5

1209 Words
Tiga hari setelah kejadian di hotel, tidak ada yang berubah dari sikap Arghi. Bahkan sikap dingin Arghi kian menjadi. Selama tiga hari itu dia tidak menghubungiku. Mungkin karena jadwal shift kerjanya yang tidak tentu, waktu kami untuk saling bertukar kabar saling bertabrakan. Di saat aku luang, Arghi harus bekerja. Dan sebaliknya, saat aku bekerja waktu Arghi luang. Dan sekali lagi aku memaklumi itu semua. Selama tiga hari itu Hesyam justru sering menghubungiku. Bahkan hari ini ia memintaku untuk bertemu dengannya. Besok aku mau cari buku buat tambahan di taman baca, kamu ada waktu luang? Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, aku meng-iya-kan ajakan Hesyam. Awalnya Hesyam menawarkan diri untuk menjemputku, namun aku menolaknya dengan alasan kalau aku tidak enak dengan tetangga. Sebenarnya, aku takut jika Arghi melihatku berboncengan dengan Hesyam, bisa saja dia salah paham. Meski ucapannya saat di hotel itu meyakinku bahwa sebenarnya ia tidak benar-benar mencintaiku, namun perasaanku mencoba menyangkalnya. * * * Aku sudah sampai terlebih dahulu di depan sebuah toko buku yang cukup besar di kota ini. Hesyam memiliki sebuah taman baca yang ia bangun di dekat rumahnya. Lingkungan rumah Hesyam memang maish sedikit terpencil, banyak dari warga sekitar yang hanya bisa mengenyam pendidikan sampai di bangku sekolah dasar. Mungkin Hesyam salah satu anak yang beruntung karena dia dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya seorang Pegawai Negeri Sipil, Ibu Hesyam pun sama, itulah salah satu alasan mengapa pendidikan begitu penting dalam keluarga Hesyam. Sayangnya kesuksesan kedua orangtua Hesyam tak bisa Hesyam jejaki. "Assalamu'alaikum ..." Salam Hesyam membuyarkan lamunanku, aku bahkan tidak sadar saat dia sudha berdiri di sampingku. "Wa'alaikumsalam, Syam. kamu parkir di mana?" Aku tidak melihat motor Hesyam memasuki pelataran parkir toko buku, sebab sedari tadi aku berdiri di luar. "Saya parkir di sebrang," "Kenapa di sana?" "Tadi saya pikir mau ajak kamu makan dulu, tapi ternyata kamu sudah di sini." "Ya sudah, kita masuk sekarang?" "Boleh." Hesyam berjalan di sampingku, dengan celana chino panjang berwarna cokelat s**u dipadukan dengan baju koko berwarna cream muda, Hesyam tampak begitu menawan. Sepertinya tidak mudah bagi Hesyam untuk bisa mendapatkan seorang gadis cantik dengan status dan ilmu yang jauh lebih dariku. "Kamu mau cari buku apa" "Sekarang banyak anak-anak lulusan SD yang datang untuk membaca, mereka mencari buku keterampilan atau tentang DIY membuat sesuatu yang unik." Hesyam sangat Concern dengan pendidikan, ia bahkan belum lama ini bercerita padaku bahwa dia ingin membeli sebuah mobil untuk ia gunakan sebagai transportasi antar jemput anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah lanjutan. "Ada rekomendasi?" Hesyam kembali bertanya padaku. "Yang pastinya bahan-bahannya yang harus mudah didapat, Syam." Kami berdua mulai melihat satu persatu buku yang menuliskan beberapa cara DIY untuk membuat tas dari bahan-bahan daur ulang. "Kamu tau apa pendapat orangtuaku soal mobil antar jemput itu?" "Memangnya kamu sudah jadi untuk membeli mobil itu?" "Belum, Ibu melarangku untuk membelinya." Sejak dulu Hesyam selalu bercerita tentang kedua orangtuanya yang selalu menekan Hesyam agar menjadi seperti mereka berdua. Atau paling tidak jika Hesyam gagal menjadi seperti mereka berdua, Hesyam harus menjadi pegawai kantoran yang memiliki gaji besar. Tekanan demi tekanan membuat Hesyam menyerah akan karirnya, ia justru menjadi anak yang memberontak. Salah satunya dengan membuat taman baca untuk anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. "Syam, ibu melarangmu pasti ada alasannya." "Alasan agar aku mengejar apa yang sudah mereka targetkan dalam hidupku. Padahal memberi anak-anak yang membutuhkan, berbagi ilmu untuk mereka juga memberi manfaat untuk sesama. Kenapa harus selalu kekayaan yang dikejar." Aku dan Hesyam memang memiliki Background hidup yang berbeda. Hesyam dilahirkan dalam keadaan yang berkecukupan, maka ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya mencari uang untuk mengejar pendidikan karena orangtua Hesyam sudah memikirkannya. Sedangkan aku, bagiku pekerjaan dan uang adalah nomor satu. "Memangnya kamu belum mau mencari kerja lagi?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Hesyam kembali tersenyum, ia hanya menggelengkan kepalanya begitu saja. "Kerjaan kamu gimana?" "Alhamdulillah lancar, Syam." "Kamu gak mau tanya kenapa aku gak nyoba nyari kerjaan lagi?" Bukannya aku tidak ingin bertanya, tapi pasti jawabannya akan sama saja. Ujungnya dia akan mengajakku menikah dengan alasan sebagai semangat dalam mencari pekerjaan. Memang jika menikah dengan Hesyam, aku rasa pasangannya nanti tidak perlu khawatir soal keuangan. Semuanya pasti akan dicukupi oleh orangtua Hesyam. Sawah, kebun dan hewan ternak milik orangtua Hesyam banyak. "Ya santai saja, Syam. Jangan terburu-buru." "Terimakasih, Ky. Aku belum mendapat semangat untuk bisa mencari kerja. Kalau aku tanya, apa semangat kamu dalam hidup, kamu bisa menjawabnya?" "Motivasi, ya tentu saja uang dan masa depan." Aku tidak munafik, tidak juga matrealistis. Aku hanya bersikap realistis terhadap kehidupan. Di dunia ini kita harus hidup seimbang, dunia dan akhirat. "Aku belum bisa menemukan itu semua. Semangatku sudah terlanjur padam, justru oleh kedua orangtuaku sendiri." Bukan salah Hesyam juga, menurutku orangtua Hesyam juga seharusnya ikut andil dalam masalah ini. "Tapi beda lagi kalau aku sudah menikah dengan orang yang aku cintai, bisa saja semangatku kembali." 'Bisa saja', lalu bagaimana kalau tidak bisa? "Ya, harusnya kalau kamu cinta kamu harus berjuang buat orang itu." "Kalau saya berjuang sesudah menikahi kamu bagaimana? sepertinya menghalalkan dulu hubungannya, insyaallah perjuangannya akan di ridhoi Allah SWT dan menambah pahala kita sebagai suami-istri." Ada satu hal yang harus kita benar-benar sadari dan kita tanamkan dalam diri kita bahwa cinta itu adalah anugerah dari langit. Bahwa cinta itu adalah pemberian dari Allah SWT dan tidak mungkin Allah memberikan rasa cinta yang membuat seorang hamba bertambah dosa. "Aku pernah gagal dalam berumahtangga, bukankah aku harus berhati-hati?" "Tentu saja, asal kamu tidak salah jalan saja. Yang menambah dosa, yang menambah kita jauh dari Allah, itu namanya bukan cinta." Entah mengapa ucapan Hesyam seolah menamparku. Tiba-tiba aku teringat akan kejadian di hotel tempo hari. "Cinta itu berasal dari Allah SWT, begitu juga dengan segala penghidupan di dalamnya.Dan cinta yang Allah titipkan kepada hamba-hambanya di bumi ini, cuma satu bagian dari 100 bagian yang Allah simpan di dalam surga. Dari satu bagian itulah kita bisa melihat Cinta seorang ibu kepada anak, seorang ayah kepada putranya, seorang anak pada orangtuanya dan cinta pasangan ke pasangan lainnya." * * * Aku terus memikirkan ucapan Hesyam saat di toko buku tadi. Ucapan Hesyam benar-benar telak, aku seperti orang bodoh yang sudah kehilangan harga dirinya. Mungkin seharusnya aku menguatkan do'aku pada Allah, bukan malah terus memikirkan bagaimana cara menaklukan hati Arghi. Bukannya ketenangan yang aku dapat, justru rasa was-was terus-terus menghantuiku. Kenapa aku mendahului apa yang sudah ditakdirkan dalam kitab lauhul mahfuzh hanya karena aku taku kehilangan seorang Arghi. Bahkan saat ini Arghi saja sama sekali tidak mengingatku. "Kyara?" "Iya, Bu?" "Kamu lagi ngapain, ibu mau bicara sebentar." "Ada apa, bu?" "Arghi belum memberitahu kamu kapan dia mau datang ke rumah?" Aku hanya menghela nafas kasar, bagaimana aku bisa bertanya kalau Arghi saja seolah tidak peduli lagi denganku. "Bukannya apa-apa, semua tetangga sudah tau kalau kalian berdua menjalin hubungan. Ibu gak suka denger omongan tetangga." "Iya, nanti Kyara tanyakan ke Arghi ya, bu." Bagaimana aku harus mendesak Arghi, di saat aku tau kalau sebenarnya hati Arghi masih untuk mantan kekasihnya yang dulu. Kalau akau tau bahwa sebenarnya Arghi saja sudha menghamili perempuan itu, bahkan mengijinkan perempuan itu untuk menggugurkannya. Apakah aku harus jujur oada Ibu atau aku harus menutup mata saja dan pura-pura tidak tau dengan apa yang sudah terjadi di antara mereka. Tapi, bagaimana jika suatu hari mereka kembali bertemu? Apa kita bisa bertemu? Malam ini kamu bisa datang ke rumahku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD