BAB 15

1636 Words
20 tahun yang lalu . . . Setelah insiden Gerhard sang Noblesse dan Maverick sang pemilik Aerosworn Istana Twyla, Kerajaan Twyla Ruangan Kerja Gerhard, Raja Noblesse Kota Adarlan, Pulau Velenna * * * * * Gerhard, Maverick dan juga Evander bersama - sama mendiskusikan tentang bagaimana cara melepaskan Evander yang terkurung di dasar palung terdalam di Laut Elara. "Bagaimana?" tanya Gerhard kepada Maverick. Maverick membuat sebuah alat untuk digunakan menyelam di dasar laut yang pernah di uji coba di Laut Vyora, bahkan alat itu bisa digunakan untuk berenang melintasi pulau Katara dan Pulau Thorine yang bersebelahan. "Kami sudah pernah mencobanya dan seharusnya ini berhasil," ujar Maverick. Sebetulnya Evander ragu dengan ide dari Gerhard dan Maverick yang ingin menolongnya dan membebaskannya dari kurungan yang selama ini membelenggunya selama ratusan ribu tahun di dasar laut. Padahal Evander tak berharap ia bisa dibebaskan oleh makhluk ciptaannya sendiri, tapi seolah berterima kasih sudah diciptakan oleh Evander, Maverick dan juga Gerhard pun kini bersikeras ingin mencoba menolong Evander. Terlebih setelah kedua pria yang merupakan Raja dari bangsa mereka mengetahui siapa yang mengurung Evander di bawah sana, Gerhard dan Maverick semakin meluap - luap untuk segera mencoba keberuntungan mereka dalam membebaskan Evander Cassiopeia sang pencipta Lacoste. "Evander?" panggil Gerhard. Evander yang semula melamun, menoleh ke arah Gerhard yang tampak menggunakan seperti helm yang menutupi wajah Gerhard dan juga Maverick. Bahkan Evander sampai tersentak melihat tingkah laku ke 2 orang di depannya. "Astaga apa yang kalian gunakan?" tanya Evander. Maverick membuka kaca penutup wajahnya dan menatap Evander, "Ini alat yang akan kami gunakan untuk menyelam ke bawah sana," ujar Maverick. Evander menggelengkan kepalanya, "Sepertinya kita sudah siap," ujar Gerhard. "Lalu gimana kita keluar dari sini? Bukankah kau bilang ingin merahasiakan ini dari Ivelle dan Nikita?" tanya Maverick. "Oh ya kau benar," balas Gerhard. "Aku tahu," sambung Gerhard. Maverick dan Evander sama - sama menoleh dengan wajah penuh tanda tanya menatap Gerhard. "Kita teleportasi saja ke taman belakang, gimana?" tanya Gerhard. "Bisa docba," balas Evander. Maverick, Gerhard dan Evander pun bersiap berkumpul di 1 titik untuk melakukan teleportasi jarak dekat. Sebenarnya mereka tak pernah mencoba hal seperti ini. "Tunggu sebentar," ujar Evander tepat sebelum mereka hendak teleportasi ke halaman belakang Istana Twyla. Maverick dan Gerhard menoleh. "Ada apa?" tanya Gerhard. Evander merasakan suatu kehadiran energi yang tak asing. Ia pun akhirnya sadar milik siapa energi itu. "Meira sepertinya datang. Dia ada di halaman belakang," ujar Evander. "Meira?" tanya Maverick. "Siren itu?" tanya Gerhard. "Iya. Sebaiknya kita ke belakang. Sebelum Nikita dan Ivelle bertemu dengan Meira. Meira cukup sensitif dengan wanita selain bangsa siren sendiri," ujar Evander. Whooosshhh ! ! ! Ketiga pria itu pun berteleportasi ke arah taman belakang. Benar saja, Meira sudah berdiri di sana sembari menatap lautan dengan gaunnya yang berwarna hijau terang. Meira langsung menoleh saat merasakan energi orang lain yang datang. Wajahnya berubah saat melihat Evander yang datang bersama dengan Maverick dan juga Gerhard. Sontak saja Meira memasang posisi hendak menyerang Maverick karena ia tak pernah bertemu dengan orang seperti Maverick. "Kau siapa?!" pekik Meira. Evander panik dan langsung menghalangi Maverick, "Dia Maverick. Raja bangsa elf. Jangan menyerangnya, Meira," larang Evander. Meira langsung kembali seperti biasa dan tersenyum. Ia berjalan mendekati Maverick dan mengulurkan tangannya, "Oh hai. Aku Meira," ujar Meira sembari mengulurkan tangannya. Maverick membalas jabatan tangan Meira, "Maverick," balas Maverick. "Wah tanganmu sangat berotot sekali dan kokoh," ujar Meira. Maverick menarik tangannya perlahan dan tertawa kaku. Memang jika dibandingkan dengan yang lain, tubuh Maverick terlihat lebih gagah, besar dan juga berotot. "Terima kasih," balas Maverick. Evander menoleh ke arah Meira, "Ada perlu apa kemari?" tanya Evander. "Aku ingin menambahkan sedikit sihir agar mereka bisa bernapas di dalam air lebih lama," ujar Meira. "Oh begitu. Ya sudah silakan," ujar Evander. Meira langsung mendekati Maverick dan memegang tangan Maverick. Awalnya Maverick merasa tidak nyaman tapi Evander menganggukan kepalanya seolah mengatakan tidak apa - apa. "Tahan sebentar," ujar Meira. Meira kemudian memejamkan matanya dan sebuah sihir berwarna hijau terang keluar dari tangannya kemudian masuk ke dalam tubuh Maverick dan berhenti di bagian d**a Maverick. "Akh!" pekik Maverick saat merasakan ngilu pada dadanya. Maverick sampai berlutut di tanah karena merasakan nyeri pada dadanya. "Maverick!" pekik Gerhard. Evander menahan Gerhard, "Biarkan saja. Nanti akan membaik dengan sendirinya," ujar Evander. Benar saja, beberapa saat setelahnya, rasa sakit pada tubuh Maverick perlahan menghilang dan Maverick kembali berdiri seperti sedia kala. "Sepertinya sihirnya bekerja baik di tubuhmu. Bahkan ada yang langsung pingsan," ujar Meira. "Kau pernah melakukan sihir ini kepada orang lain?" tanya Evander. "Pernah, ke manusia. Keesokan harinya dia mati," balas Meira. Gerhard membulatkan matanya. Jika Maverick yang bertubuh kekar, berotot dan kuat saja bisa sampai jatuh berlutut, bagaimana dengannya? "Sekarang giliranmu," ujar Meira. Meira bergeser ke arah Gerhard dan memegang tangan Gerhard, kemudian memejamkan matanya dan melakukan hal yang sama. Setelah selesai, Meira membuka matanya untuk melihat reaksi Gerhard, tapi nyatanya Gerhard hanya tetap berdiri tanpa merasakan sakit apapun. "Apa tidak terasa sakit?" tanya Maverick. Gerhard menoleh ke arah Maverick, "Tidak. Aku tidak merasakan apapun," balas Gerhard. Meira membulatkan matanya, "Wah keren sekali," ujar Meira. "Mungkin itu karena Gerhard seorang noblesse," sahut Evander. "Sepertinya begitu," balas Meira. Gerhard sendiri bingung kenapa ia tak merasakan sama sekali padahal Maverick sampai berlutut di tanah. "Ya sudah, jika sudah selesai ayo kita turun ke laut," ajak Meira. Maverick dan Gerhard berjalan bersama Meira ke tepi laut tapi Evander justru berhenti. "Ada apa?" tanya Gerhard. "Aku menunggu disini saja," balas Evander. "Baiklah," balas Gerhard. Shoosshh ! ! ! Gerhard dan juga Maverick merubah penampilan mereka kemudian . . . Byuurrr ! ! ! Kedua pria itu melompat ke laut melalui tebing Istana Twyla. Terakhir Meira sebelum melompat ia melambaikan tangannya kepada Evander. "Tunggu sebentar lagi, Tuan. Anda akan segera bebas," ujar Meira kemudian ikut melompat ke dalam lautan yang gelap itu. Tubuh Meira berubah, kakinya yang semula kering langsung berubah menjadi ekor ketika tubuhnya menyentuh air. Ia pun berenang mendahului Maverick dan Gerhard. Kedua pria itu bahkan tersentak melihat wujud asli Meira yang merupakan seorang siren. "Sebelah sini," ujar Meira kemudian berenang lebih dulu untuk menunjukan arah kepada Maverick dan Gerhard. Maverick dan Gerhard berenang mengikuti Meira. Semakin lama sinar matahari tak lagi menembus lautan dan perlahan sekitar mereka menjadi gelap dan semakin gelap. "Apa kita sudah berada di palung?" tanya Gerhard. "Sepertinya belum. Tapi disini saja sudah sangat gelap," jawab Maverick. Mereka kembali berenang dan terus berenang. Sampai akhirnya berada di titik dimana sangat gelap. "Uhuk!" Tiba - tiba saja Maverick terbatuk karena merasakan tekanan yang keras di dadanya. Meira yang berenang di depan menoleh dan menghampiri Maverick. "Ada apa?" tanya Meira. "Dadaku terasa sesak," jawab Maverick. Meira berusaha mengobati Maverick, namun usahanya sia - sia saja. Kemudian Gerhard ikut terbatuk dan kesadaran Maverick perlahan menghilang. Perasaan khawatir menyelimuti Gerhard, terlebih dengan tekanan yang sangat tinggi, mereka tidak bisa berenang lebih jauh. "Kembali saja," ujar Gerhard kemudian ia berenang kembali ke permukaan. Begitu juga dengan Maverick yang dibantu oleh Meira berenang ke atas. Mereka terus berenang sampai akhirnya kembali melihat sinar matahari dan lautan biru kemudian Gerhard tiba lebih dulu dan disusul dengan Maverick yang dibantu oleh Meira. "Huah!" ujar Gerhard. Gerhard menoleh ke arah Maverick dan melihat pria itu yang sudah terkulai. Gerhard berenenag ke arah Maverick dan menepuk kaca helm namun Maverick masih memejamkan matanya. "Maverick!" panggil Gerhard. Tak ada jawaban. Gerhard akhirnya melakukan teleportasi dan pergi menuju ke halaman belakang. Melihat Gerhard dan Maverick yang sudah kembali, Evander pun menghampiri Gerhard dan Maverick. Namun yang ia dapatkan justru Maverick tak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian, Meira juga datang dalam wujud manusia dan menghampiri Maverick yang tergeletak di atas tanah tak sadarkan diri. "Apa yang terjadi?" tanya Evander. "Maverick tak sadarkan diri setelah memasuki tekanan palung. Sepertinya tidak bisa berenang lebih jauh meski dengan bantuan sihirku," jawab Meira. Gerhard mengulurkan tangannya dan mengobati Maverick yang tak sadarkan diri. Uhuk ! Uhuk ! Maverick langsung tersadar seketika saat Gerhard mengobatinya. Maverick bahkan memuntahkan air laut yang asin dari mulutnya. Evander melangkahkan kakinya mundur sembari menggelengkan kepalanya, "Sudah kuduga akan menjadi seperti ini," ujar Evander. Gerhard dan Maverick sama - sama menoleh ke arah Evander, begitu juga dengan Meira. "Hanya Zander yang bisa," ujar Evander. Evander merasa bersalah menempatkan Maverick dalam bahaya. Tanpa menunggu jawaban dari Gerhard dan Maverick, Evander pun melompat ke lautan dan menuju ke palung. Meira yang kebingungan akhirnya ikut berlari dan melompat ke lautan. Maverick dan Gerhard saling melempar tatapan, "Apa kita harus mencari saudaranya yang sudah mengurungnya itu?" tanya Gerhard. "Entahlah. Aku yakin pasti ada cara lain," jawab Maverick. Setelah Maverick sadar, Gerhard membantu mengeringkan pakaian Maverick dengan sihirnya. Kemudian mereka pun berpisah dan Maverick kembali pulang ke Istana Tessitura untuk beristirahat. Gerhard kembali masuk ke dalam rumahnya dan melihat Ivelle yang baru saja turun dari lantai 4. "Ivelle?" sapa Gerhard dan melihat Ivelle yang masih mengenakan gaun tidurnya. Ivelle mengucek matanya beberapa kali kemudian menguap. "Hoam... Ayah, mimpiku aneh sekali. Baru kali ini aku bermimpi," ujar Ivelle. "Mimpi? Apa itu?" tanya Gerhard. "Seekor naga hitam berubah menjadi bunga. Entahlah, mimpiku aneh sekali," jawab Ivelle kemudian pergi meninggalkan Gerhard. Sedangkan Gerhard terdiam dan memikirkan sesuatu. Ia pun berlari menuju ke ruang baca dan mencari buku salah satu catatan dari ratusan ribu tahun yang lalu yang diceritakan oleh Evander kepada Azriel. Gerhard mencari halaman demi halaman sampai akhirnya menemukan halaman dengan gambar bunga yang indah. Di bawah bunga itu tertulis 'Dakota'. "Dakota?" gumam Gerhard. Gerhard kembali membaca kisah itu dan berusaha menemukan celah yang bisa membantu Evander agar terbebas dari kurungan yang dibuatkan oleh Zander untuknya. Sepertinya Zander sudah merencanakan untuk mengurung Evander di dasar palung, yang sulit dijamah bahkan dengan bantuan sihir. Jika bukan Zander maka harus sesama bangsa naga lain yang melepaskan Evander dari bawah sana. Jawabannya adalah bunga yang merupakan jelemaan dari wujud Ibu naga dari Evander dan Zander. "Dimana letaknya bunga ini?" tanya Gerhard sembari mengusap bunga cantik itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD