BAB 17

1010 Words
Kediaman keluarga Pandora Kota Terassen, Pulau Velenna * * * * * "Kau sudah mau tidur?" tanya Asha saat melihat putrinya yang meninggalkan gelas susunya dan hendak naik ke lantai 2. "Iya, Bu, aku sangat mengantuk," jawab Rosa. "Baiklah, tidurlah dengan nyenyak," balas Asha. Rosa pun naik ke atas sedangkan Asha menghampiri meja makan untuk menyantap buah yang biasa ia lakukan sebelum tidur, sama persis dengan yang dilakukan oleh Rosa setiap sebelum tidur yang meminum segelas s**u hangat meski usianya sudah menginjak kepala 2. "Nona," panggil salah satu pelayan di rumahnya yang tak lain adalah Ibu dari Veza. Asha menoleh ke arah Meridia dan tesenyum, "Ya, ada apa Meridia? Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Asha. "Tidak ada, Nona. Apa boleh saya menemani Nona disini? Pekerjaan rumah sudah saya selesaikan," pinta Meridia. "Tentu saja. Kemarilah. Aku juga sedang ingin berbicarakan sesuatu denganmu," balas Asha sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya. Meridia tersenyum dan akhirnya ikut duduk di samping Asha. "Malam ini terasa dingin, apa kau merasakan hal yang sama, Meridia?" tanya Asha sambil memasukan sepotong buah mangga ke dalam mulutnya. "Sepertinya begitu Nona, tidak seperti malam biasanya," jawab Meridia. Asha menoleh ke arah Meridia dan memicingkan matanya, membuat Meridia terdiam. "Apa ada sesuatu di wajah saya, Nona?" tanya Meridia hati - hati. "Tidak, hanya saja aku sedang berpikir harus menyiapkan apa untuk menyambut kedatangan suamiku nanti," ujar Asha. Meridia ikut berpikir, "Bagaimana jika membuat kue, Nona?" Asha berpikir sejenak dan memikirkan apakah ide Meridia cocok. Kemudian wanita itu pun mengangguk setuju saat teringat Jasver yang sangat menyukai kue cokelat dengan kacang almond. "Ide bagus." Kedua wanita itu pun sama - sama tersenyum. Seketika suasana menjadi hening dan Asha menghabiskan potongan terakhir buah mangga di piringnya. "Jika teringat memakan buah, terkadang aku teringat dengan sosok Matteo," gumam Asha sembari mengunyah buah terakhir di dalam mulutnya. Meridia menoleh dan menatap wajah Asha. Ada sedikit raut wajah kesedihan di sana. "Apa Nona merindukan Tuan Matteo?" tanya Meridia. Meridia bekerja dengan keluarga Pandora bahkan sebelum Matteo menikah. Semenjak kepergian Matteo, Asha menjadi orang yang paling bersedih. Terlebih waktu itu Rosa masih bayi. Matteo meninggal lantaran menyentuh bunga mawar hitam yang disinyalir memiliki kekuatan sihir, setelah kematian Matteo, kedua orang tua Matteo meninggal dan kini hanya menyisakan Rosa dan Asha. Beberapa tahun setelah Rosa beranjak dewasa, Asha memutuskan menikah dengan Jasver Dareen. Rosa pun menerima sosok Jasver dengan baik, bahkan menganggap Jasver seperti ayah kandungnya sendiri. "Terkadang aku merindukannya. Jika dia melihat Rosa sekarang dan sudah dewasa seperti ini, Matteo pasti akan senang," gumam Rosa. "Benar, Nona Rosa bahkan tumbuh dengan wajah yang menawan seperti Tuan Matteo. Walau begitu, pilihan Nona untuk menikah lagi sudah tepat, Nona Rosa kini sudah bahagia dengan keluarganya yang sekarang," balas Meridia. Rosa menganggukan kepalanya. "Apa Nona sempat berpikir untuk menjodohkan Nona Rosa dengan seorang pria?" tanya Meridia. "Belum. Aku belum menemukan laki - laki yang tepat untuknya. Aku biarkan dia berdiri dengan pilihannya, sesuai permintaan Matteo. Matteo ingin putrinya hidup dalam kebebasan meski ia terlahir sebagai keluarga bangsawan," jawab Asha saat teringat kembali permintaan Matteo. Sebelum Matteo meninggal, pria itu berpesan untuk tidak mengekang putri cantiknya. Bahkan Matteo meminta Asha untuk tidak terlalu memasakn kehendaknya sebagai seorang Ibu karena hidup Rosa adalah milik Rosa. "Tenang saja Nona, Veza akan kuminta untuk menemani Nona Rosa sampai Nona Rosa bertemu dengan laki - laki yang cocok untuknya," ujar Meridia. Asha memegangi tangan Meridia lembut dan tersenyum, "Terima kasih selalu menemaniku. Aku tidak tahu apa jadinya jika waktu itu kau pergi." "Saya merasa senang bekerja disini, bagaimana mungkin saya meninggalkan keluarga yang sudah memberikan kehidupan untuk saya?" balas Meridia. Setelah perbincangan hangat antara Asha dan juga Meridia, Asha pun kembali ke kamarnya. Sebelum ia masuk ke kamarnya, Asha pun berpikir dia hendak melihat putrinya yang tidur di lantai 2. Kaki Asha pun melangkah ke lantai 2, sebelum Asha membuka pintu, tiba - tiba saja Asha mendengar suara seorang laki - laki yang samar - samar terdengar dari luar kamar. "Apa ada orang di dalam selain Rosa?" gumam Asha. Ckleekkk ! ! ! ! ! Penasaran dengan yang ia dengar barusan, Asha pun membuka pintu kamar Rosa. Namun yang ia dapati justru hanya kamar Rosa yang gelap. "Aneh, aku merasa mendengar ada suara laki - laki dari kamar Rosa," gumam Asha. Cteekk ! ! ! ! ! Asha menyalakan lampu kamar tidur Rosa yang ada di samping tempat tidurnya. Saat Asha menyalakan lampu, Rosa pun menggeliat dan berbalik namun dengan matanya yang masih terpejam. "Uuhhmmhh," lenguh Rosa. "Maaf Ibu mengganggumu," balas Asha meski ia tahu Rosa tak akan mendengarkan ucapannya. Asha duduk di tepi tempat tidur Rosa dan menyentuh wajah Rosa, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah anaknya, "Benar kata Meridia, kau cantik dan juga menawan. Wajah Ayahmu terbentuk dengan jelas melalui garis wajahmu, sayang," gumam Asha. Asha terdiam cukup lama memperhatikan wajah Rosa, "Jika saja hari itu aku berhasil melahirkanmu tanpa kendala apapun dan ayahmu tak menyentuh mawar hitam, apa semuanya akan baik - baik saja?" tanya Asha kepada Rosa dan masih dengan tangan yang menyentuh wajah Rosa. "Terima kasih sudah terlahir sebagai anakku," ujar Rosa, kemudian ia pun beranjak dari tempat duduknya dan mematikan lampu. "Selamat tidur sayang, mimpi indah," ujar Asha dan kembali menutup pintu kamar. Setelah kepergian Asha dari kamar Rosa, Evander yang rupanya masuk ke dalam kamar Rosa muncul dari balik lemari. Evander bernapas lega karena hampir saja keberadaannya ketahuan oleh Asha. Evander menatap Rosa yang sedang terlelap di atas tempat tidur, Evander menatap wajah Rosa yang tertidur lelap, "Kau memimpikan apa? Aku bahkan belum masuk ke dalam mimpimu, Rosa," ujar Evander kepada Rosa. Pria itu tiba - tiba terdiam dan teringat dengan ucapan Asha barusan tentang mawar hitam yang terasa tak asing di telinganya. Beberapa saat kemudian, Evander pun mengenyahkan pikiran itu dari benaknya, pria itu duduk di samping Rosa kemudian meraih tangan Rosa perlahan sambil memejamkan matanya dan . . . . . Whooshh ! ! ! ! ! Seketika Evander langsung melompat masuk ke dalam alam mimpi Rosa, seolah dirinya terhisap oleh energi mimpi Rosa barusan. Alam mimpi yang membuat Rosa terlelap dalam tidurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD