BAB 14

1923 Words
Istana Kerajaan Twyla Kota Adarlan, Pulau Velenna * * * * * Beberapa hari setelah Evander yang selalu memperhatikan Rosa secara diam - diam, pada akhirnya Evander memutuskan untuk melepaskan Rosa dan mencari wanita yang lain. Bukan tanpa alasan. Semakin Evander memperhatikan Rosa, ia semakin sadar jika Rosa adalah wanita baik, cantik, lugu dan anggun yang tak seharusnya ia jadikan sasaran. Meski Meira sudah beberapa kali meminta Evander untuk tetap melanjutkan targetnya, namun Evander menolak dan tak lagi melihat Rosa. Kini Evander akan menunggu wanita lainnya yang akan dipilih oleh Meira. Meira adalah Ratu Siren yang tak lain anak dari Nina. Meski kawanan Siren adalah seorang perempuan, tapi nyatanya Nina berhasil memiliki anak dari hasil hubungan dan pernikahan palsunya dengan seorang manusia. Anaknya memiliki wujud seperti siren kebanyakan, hanya saja Meira bisa berubah menjadi manusia dan membentuk kaki seperti manusia lainnya. Nina langsung melompat ke lautan ketika dirinya akan melahirkan dan akhirnya Meira pun dilahirkan di dasar lautan dengan bantuan siren yang lainnya. Sejak saat itu, Nina mengurus Meira sendirian dan tak lagi memperdulikan laki - laki yang menjadi pasangannya di daratan. Meira tubuh tanpa pernah tahu dimana Ayah manusianya berada. Yang ia pedulikan, ia mengurs bangsa siren dan juga Evander seperti yang Nina lakukan sebelumnya. Evander datang ke Kerajaan Twyla untuk menjernihkan pikirannya sekaligus mencari seseorang yang bisa diajak berbincang. Karena meski ia memiliki teman berbincang yang tak lain adalah bangsa siren di dasar palung, tetap saja Evander merasa bosan. Terlebih kebanyakan siren hanya mengangguk ketika Evander bercerita. Tak banyak yang siren tahu tentang bangsa manusia. Yang mereka tahu hanyalah laut, air, dan juga ikan. "Evander," sapa Gerhard saat melihat Evander yang sedang memunggunginya dan menatap lautan luas dari area taman belakang Istana Twyla yang memang berada tepat di pinggir laut. Evander menoleh dan melihat Gerhard yang berjalan ke arahnya. "Maaf aku menganggu dan tiba - tiba datang kemari tanpa pemberitahuan," ujar Evander. Gerhard tersenyum, "Tidak masalah. Mau setiap hari pun kemari aku akan mempersilakan anda untuk datang," ujar Gerhard. "Bagaimana kau tahu jika aku datang kemari?" "Aku merasakan energimu saat memasuki area Istana Twyla." "Oh begitu rupanya. Kepekaanmu benar - benar luar biasa," puji Evander. Gerhard hanya tersenyum kemudian menoleh ke arah kursi kosong, "Ayo kita duduk di sana. Sebentar lagi pelayanku akan membawakan teh ginseng untukmu," ujar Gerhard. Evander mengangguk dan mengikuti Gerhard yang duduk ke arah kursi taman yang ada di sana. "Pagi hari yang indah. Suara desiran ombak selalu terdengar sangat jelas dari sini," ujar Evander sembari menatap lautan biru yang luas di depan matanya. "Benar. Ini pagi yang indah," balas Gerhard. Seorang wanita datang dengan 2 cangkir di atas nampan dan berjalan ke arah Gerhard dan Evander membuat kedua pria yang semula sedang menatap lautan menoleh. Bukan seorang pelayan yang datang melainkan Ivelle yang datang membawa cangkir minuman untuk Evander dan Gerhard. "Loh, kenapa kamu yang mengantar minumannya, Ivelle?" tanya Gerhard. Ivelle tak menghiraukan pertanyaan Gerhard, melainkan meletakkan cangkir itu di hadapan Gerhard dan Evander kemudian memeluk nampan yang kosong. "Terima kasih," ujar Evander tepat setelah Ivelle memberikan cangkir teh kepadanya. Ivelle pun hanya mengangguk dan kembali menoleh ke arah Gerhard. "Kau pasti mau sesuatu kan?" tanya Gerhard yang sudah tahu dengan tabiat anaknya. Ivelle tersenyum mendengarnya, "Ayah sudah tahu kan?" tanya Ivelle. "Mau ke Terassen? Bertemu Rosa dan Veza?" tanya Gerhard. "Rosa? Veza?" sahut Evander. Gerhard menoleh ke arah Evander, "Iya. Mereka manusia yang menjadi teman Ivelle. Sudah sering sekali mereka datang ke sini, tak jarang juga Ivelle yang datang ke rumah Rosa," ujar Gerhard. Evander hanya mengangguk. Ia tahu jika Rosa yang dimaksud adalah wanita yang pernah menjadi incarannya namun kini ia lepas. Terlebih tak ada orang dengan nama Rosa selain Rosamund Pandora di Kota Terassen. "Teleportasikan aku ke sana, Ayah. Kumohon. Boleh kan?" pinta Ivelle kemudian memasang wajah imutnya berharap agar Gerhard mau mengantarkannya. Jika Gerhard mengantarkannya dengan teleportasi, Ivelle tidak perlu membuang waktu di perjalanan dari Kota Adarlan menuju ke Kota Terassen demi bertemu dengan Rosa dan Veza. "Jika Ayah tidak mau, aku akan teleportasi sendiri ke sana," ancam Ivelle. Gerhard menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu dari mana Ivelle mendapatkan sifat yang seperti ini. "Baiklah Ayah akan mengantarkan kamu," ujar Gerhard kemudian beranjak dari tempat duduknya. Gerhard menoleh ke arah Evander, "Saya izin antarkan anak saya dulu, Evander," ujar Gerhard. "Ya, silakan," balas Evander. Ivelle tersenyum senang dan penuh kemenangan di wajahnya. Ivelle meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja dan mengikuti Gerhard yang pergi ke tengah taman, menjauh dari Evander, untuk melakukan teleportasi. Gerhard meraih tangan anaknya dan sejurus kemudian mereka pun berteleportasi ke rumah Rosa yang tepatnya ke depan gerbang rumah Rosa yang memang cukup sepi dan jarang dilintasi oleh siapapun. Setelah kepergian Gerhard dan Ivelle, Evander kembali meneguk minumannya sembari memikirkan sesuatu, "Kenapa rasanya tidak asing ya? Apa ada energi lain di dalam tubuh anak Gerhard?" gumam Evander. Syuuutthhh ! ! ! ! Beberapa saat kemudian, sinar cahaya kembali muncul darn Gerhard muncul dari cahaya itu. Penampilan Gerhard yang berambut putih, mata biru dan jubah berwarna putih tampak mencolok siapapun yang melihatnya. Sebagai seorang Noblesse, Gerhard memang memiliki penampilan yang tidak biasa dibandingkan bangsa yang lain. Sehingga orang - orang mudah mengenalinya. Maka dari itu, Gerhard sering kali menggunakan jubah dengan penutup kepala untuk ia gunakan. Biasanya Gerhard akan memakainya seperti saat tadi, mengantarkan anaknya ke rumah Rosa untuk bertemu teman - temannya. "Dasar anak muda. Sepertinya aku dulu tidak seperti dirinya," gumam Gerhard sembari kembali duduk ke hadapan Evander. Evander tertawa mendengar celotehan yang keluar dari mulu Gerhard. "Ada apa?" tanya Gerhard. "Tidak ada. Hanya saja lucu sekali melihatmu mengomel seperti itu, Gerhard," jawab Evander. Gerhard tertawa mendengarnya, "Walau begitu aku sangat menyayanginya," ujar Gerhard. Ivelle memang cantik, siapapun yang melihatnya mungkin akan jatuh cinta kepada wanita itu. Terlebih penampilannya benar - benar kombinasi sempurna antara Gerhard dengan Nikita. "Oh ya. Kalau tidak salah, Nikita pernah dibangkitkan dengan Aerosworn dari milik Maverick bukan?" tanya Evander. "Iya benar." "Aku merasa sepertinya sedikit energi Aerosworn berpindah ke tubuh Nikita dan kini berdiam di dalam tubuh Ivelle." "Apa maksudnya?" "Ivelle. Dia seharusnya lebih kuat darimu karena memiliki 3 kekuatan dari bangsa besar sekaligus. Noblesse, elf dan juga vampire." Gerhard terdiam, "Apakah seperti itu? Aku tidak merasakannya pada tubuh Ivelle." "Mungkin karena belum terlihat. Hanya saja aku sudah merasakannya barusan. Ketika ia merasa bahagia, kekuatan itu keluar memancar dalam jumlah kecil," ujar Evander. Saat meminum teh miliknya, tiba - tiba saja Evander terbatuk sampai cangkir miliknya terjatuh ke tanah. Sontak saja Gerhard berdiri dan panik menghampiri Evander. Tubuh Evander terasa dingin dan tidak hangat seperti biasanya. "Evander!" pekik Gerhard. Wajah Evander memucat dan kantung matanya jelas terlihat. Gerhard tahu apa yang harus ia lakukan, ia pun berdiri dan berteleportasi di hadapan Evander. Evander bisa merasakan bagaimana angin kencang bertiup di sekitarnya, kemudian beberapa saat kemudian Gerhard kembali dan kali ini dia tidak sendiri, melainkan bersama Maverick. Maverick yang melihat Evander terkejut. Ia segera memegang tangan Evander dan begitu juga dengan Gerhard yang memegang tangan kiri Evander. "Sekarang," ujar Gerhard. Secara bersamaan Gerhard dan juga Maverick mengirimkan energi mereka kepada Evander. Perlahan, tubuh Evander pun kembali normal. Wajah pucatnya hilang dan kantung matanya juga demikian. Evander menatap Maverick dan Gerhard bergantian. "Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Maverick. Maverick bahkan terlihat dengan celana cokelat dan kaos polos. Tidak ada persiapan untuk datang ke Twyla. "Evander melemah. Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri karena membutuhkan kutub positif untuk melakukannya," ujar Gerhard. "Tapi itu tidak akan cukup. Evander, apa kau tidak mencari wanita untuk menyerap energinya?" tanya Maverick. Baik Maverick dan Gerhard mereka sama - sama tahu jika Evander selama ini bertahan dengan energi manusia di dalamnya. Kekuatan Gerhard dan Maverick tidak cukup untuk Evander dan justru membuat Evander semakin tak berdaya karena tak mampu mengambil kembali kekuatan yang pernah ia lepaskan. "Tidak apa - apa. Terima kasih. Maaf sudah merepotkan kalian," ujar Evander kepada Gerhard dan Maverick bergantian. "Tidak bisa seperti ini terus, kita harus mencari cara," balas Gerhard. "Aku akan melompat ke dasar palung untuk melepaskanmu," ujar Maverick. "Kau mau mencobanya?" tanya Gerhard. "Tidak ada yang tidak mungkin kan? Aku akan mencobanya," balas Maverick. "Mustahil, Maverick. Gerhard sudah mencobanya," sahut Evander. "Tapi Gerhard hanya mencoba dari daratan. Tidak melompat ke dasar laut," ujar Maverick. "Kalian bisa mati jika menyelam," ujar Evander. Gerhard dan Maverick pun terdiam. Elf dan Noblesse tidak memiliki kemampuan untuk bernapas dalam air. "Kita akan memikirkan caranya," ujar Maverick yang tak mau menyerah untuk mencobanya terlebih dahulu. Meski penampilan Evander sudah kembali seperti sedia kala, namun Evander dan juga Gerhard bisa merasakan energi Evander yang kian melemah. "Sebenarnya ada 1 orang yang bisa membebaskanku dan menolongku, tapi sayangnya aku tidak tahu dia ada dimana," ujar Gerhard. "Siapa?" tanya Maverick. "Katakan siapa, biar kami bantu," ujar Gerhard. "Zander. Saudaraku yang mengurungku. Sudah lama aku tidak betemu dengannya dan merasakan energinya lagi. Aku sudah pergi ke Avidor tapi dia tidak ada di sana," balas Evander. Gerhard dan Maverick sambil melempar tatapan. Karena mereka baru tahu jika Evander memiliki saudara lainnya. "Kau memiliki saudara?" tanya Maverick. "Iya. Dia naga hitam, mengurungku di dasar palung. Tapi hanya dia yang bisa menolongku. Jika aku lebih lama lagi di dasar palung..." ucapan Evander terhenti. "Kau bisa mati dan keseimbangan Lacoste hilang. Sama saja seperti dengan akhir dari dunia," sambung Gerhard. "Kita akan mencarikan Zander untukmu," ujar Maverick. Evander hanya terdiam. Dia tak sanggup menjawab karena dirinya benar - benar melemah. Berada di dasar palung dengan sihir rantai yang mengikatnya membuat Evander menjadi semakin melemah dari hari ke hari. Terlebih Evander sudah dikurung dalam waktu yang cukup lama. Kekuatan miliknya dari Gerhard dan Maverick bahkan tidak mau kembali kepadanya. Mungkin karena kekuatan itu hanya mau kembali jika Evander dalam wujud naganya, bukan jiwa manusianya. Evander berdiri perahan dan dibantu dengan Gerhard serta Maverick. "Kau mau kemana?" tanya Gerhard. "Aku mau kembali ke palung. Sepertinya aku harus beristirahat beberapa hari karena sihirku melemah tiap kali aku dalam wujud manusia," jawab Evander. Gerhard dan Maverick pun mengantarkan Evander ke tepi lautan Vyora dan membantu Evander untuk bersiap melompat. "Jika butuh aku atau Maverick, panggil saja dengan energi sihirmu. Atau kirimkan Meira agar kami tahu," ujar Gerhard. Evander hanya mengangguk kemudian . . . . Byurrr ! ! ! ! Evander melompat ke lautan dan menghilang di balik lautan biru. Setelah kepergian Evander, Gerhard menatap Maverick yang canggung dengan pakaiannya yang sangat tidak biasa. "Kalau begitu aku pulang dulu," ujar Maverick kemudian berbalik dan berjalan ke arah tengah halaman dan hendak melakukan teleportasi. Sebelum berpindah tempat, Maverick menatap Gerhard dan mengatakan, "Jangan lupa datang besok malam. Istriku mengundang kau, Nikita dan juga Ivelle untuk makan malam bersama," ujar Maverick. Gerhard mengangguk, "Akan kusampaikan kepada istri dan anakku," ujar Gerhard. Sshhhooossshh ! ! ! ! Maverick pun berteleportasi ke tempat lain, tepatnya ke Istana Tessitura, tempat tinggalnya. * * * * * Sementara itu . . . . Di Pegunungan Allegra Desa Solandis, Kota Adarlan Pulau Velenna * * * * * Sebuah naga hitam yang tidur dalam cukup lama di atas gunung Allegra yang berwarna hitam legam akhirnya membuka matanya. Matanya yang berwarna kuning terlihat menusuk bagi siapapun yang melihatnya. "Sudah berapa lama aku seperti ini?" tanyanya dalam hati. Perlahan tubuhnya bergerak namun terasa sulit terlebih dengan tumpukan batu dan tanah yang ada di atas tubuhnya. Sayup - sayup ia mendengar suara manusia yang sedang berteriak dan juga benda lainnya yang terasa bising. "Hah...Manusia," ujarnya. Naga hitam yang berusaha keluar itu seketika terdiam saat merasakan sesuatu. Sebuah energi yang familiar seperti yang ia rasakan saat dahulu. "Ini..energi manusia? Wanita?" gumamnya. Seketika ia teringat milik siapa energi itu berasal. "Ibu," gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD