. Pas pagi aku bangun, Laili sama Dian sudah mulai keliling bagi-bagi nasinya."
"Jadi kamu bantu apa?" Aku sedikit meledek pada Ana.
"Bantuin makan." celetuk Ana. "Gak tau, akhir-akhir ini masuk dapur aja bikin aku pusing, Ra."
"Telat mungkin."
"Ah, apa iya?" Ana sedikit tersenyum.
"Sudah dari tadi, Ra?" suami Ana, Raihan, keluar dari kamar dan menyapaku.
"Baru saja, Han. Hari ini masuk kerja?"
"Aku suruh dia libur, masa selametan diri sendiri malah kerja."
Ana justru yang menjawabnya.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. "Aduh, Tante, gak usah repot-repot."
Tante Suci keluar dari arah dapur dengan membawa secangkir teh yang ia suguhkan di hadapanku.
"Cuma teh gak repot sama sekali, diminum Ra."
"Iya, tante."
Aku segera menyesap teh itu, menghormati suguhan yang sudah dibuatkan oleh tuan rumah.
"Jadi, bagaimana?"
Segera setelah suami Ana dan Mamahnya pergi, Ana mendekat padaku dan berbisik.
"Kita jadi nikah."
"Selamat deh kalo gitu." Ana menepuk pundakku pelan. "Jadi kamu gak perlu overthinking lagi, Ra. Semuanya sudah jelas, Arghi mau tanggungjawab. Soal keluarganya gimana, setuju?"
Aku sempat bercerita pada Ana soal keluarga Arghi yang tidak menyetujui hubungan Arghi dengan seorang perempuan yang berstatus janda anak satu. Jadi, secara tidak sengaja aku juga berpikir bagaimana kalau keluarga Arghi juga tidak akan memberi restu pada hubungaku dengan Arghi, terlepas aku belum memiliki anak, namun statusku adalah janda. Janda tanpa anak atau lanjar.
Segala kemungkinan sudah terlintas di benakku, bahkan aku juga sudah mengungkapkannya pada Arghi. Arghi hanya menjawabnya sepele, 'Mereka tidak menyetujuinya karena mereka pikir aku belum siap untuk menafkahi si ibu dan anaknya, apalagi uangku belum cukup untuk melamar dia'.
"Arghi bilang kakaknya sudah setuju, bahkan setelah lebaran nanti mereka akan datang ke rumah."
"Siapa yang ngomong?"
"Kakaknya Arghi telfon ke Arghi, terus Arghi disuruh ngomong ke ibuku."
"Ibumu sudah tau?"
"Sudah,"
"Arghi bicara langsung?"
"Gak," Aku menggelengkan kepala.
"Terus?"
"Dia suruh aku buat bicara sama ibuku,"
Arghi menolak untuk berbicara langsung dengan ibu, aku memang sempat ragu, tapi akhirnya aku mengalah dan mau untuk memyampaikannya pada ibu.
"Lega, gak?"
"Sedikit," Aku memberi tanda dengan jariku.
"Akhirnya sold out lagi, oh, ya, aku dengarJihan juga mau menikah lagi."
Ana masih berteman dengan Jihan di beberapa sosial media. terkadang aku mendapatkan kabar tentang Jihan dari Ana atau dati saudaraku yang masih berhubungan lewat sosial media.
"Alhamdulillah, aku ikut seneng dengernya."
"Tapi, aku kesel sendiri lihatnya."
Ana adalah saksi hidup bagaimana dulu aku menghadapi Jihan dan keluarganya. Saat itu hanya Ana yang ada di pihakku. Bahkan setelah perceraianku dengan Jihan, aku merasa beberapa temanku banyak yang mulai menjauh. Kala itu hanya Ana yang kumiliki. Maka dari itu, Ana selalu merasa kalau apa yang Jihan tulis dalam setiap captionnya di sosial media adalah sebuah kemunafikan.
"Sudahlah, kita doakan saja, semoga dia mendapat yang terbaik. Yang cocok sama keluarganya, bisa melayani ibunya."
"Ya, tapi tetep aja."
"Oh, soal tadi, kamu udha coba test belum?"
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku tidak ingin ikut campur lagi soal urusan Jihan, cukuplah dia menjadi bagian bari masalaluku. Kami berdua sudah memutuskan untuk hidup terpisah, menjalani hari-hari kami berdua menurut keinginan kami masing-masing.
"Masa hamil si, Ra."
"Ya, gak ada salahnya kan dicoba, toh kamu udah punya suami. Jangan bilang kamu malu buat ke apotiknya."
"Ya, gak malu juga, cuma masa cepet banget."
Aku seidikit terkekeh mendengar jawaban Ana, "Coba aja beli, nanti deh, sekalian kalo kamu ke toko."
"Beli apa An?"
Ana menoleh pada Raihan, kemudian menoleh padaku, memberi isyarat untuk tidak menjawabnya.
Otakku langsung berpikir, kalau memang positif mungkin nanti Ana ingin membuat kejutan untuk Raihan.
"Gak, aku cuma kasih tau buat beli obat pusing katanya dia lagi agak pusing."
"Sakit, Dek?" Raihan mendekat pada Ana, ia memegang dahi Ana dengan punggung tangannya.
Ana mengembuskan nafas kasar, ia membuang jauh-jauh tangan suaminya itu. "Percaya aja sama si Kiara."
Terimakasih Ya Allah, sahabatku Ana sudah bertemu dengan jodohnya. Aku benar-benar ikut berbahagia dengan Ana dan Raihan. Aku berharap agar mereka selalu bahagia.
Drrtt ... Drrtt ... Drrrtt ..
Ponsel di tasku bergetar, aku segera mengambilnya. Semalam Arghi bilang kalau dia libur. Aku berharap itu adalah pesan dari Arghi.
Assalamualaikum ... Sedang sibuk, Ra?
Sayangnya bukan, yang justru masuk adalah pesan dari Hesyam.
Waalaikumsalam, gak, Syam. Aku sedang di rumah temanku. Ada apa?
Entahlah, meski Arghi sudah mengatakan bahwa dirinya akan serius, tapi aku masih enggan membicarakan hal ini pada Hesyam. Ada satu titik di mana aku merasa kalau aku takut kehilangan Hesyam. Meski aku tidak menyukai sikap Hesyam yang tidak mau berjuang untuk hiudpnya, namun aku merasa kalau Hesyam memiliki tempat yang cukup spesial di hatiku.
Pagi sekali, ada urusan mendadak?
Aku tidak segera membalas pesan Hesyam, aku malah membuka kolom chat milik Arghi. Last seennya terlihat bahwa ia baru saja online. Kenapa perasaanku seolah tercubit, saat tau bahwa Arghi Online dan tidak mengabariku. Padahal ini sudah menjadi kebiasaan Arghi, tapi tetap saja hatiku tidak bisa menerimanya begitu saja.
Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Arghi kembali bersikap cuek padaku. Sikapnya membuat aku selalu berpikir kalau aku wanita rendahan. Hanya dibutuhkan saat Arghi mengiinginkan.
"Ra ... malah ngelamun?"
"Ah ... gak, jadi gak beli testpacknya?"
"Nanti aku beli sekalian ke toko."
"Enak 'kan punya suami?"
"Hehe ..." Ana terkekeh, kemudian melirik Raihan yang duduk di ruang tamu mengobrol bersama keluarga Ana lainnya. "Iya, Ra. Apalagi Raihan baik banget, dia sama sekali gak pernah maksa aku buat masak. Dia juga gak komplain kalo aku minta buat tinggal di sini daripada di rumahnya."
"Alhamdulillah, bersyukurlah. Suamimu sabar."
"Sabar banget malah, Ra. Kamu tau sendiri kan aku orangnya bagaimana, dia selalu bicara dengan lembut."
Semoga semuanya selalu berjalan lancar, An. Memang menikah itu tidak selamamya indah, banyak juga perkaranya. Tapi kalau suami atau pasangan kita mampu memahami, mampu memposisikan dirinya sebagai anak dari ibunya dan suami untuk kita, pernikahan mereka akan tetap langgeng.
Beda cerita kalau suami saja tidak bisa menghargai istri, tidak bisa memposisikan dirinya sebagai seorang suami. Semua masih tergantung pada ibunya.
Di hadapan istri dia membela istrinya, di hadapan ibunya dia berkata jelek tentang istrinya. Takut Istri, takut ibu, tidak punya pendirian.
"Nanti kalau kamu jadi nikah sama Arghi malah lebih enak, apa-apa sudah sendiri semua."
"Belum tentu,"
"Lho, emangnya ada siapa lagi? Orangtua Arghi udah gak ada semua."
"Bibinya Arghi, kamu pikir dia gak akan ikut campur?"
"Maksud kamu, Bi Yuni?"
Aku mengangguk cepat, jangankan soal rumahtangga, sekarang saja Bi Yuni sudah mulai mau ikut campur.
"Ada apa sama Bi Yuni?"
"Ya, kamu tau sendiri, gimana keluarga mereka. Mereka kan maunya dapat mant keluarga kaya. Tadinya aku sempat khawatir, bagaimana keluarga besarnya tidak setuju kalau Arghi behubungan dengan aku?".
"Apa urusannya, yang mau jalanin kan kamu sama Arghi, udah gak usab dipikirin, yang lenting sekarang kan keluarga Arghi udah setuju semua, udah ada keputusan kalau mereka mau melamar kamu habis lebaran ini."
Meski sudah ada keputusan itu, tapi aku tetap merasa kalau keputusan ini bukanlah apa yang diinginkan oelh Arghi. Arghi saja tampak tidak begitu antusias dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Aamiin, semoga, An."
"Udah, gak perlu galau lagi. Sekarang fokus kerja, fokus nabung lagi buat nanti habis nikah, biar kamu gak kerja lagi."
Bekerja, mungkin itu adalah salah satu dari sekian alasan kenapa aku berpisah dengan Jihan. Kami harus berpisah karena saat itu aku harus ditempatkan di luar kota.
"Iya, aku juga mau fokus sama rumahtanggaku nanti."
"Bagus, semangat dong, jangan lemes gitu."
Aku saja tidak mengerti kenapa perasaanku justru tidak tenang, harusnya aku sudah tenang karena Arghi sudah memberi kepastian bahwa dia memang benar-benar akan serius padaku.