6

1242 Words
Rencana Allah, pasti terbaik. "Ya Allah, Ya Robbi ... Lapangkanlah hatiku dengan segala ketetapanmu. Limpahkanlah padaku kemudahan hati untuk menapaki jalan keridhoan-Mu dan hamba memohon ampun atas segala dosa yang telah hamba perbuat dengan sengaja dan tidak sengaja. Aamiin Yaa Robbalalamin." Sesuatu dalam hatiku seolah terlepas dengan kupanjatkannya doa dalam sujudku. Perasaanku benar-benar terombang-ambing, aku semakin khawatir. Banyak kemungkinan yang kian muncul dalam diriku dan itu semua justru adalah kemungkinan-kemungkinan buruk. Bukankah menikah itu mudah? Kalau memang sudah ada niat dari dalam hati. Alasan berbelit-belit pun akan mudah diluruskan jika di hatinya sudah ada niat menuju kebaikkan. Bukankah jatuh hati pada lawan jenis itu hanya perihal dihalalkan atau dilupakan? Kenapa hubungan yang aku jalani bersama Arghi saat ini benar-benar tidak membawa kami dalam kebaikkan. Aku yang lebih sering menitikan airmata hanya karena seorang laki-laki, tak pernah memikirkan bafaimana dosa-dosaku nanti di hadapan Allah. Sampai sholat isya' tiba pun Arghi belum membalas pesanku tadi sore. Akj menyuruhnya datang ke rumah karena aku ingin membicarakan hal penting soal hubungan kami ke depannya nanti. drrtt ... drrtt ... drrtt ... Aku berharap itu adalah pesan dari Arghi, tapi sayang justru Hesyam yang mengirimiku pesan. Assalamu'alaikum, Sedang apa Ki? 'Waalaikumsalam, Aku baru selesai sholat.' Kenapa aku tidak bisa jatuh cinta pada Hesyam, jelas-jelas Hesyam jauh lebih baik dari Arghi. Bahkan untuk kematangan cara berpikir, Hesyam jauh di atas Arghi. Tapi, Allah seolah menunjukkan jalan yang sulit. Allah sengaja menunjukkan dua kelemahan laki-laki ini di hadapanku secara bersamaan. Hesyam lebih memilih untuk menganggur padahal jika ia mau, dia bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Memang keluarga Hesyam sangat berkecukupan, bahkan jika Hesyam tidak bekerja sebagai pegawai negeri sipil atau pegawai kantoran, ia masih tetap bisa hidup dengan tentram dengan hasil perkebunan dan pertanian yang diwariskan oleh orangtuanya nanti. Tapi, apa selamanya nanti kebutuhan kami berdua harus ditanggung oleh orangtua Hesyam? Tok ! Tok ! "Assalamualaikum ..." "Waalikumsalam," Aku segera mengenakan kerudungku dan berlari keluar membukakan pintu. "Ghi ..." "Aku ganggu atau kamu sudah mau tidur?" Kamu tidak pernah menggangguku, Ghi. Kalau perlu aku akan mengesampingkan semua urusanku jika aku memang harus. Bahkan jika aku mengantuk pun aku akan berusaha membuka kelopak mataku asal aku bisa mrnghabiskan waktu bersama kamu Ghi. * * * "Kenapa kamu tidak membalas pesanku?" Arghi menyingkap sarungnya, mengambil ponsel yang ia masukkan ke dalam saku celana yang ia pakai di balik sarungnya. "Aku sibuk, maaf." Dia mulai menscroll layar ponselnya. Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan. Aku merasa sangat sulit di posisi seperti ini, Ibu yang terus menekanku, sedangkan aku tau bagaimana keadaan Arghi yang masih harus banyak menabung. Aku tak ingin memaksa Arghi untuk terburu-buru. "Tadi sore kakakku telfon." Arghi menaruh ponselnya di atas meja, merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Ada apa?" "Bahas soal kamu," Arghi menoleh menghadap padaku, ia sedikit tersenyum. "Ternyata dia dan istrinya sudah tau soal kamu yang takut kalau hubungan kita tidak direstui." Awal tahun lalu, setelah aku mendengar kabar bahwa Arghi tidak disetujui untuk menikah dengan janda anak satu itu, aku merasa sedikit lega, sedikit saja. Setelah mendengar kabar putusnya Arghi dengan perempuan itu, tiba-tiba saja Arghi kembali menghubungiku. Dia mengirimiku sebuah pesan soal saudaranya yang sudah mengetahui hubunganku dengan Arghi dulu. Saudara Arghi meminta agar Arghi kembali menjalin hubungan denganku. Arghi mengatakan bahwa dirinya mau untuk kembali bersamaku, dia mau serius dengan hubungan kami nantinya. Aku yang saat itu maish mengharapkan Arghi segera menerima tawaran Arghi tanpa berpikir panjang. Tapi aku kembali mengingat perihal tidak direstuinya hubungannya dengan perempuan itu, hal itu juga memberikanku sebuah ketakutan. Takut jika aku tidak akan bisa bertemu dengan Arghi dan menjalin hubungan dengan Arghi, sebab statusku juga janda meski tanpa anak. Aku sempat mengungkapkan kekhawatiran ini pada Arghi di saat dia mengajakku untuk kembali menjalin sebuah hubungan. "Tau dari siapa, rasanya kita saja tidak pernah memamerkan hubungan kita berdua selama ini. Lalu bagaimana tanggapan kakak kamu?" "Dia bilang, sehabis lebaran ini dia mau ke rumah kamu. Mau bahas soal ini sama orangtua kamu. Dia mau ajak ayah mertuanya." Seolah bunga bermekaran di hatiku dan kupu-kupu beterbangan di perutku. Jadi impianku akan menikah dengan Arghi akan benar-benar terwujud. Restu sudah kami kantongi, aku hanya tinggal bersabar untuk menunggu Arghi melamarku. "Kamu mau obrolin ini sama ibu? biar aku panggil ibu dulu." Argi menahan lenganku, ia menggeleng pelan. "Jangan, duduk dulu." Seketika perasaanku benar-benar tidak nyaman. Kenapa Arghi melarangku untuk memberitahu ibu. "Ada apa?" "Kamu bicarakan nanti saja kalau aku sudah pulang." "Memangnya kenapa?" "Ya, gak apa-apa. Kamu saja nanti yang bicara sama ibu kamu, Ra." Minus, kali ini sikap Arghi membuatku harus mengurangi penilaianku akan dirinya. Bertanggungjawab, bukankah salah satunya ia harus bersikap gentleman, ya dengan berbicara pada ibuku soal ini. Bukan malah menyuruhku untuk berbicara pada ibu sendiri. "Kenapa kamu gak mau ngomong sendiri?" "Aku gak enak, mending kamu yang bilang." Aku ingin marah pada Arghi, tapi rasanya percuma Arghi juga pasti tidak akan meresponku. Atau justru dia malah akan membatalkan semuanya. °Arghi benar-benar membuatku gila, membuatku tidak bisa menggunakan akal sehatku. "Ra ..." "Hm ..." Aku menoleh sebentar pada Arghi. "Sini ..." Dia menepuk kursi di sebelahnya, menyuruhku mendekat padanya. Aku sudah tau apa yang dia inginkan. Dia datang ke sini bukan karena ingin mengatakan apa yang kakaknya katakan, melainkan untuk memuaskan nafsunya padaku. Dia sedang b*******h dan ingin melampiaskannya padaku. Otakku mencoba untuk menolaknya, namun hatiku seolah mrnyuruhku untuk menuruti semua perkataan Arghi. Hatiku seolah tak ingin kehilangan Arghi, hatiku solah takut kalau aku menolak permintaan Arghi, ia akan pergi meninggalkanku. Pada akhirnya hatiku pah yang bekeraja, perasaanku yang memimpinku untuk duduk di sebelah Arghi. Membiarkan bibir Arghi yang mulai mencumbu jemariku, menciumi punggung tangannya. "Aku kangen kamu, Ra." Seharusnya kalau kamu kangen, kamu balas pesanku. Bukan malah mengabaikan pesanku. Katakan kalau yang kamu rindukan adalah tubuhku, Ghi, bukan diriku seutuhnya. Arghi mulai menciumi pipiku, menuntunku untuk ikut menyentuh tubuhnya, mengikuti ritme nafsu birahinya yang kian memnucak. Tangannya mulai menggerayang ke dalam bajuku, sedikit meremas dan memutar p****g di sana. Aku ingin memberontak, tapi pemikiranku benar-benar sudah kabur, aku sudha tidak berdaya untuk menolak Arghi. Tangannya kini mulai masuk ke dalam rokku, mencari-cari sesuatu di sana. . "Ghi ..." Aku menahan tangan Arghi dan menatap Arghi yang sudah dikuasai oleh nafsunya. "Ayolah, aku bahkan sudah melakukan lebih dari ini." Aku seolah tertampar dengan apa yang Arghi katakan barusan. Ya Tuhan, betapa murahannya diriku hanya agar seornag laki-laki mau bertahan dan tidak pergi dari sisiku. * * * "Ada apa semalam Arghi ke sini?" "Ibu dengar dia ke sini?" Pasalnya semalam, saat Arghi datang Ibu sudah masuk ke kamar. Aku pikir ibu sudah beristirahat. "Iya, ibu tau. Cuma mau main dia ke sini? Ra, jangan sering-sering. Gak enak dilihat tetangga, apalagi mereka sudah mulai tau dengan hubungan kalian berdua. Kalian harus berhati-hati, jangan sampai jadi omongan." "Iya, bu Kiara paham. Semalam Arghi datang ke sini bilang kalau kakaknya sudah tau soal hubungan kami." "Lalu?" "Dia bilang kakaknya sama istrinya sudah setuju, mereka mau datang ke sini setelah lebaran nanti." "Mau langsung melamar atau bagaimana?" "Dia bilang mau membicarakan dulu mau bagaimana baiknya, nanti kakaknya datang sama ayah mertuanya." Aku berharap ibu tidak khawatir lagi soal nasib hubunganku dengan Arghi. "Kemarin ibu dengar dari tetangga Arghi kalau dia sedang merenovasi rumahnya, kenapa tidak untuk modal nikah malah buat renovasi rumah." "Ya, mungkin supaya nanti pas sudah menikah rumahnya sudah lebih layak bu." Aku mencoba menenangkan Ibu, toh sama saja aku membicarakan hal ini pada Arghi kalau Arghi memang belum berniat untuk menikahiku. Arghi pasti tidak akan menggubrisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD