BAB 16

1400 Words
25 tahun yang lalu . . . . Kota Terassen, Pulau Velenna Rumah kediaman keluarga Pandora * * * * * Seorang pria dari bangsa manusia tampak mondar - mandir di depan kamarnya sambil menggigit ibu jarinya dengan gelisah. Perasaan gelisahnya semakin memuncak saat mendengar suara teriakan istrinya dari balik pintu. Malam ini, di malam dengan rembulan yang indah dan angin yang bertiup kencang, istrinya sedang berjuang keras mempertaruhkan hidup dan matinya untuk melahirkan buah hati pertama mereka. "Sudah tenang saja, istrimu pasti akan baik - baik saja di dalam. Aku tahu, Asha adalah wanita kuat dan hebat," ujar salah seorang wanita yang tak lain adalah mertuanya sendiri. Pria bernama Matteo Pandora itu menggelengkan kepalanya, "Aku khawatir. Kenapa dia terus berteriak seperti itu di dalam sana? Apa sebaiknya aku masuk saja?" tanya Matteo. Wanita yang ada di depannya menggelengkan kepala kepadanya, "Tidak. Biarkan dia berjuang lebih dulu. Jika kau melihatnya, Asha akan merasa bersalah kepadamu," balas wanita itu. Ckleekkk ! ! ! ! ! Tiba - tiba saja pintu kamar sepasang suami istri itu terbuka. Seorang wanita dengan pakaian serba putih pun keluar dari sana dengan wajah murung. Sontak saja Matteo berlari dan menghampiri wanita yang merupakan petugas kesehatan yang malam ini membantu istrinya untuk bersalin. "Bagaimana keadaan istriku di dalam?" tanya Matteo. "Nona Asha kehilangan banyak darah dan sepertinya sangat tidak memungkinkan untuk melahirkan malam ini. Namun jika bayinya tidak lahir, anak anda akan meninggal di dalam perutnya," jawab sang petugas kesehatan wanita itu. Matteo membulatkan matanya, "Apa?! Apa tidak ada cara lain? Aku tidak mau salah satu dari mereka pergi. Mereka berdua adalah duniaku. Tolong lakukan apapun kepada istriku agar istri dan anakku selamat," pinta Matteo. Raut wajah Matteo semakin panik saat mendengar istrinya yang kehilangan banyak darah dan ditambah anaknya yang bisa saja meninggal di dalam kandungan. Padahal kehadiran sosok anaknya telah dinantikan oleh Matteo dan juga Asha dalam waktu yang cukup lama. Tiba - tiba, Ibu mertua Matteo berdiri dan menyentuh pundak Matteo, "Sepertinya ada sesuatu yang bisa menolongnya di saat genting seperti ini," ujar wanita itu. Matteo menoleh, "Apa itu? Katakan saja. Aku rela melakukannya," ujar Matteo. "Dahulu kala, ada seorang naga hitam yang mati di Lacoste. Naga itu adalah salah satu dari 4 naga yang menciptakan Lacoste. Konon, setelah naga hitam itu mati, jiwanya berubah menjadi mawar hitam di dalam hutan Maylea yang gelap dan dijaga ketat oleh bangsa vampire," ujar sang Ibu mertua. Matteo mengerenyitkan dahinya, ia berpikir tak ada yang mustahil baginya selama istri dan anaknya selamat. "Berapa lama jarak tempuh ke sana dan istri serta anakku bisa bertahan?" tanya Matteo kepada 2 wanita sekaligus yang ada di depannya. "Untuk menemukan bunga itu, jika kau s**l mungkin 1 bulan. Tapi jika beruntung, dalam waktu 1 malam pun akan ketemu," jawab Ibu mertuanya. Kemudian giliran sang perawat yang menjawab pertanyaan Matteo barusan. "Sepertinya jika terlambat sampai besok pagi, anak anda akan meninggal Tuan." ujar sang perawat. Matteo mengepalkan tangannya dan membulatkan tekadnya, "Baiklah aku akan pergi ke Hutan Maylea. Agar cepat, aku akan langsung menyebrangi Sungai Leomord," ujar Matteo. Sang perawat membulatkan matanya, Terlebih mereka semua tahu jika Sungai Leomord sangat berbahaya untuk bangsa manusia seperti mereka. "Apa Tuan yakin?" tanya sang perawat. "Aku sangat yakin." jawab Matteo. "Matteo, ingatlah. Bunga mawar ini memiliki kekuatan magis. Aku tidak bisa memastikan mawar itu akan cocok dengan anak dan istrimu, tapi tak ada salahnya untuk mencoba," ujar mertuanya dan kemudian dibalas dengan anggukan kepala Matteo. Meski bunga mawar hitam itu katanya berasal dari makhluk magis, tetap saja Matteo akan berusaha untuk menyelamatkan istri dan anaknya meski nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya. Matteo pun akhirnya keluar dari rumahnya dan mengajak beberapa pelayan sekaligus orang - orang yang tinggal di sekitar rumahnya untuk mencari mawar hitam yang ada di hutan Maylea dengan batas waktu sebelum matahari terbenam. Dengan uang berlimpah, Matteo akan melakukan segala hal selama itu memungkinkan untuk di dapat. Tak perlu diragukan lagi, kekayaan keluarga Pandora yang paling diakui. Terlebih selama beberapa generasi, keluarga Pandora dengan makmur bekerja di Istana Odor yang membuat keluarga Pandora semakin kaya. Ditambah dengan berbagai bisnis sampingan lainnya, harta Keluarga Pandora bisa dibilang tak akan pernah habis. Akhirnya, malam dan detik itu juga, Matteo pergi bersama dengan pelayannya menuju hutan Maylea. Mereka pun menyebrangi Sungai Leomord di bawah sinar rembulan agar cepat menuju ke Hutan Maylea. Pakaian yang mereka kenakan pun basah kuyup dan mereka mau tidak mau tetap melanjutkan pencarian meski udara dingin terasa menusuk. Para pelayan Matteo berpencar ke setiap sudut hutan Maylea untuk mencari keberadaan bunga mawar hitam itu. Dengan berbekal api di kayu yang mereka pegang, mereka pun menyusuri hutan Maylea yang gelap. "Apa ketemu?" tanya Matteo kepada salah satu pelayannya. "Belum Tuan. Sepertinya akan cukup sulit, terlebih mawar itu berwarna hitam dan di kondisi hutan yang sangat gelap seperti ini," jawab pelayannya. Matteo menghela napasnya. Namun ia tetap mencari keberadaan mawar hitam itu. Sampai akhirnya langkahan kakinya terhenti pada sebuah tumpukan ranting di tanah yang akan ia pijaki. Matteo pun berjongkok dan mengangkat ranting - ranting tersebut. Seketika matanya membulat dan senyuman bahagia terukir di wajahnya, "Ketemu," gumam Matteo. Satu tangan Matteo berusaha menancapkan kayu api yang ia pegang, kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan pisau dari dalam sana. Kemudian Matteo memotong tangkai daun mawar hitam itu dan seketika daun dan akarnya pun langsung mati. "Aku menemukannya!" pekik Matteo sembari memperlihatkan mawar hitam yang ada di tangannya. Semua orang pun bersorak ramai mendengarnya. Kemudian Matteo segera mengambil kembali obornya dan melindungi bunga mawar hitam dengan wadah kotak yang kokoh. Matteo beserta pelayannya yang lain kembali menuju ke rumah kediaman keluarga pandora untuk menunggu kelahiran putri pertama keluarga Pandora. Di luar rumah, sambil menunggu kehadiran anak pertama Matteo dan Asha, mereka pun menerima uang dan juga makan atas upaya mereka dalam mencari bunga mawar hitam. Setelah Matteo kembali, dengan pakaian basah kuyup dan rambut yang lepek, Matteo masuk ke dalam kamar dan memberikan bunga mawar hitam itu kepada sang perawat. Ibu mertua Matteo tersentak melihat Matteo yang berhasil menemukan mawar hitam itu bahkan hanya dalam hitungan waktu kurang dari 2 jam. "Bagaimana kau bisa menemukannya?" tanya sang Ibu mertua. "Aku merasa bunga itu memanggilku. Aku dengan mudahnya menemukan bunga itu. Untung saja tak ada bangsa vampire yang berkeliaran di hutan Maylea," jawab Matteo. Bunga mawar hitam yang telah direbus itu langsung merubah air rebusannya menjadi hitam pekat seperti tekena tinta hitam yang banyak. Air rebusan mawar hitam itu pun diberikan kepada Asha yang sekarat. Asha terduduk dan berusaha meminum air rebusan mawar hitam yang terasa sangat pahit. Bahkan Matteo bisa melihat bagaimana Asha yang berusaha menahan rasa pahit itu melalui ekspresinya. "Akkkkh !" pekik Asha. Seketika Asha merasakan perutnya bergejolak dan berkecamuk. Ia merasakan sesuatu akan keluar dari perutnya. Perawat yang bertugas membantunya langsung pergi ke bawah Asha dan melihat di balik kain yang menutupi area kakinya. "Kepalanya sudah terlihat, Nona!" pekik sang perawat itu. Asha pun merejan sekuat tenaga untuk melahirkan buah hatinya. Bersamaan dengan itu, Asha bisa merasakan bagaimana rebusan air mawar hitam dan kekuatan magisnya mengalir ke tubuhnya dan bahkan sampai ke bayinya. "Aakkkh!!!" Asha kembali berteriak dengan keras untuk terakhir kalinya. Seketika suasana menjadi hening. Perawat yang membantu Asha mengambil bayi yang baru dilahirkan. Bayi itu memiliki rambut yang hitam gelap dan perlahan membuka matanya. Matanya pun memiliki warna hitam gelap persis seperti warna bunga mawar tadi. Seolah - olah bunga mawar itu memberikan warna kepada rambut dan juga matanya. "Dia cantik," ujar sang perawat. Bayi yang ada di tangan perawat itu pun menangis dengan kencang. Tangisannya bahkan terdengar sampai keluar rumah dan membuat semua pelayan dan orang yang tinggal di sekitar kediaman keluarga Pandora bersorak bahagia. Setelah dibersihkan, Matteo pun mengangkat anaknya dan menatap wajah putri kecilnya yang sangat cantik, "Kamu cantik seperti Ibumu," ujar Matteo kemudian menatap Asha yang juga sedang menatapnya dengan penuh senyuman. Matteo bergeser dan duduk di samping Asha, memperlihatkan wajah putri mereka yang sangat cantik. "Aku akan memberi dia nama Rosamund. Rosamund Pandora," ujar Matteo. "Nama yang indah," balas Asha. Bertepatan dengan kelahiran Asha, sosok Evander yang berada di dasar laut dan sedang tertidur tiba - tiba saja merasakan ada kekuatan baru namun tidak terasa asing. Evander bahkan sampai berusaha mencari sumber kekuatan itu namun nihil, "Apa hanya perasaanku saja?" gumam Evander kemudian kembali memejamkan matanya untuk kembali tertidur. Akhirnya, kekuatan dari inti jiwa Dakota yang sebelumnya berpindah pada tubuh wanita mungil dan cantik bernama Rosamund Pandora. Kekuatan luar biasa namun tidak terasa seperti kekuatan besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD